Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Pengantin Kecil

“Kamu akan selalu jadi pengantin kecilku … sampai kapan pun .…”

 

Suara itu bergaung … samar, pelan, lalu makin lama makin jelas, seperti seseorang yang membisikkan tepat di telingaku.

 

Aku menggeliat pelan. Tubuhku terasa remuk. Setiap tulangku seperti dihantam palu godam. Perlahan kubuka mata. Pandanganku kabur, redup.

Sesaat aku tak paham di mana aku berada.

 

Cahaya remang-remang dari puluhan lilin memenuhi ruangan.

Asap tipis mengepul, aroma anyir dan dupa bercampur jadi satu. Kepalaku berdenyut hebat. Udara terasa berat dan lembab, dinding kayu rapuh di sekelilingku seperti menutup jalan keluar.

 

Lalu aku melihat Mas Raka.

 

Tubuhnya terbaring di tengah-tengah lingkaran lilin. Wajahnya pucat, bajunya … ya Tuhan … baju pengantin.

Beskap hitam, jarik cokelat motif klasik, kain selendang emas di bahu.

 

Di sampingnya … Ibuk.

 

Ibuk …?

Atau apa pun dia sekarang.

 

Berkebaya merah tua, wajah penuh bedak putih tebal seperti topeng kematian. Bibirnya merah menyala, mata sayu menatap ke arah Mas Raka.

Di kepalanya, mahkota pengantin Jawa kuno, payetnya berkilau diterpa nyala lilin.

 

Aku tercekat.

 

Ingin berteriak, ingin menangis, ingin kabur. Tapi aku tahan. Aku berusaha tetap diam, berpura-pura tak sadar.

 

Dari celah mataku yang setengah terbuka, kulihat ibuk memegang kendi kecil di tangannya. Mulutnya komat-kamit, gumaman mantra-mantra aneh yang tak pernah kudengar.

 

“Anakku … suamiku … darahku … tubuhku … milikku … sampai akhir zaman.”

 

Tangannya terulur, mengelus wajah pucat Mas Raka dengan jemari keriputnya. 

 

Seketika … bulu kudukku meremang saat melihat sebuah kendi tanah liat kecil diletakkannya di antara mereka.

Dari dalam kendi itu, asap tipis keluar.

 

Aku nyaris muntah saat menyadari bau amis bercampur bau darah dan dupa.

 

“Pesta ini belum selesai, sayang ….”

 

“ Dan kau belum boleh pergi, Ayna …,” bisik ibuk, seolah tahu aku mulai sadar.

 

Jantungku berdetak makin kencang.

 

Sial.

Apa dia tahu? Apa dia sadar aku pura-pura pingsan?

 

Aku menahan diri tak bergerak.

 

Kemudian dia tertawa pelan.

 

Tawa pelan yang terdengar seperti bisikan setan.

 

Lalu dia berdiri, tubuh tuanya membungkuk tapi langkahnya tetap tegap. Mengambil topeng lusuh berwarna putih di pojok ruangan. Topeng itu  aku yakin topeng yang sering dipakai dukun kampung saat mengusir roh dulu. Tapi kini, topeng itu dipakainya sendiri.

 

Dia mengenakan topeng itu di wajahnya.

Aku tercekat.

 

Apa maksudnya?! Apa sebenarnya yang sedang terjadi di tempat ini?!

 

Mengapa semua ini begitu tak masuk akal? Begitu jauh dari batas logika?

 

Astaghfirullah.

 

Aku tak tahu apakah aku masih hidup di dunia nyata atau di neraka.

 

Tanganku perlahan bergerak di balik tubuhku, meraba-raba, mencari apa saja. Kayu. Batu. Apa saja yang bisa kupakai kabur.

 

Saat itulah kudengar suara ibuk mengelus wajah Mas Raka.

“Bangun, Raka … anak ganteng ibuk … pengantinmu sudah menunggu .…”

 

Mas Raka menggeliat pelan.

