Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
BINATANG
Aku menoleh pelan ke arah pintu, di mana Mas Raka berdiri bersandar, wajahnya lelah tapi tetap menyisakan tatapan dingin itu. Tatapan yang akhir-akhir ini selalu membuat hatiku terasa perih, seperti ada duri yang menancap, tak bisa dicabut, tapi juga tak sanggup kubiarkan begitu saja.
“Dek, ini udah jam tujuh malam. Kamu nggak masak? Astaghfirullah … ibuk harus minum obat, Dek. Biar cepet pulih. Jangan kebanyakan rebahan terus,” ucapnya sambil berjalan mendekat, nadanya meninggi.
Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang sebelum perlahan menoleh menatapnya. “Aku juga sakit, Mas … aku lemes banget,” lirihku, sengaja kubuat selemah mungkin, berharap ada sedikit rasa iba di hatinya. Harapanku sederhana, hanya ingin Mas Raka ingat bahwa aku bukan robot, bukan budak di rumah ini. Aku juga manusia. Aku juga butuh diperhatikan.
Tapi harapan itu seketika runtuh saat wajah Mas Raka justru berubah semakin keras. Rahangnya mengeras, tatapannya menukik tajam padaku.
“Tap ibuk sakit begini gara-gara kamu, Dek!” bentaknya tiba-tiba, membuat dadaku seketika sesak. “Kamu harus sadar diri! Kamu tuh harusnya lebih mikirin ibuk! Kalau bukan karena ibuk, kamu nggak bisa napas sekarang!”
Aku terpaku. Kata-katanya bagai tamparan keras yang menyisakan perih mendalam. Mataku berkaca-kaca, tapi aku tahan sekuat tenaga agar tak menetes di depannya. Aku tidak boleh lemah, tidak boleh runtuh. Tidak sekarang.
Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari sisa-sisa wajah lelaki yang dulu pernah begitu kucinta, lelaki yang dulu dengan bangga berjanji akan menjagaku, melindungiku. Tapi kini yang kulihat hanyalah lelaki asing, yang lebih mencintai ego dan ibunya dibandingkan istri yang sedang sakit.
“Iya,” ucapku akhirnya, suaraku nyaris tak terdengar. “Akan kubuat makan malam,” lanjutku dengan sisa tenaga yang masih kupunya, lalu melangkah pelan meninggalkannya yang masih berdiri di sana, tanpa menoleh sedikit pun padaku.
Aku berjalan menuju dapur, langkahku gontai. Dapur itu masih sama, aroma sisa masakan siang tadi masih samar tercium. Tanganku gemetar saat membuka rice cooker, melihat nasi yang sudah mulai mengeras. Aku menghela napas panjang, menahan perih di dada.
Aku menyiapkan panci, mengambil beberapa sayuran seadanya di kulkas. Kubuka kulkas yang pintunya sudah mulai kendor itu, hanya ada beberapa lembar sawi layu dan sisa telur dua butir. Aku menatapnya lama. Rasanya ingin menangis. Ini yang harus kuhidangkan untuk orang yang sejak tadi menghardikku tanpa ampun.
Air mataku menetes satu per satu saat tanganku tetap bergerak membersihkan sayur. Air keran yang mengalir menutupi suara sesegukanku. Aku masak seadanya, semangkuk sup bening dengan sisa wortel dan sawi, serta telur dadar yang terlalu tipis karena hanya dua butir untuk dimakan bertiga.
Saat semuanya siap, aku menata meja makan. Tak ada siapa-siapa. Mas Raka masih di kamar ibuknya. Aku sempat menunggu, berharap ada panggilan dari Mas Raka. Tapi nihil.
Aku akhirnya memanggil, “Mas … makanannya udah siap.”
Tak ada jawaban.
Kutatap jam dinding, sudah hampir jam delapan malam. Aku berjalan pelan ke kamar ibuk, mengetuk pelan.
“Mas … makanannya udah siap.”
Dari dalam kudengar suara Mas Raka, “Iya, nanti! Kamu makan duluan saja, aku bareng Ibuk!”
Aku menelan ludah. Dada ini terasa sesak. Aku tahu mereka tak akan keluar kalau aku masih di situ. Akhirnya, aku kembali ke dapur, duduk sendirian di kursi paling ujung.
Aku makan sendiri.
Sendok demi sendok suapan terasa hambar. Bukan karena kurang garam, tapi karena aku kehilangan rasa. Yang kutelan hanya perasaan sakit dan pilu. Air mataku menetes tanpa kusadari, jatuh ke atas nasi di piring.
Saat aku sedang menyendok suapan terakhir, samar kudengar suara Mas Raka dari ruang ibuk. “Ibuk … makan dulu yuk, udah disiapin sama Ayna.”
“Siapa yang mau makan masakan dia?!” suara keras itu menggema. “Kalo bukan karena saya, dia udah jadi bangkai! Sekarang masih aja berani tinggal di rumah saya, makan dari dapur saya! Cih wanita tidak ada harga diri.”
Aku berhenti mengunyah. Nasi di mulutku seakan berubah jadi kerikil, susah kutelan. Air mataku menetes deras, jatuh membasahi piring yang isinya bahkan belum separuh habis. Rasa sesak di dada makin menjadi. Aku menegakkan punggung, meletakkan sendok di atas piring pelan. Tak sanggup lagi.
Aku bangkit, menyeret langkah lemah menuju kamar. Meja makan itu kubiarkan begitu saja, lauk dan nasi masih utuh di atasnya. Tak peduli. Tak ada lagi yang perlu kurapikan malam ini.
