Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Hah! Dimandikan Ibuk!

“Mandi di luar, dimandiin Ibuk!”

 

Ucapan itu … bercanda? Kesal? Atau apa? Kenapa bisa meluncur santai begitu? 

 

Aku menghembuskan napas panjang. Tanganku meremas ujung selimut, mencoba menenangkan hati yang terus dihantam rasa curiga.

 

 

Perlahan aku berdiri, menuju meja rias. Menatap wajahku sendiri di cermin. Lingkar mata ini sedikit gelap, kurang tidur, banyak pikiran. Aku usap pelan pipiku.

 

 

“Ayna … jangan suudzon. Jangan mikir yang aneh-aneh. Itu suamimu. Itu ibu mertua kamu. Nggak baik mikir buruk kayak gini …,” bisikku ke bayangan sendiri di cermin.

 

Tapi bayangan tadi masih jelas. Suara de54h4n pelan, ranjang yang berdecit samar dan baju Mas Raka di lantai samping ranjang Ibu. 

 

Aku bukan halu. Aku nggak mungkin ngarang. Semua itu benar-benar kulihat.

 

Aku memejamkan mata secara perlahan, mencoba menghapus pikiran buruk itu. Tapi bukannya tenang, justru makin kacau. Aku ingat jelas … warna seprai Ibu. Warna biru pastel dengan motif bunga kecil. 

 

Dan tadi, saat Ibu membuka pintu … seprai itu kusut. Kusut banget, seperti habis .… “Ah, Ayna!!! Stop!”

 

Kepalaku pelan-pelan menggeleng. “Udah, Ayna … udah.” Aku paksa otak ini berhenti.

 

Aku berdiri, mencoba membereskan kamar. Menyibukkan diri agar otak ini nggak terus menerus mikir yang aneh-aneh. Baru saja aku melipat selimut, terdengar suara pintu depan dibuka.

 

Aku refleks menghampiri jendela. Mengintip dari balik gorden.

 

Aku melongokkan kepala ke jendela kamar. Kulihat Mas Raka berdiri di halaman samping, berbicara pelan dengan Ibu. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi dari raut wajahnya … serius. Mas Raka tampak sedikit menunduk. Sementara Ibu sesekali menyentuh lengannya.

 

Aku memperhatikan dari balik gorden, tanpa suara.

 

 

Dan saat itu, tiba-tiba … Ibu menoleh ke arah kamarku.

 

Pandangan kami bertemu.

 

Aku panik, langsung menjauh dari jendela. Jantungku berdetak begitu cepat, seperti habis tertangkap basah mengintip sesuatu yang haram dilihat.

 

Aku bersandar di dinding, menutup mulut, mencoba mengatur napas.

Nafasku ngos-ngosan.

 

“Tenang, Ayna… tenang. Semua ini cuma pikiranmu. Cuma prasangka. Ya Allah … tolong, jangan kasih aku pikiran buruk,” bisikku dalam hati.

 

Setelah akhirnya tenang.

 

Aku berjalan ke dapur. Berniat mengambil segelas air putih, berharap lebih bisa meredakan gelisah ini.

 

Tapi langkahku terhenti.

 

Di depan pintu kamar mandi belakang.

 

Aku mendongak pelan.

 

Di sana … daster Ibu tergantung di gantungan. Daster itu basah dan tepat di bawahnya, di atas ember kecil terlihat kaos hitam Mas Raka.

 

Kaos yang jelas-jelas tadi masih dipakai Mas Raka.

 

Aku terpaku. Tubuhku membeku. Mataku tak berkedip menatap pakaian mereka.

 

Deg. Deg. Deg.

 

Detak jantungku terdengar jelas di telinga. Keringat dingin mulai merembes di pelipis.

 

Suara guyuran air dari dalam kamar mandi terdengar samar. Suara yang seharusnya biasa saja … tapi sekarang rasanya seperti irama horor yang membuat bulu kudukku meremang.

 

Kata-kata Mas Raka yang tadi terngiang-ngiang kembali.

 

“Dimandiin Ibuk.”

 

“Dimandiin Ibuk.”

 

“Dimandiin Ibuk.”

 

Aku menggigit bibir. Pandanganku masih terkunci di kaos itu. Tiba-tiba saja mataku panas. Ada genangan air di sana.

 

Apa mereka berdua benar-benar mandi bersama? Bola mataku berkaca. “Apa-apaan ini ya Allah.”

 

Apa benar … Mas Raka ada di dalam? Bersama Ibunya? Mandi … berdua?

 

Aku ingin menepis pikiran itu. Tapi buktinya? Kaos itu. Daster itu. Suara air. Semua nyata di depan mata.

 

Ya Allah … apa ini? 

 

Apa-apaan ini ya Allah?

 

Aku mencoba melangkah pelan. Tapi kaki ini kaku. Seakan tak mau digerakkan. Aku berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Menghadap ke sana. Napasku memburu.

 

Aku ingin mengetuk … tapi tangan ini berat.

 

Tubuhku bergetar. Ada rasa takut. Ada rasa marah. Ada rasa kecewa yang bercampur jadi satu.

 

Suara air keran itu terus mengalir.

 

Seperti irama yang seirama dengan detak jantungku yang makin tak karuan. 

 

Setiap tetesannya terdengar jelas, seolah menghitung waktu … menunggu mereka keluar atau aku yang harus mendobrak dan menyergapi kelakuan mereka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!