Pengorbanan Cinta David
Keberangkatan David
"Ya sudah aku pamit pulang dulu ya Dav." Rachel akhirnya memilih untuk pulang setelah selesai memberikan syal buatannya perlu diketahui bahwa kini perasaannya pun sudah lega meski harus melepaskan kepergian David.
"Gue antar mau?" ujar David seketika.
Entah bagaimana kini David bersikap ramah kepada Rachel, jika biasanya cowok itu akan bersikap acuh dan tidak perduli dengan kehadiran Rachel kini David menganggap cewek itu ada membuat Rachel sendiri senang.
'Tumben-tumbenan nih anak mau nganterin gue, biasanya bersikap bodo amat sudahlah mungkin lagi kesambet aja kali tapi boleh juga sih lagi pula sudah lama juga kan gue gak pernah jalan berdua.' Hati Rachel bergumam kesenangan.
"Serius mau nganter gue pulang?" tanya Rachel meyakinkan.
Sebelah alis David terangkat, "Gue serius lo mau enggak gue antar pulang soalnya udah malam loh kalau Tante Feby tahu lo pulang malam sendiri lo pasti kena omel."
David sangat mengenal keluarga Rachel yang sempat terjalin pertunangan dengannya, jadi dia khawatir Rachel akan dimarahi gara-gara pulang malam apalagi cewek ini datang sendiri tanpa supir yang mengantarnya.
"Boleh-boleh, ya sudah gue pamit pulang dulu sama Ommah lo takut dia nyariin gue," kata Rachel dengan antusias.
David pun menganggukan kepalanya membuat cewek itu langsung menyelonong masuk ke dalam rumah.
Bagi Rachel rumah ini menjadi biasa apalagi dulu saat kecil dia sering bermain dengan David di rumah ini bukan di rumah orangtuanya David.
Rachel masuk ke dalam rumah orang yang pertama dia temui adalah sosok wanita muda yang sepertinya dialah sepupunya David.
"Dek Ommahnya mana?" Rachel bertanya sambil menghampiri Raya.
"Ada nih ka," sahut Raya, dia tahu bahwa Rachel adalah mantan kekasihnya David.
Dengan cepat Rachel menyalami Ommah, "Aku pamit pulang dulu Ommah sudah malam."
"Lah kok buru-buru banget," tukas Ommah yang dia tahu Rachel baru datang. "David!!!" teriaknya memanggil David entah apa yang akan dilakukannya.
Hal itu membuat Rachel bingung namun dia diam saja tidak ingin menghantikan apapun yang akan dilakukan Ommah.
"Ada apa sih Ommah?" tanya David wajahnya nampak cemberut.
"Ini nih si Rachel mau pulang kau antar dia dululah kasihan sudah malam," kata Ommah.
Dikirain ada apa ternyata sang Ommah hanya ingin mengatakan itu saja, dalam hati Rachel ikut terkekeh.
"Iya emang mau David antar pulang kok," sahut David akhirnya.
"Ya sudah hati-hati di jalan jangan bawa motor kencang-kencang ya!" pinta Ommah sebelum David pergi bersama Rachel keluar.
"Siap Ommah!" David berjalan keluar diikuti oleh Rachel dari belakangnya.
Bagaimana pun Ommah tidak pernah melarang seseorang untuk dekat dengan David meski kini kepercayaan Rachel dan David berbeda namun cewek itu masih mau menemui David.
Malam ini David akan mengantarkan Rachel dengan mobil karena sudah malam ditambah lagi tidak ada motor saat ini.
"Makasih banyak ya Dav udah mau nganterin gue," kata Rachel sambil tersenyum.
David melirik sekilas wajah Rachel senyuman indah pada cewek itu sangat nampak membuatnya takut jika Rachel akan salah paham atas tindakannya ini, "Jangan berpikir macam-macam gue hanya khawatir takut ada sesuatu terjadi sama lo kalau pulang sendiri malam-malam," celetuk David.
Seketika pandangan Rachel langsung mengarah kepada David yang sedang pokus menyetir mobil.
"Iya gue ngerti kok lagi pula siapa juga yang mikir aneh-aneh," sergah Rachel dia sadar akan sikap David yang terpenting bagainya David tidak menjauh.
"Bagus kalau begitu." David berseru sambil kembali pokus menyetir mobil.
