Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Lelah

“Mah! Ayna nggak mau, Mah! Aku nggak mau ikut Mas Raka! Aku nggak mau balik ke rumah itu, Mah! Tolong, Mah!”

 

Aku terus berteriak sepanjang perjalanan menuju pelataran parkir rumah sakit. Suara tangisku pecah, tubuhku gemetar, rasanya napasku sesak.

 

Tanganku mencengkeram kuat lengan mamah, seperti anak kecil yang memohon jangan ditinggalkan.

 

“Mah, aku takut, Mah … jangan serahin aku ke dia … jangan, Mah … please .…”

Aku terus meronta, tapi mamah hanya memelukku erat, membisikkan kata-kata pelan di telingaku yang bahkan sulit kudengar di tengah isakanku sendiri.

 

Papah yang sedari tadi ikut berjalan di belakang kami akhirnya berhenti. Langkahnya terhenti di bawah pohon ketapang di pelataran parkir rumah sakit. Nafasnya terdengar berat.

 

“Mah … apa nggak seharusnya kita bawa aja anak kita pulang?” ucap Papah akhirnya, nadanya tegas. “Ayna anak kita. Kenapa kita harus nurut sama si Raka sekarang? Kau lihat kan gimana kelakuannya tadi?”

 

Aku langsung menoleh penuh harap ke Papah.

“Iya, Pah … bawa aku pulang, Pah … aku nggak mau ikut Mas Raka .…”

 

Tapi mamah tiba-tiba menggeleng, matanya berkaca-kaca. Tetesan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga di pipinya.

 

“Pah … mamah ngerti … mamah juga nggak rela … tapi mamah butuh bukti. Kita harus lihat dulu gimana perlakuan Raka ke Ayna setelah ini.”

 

Mamah memegang tangan Papah, menatapnya dalam-dalam. “Supaya nanti kita punya alasan kuat untuk menuntut cerai. Biar Ayna bisa lepas dari anak dan ibu kurang ajar itu. Papah paham maksud mamah, kan?”

 

Papah diam. Rahangnya mengeras. Matanya berpindah ke arahku yang masih memeluk mamah erat-erat. Sesaat kemudian Papah mengusap wajahnya kasar, lalu mengangguk pelan.

 

“Aku ngerti, Mah … aku ngerti. Tapi sumpah … hati ini rasanya pengen bawa anak kita pulang saat ini juga.”

 

Mamah menarik napas berat, memelukku lebih erat lagi. Lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang dingin dan basah air mata.

 

“Ayna … sayang … dengarkan mamah, ya?” suaranya bergetar. “Dua hari aja, Nak … dua hari. Mamah janji, mamah bakal nyusul kamu. Mamah bakal datang. Kalau dalam dua hari aja kamu tersakiti, mamah gak bakal diam. Kita rebut hak kamu, Nak … kita bawa kamu pulang, kita urus semuanya. Mamah minta maaf harus kayak gini tapi ini cara kita buat bisa lepasin kamu secara sah dari rumah itu.”

 

Aku menatap mata mamah yang sudah memerah. Hati kecilku seperti teriris. Tapi aku bisa lihat ketulusan di sana. Ketulusan seorang ibu yang mungkin sedang menguatkan diri di depan anaknya.

 

Aku terisak. Pelan-pelan kusapu air mata di pipiku.

 

“Iya, Mah … Ayna ngerti … Ayna nurut, Mah … tapi janji ya Mah … dua hari aja .…”

Suaraku tercekat di tenggorokan. Rasanya aku baru saja menyerahkan diri ke kandang serigala, tapi demi mamah dan papah … aku pasrah.

 

Mamah mencium keningku berkali-kali, menahan isak.

 

“Anak pintar … anak kuat mamah … kamu bisa, sayang. Ingat, mamah di sini, mamah di sini terus buat kamu.”

 

Di kejauhan, mobil Mas Raka sudah menunggu dengan mesin menyala. Aku melihatnya bersandar di pintu mobil dengan wajah bosan. Entah kenapa, aku tak lagi mengenali lelaki itu.

Lelaki yang dulu pernah membela, memeluk, bahkan berlutut di depanku sambil memohon agar aku tak pergi dari hidupnya.

 

Sekarang? Dia lebih seperti orang asing.

 

Mamah memelukku sekali lagi sebelum akhirnya mendorongku pelan menuju arah mobil.

 

“Jaga dirimu, Nak … kuat ya … dua hari, Mamah janji .…”

 

Aku berjalan pelan. Kaki rasanya berat, tubuhku masih lemah pasca operasi, tapi lebih sakit lagi rasanya di hati. Saat aku tiba di depan Mas Raka, dia cuma membuka pintu tanpa sepatah kata pun.

 

“Cepat masuk, aku buru-buru.”

Begitu saja. Datar. Hambar.

 

Aku menoleh sekali lagi ke arah mamah dan papah. Mamah melambai sambil tersenyum getir. Papah hanya mengangguk, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

 

Aku masuk ke mobil.

