Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Dasar Pembawa Sial
Kakak?”
Aku mengulang pelan, memastikan apakah aku tak salah dengar.
Perempuan itu mengangguk pelan, senyumnya menyeringai di balik rambut gimbal kusam yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Aku mengerjap, beringsut maju, meski tubuhku berontak karena bau busuk yang menguar dari tubuhnya. Bau busuk bercampur amis darah kering dan keringat busuk seperti bangkai, tapi masih bernapas.
Demi Allah … dia manusia … tapi kenapa bisa sampai seperti ini?
Aku hampir memalingkan wajah, mual menyesaki dada. Tapi aku tahan. Aku harus tetap di sini. Aku harus tahu siapa dia.
“Iya … iya … aku kakakmu!” ujarnya tiba-tiba penuh semangat.
Tangannya yang kurus kering, tinggal tulang dan kulit itu, bergerak meraba-raba ke arah wajahku. Jemarinya penuh luka dan kulit-kulit yang mengelupas, menggapai di udara.
Aku spontan menahan napas. Jangan tanya bau apa yang menyertai sentuhan itu seperti daging busuk yang lama membusuk di tempat lembab.
Tapi aku diam, tak bergerak.
“Adik … ya, adik? Adik, kan?” bisiknya, suaranya semakin serak.
Aku tercekat, tak tahu harus menjawab apa. Tubuhku bergetar.
“Adik?”
“Bukan?”
“Adik?”
“Bukan?”
Tiba-tiba suaranya berubah keras. Tersinggung, marah, emosinya meledak seketika.
“Kamu siapa?! Kamu bukan adikku! Dasar pembohong!”
Air matanya jatuh begitu saja, suara isakannya seperti suara anak kecil yang kehilangan mainan. Tubuhnya berguncang menahan tangis.
“Maaf … aku … aku Ayna .…” kataku pelan.
Dia terdiam sejenak.
Lalu suara lirih itu kembali, “Ayna … Ayna .…” seolah mengulang-ulang nama itu di kepalanya.
“Ayna, ya Ayna ….”
Air mataku jatuh tak tertahan. Suaraku bergetar. Tanganku perlahan kugenggam, menahan perasaan sakit yang rasanya mau meledak di dada.
Demi Allah aku tidak kuat melihat kondisinya.
“Ayna … Ayna … adikku bukan ya …?”
Aku mengangguk saja mengiyakan, aku rasa dia begitu sangat merindukan adiknya.
Dan saat itu senyumnya muncul. Senyum sayu yang membuat seluruh tubuhku kembali merinding.
“Maaf, Aku lupa bentuk wajahmu … aku… aku nggak bisa lihat …,” ujarnya tiba-tiba.
Aku menoleh, menatap matanya.
Astaghfirullah .…
Matanya. Bagian bola matanya keruh, warnanya tak lagi putih, tak lagi hitam. Seperti bercampur kabut abu-abu. Ada bekas luka bakar di sekitar pelipis dan kelopaknya.
“Ibuk … siram oli p4n45 ke mataku …,” katanya, suaranya pecah. “Aku teriak-teriak … tapi nggak ada yang nolong. Dia bilang … biar aku nggak bisa lihat wajah orang … biar aku lupa wajah kamu … biar aku nggak pernah bisa lari .…”
Tangisnya meledak.
Aku menutup mulutku rapat-rapat, menahan isak. Seluruh tubuhku menggigil. Aku ingin menjerit. Aku ingin memaki dunia. Tapi hanya suara isakan pelan yang bisa keluar.
Wanita itu bukan manusia tapi 1blis
“Gelap … gelap, Adik … semuanya gelap … udah berapa lama aku di sini, ya …? Tahun? Dua tahun? Seribu tahun? Aku nggak tahu .…”
Tangannya kembali meraba. Aku biarkan kali ini. Jemarinya menyentuh pipiku, mengusap pelan.
“Pipi adikku halus … wangi … kayak dulu .…”
Aku tak kuat.
Hatiku hancur, ikut merasakan seakan aku adalah benar adiknya.
“Kenapa kamu nggak pernah nyari aku … kenapa kamu pergi sama ibuk … tinggalin aku sendirian … aku disiksa … dipukulin … dikurung di kandang ayam … aku makan tulang … minum air got … dan akhirnya aku dipasung … aku lupa cara jalan … aku cuma bisa merangkak … kenapa kamu tinggalin aku …?”
