Pengorbanan Cinta David

Nathan Meminta Maaf

"Ommah, Oppah maaf membuat kalian menungguku lama," ujar David saat dia sudah berada di depan mereka.

 

Melihat kedatangan David membuat Raya tersenyum kikuk pasalnya dia telah melihat David dengan cewek tadi yang dia yakini itu adalah Rachel kekasih kakaknya itu.

 

"David mari kita pulang Raya sudah mengantuk tuh!" seru sang Ommah sembari menunjuk Raya dengan dagunya.

 

David pun menoleh memandang Raya terlihat matanya yang sudah merah seperti sedang menahan rasa kantuk.

 

"Ya sudah yuk kita pulang." Dengan tersenyum David pun mengajak mereka pulang.

 

Oppah menepuk bahu David pelan, "Oppah sudah menyewa hotel di Helac kita bisa bermalam di sana," katanya sembari tersenyum.

 

"Baik Oppah," sahut David dia tersenyum kepada Oppahnya itu.

 

Hari ini mereka telah berkeliling kota paris yang selalu disukai banyak para pendatang, kerlap-kerliplampu di taman sekitar menghiasi kota tersebut. Mobil David pun melewati tempat diskotik Dara Rooms membuat pikirannya kembali mengingat dirinya dulu serta teman-temannya, rindu terbesit rasa itu dalam dirinya.

 

Bagaimana tidak selama ini teman-temannya menjadi prioritasnya meski dia yakin bahwa teman-temannya itu pasti akan kembali kepadanya karena mereka bukan tipe orang yang egois David kenal mereka dengan baik seiring berjalannya waktu mereka pasti akan menerima dirinya kembali.

 

"Yuk buruan turun!" ajak Oppah yang sudah membuka pintu duluan.

 

David membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata keadaan malam yang sepi membuatnya bisa mengebut sehingga bisa sampai dengan cepat.

 

Jika awalnya mereka akan menginap di Villa kini Oppah menggantinya lagi dengan Hotel bintang lima yaitu Helac yang cukup banyak diketahui oleh para pendatang dengan fasilitas yang lengkap serta pelayanan yang begitu nyaman.

 

"Kita akan tidur di lantai berapa nih?" Raya berseru dengan suaranya yang terdengar serak.

 

"Kita masuk saja dulu yuk!" Lagi-lagi Oppah langsung menyuruh semuanya untuk masuk ke dalam.

 

"Selamat malam Tuan Jacksion," sapa Pak Saptam si penjaga pintu masuk hotel.

 

Mendengar itu membuat David mengernyit bingung, 'Kok Pak Saptam itu tahu nama Oppah ya?' gumamnya dalam hati.

 

Ketika selesai melakukan pemeriksaan mereka dibolehkan masuk ke dalam. "Silahkan Tuan!" seru Pak Saptam itu kembali sambil menunduk hormat.

 

Raya tersenyum melihat wajah bingung David. Namun dia urung bertanya sebab rasa kantuknya sudah merasukinya sejak tadi.

 

"Ini Tuan kunci kamarnya Tuan akan menepati Phenthouse," seru Mbak kasir yang bernama Renata. Terlihat dari nametag di sudut lengan kirinya.

 

"Baik terima kasih ya!" sahut Oppah seraya tersenyum hangat lalu membawa kunci serta kartu tanda pemilik kamar itu.

 

"Nih kamu saja yang pegang Oppah takut lupa!" Oppah memberikannya kepada David.

 

Tidak tahan sejak tadi pikirannya selalu dikuasai dengan tanda tanya, "Oppah sebenarnya siapa Oppah di hotel ini mengapa mereka bersikap begitu ramah dan tunduk dengan Oppah?" tanya David dengan menganggkat sebelah alisnya ke atas.

 

Pertanyaan David berhasil membuat Ommah terkekeh, dia tidak menyadari akan kebingung David sebab tubuhnya sudah merasa lelah pantas saja David bingung dia tidak tahu bahwa hotel yang didatanginya ini adalah milik mendiang Ayah Oppahnya yang dikembangkan oleh Nathan sendiri ketika Oppah sudah lelah untuk mengurus kantor.

 

Oppah masih diam bahkan ketika mereka sudah masuk lift David pun memutuskan untuk diam ketika melihat sikap acuh Oppahnya yang enggan untuk menjawab pertanyaannya.

 

Tidak lama kemudian pintu lift pun terbuka lebar dengan cepat mereka pun keluar dari sana.