Begitu masuk ke kamar kecil itu. Aku tak menyalakan lampu, hanya biarkan gelap menyelimutiku. Tangisku pecah, pelan, nyaris tanpa suara. Air mata terus saja jatuh meski mataku sudah bengkak. Rasa sakit di dada ini seakan menggulung-gulung tanpa henti. Lelah. Sangat lelah.
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku terlelap.
Tiba-tiba, suara derit pelan kursi roda membangunkanku. Suara itu menyeret masuk dalam keheningan kamar yang hanya diterangi remang dari lampu jalanan luar jendela.
Aku membuka mata pelan, masih setengah sadar, antara mimpi dan nyata.
Derit itu terdengar lagi. Pelan. Lalu langkah kaki menyeret di lantai.
Aku menoleh.
Di ambang pintu, berdiri sosok Ibuk, duduk di kursi rodanya. Wajahnya suram, sorot matanya menusuk, senyum sinis tersungging di bibirnya. Meski remang, aku bisa melihat jelas bagaimana tatapannya ke arahku.
“Aku yakin, besok anakku akan menceraikanmu!” ucapnya lantang, suara parau itu menggema di ruangan kecil ini. Tidak berbisik. Tidak pelan. Tapi keras, seakan ingin memastikan setiap kata itu menancap di dadaku.
Jantungku berdegup kencang. Tenggorokanku tercekat. Aku hanya bisa mematung di atas kasur.
Ibuk tak menunggu reaksiku. Ia langsung mengoyah kursi rodanya, bergerak perlahan meninggalkan ambang pintu.
Aku masih terpaku. Mataku masih terbuka lebar. Napasku tercekat, dada ini seperti ditimpa batu besar. Kata-katanya menggema di kepalaku.
“Aku yakin, besok anakku akan menceraikanmu .…”
*
Aku tidak bisa tidur semalaman.
Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan wajah Ibuk dengan tatapan benci itu selalu hadir. Kata-katanya menggema di kepalaku, mematahkan sisa ketenangan yang berusaha kucari. Tubuhku lemas, tapi pikiranku terjaga sepenuhnya. Jam di dinding sudah menunjuk angka dua dini hari, tapi Mas Raka masih saja belum masuk ke kamar. Entah ke mana dia.
“Mas …,” aku berbisik ke udara kosong.
Aku berharap dia masuk, setidaknya menengokku, menanyakan keadaanku. Tapi nihil.
Sampai jam tiga. Empat. Hingga azan subuh terdengar sayup dari mushola ujung gang. Udara semakin dingin, selimut tipis tak mampu menahan gemetar tubuhku.
Lalu suara itu datang.
“A-argh… argh .…”
Aku mengerjapkan mata. Apa itu?
Suaranya dari arah kamar Ibuk. Pelan tapi jelas. Aku menahan napas. Suara desahan . Bukan suara sakit, bukan juga suara orang menangis kesakitan.
Aku sontak duduk. Jantungku berdegup kencang.
Tanganku gemetar, tapi aku memaksakan kaki ini turun dari kasur. Meski kepala masih pusing, tubuh masih lemas, aku berjalan pelan ke arah pintu. Makin dekat … suara itu makin jelas.
Desahan . Gumaman. Rintihan.
Dada ini seperti dihantam palu godam.
“Bismillah …,” bisikku, menggenggam kenop pintu kamarku, lalu melangkah ke luar menuju lorong.
Aku mendekat ke pintu kamar Ibuk. Cahaya dari dalam merembes samar melalui celah di bawah pintu. Dan suara itu …
“Ahh … Raka … pelan … jangan di situ…”
Astaghfirullah …!
Aku refleks menutup mulutku sendiri, gemetar. Tubuhku seolah lumpuh sesaat. Tapi aku tidak tahan. Aku harus tahu. Aku tidak boleh terus berprasangka tanpa bukti.
Kukumpulkan sisa tenaga. Kakiku menendang pintu itu sekuat yang kubisa.
Satu .…
Dua .…
Tiga .…
BRAK!!!
Pintu itu terbuka keras, membentur dinding. Aku hampir terjatuh, tapi mataku langsung menangkap pemandangan di depan.
Dan ya … apa yang paling kutakutkan selama ini benar-benar terjadi.
Di atas ranjang itu, tubuh Mas Raka setengah membungkuk di atas Ibuk, keduanya terperangah melihatku menerobos masuk. Ibuk hanya mengenakan daster setipis kertas, rambutnya awut-awutan, wajahnya merah padam. Mas Raka tak sempat menarik diri. Terlambat.
Aku berdiri di ambang pintu, tubuhku gemetar hebat. Napasku terengah. Air mataku jatuh seketika.
“HAHAHAHAHAHA!!!”
Aku tertawa, entah kenapa. Antara marah, jijik, kecewa, benci, semua rasa bercampur jadi satu. Suara tawaku pecah di ruangan itu, mengalahkan suara apa pun.
“Terkutuk …!” suaraku parau, nyaris tak terdengar.
“Binatang! Astaghfirullah … kalian manusia apa bukan?!”
Mas Raka terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ibuk hanya menunduk dengan wajah penuh dosa, tapi tetap tak ada rasa penyesalan di matanya.
“Pantas … pantas saja selama ini kau lebih peduli ibumu ketimbang aku! Pantas semua orang kampung ini bisik-bisik tentang kalian! Pantas!”
Aku menunjuk mereka dengan telunjuk gemetar.
“Kalian … kalian NAUZUBILLAH MIN DZALIK …!”