Hening seketika, tidak ada yang kembali berbicara baik David maupun Rachel sendiri mereka berdua sama-sama sibuk sendiri.
David pokus menyetir sedangkan Rachel dia asik memandang ke luar jendela dengan pikiran yang sibuk berkelana entah ke mana.
Tidak butuh waktu lama mobil David pun akhirnya melesat di depan gerbang rumah Rachel.
"Terima kasih banyak ya Dav lo mau mampir dulu enggak atau mau langsung pulang saja?" tawar Rachel kepada David yang masih setia duduk di bangku pengemudi.
"Tidak perlu gue langsung pulang saja next time gue akan mampir ke rumah lo," kata David sambil tersenyum ramah.
Rachel tidak marah dia mengerti lagi pula David harus bersiap untuk kepulangannya besok, "Ya sudah lo hati-hati di jalan Dav!"
"Sip buruan masuk sana." David mulai menjalankan kembali mobilnya setelah melihat Rachel sudah masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Rachel anak orang punya ke dua orangtuanya pengusaha sukses di Eropa makanya tidak heran jika Rachel terbebaskan dalam segala hal karena orangtuanya sangat sibuk bahwa Rachel kadang prustasi sebab Mamahnya yang tidak memperdulikannya.
Oleh karena itu juga orangtua Rachel menitipkannya kepada David dan kadang seting dibercandakan bahwa mereka akan menikah kelak.
Di dalam mobil David asik mendengarkan musik kesukaannya.
"Snowman and me," pekik David mengikuti lirik lagu yang sedanh diputarnya.
Ada banyak ungkapan yang terkandung dalam sebuah lagu yang ditulis sama halnya dengan para penyair lainnya, David waktu SMA suka sekali baca cerita dalam digital dan salah satu karya tulisan yang dia suka adalah Ka Mellyana Dhian bukunya yang berjudul Diary imamku yang kini dia mendengar bahwa bukunya itu akan di filmkan huh betapa serunya nanti membuat David tidak sabar ingin kembali mengulangnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi yang ternyata panggilan dari Hamdan.
"Hallo assalamualaikum Dan," sapa David terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam Dav, lo jadi kan terbang besok?" ujar Hamdan
"Iya jadi." David menyahut sebelumnya dia telah memberitahu Hamdan lewat chatt kalau dia besok akan terbang ke Jakarta.
"Gue jemput lo jam berapa bro? biar gue gak telat takutnya lo sudah sampai bandara gue belum datang lagi," ujar Hamdan dia takut kelelehan dan tertidur pulas hingga bangunnya siang.
Entah kenapa David senang mengetahui bahwa temannya ini tidak berubah baik sikapnya maupun nada bicaranya kalau berbicara.
"Kemungkinan gue akan tiba pukul 12:00 siang Dan tapi nanti gue pasti akan kabari lo kalau sudah sampai di bandara."
Kini Hamdan sedang duduk di masjid setelah selesai mengajar ngaji dia tidak langsung pulang ke rumah dia ingin bersantai terlebih dahulu di masjid sambil minum kopi.
"Okey deh sip, eh kayanya lo lagi di jalan ya Dav habis dari mana lo?" seru Hamdan samar-samar dia mendengar suara klakson serta derungan motor.
David tidak langsung menjawabnya saat sedang membelokan mobilnya, "Iya gue lagi di luar habis nganterin Rachel pulang." Tanpa ada yang disembunyikan sedikit pun dari David dia langsung berterus terang menyebut namanya.
"Rachel siapa? cewek lo di sana atau mantan kekasih lo itu?" tebak Hamdan dia mencoba mengingat-ingat akan sosok nama yang familiar itu di telinganya.
"Iya dia orangnya yang pernah gue ceritakan," kata Hamdan dia ingat pernah sekali menceritakan Rachel kepada Hamdan saat itu.
"Oh ya gue ingat Dav tapi entah bagaimana rupanya sepertinya dia cantik dan sexy," ujar Hamdan dia memikirkan kebanyakan wanita di luar negeri yang berparas cantik, bule dan berpakaian sexy.
"Lo bener banget Dav tapi Rachel sekarang sudah berubah semenjak gue ceramahin pakaiannya sedikit tertutup namun karena dia juga kadang dijadikan model jadi ya dia akan tampil sexy," sahut David sambil tekekeh.