Aku tercekat. Dia perlahan bangun. Mata sayunya terbuka sedikit demi sedikit. Pandangan kosong. Seperti boneka. Seperti orang mati yang dipaksa hidup.

 

“Mas … jangan … Mas … ayo kita kabur, Mas … tolong sadar,” bisikku dalam hati hampir menangis.

 

Tapi dia diam.

 

Ibuk tertawa lagi. Tawanya semakin serak, membahana memenuhi ruangan.

 

“Aku sudah bilang, Raka … kamu akan jadi pengantin kecilku … sampai kapan pun.”

 

Air mataku jatuh. Badanku gemetar.

 

Aku menggenggam serpihan-serpihan kayu di tanganku sebanyak mungkin. Jemariku gemetar, tapi aku paksa mengepal erat-erat. Dada terasa sesak, napas pendek-pendek. Aku tarik napas dalam sekali, dua kali.

 

“Bismillah .…”

 

Tanpa pikir panjang, aku berlari sekencang mungkin ke arah ibuk yang masih sibuk dengan lilin-lilin dan ritual gilanya itu. Api dari lilin-lilin kecil berkedip-kedip diterpa angin malam yang masuk dari sela-sela dinding kayu. Bayangan wajah ibuk membayang di tembok, tampak seperti iblis dengan mahkota pengantin.

 

Byarrrr!!!

 

Serpihan-serpihan kayu itu kulempar sekuat tenaga ke arah wajahnya.

 

“AARRGGGHHH!!! SIALAN KAMU!!!”

 

Ibuk mengerang keras. Serpihan kayu itu tepat mengenai matanya. Dia merintih sambil menutup wajah. Tubuhnya limbung, goyah.

 

Kesempatan.

 

Aku lihat batu besar di dekat tungku kecil di pojok ruangan. Tanpa pikir panjang aku meraih batu itu, berat, tapi kutahan. Dengan seluruh kekuatan yang entah dari mana datangnya, aku lemparkan batu itu ke arah kepalanya.

 

Brak!!

 

“Uaaakhhh!!!”

 

Darah muncrat dari pelipis Ibuk. Tubuhnya langsung ambruk ke lantai kayu yang mulai lapuk. Darah mengalir deras membasahi rambut dan bajunya. Dia pingsan seketika, mulutnya masih bergerak pelan, bergumam mantra tak jelas sebelum akhirnya lemas.

 

Aku menggigil. Tapi tak ada waktu buat gemetar.

 

Aku segera berlari ke arah Mas Raka. Dia masih terduduk di situ, tatapan kosong, tubuhnya seperti boneka rusak

 

“Mas … Mas! Bangun! Kita harus pergi sekarang, Mas!”

 

Aku tepuk pipinya pelan, lalu kencang. Dia hanya meringis, tapi tidak berkata apa-apa.

 

“YA ALLAH!!!!!”

Aku gemetar, tapi aku tahu aku tak bisa tinggal diam.

 

Aku kaitkan kedua lengannya ke pundakku, aku seret tubuhnya, berat,  berat sekali. Tapi aku terus menariknya. Sesekali tubuh Mas Raka jatuh, tersungkur ke tanah basah, tapi aku angkat lagi. Aku seret sekuat mungkin. Bajuku koyak, kulitku lecet, kaki terasa perih, tapi aku tak peduli.

 

Aku hanya ingin keluar.

 

Udara malam makin dingin, kabut tipis mulai turun dari hutan sekitar. Suara jangkrik dan suara gesekan ranting terdengar mengerikan di telinga. Tapi aku terus berlari, menyeret tubuh lelaki yang dulu kucintai, yang kini kosong seperti jasad tanpa nyawa.

 

Aku menoleh ke belakang.

 

Ibuk masih pingsan.

 

Tapi entah kenapa aku yakin dia akan bangkit. Perempuan itu!!! Makhluk itu bukan manusia biasa. Aku curiga sejak lama. Tapi malam ini, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri.

 

“Ayna … kuat … kuat, kamu harus keluar dari sini,” gumamku ke diri sendiri.

