Pengorbanan Cinta David
Hidayah Untuk David
David tersenyum, "Gak sesering itu gue biasanya minum anggur hanya ingin melampiaskan emosi gue saja tapi tenang saja selama gue ada di dekat lo gak akan minum itu karena gue tahu lo anak baik-baik," ujar David sembari menyapu pandangannya ke seluruh tempat ini.
"Makan dulu nih lo harus cobaain makanan di tempat ini," seru Hamdan sembari menyulurkan the lemmy burger yang telah dipesannya.
David memandang makanan di depannya, "Di sana gue juga suka makanan begini kali," sahut David melihat fostur makanan yang sama percis dengan burger di Eropa yang suka dimakannya.
"Yee cobaain dulu, ini tuh burgernya beda lo pasti ketagihan setelah mencobanya." Dengan pandai Hamdan merayu temannya itu seraya menggigit lapisan burger dengan nikmat.
Bagaimana tidak selain makanan ini enak tempat ini pun begitu nyaman untuk tempat mengobrol atau sekadar bersantai, malam ini David bercerita tentang bagaimana dia tinggal di Eropa dan pergaulannya bersama teman-temannya di sana serta pengalamannya yang tentu saja berbeda dengan dia tinggal di Jakarta yang menjadi Ibu kotanya Indonesia, yang sering disebut kota polusi karena kemacetan yang sering terjadi.
"Bagaimana dengan tinggal di Jakarta?" tanya Hamdan kepada David sembari menatap cowok itu, dia ingin tahu pendapat David selama tinggal di kota kelahirannya.
Diam, David mulai menerawang, "Seru gue menemukan banyak hal di sini dan gue mendapatkan sikap mereka yang begitu ramah dengan orang baru bahkan mereka sangat menghargai sesamanya ada banyak hal yang membuat gue tertarik dengan kehidupan di sini," jelas David mengingat satu per satu kejadian yang dia alami.
Hamdan menganggukan kepalanya, "Apa yang membuat lo tertarik?"
"Gue menemukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah gue temukan, gue juga mendapatkan pembelajaran dari apa yang gue lihat dan tentu saja gue juga belajar dari lo wkwk," pekik David sembari terkekeh.
Ya Hamdan melihat perubahan itu dalam diri David, "Lo hebat bro! gue baru kali ini loh berteman dengan orang yang tidak seiman dengan gue dan nyatanya lo bukan seperti yang gue kira sebelumnya."
Pertemuan David dan Hamdan bukanlah secara kebetulan tetapi memang sudah takdir, Allah mengirim Hamdan untuk berada di dekat David memberikan dia pelajaran dan memberikan dia pemahaman begitu sebaliknya David yang selalu menjadi pengingat di kala Hamdan melakukan kesalahan yang melanggar aturan agamanya dan pelindung di kala Hamdan berada dalam kesusahan, bukankah itu indah? sungguh luar biasa kuasa sang maha kuasa yang telah mengatur semuanya.
Adzan Isya pun terdengar membuat Hamdan berhenti berbicara sikap Hamdan membuat David bingung tetapi dia menyadari sesuatu sebagaimana yang telah dia pahami dari orang-orang beriman yang berjumpa dengannya.
"Apakah dalam agama lo memerintahkan untuk diam saat suara adzan berkumandang?" ujar David setelah suara adzan itu tidak terdengar lagi.
Kali ini David menaikan kakinya di atas bangku dan melipatnya diantara kakinya yang lain dengan tangan yang menopang kepalanya sendiri sembari menunggu temannya itu untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukannya.
Setelah selesai membaca doa setelah adzan Hamdan siap menjawab pertanyaan David, "Adzan merupakan seruan Allah sebagai panggilan untuk menunaikan perintah salat. Salat adalah ibadah wajib umat Islam sehingga adzan merupakan panggilan yang begitu diangungkan dalam Islam, salah satu adab yang harus dilakukan seoarang hamba ketika mendengar suara adzan adalah berhenti melakukan aktivitas termasuk berbicara. Bahkan dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa Allah akan membuat kelu lidah manusia yang sakaratul maut jika Ia menyepelekan adzan. 'Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.' Abu Said Al-Khudri pun mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: 'Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin,' (HR. Al-Bukhari dan Muslim)," jelas Hamdan dengan pelan dan secara detail.
"Puji Tuhan," gumam Hamdan dengan pelan dia sangat begitu terharu mendengar penjelasan tentang ajaran atau aturan dalam agama islam. "Apakah kamu mau melaksanakan ibadah salat Dan?"
