Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Jangan - Jangan ... 16
“Mah … ini udah satu jam lebih,” suaraku akhirnya pecah di sela sunyi yang sejak tadi menggantung di antara kami berdua.
Aku melirik jam dinding. Jarum pendeknya nyaris menyentuh angka satu. Udara malam makin dingin, tapi justru keringat dingin membasahi telapak tanganku.
Pikiranku ke mana-mana. Rasanya seperti ada batu besar menimpa dada. Jantungku berdegup tak karuan dan setiap detik yang lewat tanpa kabar dari Mas Raka, semakin memperbesar ruang gelisah di hati ini.
Aku menoleh pelan ke arah mamah yang sedari tadi duduk di tepi kasur, memeluk buku Yasin yang sedari tadi dia baca. Wajahnya serius, tanpa ekspresi, tapi aku tahu dari tatapannya mamah sedang menahan emosi.
“Mah …,” panggilku lagi, suaraku lirih. Hampir seperti bisikan takut yang nyangkut di tenggorokan.
Aku merasa gugup … dan entah kenapa hati ini semakin tidak nyaman. Ada rasa cemas yang membakar lambat-lambat di dada.
Aku takut. Takut kalau dugaan ini benar.
Takut kalau Mas Raka benar-benar pergi ke rumah ibunya malam-malam begini … tanpa sedikit pun pamit … tanpa izin. Padahal tadi dia bilang cuma mau tidur di kamar sebelah sama papa.
Kalau iya … kenapa?
Aku menarik napas, tapi dada terasa sesak.
“Mah …,” ulangku lagi, kali ini suaraku gemetar.
“Kalau semisal … kalau semisal nih, Mah … dugaan Ayna bener … kalau Mas Raka beneran pulang ke rumah ibuknya malam-malam kayak gini tanpa bilang sama kita … itu artinya apa, Mah?”
Suaraku parau.
Mamah menghela napas panjang, mengusap punggung tanganku lembut, sebelum akhirnya bicara.
“Sayang … itu artinya dia masih lebih takut sama ibunya dari pada sama Allah,” kata mamah lirih, tapi nada suaranya tegas, mantap.
“Dia masih lebih takut ngecewain ibunya, dari pada tat dengan hukum agama … dan kamu, istrinya.”
Aku tercekat.
Air mataku tumpah, jatuh begitu saja.
“Lailahaillallah … Astaghfirullah … Nauzubillahiminzalik …,” bibir mamah bergetar, mengucap istighfar sambil mengusap wajahnya, menahan getir.
Aku bisa lihat matanya mulai berkaca-kaca, tapi mamah tetap kuat, tetap berdiri tegak di hadapanku.
Lalu tanpa berkata apa-apa, mamah bangkit dari duduknya, berjalan menuju lemari, menarik sebuah jaket tebal warna coklat tua, dan melemparkannya ke arahku.
“Pakai ini,” kata mamah, nadanya rendah tapi tegas.
Aku refleks menangkap jaket itu, meski tangan sedikit gemetar.
“Mamah … mau ke mana …?” tanyaku dengan suara pelan.
Mamah mengambil kunci motor dari atas meja kecil dekat pintu, menggenggamnya erat.
Aku bisa lihat jemari mamah sedikit bergetar menahan amarah.
“Ayo, Ayna,” ujar mamah seraya menatapku lekat. “Kita pergoki mereka.”
Aku menganga. Antara takut, gugup, tapi di sisi lain seperti ada keberanian kecil yang tiba-tiba menyala.
“Tapi Mah … kalau … kalau bener dia di sana …,” suaraku tercekat.
“Kalau bener, itu artinya kamu harus berhenti berharap sama orang yang kelakuannya macam binarang,” balas mamah. “Kamu harus cerai! Tapi kita harus punya bukti dan mamah bakal ada di belakang kamu, apa pun keputusan kamu habis malam ini.”
Aku menggigit bibirku. Pipiku panas menahan air mata.
Aku cepat-cepat mengenakan jaket itu, lalu meraih ponsel dan masker.
Mamah membuka pintu perlahan. Angin malam langsung menyusup masuk ke dalam rumah. Dingin. Tapi dingin di dada ini jauh lebih menusuk dari sekadar tiupan angin.
Di halaman depan, motor matic mamah sudah terparkir. Tanpa banyak bicara, mamah menaiki motor dan aku duduk di jok belakang.
“Mamah yang bawa, kamu pegangan ke mamah yang kenceng ya.”