 

"Lekaslah tidur karena kalian pasti sudah lelah besok kita juga harus bangun pagi," terang sang Oppahnya memberikan perintah kepada semuanya untuk cepat beristirahat.

 

Oppah pun menoleh menatap David ada sesuatu yang lupa dia sampaikan kepada cucunya itu, "Kamu tidur di kamar nomor 033 dan Raya di kamar nomor 034 jika ada apa-apa tinggal telepon nomor 111 okey?" katanya.

 

David menganggukan kepalanya mengerti begitu pun dengan Raya," Baik Oppah," sahut Raya seraya menguap.

 

Ketika melihat Ommah dan Oppahnya sudah masuk ke dalam kamar, David dan Raya pun juga berjalan menuju kamar mereka masing-masing.

 

"Kak David!!" panggil Raya sebelum David masuk ke dalam kamarnya.

 

Mendengar Raya memanggil namanya David pun lantas langsung menoleh, "Ada apa lagi hah?" sahutnya.

 

"Good night kak." Raya berseru sambil tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya setelah mengatakan kalimat itu.

 

Huhf David menghela napasnya pelan dia kira sepupunya itu akan mengatakan hal lain atau akan bertanya. Dia pun tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya.

 

"Woww." David kaget saat melihat kamar hotel yang seluas ini berbeda dengan apartemennya di Jakarta yang minimalis.

 

"Ini sih sudah kaya rumah ya?" gumam David sembari berjalan-jalan memeriksa isi ruangan di dalam kamarnya ini.

 

Dan pastinya David akan memeriksa kamar mandinya terlebih dahulu, "Okey bagus juga kamar mandinya jadi nanti gak akan kebanjiran jika terbagi dua seperti ini."

 

Setelah melihat-lihat ruangan kamarnya David pun sudah merasa lelah akhirnya dia pergi untuk mandi dan bergegas tidur, dia tipe orang yang suka mandi kapan pun dalam waktu mepet pun dia akan mandi apalagi hendak tidur agar tubuh merasa segar dan nyaman saat dibawa tidur nantinya yang pasti dia tidak mengalami kegerahan saat tidur.

 

Keesokan harinya David terbangun pukul 07:15 WIB.

 

Oppah mengajak semuanya untuk pergi makan di restoran yang berada di lantai satu.

 

"Kalian mau makan apa terserah katakan saja!" ujar Oppah membebaskan semuanya untuk memilih menu yang mereka sukai.

 

Lagi dan lagi David masih memikirkan siapa sebenarnya Oppahnya ini di sini?

 

"Silahkan Tuan ini menu makannya," seru si pelayan itu dengan ramah senyumnya selalu mengembang pada wajahnya.

 

"David apa kamu sudah dengar kalau Mamah dan Papah kamu akan kembali ke sini?"

 

"Hah, seriusan Ommah?" sahut David dia sangat terkejut mendengad bahwa ke dua orangtuanya akan pulang ke Eropa.

 

Ommah pun menganggukan kepalanya, "Iya hari ini mereka sudah terbang menuju Eropa," katanya lagi.

 

"Ya sudah makan dulu nanti setelah ini kita akan langsung pulang saja," ujar Oppah sambari mengambil makanannya.

 

Baru David sadari mengapa kakak ke duanya itu akan datang ke rumah Ommah dan Oppah hari ini ternyata ke dua orangtuanya akan pulang dan mereka semua akan berkumpul.

 

Mendengar jika setelah ini akan pulang Raya pun langsung meminta Oppah dan Ommahnya untuk pergi ke tempat pembelanjaan ada barang-barang yang ingin dia beli nanti.

 

"Boleh ya Oppah? sebentar saja aku ingin beli sesuatu." Raya terus merajuk meminta agar Oppahnya mengizinkannya untuk berhenti nanti.

 

Akhirnya Oppah menganggukan kepalanya memberi izin, "Baiklah nanti kita berhenti ke tempat pembelanjaan terlebih dahulu ya! Bagaimana Ommah?"

 

"Ya sudah Ommah ikut anak-anak saja deh," sahut Ommah sembari memotong daging pada piringnya.

 

"Yess!" Raya berteriak senang akhirnya permintaannya dituruti oleh Ommah dan Oppahnya.

 

Setelah selesai belanja mereka langsung pulang ke rumah tidak lupa pula Ommah membeli cemilan untuk di rumah nanti.

