Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Ruangan Hening
Dunia seperti berhenti. Suasana ruangan itu seperti berubah dingin.
“Ini harus segera dioperasi, karena kalau tidak, sel-sel kanker akan semakin merambat ke jaringan tulang belakang dan organ tubuh lain. Harus dilakukan transplantasi tulang belakang,” lanjut dokter itu.
Hatiku seperti diremas. Nafasku tercekat.
“Kita siapkan pendonor, kalau memang tidak ada yang cocok, biasanya orang tua kandung yang paling memungkinkan. Ibu kandung Ayna bisa kami periksa dulu,” suara dokter menjelaskan.
Aku mendengar suara isak tangis di dekatku. Itu suara mamah .…
Suara mamah yang selalu kuat, kali ini terdengar rapuh. Tangisnya pelan, seolah berusaha tetap tegar, tapi jelas aku bisa merasakan getarannya.
Tangannya menggenggam erat jemariku.
“Nak … ya Allah, Nak … Mamah di sini, Nak … Mamah di sini … Mamah gak bakal ninggalin kamu,” bisik mamah, suaranya parau menahan tangis.
Aku berusaha membuka mata. Berat. Rasanya kayak ditindih batu. Tapi pelan-pelan, cahaya putih terang itu mulai menerobos masuk. Samar-samar kulihat langit-langit putih ruangan rumah sakit. Bau obat dan antiseptik menyengat.
Aku melihat mamah di sampingku. Wajahnya sembab, matanya merah, tapi tetap berusaha tersenyum begitu melihat aku bangun.
“Ayna … Alhamdulillah … ya Allah, Nak … bangun juga kamu …,” mamah buru-buru menyeka air matanya, lalu meraih tanganku.
Aku mencoba bicara, tapi tenggorokan rasanya perih.
“M-Mah … a-aku … aku sakit apa …?” suaraku serak, hampir tak terdengar.
Mamah menggenggam erat jemariku, matanya berkaca-kaca lagi.
“Ayna … sabar ya, Nak. Mamah di sini. Nanti dokter jelasin langsung ke kamu. Yang penting sekarang, kamu istirahat dulu. Mamah gak kemana-mana. Kamu kuat, sayang … kamu anak kuat …,” mamah mengecup keningku lama sekali.
Aku menatap langit-langit, masih tak percaya dengan apa yang kudengar tadi.
Kanker tulang belakang? Aku?
Baru beberapa jam lalu aku sibuk ngurusin soal Mas Raka, soal mertua, mengulik tentang masa lalu mereka .…
Sekarang aku malah harus mikir soal hidup dan mati.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Pikiran tentang bayi yang katanya mungkin ada di perutku lenyap seketika. Sekarang yang kupikirkan cuma satu
“Apa aku masih bisa sembuh?”
“Ya Allah … kalau memang jalan hidupku seperti ini, beri aku kekuatan. Tapi kalau Engkau masih izinkan, beri aku kesempatan …,” batinku lirih.
Mamah masih di sampingku, genggamannya tak lepas.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar takut.
Tak … tak … tak ….
Terdengar keras suara sepatu orang menuju ruangan.
“Ayna … Ayna sayang … kamu nggak apa-apa kan? Apa kata dokter?” suara Mas Raka yang baru saja sampai terdengar cemas, ia terlihat buru-buru masuk ke ruang rawat sambil setengah berlari.
Wajahnya pucat, keningnya basah keringat. Di tangannya masih menenteng sekotak jus dan kantong plastik berisi buah potong yang entah dia beli di mana.
Aku hanya menoleh lemah. Kepalaku masih berat, perutku kosong dan rasanya semua yang terjadi hari ini kayak mimpi buruk.
“Bagaimana kandunganmu, sayang?” tanya Mas Raka lagi sambil duduk di tepi ranjangku, tangannya berusaha menggenggam tanganku, tapi aku buru-buru menariknya.
Wajah Mas Raka seketika berubah. Kaget. Seperti nggak menyangka aku menghindar.
Sementara itu, ibuk yang dari tadi berdiri diam di pojokan bersama mamah tiba-tiba nyeletuk. Wajahnya jelas menegang, mulutnya mencemet kayak orang kesel setengah mati.
Dan detik itu juga, mulut ibuk terbuka tanpa saring.
“Huh, Ayna tuh nggak hamil! Penyakitan! Kata ibuk juga apa, dia itu pasti mandul! Tuh sumpah serapah seorang ibu itu terbukti, Raka!”
Ucapan itu meluncur deras, keras, tanpa jeda. Seisi ruangan mendadak hening.
Aku membelalak. Mamah yang berdiri di belakang ibuk langsung terperangah, matanya membelalak seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Wajah mamah merah padam.
Mas Raka menoleh cepat ke arah ibuk, ekspresi wajahnya seperti orang habis ditampar.