Aku mengangguk, tangan gemetar memeluk pinggang mamah. Wangi tubuhnya yang familiar membuat dada ini sedikit tenang.
“Bismillah, Nak,” lirih mamah sebelum menyalakan mesin motor.
Dan malam itu, di bawah temaram lampu jalan yang sepi, kami berdua melaju … membelah gelap … menjemput kebenaran yang entah akan bikin hati ini makin luka atau justru akhirnya bisa bikin aku ikhlas melepas.
Sepanjang perjalanan, aku tak banyak bicara. Hanya memeluk pinggang mamah erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang bisa membuat aku tetap waras.
Mamah juga sama. Mulutnya diam, tapi dari cara dia menarik napas panjang berkali-kali, aku tahu beliau sedang menahan banyak hal di dalam dadanya.
Antara marah, kecewa dan kasihan ke anak perempuannya .
Begitu motor berhenti di ujung gang depan rumah ibu mertuaku, mamah mematikan mesin. Kami turun pelan, sengaja tak langsung mendekat. Rumah itu masih sama. Pagar putihnya sudah kusam, lampu teras menyala samar.
Sesampainya di halaman depan, aku langsung menoleh ke arah mamah. Dahiku berkerut.
“Mah,” bisikku lirih. “Mobil Mas Raka … nggak ada.”
Mamah spontan memandang ke halaman kosong itu. Benar-benar kosong. Tak ada jejak mobil Mas Raka.
Aku menelan ludah.
Mamah menghela napas kasar, tapi matanya penuh amarah. “Sudah sampai sini, Kepayang tanging kalau langsung pulang,” gumam mamah dengan logat khas Jawanya yang biasanya muncul saat beliau sedang benar-benar kesal.
Tanpa pikir panjang, mamah menerobos membuka pagar perlahan.
Ciiittt .
Suara engsel pagar yang berdecit pelan membuat bulu kudukku merinding. Mamah menahan sekuat tenants agar tak bersuara keras.
“Ayo, ngintip sebentar!” bisik mamah, penuh tekad.
Aku hanya bisa mengangguk, jantungku bagai ditarik paksa dari dadaku. Kami merunduk pelan, menyusuri pinggir rumah, menjejak tanah dingin yang basah oleh embun malam. Suasana benar-benar sunyi. Hanya suara angin menggoyang dedaunan dan sesekali anjing tetangga yang menggonggong pelan.
“Mah, itu … jendelanya di sebelah sana,” bisikku, menunjuk ke arah samping rumah yang agak gelap.
Kami berjalan hati-hati. Nafasku tertahan. Dan ketika kami baru beberapa langkah dari jendela kamar ibu mertuaku .…
Terdengar de54han.
Suara itu lirih, berat … tapi jelas. Suara perempuan dan lelaki, bergantian, saling bersahut-sahutan di antara suara ranjang yang berderit pelan.
Aku terpaku. Mamah langsung berhenti di tempat, wajahnya kaku. Wajahku terasa panas dan dingin bersamaan. Tubuhku gemetar.
“Mah … itu …,” bisikku gemetar.
Mamah menempelkan jari telunjuk ke bibir, menyuruhku diam. Pelan-pelan, kami mendekat ke jendela. Lampu kamar sengaja dibiarkan temaram. Tapi bayangan samar dua sosok terlihat di sana, di atas ranjang.
Tak jelas siapa mereka.
Salah satunya perempuan aku yakin itu ibu mertuaku. Tubuh dan siluetnya terlalu familiar. Tapi lelaki itu … tubuhnya tinggi, rambutnya seperti .…
Aku menahan napas.
“Ya Allah, jangan-jangan ….”
Tapi tidak, aku tak boleh langsung menyimpulkan. Bisa saja siapa saja. Tapi kenapa perasaanku semakin buruk?
Mamah mencengkeram lenganku. Tangannya dingin, tapi kuat.
“Jangan gegabah, Ay,” bisik mamah.
Aku mengangguk.
Kami menahan nafas lama, mengendap, mencoba mengintip dari celah jendela. Sayang, kain garden di jendela mengaburkan bayangan wajah mereka. Hanya suara itu yang makin lama makin terdengar panas.
Mamah menggeleng pelan.
“Ada yang nggak beres di rumah ini, Ay,” gumamnya.
Aku menelan ludah.
“Apa kita balik aja, Mah?” suaraku bergetar.
“Belum. Tunggu sebentar,” kata mamah mantap.