 

Mendengar ke dua orangtuanya akan kembali pulang ke Eropa membuat jatung David berdebar dengan kencang, entah bagaimana dia mengalami perasaan yang campur aduk antara takut dan rindu di sana.

 

"Gue rindu ke dua orangtua gue namun kok gue takut ya bertemu mereka gue gak mau jika nanti Ayah akan marah-marah dengan Ommah dan Oppah gara-gara gue, duh ya Allah semoga semuanya akan baik-baik saja." David menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya.

 

****

 

Tidak ada orangtua yang jahat di dunia ini, kemarahaan mereka tidaklah serius bahkan jika mereka berkata kalau mereka tidak sayang dengan kita itu adalah kebohongan besar, percayalah! tidak ada orangtua yang tidak sayang dengan anaknya sendiri melainkan cara mereka mendidik kita yang berbeda, ada yang memakai cara lembut ada juga yang langsung memakai cara yang kasar itu tergantung bagaimana cara orangtua mendidik kita yang selalu kita salah artikan selama ini.

 

Bahkan jika memang ada dendam tersendiri orangtua kepada anaknya hingga ada yang sampai membunuhnya. Nauudzubillah min dzalik.

 

"Kak sudahlah jujur padaku sebenarnya kakak itu sudah punya cewek kan?" Sengaja Raya menemui David yang berada di teras rumahnya.

 

"Kamu kenapa sih nanya gitu hah? jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta ya," tuding David dia menyipitkan matanya memandang Raya.

 

Uhft, Raya menyengir saat tebakan kakaknya ini benar, "Hemm aku hanya ingin tahu kak apakah kakak sungguhan sedang menyukai seorang wanita? Apa dia anak Jakarta, seorang muslimah sepertiku?" sahutnya.

 

"Khepo ah kamu ini tapi ingat ya kalau ada laki-laki yang suka sama kamu bilang sama kakak dia harus berhadapan dengan kakaknya terlebih dahulu," pekik David dia tidak akan membiarkan sepupunya ini disakiti oleh laki-laki.

 

Mendengar hal itu Raya pun pun terkekeh, "Tenang saja kak hihihi lagi pula aku tidak berani pacaran," ungkap Raya sejak dia memperlajari ilmu agama yang melarang pacaran apalagi sampai bablas hamil di luar nikah membuatnya ngeri dia takut untuk dekat dengan laki-laki.

 

Menarik juga punya sepupu perempuan yang semuslim David jadi punya kesempatan untuk bertanya-tanya kepada Raya, "Apa alasan kamu tidak mau pacaran Dek?"

 

"Sebagai wanita muslimah aku akan patuh dengan ajaran agama islam yang melarang kita untuk mendekati zina dan berbuat maksiat ka, Raya takut mendengar kakak kelas baik teman kelas sendiri yang suka berpacaran bahkan ada yang menikah muda sebab sudah mengandung ihh serem ka pergaulan zaman sekarang," terang Raya sembari bergidik ketakutan.

 

"Oh begitu ternyata alasannya," gumam David dia mengira jika pendapat Raya juga akan sama dengan Dinda.

 

Seketika itu pula Raya mencubit lengan David membuat cowok itu kaget dan melotot kesakitan.

 

"Kakak ceritakan kepadaku kalau kakak sedang jatuh cinta pada wanita muslimah di Jakarta, kelihatan sekali kau sedang menyembunyikan itu kepadaku hemm." Raya memalingkan wajahnya dia kesal saat kakaknya ini tidak mau bercerita kepadanya.

 

"Dinda Cahaya Ramadhan itu dia namanya, dia seorang wanita yang menjadi tetangga kakak di Jakarta seorang aktivis rohis di kampus yang selalu menginspirasi banyak orang begitu pun kepada kakak sendiri," ungkap David tanpa sadar dia telah menceritakan sosok Dinda pada sepupunya ini yang baru berusia 16 tahun.

 

Mendengar akan hal itu Raya hanya bisa menganggukan kepalanya saja saat mendengar David masuk islam membuat dirinya sedikit terkejut pasalnya cowok itu sangat bebas dalam pergaulan.

 

Di saat sedang asik mengobrol suara panggilan Ommah mengangetkan David dan Raya.

 

"David nak kemarilah ke dua orangtuamu sudah datang," teriak Ommah yang muncul di balik pintu.

 

Dengan segera David dan Raya pun bangkit dari duduknya dan pergi menghampiri Nathan dan Anggelia yang sudah datang.