“Bu! Astaghfirullah, Bu … ngapain ngomong kayak gitu di depan Ayna yang lagi sakit?!”
Ibuk menatap Mas Raka tajam. “Apa?! Emang salah?! Sejak awal ibu udah bilang! Cewek kayak dia tuh nggak cocok sama kamu, Rak! Tengok tuh! Baru juga nikah sebentar udah pingsan melulu! Penyakit sana, penyakit sini! Mual, pusing, katanya hamil … ternyata kanker! Cuih!! Kan bener kata ibu?!”
Tanganku bergetar. Bibirku menggigit keras. Ada sesuatu di dada ini kayak mau meledak.
Aku menatap ibuk, air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah.
“Ibu … seburuk itukah Ayna di mata ibu …?” suaraku pelan, nyaris tak terdengar.
Ibuk hanya mendengus, wajahnya keras, tatapannya dingin.
“Jangan pura-pura ngelunak deh, Ay. Kamu tuh dari awal bawa sial buat keluarga ini! Bikin anak saya jauh dari saya, dari keluarganya. Sekarang liat! Malah bikin masalah!”
Nada suara ibuk naik setingkat.
Mamah gak bisa lagi diam. Dengan langkah mantap, beliau maju, berdiri persis di hadapan ibuk.
“Cukup, Buk! Atau saya tampar mulut anda.”
Suara mamah tegas, dingin dan penuh wibawa.
“Dari tadi saya diem, saya sabar. Tapi denger ibu ngomong kayak tadi … sumpah demi Allah saya gak bisa terima!”
Mamah menatap ibuk tajam, nadanya bergetar menahan amarah.
“Anak saya mungkin sakit, iya. Mungkin lemah, iya. Tapi anak saya nggak hina, Buk! Dia nggak pantas dikatain mandul atau pembawa sial! Dan ibu jangan bawa-bawa penyakit anak saya buat memuaskan hati ibu yang dari dulu gak rela anaknya nikah sama Ayna!”
Ruangan makin panas.
Mas Raka buru-buru mencoba menenangkan. “Mamah … Ibu … udahlah… tolong jangan ribut di sini. Ayna kan baru sadar .…”
Aku hanya bisa menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Ingin rasanya menghilang dari situ.
Tapi mamah belum selesai.
“Kalau memang ibu gak suka sama anak saya, bilang dari dulu! Jangan pura-pura sok baik depan saya, sok sayang sama anak saya, lalu sekarang nyeletuk kayak orang kelepasan! Ibu gak tahu rasanya jadi seorang ibu yang lihat anaknya dihina kayak tadi!”
Ibuk mendengus. “Lah memang kenyataannya begitu, kan?”
“Dan memang … kalau anak saya sakit, itu cobaan dari Allah, bukan kutukan kayak yang ibu pikirin! Kami bisa terima dengan lapang dada. Tapi kalau ibu mau terus-terusan hina anak saya, saya gak akan tinggal diam!”
Detik itu juga mamah menggenggam tanganku, matanya berkaca-kaca.
“Ayna … kalau kamu mau pisah, Mamah setuju. Mamah gak rela kamu hidup kayak gini terus. Sehat atau sakit, kamu tetap anak Mamah. Kamu tetap berharga. Dan Mamah bakal pasang badan buat kamu!”
Air mataku tumpah, deras. Aku mengangguk pelan.
Mas Raka diam, wajahnya kusut, antara malu, takut, dan bingung.
“Rak,” suara mamah pelan tapi tegas, “Kalau kamu sayang sama anak saya, buktikan. Kalau enggak, lepaskan. Jangan buat dia makin sakit lahir batin begini.”
Ibuk cuma bisa diam. Mungkin malu, mungkin kesal, atau mungkin gak sanggup lagi berdebat karena ucapan mamah tadi menusuk tepat di harga dirinya.
Dan aku … untuk pertama kalinya, merasa punya keberanian.
“Ibu … aku mungkin sakit, tapi aku bukan perempuan lemah. Aku bukan perempuan hina kayak yang ibu bilang. Aku masih punya harga diri.”
Aku menatap ibuk lurus, suara gemetar tapi mantap.
“Mulai detik ini, aku gak mau lagi denger ibu hina aku kayak tadi. Kalau ibu gak suka Ayna di keluarga ini, lebih baik kita bicarakan baik-baik. Tapi jangan pernah hina Ayna soal anak, soal rahim, atau soal hidup Ayna, karena itu urusan Ayna sama Allah, bukan urusan ibu!”
Ruangan itu hening.
Hanya terdengar detak jam dinding, suara infus yang menetes pelan, dan isak tangis mamah yang akhirnya memelukku.
“Anak Mamah pinter … anak Mamah kuat,” bisik mamah di pelukanku.
Dan aku tahu, apapun yang akan terjadi besok … aku gak sendirian kan? Ada Mamah sama Allah, Mas Raka juga Insha Allah.