Hamdan mengangguk, "Iya tapi nanti setelah menghabiskan makan dulu, habis ini lo mau ke mana?" tanyanya.
"Hemm gak tahu terserah lo deh gue ikut saja kan gue gak tahu daerah sini, ya sudah gue habiskan makannya lalu gue akan anterin lo beribadah okey?" ujar David seraya langsung menegakan duduknya dan melahap burgernya yang belum habis.
Mendengar betapa baiknya hati David membuat Hamdan terkekeh, "Gak usah bro, gue akan pergi sendiri saja lo tunggu saja di sini yah."
"Eh serius gak mau dianterin?" pekik David dengan melotot.
"Iya gue gak enak kalau lo ikut yang ada orang bakal merhatiin lo di sana sudah lo di sini saja yah!" terang Hamdan sambil berdiri dan menepuk bahu David pelan.
David mengagguk "Iya juga ya, ya sudah lo hati-hati ya jangan lama-lama gue takut diculik di sini," katanya sembari terkekeh.
Begitu pun dengan Hamdan yang ikut tertawa, "Siapa juga yang mau nyulik lo, hah? ya sudah gue cabut dulu!" Hamdan berlalu dengan meninggalkan suara derungan dari motornya.
Selama Hamdan pergi untuk melaksanakan salat David menyibukan diri dengan tugas kuliah yang belum dia selesaikan, disusul dengan membaca alkitab yang dia bawa di tasnya. Seketika otak David berputar mengenai banyak hal yang dia temui dan dia lihat hingga ponselnya bergetar di dalam saku celananya.
"Ya hallo," serunya begitu sudah tersambung.
"Lo lagi di mana bro!"
"Hmm lagi di caffe tadi kan gue sudah ngabarin lo mau ikut enggak tapi lo nya aja yang nolak, salah siapa?" ceteluk David yang tidak merasa bersalah.
Terdengar suara Alex yang tertawa, "Never mind gue lagi malas pergi, gue kira lo gak jadi pergi, terus lo pergi sama siapa?"
"Sama Hamdan memangnya gue punya teman berapa sih selain kalian berdua." David tidak habis pikir dengan Alex yang sudah bertanya seakan-akan dia punya banyak teman di sini yang bisa diajaknya pergi.
Lagi-lagi Alex tertawa di sebrang sana, "Ya sorry bro, oh ya Hamdannya mana?"
"Lagi ibadah lo gak beribadah memang?" celetuk David dia ingin tahu apakah temannya itu sudah salat atau belum.
"Oh ya gue sudah salatlah, ya sudah gue matiin dulu ya mau makan lapar nih besok kan gue harus ikut puasa syaban," seru Alex yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Ditatapnya ponsel miliknya yang masih berbunyi, "Alex akan puasa?" gumamnya.
Terdengar bunyi kelakson motor milik Hamdan di depan sana membuat David kembali meneguk minuman miliknya.
"Sorry lama ya gue habis ikutan pengajian sebentar di masjid," ujar Hamdan sambil kembali duduk di bangkunya.
David menganggukan kepalanya, "Dan apakah besok lo mau puasa syaban?" tanyanya yang ikut penasaran dengan ibadah satu itu yang sebelumnya dia sudah dengar dari percakapan dua orang perempuan di sekolahnya.
Mendengar David bertanya itu membuat Hamdan tentu saja mengernyit bingung, "Lo tahu dari mana kalau gue besok mau puasa syaban?"
"Tadi Alex menelpon terus dia bilang mau makan dulu karena besoknya dia mau ikut puasa syaban," jelas David mengulang apa yang tadi Alex katakan kepadanya di via telepon.
"Owh gitu, iya gue besok mau puasa juga kenapa memangnya?" tanya Hamdan sembari memandang David.
Seketika David mendekatkan dirinya kepada Hamdan membuat temannya itu melotot, "Dan, apakah gue boleh ikut berpuasa?" bisiknya yang nampak serius, selama ini dia jarang sekali ikut puasa meski kedua orangtuanya selalu menyuruhnya tapi dia selalu menolak dengan alasan capek dan gak kuat.
Mendengar ucapan David membuat Hamdan terkejut bukan main, apa yang sebenarnya membuat David berkata seperti itu? dan apakah David berkata dengan sungguh-sungguh untuk ikut berpuasa dengannya? yuk langsung geser ke bab berikutnya!