 

Ada rasa rindu pada diri David yang kerap kali dia rasakan ketika mengingat orangtaunya itu.

 

"Mamah, Papah!" teriak David dan langsung menyalami ke dua orangtuanya itu lalu Anggelia pun memeluk tubuhnya erat.

 

Sebagai seorang Ibu Anggelia sangat merindukan putranya ini bagaimana tidak? sudah genap satu bulan dia tidak bertemu dengan David.

 

"Sayang how are you? Mamah sangat rindu denganmu Nak," ungap Anggelia sambil menangis selama ini dia berusaha sabar menunggu suaminya cepat menyelesaikan tugas-tugasnya agar dia bisa langsung menemui David dan ke dua orangtuanya di Eropa.

 

"David baik-baik saja Mah, lihatlah I am okey!" David manarik tubuhnya dari pelukan sang Mamah wajahnya menampilkan senyum menawannya.

 

Melihat tubuh David yang sehat membuat Anggelia tersenyum senang minggu lalu dia mendapat kabar bahwa keluarga suaminya tidak mau menerima David di rumah untung saja anak-anaknya langsung menghubungi David dan menyuruh dia untuk tinggal bersama Oppah dan Ommahnya yang juga menganut agama islam sehingga David bisa melaksanakan ibadah dengan tenang dan nyaman.

 

"Papah maafin David ya kalau David punya banyak salah sama Papah terima kasih juga selalu mengirim uang ke dalam rekeningku selama ini," ujar David setelah dia pergi ke Eropa saldo pada rekeningnya selalu ada dan bertambah.

 

Nathan pun menepuk bahu David lalu memeluk anak laki-lakinya itu dengan kuat, "Papah yang seharusnya minta maaf sama kamu Nak, maafkan Papahmu ini ya Nak yang sudah bersikap kasar namun inilah cara Papah mendidik anak-anaknya Papah tahu jika kamu sedang mencari jati diri kamu yang sebenarnya bahkan saat kamu berniat pindah agama saat itu Papah hanya bisa diam sampai akhirnya kamu yang mengatakannya itu sendiri di depan kami semua, maafkan Papah yang tidak menjaga toleransi di antara kita dengan baik," ujarnya dari nada suaranya terdengar tegas tidak ada nada pilu di sana namun perkataan Nathan membuat David tersenyum senang akhirnya Papahnya ini mau menerima dirinya kembali.

 

"Terima kasih banyak Pah," pekik David sembari tersenyum air matanya tiba-tiba menetes dia menangis terharu.

 

Yang lainnya pun ikut senang melihat David kembali diterima dalam keluarganya, "Selama ini David tumbuh dengan baik dia anak yang patuh dengan perkataan orangtuanya apalagi dengan kamu Nathan, saya senang kalian bisa kembali bersatu tapi bagaimana pun David anak kalian sudah tumbuh dewasa jadi berikan dia tempat tinggal di Jakarta agar dia bisa menjalankan hidupnya dengan nyaman dengan belajar bertoleransi terhadap semua makhluk," terang Oppah lagi dan lagi Oppahnya selalu bisa mengerti diri David dengan baik.

 

Apa yang dikatakan Oppah adalah benar, tapi butuh waktu untuk Nathan mempertimbangkannya dia juga ingin memantau perkembangan anaknya itu.

 

"Baik Pah aku akan terima apapun yang akan kalian putuskan untukku," sahut David dia pun mengedipkan ke dua matanya.

 

Dua pelayan pun datang membawa jus alvocado untuk mereka semua serta cemilan yang baru saja Ommah beli saat di paris Ommah memang menyuruh para pelayan itu untuk memberikannya kepada Nathan dan Anggelia saat mereka datang.

 

Anggelia pun memegang tangan Mamahnya, "Terima kasih Mah sudah mau merawat David dan menyayanginya," serunya dengan tersenyum air matanya kini sudah mengering dan tak lagi menetes.

 

Tidak ada kata maaf dan terima kasih dalam persaudaraan apalagi hubungan kekeluargaan, "David itu cucu Ommah yang sejak dulu Ommah rawat kamu tidak perlu berterima kasih seperti ini, lagi pula Ommah senang dengan kehadiran David di rumah selama ini kan Ommah tinggal berdua kadang bertiga dengan Raya kalau memang si Sisil sedang pergi ke luar kota," terang sang Ommah sambil tersenyum dia pun menatap ke dua cucunya itu bergantian.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!