Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Bab 4. Menjijikkan, Mas
“Astaghfirullah, Mas!!”
Suara itu meluncur dari mulutku tanpa bisa kutahan. Getaran di dada ini seakan mencapai ubun-ubun, membuat seluruh tubuhku gemetar.
Bola mataku membulat, tubuhku kaku dan napas berat memburu saat kedua orang itu keluar bersamaan dari dalam kamar mandi.
Mas Raka dan Ibuk.
Di waktu yang sama.
Dari satu ruangan sempit itu.
Dengan sisa-sisa basah di kulit mereka.
Astaghfirullah .…
Apa ini? Kenapa begini?
Darahku seolah berhenti mengalir. Sejenak dunia terasa senyap.
Hanya suara denyut jantungku yang keras di telinga. Nafasku memburu, berat sekali.
Ingin rasanya saat itu juga aku berlari.
Pergi.
Menghilang.
Atau kalau bisa menampar wajah mereka satu-satu.
“Mas!!” panggilku hampir berteriak. Suaraku pecah. Entah marah, jijik, kecewa atau campur aduk semuanya jadi satu.
Mas Raka terperanjat.
Tubuhnya refleks mundur setengah langkah. Matanya membelalak.
Panik.
Seperti maling yang ketahuan saat hendak kabur.
Ibuk pun terlihat syok. Wajahnya pucat. Air masih menetes dari ujung rambutnya. Tatapannya kosong, seperti orang yang tak siap menghadapi kenyataan ini.
“Astaghfirullah, Mas … apa-apaan ini?! Apa kalian gak punya malu?!” suaraku meninggi, nyaris tercekat.
Tanganku gemetar, mengepal kuat-kuat di sisi tubuh. Seandainya bisa, detik itu juga kutampar wajah mereka. Satu per satu. Biar mereka tahu rasanya jadi aku.
Menjijikkan.
Memuakkan.
Lebih buruk dari pengkhianatan mana pun.
Aku menahan napas. Bola mataku berkaca-kaca, tapi aku tak mau menangis di depan mereka.
Tidak sekarang.
Tidak di hadapan dua orang yang barusan menginjak harga diriku.
“Mas … aku istrimu! Dan itu ibu kandungmu! Gila apa kalian?!”
Aku benar-benar ingin muntah.
Mas Raka masih terdiam. Wajahnya tegang. Tangannya sempat hendak meraih lenganku, tapi aku menepisnya cepat.
“Jangan sentuh aku!!” bentakku.
Aku mundur beberapa langkah, tak sanggup lagi menatap mereka. Rumah ini terlalu pengap, terlalu busuk untuk bisa kutinggali satu detik pun lagi.
Demi Allah, ini aib. Ini dosa. Ini penghinaan. Dan aku … terlalu bodoh selama ini.
Ibuk perlahan mendekat.
Langkah kakinya pelan.
Wajahnya menatapku. Langsung. Tajam.
Demi Allah … demi apapun yang ada di bumi ini, wajah yang dulu kuanggap anggun, ramah dan keibuan kini seperti iblis yang menyamar sebagai manusia.
Tatapannya bukan lagi tatapan seorang ibu mertua kepada menantu, tapi seperti pemangsa yang baru saja melihat mangsanya lengah.
“Ayna …,” suara itu lirih tapi tegas. Nadanya seperti belati yang menusuk pelan di ulu hati.
“Apa yang kamu lakukan sekarang? Yang kamu lakukan ini … tak lebih dari seorang perempuan sok suci yang merasa sedang menangkap penjahat. Padahal kamu tak tahu apa-apa.”
Ibuk menyeringai. Senyumnya tipis, miring, seperti sedang menikmati rasa takut yang terpancar di wajahku.
“Ayna …,” ia memanggil namaku lagi, kali ini lebih pelan. Tapi justru semakin mengerikan.
“Jangan lupa, Sayang … suamimu itu anakku. Anak laki-laki, sampai kapan pun … milik ibunya. Darahku. Dagingku. Kau itu siapa? Baru dua hari menjadi istrinya, sudah sok mengatur. Sudah sok menghakimi.”
Aku menggigit bibir, menahan isak. Telingaku berdenging. Tanganku dingin. Jantungku berdegup tak karuan.
Rasanya ingin lari, tapi kakiku terlalu lemah untuk sekadar mundur.
“Lagi pula … suamimu memang terbiasa mandi bersama ibunya sejak kecil.” Suara Ibuk terdengar pelan, penuh tekanan, seolah ingin menusuk harga diriku sedalam-dalamnya.
“Apa salahnya? Hanya membersihkan punggung. Hanya membantu anak sendiri. Atau … kau terlalu picik sampai prasangkamu kelewat batas?”
Matanya mengarah ke mataku. Tatapan itu … seakan menyeret seluruh darahku, membuat tubuhku membeku.
“Ada yang salah, Ayna?”
Pertanyaan itu seperti racun. Menyusup lewat telinga, turun ke tenggorokan, membuat lidahku kelu. Aku ingin bicara, ingin berteriak, ingin mengatakan semuanya.
Tapi … tidak ada suara yang keluar.
Lidahku berat. Napasku sesak.
Aku hanya bisa menatap balik, dengan mata berkaca, dada yang terasa dihantam palu besar.
Ibuk tertawa kecil. Gelakannya lirih, tapi cukup jelas menampar kewarasanku.
Kemudian, langkah kakinya pelan meninggalkan kami berdua di depan pintu kamar mandi itu.
Aroma sabun dan bau basah di sekeliling masih jelas. Aku ingin muntah.
“Ajari istrimu, Raka,” ujarnya sambil melenggang pergi, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Mas Raka mengangguk.
“Maapin istriku, Buk …,” jawabnya lirih, sembari mengangguk.
Seolah semua ini salahku.