Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Desa Rangkas Puna
Aku dan Mas Raka akhirnya berhasil keluar dari bangunan itu. Bau anyir darah, asap bekas terbakar dan udara lembab masih melekat di hidung. Begitu kakiku menyentuh tanah berumput yang basah, aku nyaris terjatuh. Nafasku memburu, dada sesak, seolah paru-paruku menolak bekerja dengan normal setelah semua yang terjadi barusan.
Aku memegang lengan Mas Raka erat-erat. Tanganku gemetar, tubuhku lemas. Sementara dia pun tak kalah kacaunya bajunya kotor penuh bercak darah, wajahnya penuh luka cakaran, nafasnya berat, mata sembab merah. Tapi kami masih hidup. Kami … keluar dari neraka itu.
Di hadapan kami, bentangan gelap tanpa batas. Tidak ada cahaya lampu jalan. Tidak ada suara manusia. Hanya suara serangga, desir angin di antara dedaunan dan suara detak jantungku sendiri yang terasa menggema di telinga.
Aku menoleh cepat ke kiri dan kanan, celingak-celinguk mencoba memahami di mana kami berada. Pandanganku membentur reruntuhan rumah-rumah tua yang sudah tak berpenghuni, dengan dinding-dinding yang lumutan dan atap reyot nyaris roboh.
“Mas …,” bisikku, nyaris tak terdengar. “Ini … di mana, Mas?”
Mas Raka menelan ludah, matanya juga sibuk mengitari sekitar. Napasnya tak stabil. “Ini … desa Rangkas Puna, Dek.”
Aku menelan air liur, tenggorokanku kering. Nama itu, aku pernah dengar.
“Desa Rangkas Puna …?” ulangku pelan. Kata-kata itu terasa begitu berat keluar dari mulutku. “Bukannya … desa itu mati?”
Mas Raka menghela napas panjang, kepalanya mengangguk kecil. “Iya, memang tempat ini pernah disebut-sebut orang desa dulu. Tapi bukan seseram yang orang ceritain. Cuma memang … semua penduduknya pergi dari sini, entah ke mana. Tinggal tempat kosong, bangunan terbengkalai.”
“Kenapa bisa kosong begini, Mas?” tanyaku lagi, meski separuh hatiku ragu ingin tahu jawabannya.
Mas Raka menggeleng pelan, wajahnya getir. “Entahlah … dari dulu orang-orang gak pernah mau cerita detail. Katanya banyak kejadian aneh, orang hilang, rumah terbakar, anak-anak m4ti mendadak … cuma gosip kampung. Tapi kayaknya semua orang akhirnya pergi ninggalin desa ini bertahun-tahun lalu.”
Aku merinding.
“Mas … bawa mobil?” tanyaku panik.
Mas Raka menatapku lalu menoleh ke arah hutan gelap di sebelah timur. “Lewat situ, Dek. Kita parkir di pinggir hutan waktu pertama dateng, lewat situ.”
Aku memeluk lengan Mas Raka, tubuhku menggigil hebat. “Aku gak kuat jalan jauh, Mas ….”
“Sebentar,” katanya pelan, lalu berjongkok di depanku. “Naik. Biar Mas gendong.”
Aku ragu sejenak, tapi tubuhku terlalu lemah untuk menolak. Aku naik ke punggungnya, tangan lemas melingkar di lehernya.
“Ayo kita cepat. Sebelum ibuk sadar kita kabur,” katanya.
Kami mulai berlari kecil, sesekali Mas Raka menurunkanku saat dia kelelahan, lalu kami berjalan cepat bersama, kemudian dia kembali menggendongku. Hutan di depan kami gelap, hanya diterangi sinar bulan redup yang temaram di antara pepohonan rimbun.
Aku bisa dengar suara hewan bersahut-sahutan. Daun-daun kering bergemerisik di bawah kaki kami. Dahan kecil mencakar wajah kami saat kami menerobos semak-semak.
Beberapa kali Mas Raka terengah-engah, tapi dia terus berjalan. Aku tahu dia kelelahan. Aku juga tahu dia takut. Tapi sekarang … kami berdua tahu, kalau kami berhenti, kami bisa mati di tempat.
“Mas … aku … aku takut …,” bisikku.