"Wihh keren juga lo bisa ceramahin dia, jangan-jangan lo berpaling lagi ke dia dan mau ninggalin si Dinda," tuding Hamdan tidak ada yang memungkinkan baginya jika laki-laki tidak tergoda dengan wanita-wanita cantik dan sexy apalagi David seorang mantan dari anak gaul di sana.
Seketika gelak tawa David pecah, "Hahaha lo emang bisa banget ya kalau ngomong Dan gue udah janji sama Dinda bakal bertemu dengannya ketika gue sudah di Jakarta nanti tapi lo dengan enaknya bebicara gue akan berpaling darinya."
"Heheh ya kali kan ya sudah gue mau salat dulu belum salat isya nih," ujar Hamdan sedari tadi dia sibuk dengan ponselnya hingga berteleponan dengan David sampai lupa jika dia belum salat isya.
"Astagfirullah ya sudah sana salat dulu jangan langsung tidur loh nanti habis ini langsung rebahan lagi dan ketiduran yang ada gak salat," celetuk David dia pernah mengalami hal itu makanya dia berbicara seperti itu kepada Hamdan.
"Iya sipp dah assalamualaikum." Hamdan pun mengakhiri sambungannya.
"Waalaikumsalam." David pun akhirnya kembali pokus mengendarai.
Sesaat pikirannya kembali teringat akan Dinda dan tiba-tiba hatinya ingin membelikan cewek itu sesuatu sebagai oleh-oleh darinya namun dia ragu apakah dia pantas memberikannya atau tidak.
Sesampainya di rumah David langsung turun dari mobil dan mendapati Raya sedang asik bermain ponsel.
"Kak David sudah pulang?" ujar Raya langsung menyadari akan kepulangan David.
"Lagi ngapain sih Dek?" David malah balik bertanya maksudnya Raya sedang apa dengan ponselnya.
"Lagi nonton ceramahnya ustad Hanan Attaki ka bagus banget ceramahnya," sahut Raya dia memang suka mendengarkan ceramah dari ustad satu ini.
Kini David tidak menyahut dia duduk di samping Raya.
"Dek," panggil David tiba-tiba.
Lantas Raya pun langsung menoleh, "Apa ka?" sahutnya.
"Dek menurut kamu wajar enggak ngasih hadiah ke cewek itu?" tanya David dia bingung dan butuh pendapat.
Mendengar ucapan kakaknya ini Raya langsung tersenyum hingga dia tertawa geli yang benar saja dia baru kali ini dimintai pendapat soal cinta dia sendiri tidak tahu apa-apa.
"Gak boleh ka," sahut Raya menjeda pembicaraannya membuat David menoleh. "Kalau itu uang hasil maling wkwkw," lanjutnya sambil tertawa.
"Ishh kamu nih ya, kakak seriusan loh nanya Ray soalnya kakak ragu mau beli oleh-oleh buat dia," jelas David sambil terus mempertimbangkannya.
Raya kembali tertawa, "Iya gak apa-apa emang mau ngasih apa?"
Ditanya itu David langsung menggelengkan kepalanya, "Entah Dek kakak juga bingung menurut kamu apa? ditambah kakak juga malu kan dia bukan siapa-siapanya kakak," ujar David.
"Hemm apa ya ka, aku paham bagaimana hubungan kakak dengan ka Dinda tapi kalau mau ngasih-ngasih mah kayanya gak apa-apa deh," seru Raya sambil menganggukan kepalanya.
David pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumahnya dia berniat untuk mengambil uangnya.
Ketika sudah mengambil uangnya David kembali dan mengajak Raya untuk ikut bersamanya.
Raya yang sedang kesepian dan tidak ada kesibukan akhirnya mau ikut dengan kakaknya, diperjalanan Raya bercerita banyak tentang pengalaman dirinya yang sedang hijrah dia juga merasakan apa David rasakan.
"Tapi aku bersyukur karena orangtuaku juga beragama islam," ungkap Raya sambil tersenyum.
Ya memang banyak yang dari pihak Mamahnya David memeluk agama islam salah satunya ya ke dua orangtua Raya ini.
"Doain semoga Mamah dan Papah kakak juga bisa memeluk agama islam," kata David dengan penuh harap.
David yakin suatu saat nanti ke dua orangtuanya pasti akan memeluk agama islam dan bisa hidup bersama selamanya.