Tangannya mencengkeram bahuku.
Aku pecah. Tangisku tumpah.
Mereka benar-benar 1blis.
Dia menangis, aku menangis.
Suasana di ruangan itu seperti neraka kecil.
“Tolong … tolong bawa aku keluar dari sini … tolong … aku pengen liat langit … aku pengen liat matahari… aku pengen tau rasanya duduk di luar. Tolong… tolong, Ayna .…”
Aku mengangguk, meski dia tak bisa lihat.
“Aku janji ….”
Tiba-tiba, di tengah pelukan tangis kami, suara berat dan dingin itu terdengar.
“Anak sialan!”
Aku dan perempuan itu sontak terdiam. Seluruh bulu kudukku berdiri saat suara langkah kaki itu mendekat. Di balik cahaya redup lampu kecil di sudut ruangan, terlihat sosok Ibuk. Wajahnya dipenuhi guratan kemarahan. Rambutnya berantakan. Matanya melotot, bibirnya kaku, dan di tangan kirinya sebuah 90lok berkilat, pantulan cahaya logamnya membuat tenggorokanku tercekat.
Tanpa banyak bicara, dia menarik rambutku kasar. “Akhhh!” jeritku tertahan.
Sakit!
Sakit!
Sakit sekali!
Kepalaku dijambaknya sekuat tenaga, membuat tengkukku terasa nyeri. Dia seret aku begitu saja ke tengah ruangan, rambutku ditarik hingga wajahku mencium lantai tanah yang dingin dan basah. Bau 4nyir d4r4h bercampur tanah lembab menyeruak tajam.
Aku pikir, detik itu dia akan meng90r0k leherku.
Aku pikir, kematianku datang malam ini.
Tapi tidak.
Ibuk hanya tersenyum sinis, lalu mengangkat goloknya dan …. srak srak srak!
Rambutku dipotong paksa!
Aku bisa merasakan helaian rambut panjangku jatuh satu-satu, mengenai wajahku, bercampur tanah dan debu.
“Pelacur sialan. Rambut kayak bidadari, kelakuan kayak setan!” makinya.
Aku menggigit bibirku, menahan tangis. Sedang perempuan itu di sudut ruangan hanya bisa gemetar. Tangannya terkepal kuat-kuat.
Saat itu aku menoleh sedikit.
Di dekat Ibuk, berdiri Mas Raka.
Ya, Mas Raka.
Suamiku.
Orang yang dulu kupanggil cinta. Yang dulu kukira pelindung. Yang dulu kubayangkan akan jadi imam di rumah tangga kecil kami.
Tapi di sana … dia hanya berdiri. Diam. Kaku. Wajahnya tanpa ekspresi. Bagaikan patung. Bagaikan robot yang dikendalikan oleh tangan ibunya.
Dia hanya menyaksikan semua ini, tanpa seujung jari pun berusaha menolongku.
Aku menatap matanya.
Masihkah ada sisa cinta di situ?
Masihkah sisa rasa yang dulu membuatku luluh waktu pertama dia melamar?
Tapi tidak.
Matanya kosong. Kaku.
Dan di saat aku menatap, dia malah memalingkan wajah. Seperti jijik, seolah tak sudi melihat istrinya.
Aku ingin teriak. “Lihat aku mas, lihat! Aku diperlakukan bak hewan buruan dan kau diam saja!
Aku ingin menjerit, ingin memaki, ingin bertanya padanya!
“Mas Raka … kamu manusia atau setan? Ini aku, istrimu! Kenapa diam? Kenapa biarkan ibumu begini?!”
Tapi tenggorokanku tercekat.
Tangan Ibuk mencengkeram rahangku, memaksa wajahku mendongak.
Kemudian wajah mendekat ke arahku. Bola matanya melotot persis di depanku. Hanya lima jari yang memberi jarak kami.
“Cuih!” Air liur panas, kental, dan busuk itu mendarat tepat di wajahku. Mengalir di pipi, menetes di bibir. Aku ingin muntah. Tapi aku terlalu lemas.
Dia tersenyum menyeringai. Sungguh dia benar-benar bukan manusia sekarang! Tapi iblis yang bahkan iblis pun tidak pantas untuk disandingkan manusia kotor seperti dirinya.
“Dasar pembawa sial. Gara-gara kamu, hidupku jadi begini!” bentaknya.