 

Kami berdua terhuyung di jalan setapak yang dipenuhi akar dan dedaunan basah. Sesekali ranting-ranting mencakar wajahku. Keringat dingin bercampur darah dan air mata mengalir di pipi.

 

“Dikit lagi … Mas … tahan, Mas … dikit lagi …”

 

Mas Raka hanya bergumam tak jelas, matanya kosong, nafasnya berat.

 

Aku tak peduli.

 

Aku seret dia lebih jauh, menuju arah hutan terbuka yang sempat kami lewati tadi. Di kejauhan samar-samar terlihat bayangan mobil kami yang terparkir. Seperti mimpi.

 

Aku harus hidup.

 

Demi Allah, aku harus hidup.

 

Aku harus sampai ke sana. Harus.

 

Tepat saat langkahku makin dekat ke arah mobil  hanya beberapa meter lagi napasku sudah tersengal, tubuhku nyaris rubuh karena beratnya menyeret Mas Raka yang kini setengah tak sadar, tiba-tiba .…

 

“AYNA!!!”

 

Suara itu.

 

Demi Tuhan! Suara yang begitu familiar, suara yang bahkan dalam gelap dan bising sekalipun bisa kukenali.

 

Mamah!

 

Aku sontak membeku. Seakan dunia mendadak hening, suara jangkrik, desir angin dan gema lolongan hewan buas di kejauhan seolah lenyap seketika.

 

Aku menoleh.

 

Dari balik semak-semak, cahaya senter menyorot ke arahku. Beberapa titik cahaya bergoyang-goyang. Dan di antara sorotan itu, kulihat wajah yang paling kurindukan.

 

Mamah. Papah. Dan beberapa polisi.

 

“Mamah!!!” jeritku, sekuat tenaga yang masih tersisa di kerongkongan. Aku lepaskan tubuh Mas Raka yang langsung terkulai di tanah.

 

Tanpa pikir panjang, aku berlari. Lututku lemas. Kakiku sudah penuh luka lecet dan darah, tapi aku paksa terus berlari.

 

“Mamahhhh!!!”

 

Begitu sampai, aku langsung menerjang pelukannya, isakanku pecah di dada Mamah.

 

“Nak … nak … Ya Allah … Ayna sayang … kamu selamat, Nak. Ya Allah terima kasih …,” suara mamah serak, gemetar, dia memelukku erat seakan tak ingin melepaskan lagi.

 

Aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya. Tubuhku lemas, aku hampir tak mampu berdiri lagi. Lututku goyah, tapi mamah menopangku dengan sekuat tenaga.

 

“Mamah,… mamah … tadi … ibuk … Mas Raka … hutan … rumah itu … mamah … tadi aku ….”

 

“Shh … shhh … sudah, sayang … sudah, kamu selamat sekarang, sayang … sudah aman.” Mamah mengusap rambutku yang kotor dan basah, mencium ubun-ubunku berulang-ulang.

 

“Untung jam tangan kamu masih aktif, Nak …,” ucap mamah sambil menggenggam pergelangan tanganku.

 

Aku menoleh, baru sadar. Jam tangan kecil pemberian mamah itu berkedip-kedip, lampunya menyala redup.

 

“Mamah pasang GPS di situ, Nak. Kalau ada apa-apa mamah langsung bisa lacak kamu,” ucapnya sambil tersenyum tipis, wajahnya masih basah air mata.

 

Aku kembali menangis. Tangisku pecah. Bukan karena takut, bukan karena luka. Tapi karena rasa syukur.

 

Demi Allah aku pikir aku nggak bakal keluar hidup-hidup malam ini.

 

Papah segera datang, memeluk kami berdua. “Ya Allah, anak papah … nak … kamu hebat, kamu kuat, Astaghfirullah.…”

 

Para polisi di belakang mereka langsung sigap masuk ke area itu. Beberapa langsung menyorotkan senter ke arah tubuh Mas Raka yang tergeletak tak jauh dari tempatku tadi.

 

“Satu korban pria, kondisi luka berat, bawa ke mobil cepat!” ujar salah satu polisi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!