 

Pintu tertutup. Mesin gas.

 

Dan di detik itu juga, hatiku berjanji, dua hari … hanya dua hari … setelah itu, aku tidak akan pernah membiarkan diriku lagi jadi boneka dalam rumah itu.

 

Mobil mulai melaju.

 

Dua hari ….

Ya Allah, beri aku kekuatan.

 

Aku duduk di kursi belakang mobil, tepat di belakang Mas Raka dan Ibuk.

Hening.

Tak ada percakapan, bahkan sekadar basa-basi menanyakan kabar atau menyinggung soal kondisiku setelah operasi.

 

Aku tahu, Ibuk memang tidak pernah benar-benar suka padaku. Tapi … setelah apa yang terjadi di rumah sakit, aku kira setidaknya ada sedikit perubahan. Setidaknya, ada ucapan sederhana, “Kamu gimana, Na?” atau sekadar tatapan lebih manusiawi. Tapi ternyata tidak.

 

Dari kaca spion tengah, aku bisa melihat wajah Mas Raka yang serius menyetir. Sesekali dia melirik Ibuk, memastikan kondisi perempuan itu baik-baik saja. Sementara aku … seperti tak terlihat.

 

Aku menunduk, menatap jemariku yang saling menggenggam. Luka operasi di punggungku masih perih, tapi luka di hati rasanya jauh lebih parah.

 

Akhirnya, aku memberanikan diri memecah keheningan.

“Buk … apa Ibuk udah baikan?” tanyaku pelan, nyaris seperti bisikan.

 

Tak kuduga, respon Ibuk secepat itu.

 

“Punya hak apa kamu menanyakan itu?” suara Ibuk tajam, ketus, dingin tanpa jeda.

 

Aku tercekat. Nafasku seolah berhenti sesaat.

 

Aku memilih diam.

Menelan ludah. Mengusap sisa air mata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk mata.

Tak ada suara lagi di mobil, hanya deru mesin dan bising kendaraan jalanan.

 

Mas Raka tak menengahi. Tak sekalipun menoleh ke arahku, seolah ucapan Ibuk itu wajar, seolah aku memang pantas diperlakukan begitu.

 

Akhirnya mobil memasuki halaman rumah. Rumah itu masih sama. Besar, megah, tapi terasa dingin. Pagar besi setengah terbuka, lampu teras menyala redup.

 

Mas Raka turun lebih dulu, bergegas ke sisi pintu Ibuk.

“Mari, Buk. Raka bantuin, pelan-pelan ya.” suaranya begitu lembut pada Ibuk, penuh perhatian.

 

Aku diam di kursi belakang. Tak ada yang membukakan pintu, tak ada yang peduli.

 

Dengan sisa tenaga, aku buka sendiri pintu mobil itu, menjejakkan kaki ke aspal halaman rumah.

 

Saat aku baru saja hendak meraih koperku di bagasi, suara Mas Raka terdengar.

 

“Dek, tolong koper sama tas-tas lainnya ya, Mas mau bantuin Ibuk dulu. Tadi di rumah sakit kan Ibuk belum mandi, badannya lengket semua,” ucapnya tanpa menoleh.

 

Deg.

 

Aku terdiam.

Tanganku menggantung di udara. Pandanganku mengikuti mereka, Mas Raka yang menggandeng Ibuk masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, seperti anak kecil menggandeng ibunya. Penuh perhatian, penuh kasih.

 

Sementara aku?

Aku istri, barusan operasi besar, tapi disuruh ngangkat-ngangkat barang. Bahkan setelah mendengar Ibuk berkata sepedas tadi, Mas Raka seakan-akan … tidak pernah ada apa-apa.

 

Aku menunduk, menarik koper pelan. Punggungku begitu perih, tapi aku gigit bibir. Aku tahan.

Tanganku lemah, tapi aku kuatkan. Karena aku tahu, tidak ada yang akan membantuku.

 

Satu per satu, kubawa masuk barang-barang itu ke dalam rumah. 

 

Aku mendengar suara tawa Ibuk di dalam kamar mandi, bercanda dengan Mas Raka.

“Ah kamu itu, Rak, jangan main air ke muka Ibuk! Dasar anak kecil!”

 

Suaranya riang.

Sementara aku hanya berdiri di depan kamar sendirian.

 

Aku letakkan koper di pojok kamar. Duduk di tepi ranjang, mengusap dada yang nyeri. Mataku panas. Tangisku tumpah diam-diam.

 

“Ya Allah … sampai kapan aku begini?”

 

Seketika aku teringat kata-kata Mamah sebelum aku berangkat tadi siang.

“Dua hari saja, Nak. Dua hari. Mamah akan susul kamu. Mamah janji.”

 

Aku menutup wajah dengan telapak tangan. Dua hari rasanya seperti dua tahun di tempat ini.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!