"Insya Allah bisa ka." Raya menyahut memberikan dukungan atas harapan David.
Selama ini David berharap orangtuanya bisa memeluk agama islam juga namun saat itu dia gagal membujuknya hal itu tidak membuat David lelah untuk terus berusaha dan berdoa untuk mereka berdua serta para kakak-kakaknya itu.
Sesampainya di pasar minggu David langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkiran dan turun dari sana. Sedikit penjelasan tentang pasar minggu.
Koordinator Penyelenggara, Yanthi Sidler, kepada Antara London, Senin, mengatakan kegiatan Pasar Minggu diadakan setiap bulan minggu ketiga selain memenuhi permintaan masyarakat Indonesia sebagai wadah promosi kuliner Indonesia juga sambil belanja kebutuhan dapur.
Dikatakannya kegiatan tersebut juga bertujuan amal dimana sebagaian keuntungan yang didapat disumbangkan pada sebuah rumah Yatim Piatu didaerah Jawa Barat.
Saat ini sedang menyelesaikan proyek untuk membuat warung agar rumah yatim piatu ini dapat memenuhi kebutuhan dimasa depan dan tidak bergantung kepada sumbangan sosial.
Semakin siang pengunjung semakin bertambah banyak ruangan yang digunakan sudah tidak mampu menampung pengunjung, yang merupakan sanak keluarga masyarakat Indonesia dan sahabat-sahabatnya dari berbagai bangsa.
Dengan sabar pengunjung menunggu dilayani penjual yang menyiapkan makanan sehari sebelumnya, dan dengan tekun mendengarkan penjelasan tentang suasana pasar tradisional yang ada di Indonesia.
Suasana pasar yang unik rupanya sangat dirindukan masyarakat Indonesia yang datang dari pelosok Swiss, di antaranya yang tinggal di Zuerich, Baden, Lausanne bahkan dari Bodensee di daerah Jerman dan dari Lugano dekat perbatasan Italia.
Di sela-sela kesibukan mereka menyantap makanan yang jarang didapat itu, selain itu mereka juga berkesempatan mendapatkan "Indonesia Destinations" majalah promosi tujuan wisata Indonesia, yang diterbitkan KBRI-Bern.
Menjual berbagai panganan dan jajan seperti bubur ayam Bandung, bakso, pecel, gudeg, combro, mpek-mpek Palembang, rujak cingur, nasi Padang lengkap dengan balado jengkol, terlihat di acara Pasar Minggu digelar di Robertseidelhof, Zurich, Swiss.
Keesokan harinya David sudah siap-siap untuk berangkat.
Semuanya keluarga kumpul namun tidak dengan Papahnya yang masih berada di rumah sakit bersama dengan kakak pertamanya.
Anggelia memeluk erat David rasanya dia baru bertemu dengan David sudah dipisahkan lagi saja.
"Selama Papah dan Mamah berada di sini kamu bisa tinggal di rumah ya di sana masih ada Pak Bayu dan yang lainnya," ujar Anggelia sambil tersenyum matanya berlinang.
"Iyah Mah siap terima kasih banyak untuk dukungannya," sahut David.
Kini giliran Ommahnya yang memeluk David setelah terlepas dari Anggelia.
"Jaga diri baik-baik ya Nak di sana jangan lupa untuk kembali ke sini ingat umur tidak ada yang tahu jadi sesibuk apapun kamu di sana ingat arah pulang dan jangan lupa berdoa untuk Ommah dan Oppah agar selalu diberikan kesehatan ya," ujar Ommah sambil mencium pipi kanan dan kirinya David.
Meski perlakuan Ommah kadang membuat David merasa bahwa dirinya masih seperti kanak-kanak tapi begitulah Ommahnya apalagi dia cucu cowok satu-satunya.
Setelah berpamitan David pun langsung berangkat ke bandara yang diantar langsung oleh Pak Hartono bawahan Papahnya yang diutus untuk menemai David nanti.
"Jaga diri baik-baik kalian semua!" pekik David sebelum menutup pintu mobilnya.
Akhirnya setelah satu bulan lebih tinggal di Eropa David bisa kembali lagi ke Jakarta di mana menjadi tempat dia awal hijrah dan menemukan sosok wanita hebat seperti Dinda.