“Ada Mas,” balasnya pelan.
Aku menggenggam bajunya makin erat. Langkah kami terus melangkah di atas tanah basah, lututku lecet, kaki Mas Raka berdarah karena tergores ranting, tapi tidak ada yang peduli. Yang penting kami keluar dari sini.
Setelah sekitar dua puluh menit berlari, akhirnya samar-samar aku melihat bayangan mobil kami di kejauhan, tertutup semak belukar. Terparkir di bawah pohon besar.
Aku hampir menangis lega.
“Mas … mobil …!” aku tunjuk.
“Iya … ayo, Dek, bentar lagi!” Mas Raka mengerahkan tenaga terakhirnya, berlari makin cepat.
Belum sempat kami sampai ke mobil, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah belakang. Suara itu melengking panjang, menyayat malam yang hening, membuat bulu kudukku seketika berdiri.
“RAKAAAAAA … ANAKKUUUUU …!!!”
Suaranya … astaghfirullah, sumpah demi Allah, suara itu bukan suara manusia normal. Melengking nyaring, serak parau, bercampur isakan, tawa getir dan kemarahan yang mengerikan. Suara itu memenuhi udara, memantul di antara pepohonan, menggema di telingaku sampai rasanya jantung ini berhenti berdetak sejenak.
Aku tak bisa menggambarkan suara itu pakai kata ‘seram’ saja. Tidak cukup.
Itu suara … suara yang bahkan kalau 1blis mendengarnya pun, dia akan memilih lari menjauh. Suara penuh kebencian, dendam, dan obsesi yang tak wajar. Seolah semua iblis neraka dikumpulkan dalam satu suara.
Kami berdua langsung terhenyak. Kakiku terasa lumpuh. Jantungku berdentum kencang seperti mau meledak.
Aku dan Mas Raka secara reflek menoleh bersamaan ke arah suara itu yang baru saja datang.
Dan apa yang kulihat membuat tenggorokanku tercekat.
Di sana di bawah remang cahaya yang temaram, di antara bayangan pepohonan tampak sesosok tubuh wanita tua dengan rambut acak-acakan, sebagian gosong terbakar, kulit wajahnya melepuh kehitaman, matanya melotot merah seperti mau keluar dari rongganya.
Dia merangkak cepat ke arah kami.
Ya, merangkak pesat seperti bayi, tapi dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk tubuh setua itu. Tangan dan kakinya bergerak aneh, seolah sendinya copot tapi tetap bisa menyeret tubuhnya.
Lumpur menempel di sekujur tubuhnya. Darah mengalir dari dahi, bibirnya sobek dan napasnya terdengar berat, mendengus kasar.
Rambut panjang yang setengah terbakar itu ikut terseret di tanah basah, meninggalkan jejak seperti cacing hitam bergerak di atas lumpur.
“RAKAAAA!!! JANGAN TINGGALKAN IBUK!!!” teriaknya lagi.
Suaranya kali ini seperti dicampur suara binatang buas kadang berat, kadang serak, kadang tinggi melengking.
Aku menjerit kecil, tubuhku refleks mundur satu langkah, tangan gemetar, napas makin memburu. Air mata entah sejak kapan sudah jatuh tanpa bisa kutahan.
“Mas … Mas … itu … itu apa?” suaraku bergetar.
Aku benar-benar takut kali ini, aku belum pernah melihat manusia dengan bentukan seperti itu. Bahkan film horor pun jauh lebih horor dari apa yang kusaksikan sekarang!
Jantungku berdegup tak karuan, napas berhamburan entah kemana.
Mas Raka pun pucat pasi, peluh dingin mengucur deras di pelipisnya. “Astaghfirullah … astaghfirullah … itu … ibuk …,” gumamnya lemah, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Tubuhnya ikut mundur, menarik tanganku. “Ayna ….”
“Lari!” Mas Raka menyeret tubuhku untuk berlari lebih cepat.
“Cepatttt!!”
Aku hanya bisa mengangguk, kaki lemas tapi kupaksa berlari. Suara Ibuk yang terus melengking di belakang kami seolah mengejar hingga ke telinga, tak peduli seberapa jauh kami berlari.
“RAKA!!! JANGAN PERGI ANAKKUUUUU!!! AKU IBUK!!!”