Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Lingkaran Lilin
“Buk, Pak, Ayna ….” Suara berat itu terdengar dari seorang pria tua berjubah hitam lusuh yang baru saja datang. Aroma dupa pekat menyeruak dari tubuhnya, membuat suasana ruang ICU yang sedingin es tiba-tiba jadi pengap dan menyesakkan. “Ini sudah bukan urusan medis lagi. Kalau boleh, apa Ibu, Bapak, dan Ayna berkenan … kalau anak ini kami bawa ke rumah. Semua peralatan medis yang menempel di tubuhnya akan kami lepas sementara.”
Aku tercekat di tempatku berdiri. Napas tercekat, seolah suara pria itu membekukan udara di dalam ruangan. Mataku menatap wajah Mas Raka yang masih terbaring tak berdaya di atas ranjang ICU. Selang pernapasan terpasang di hidung dan mulutnya, kabel-kabel monitor detak jantung, infus di lengan dan alat-alat lain yang menempel di sekujur tubuhnya. Semua itu, bagiku, seperti sisa-sisa harapan yang masih bisa kutumpukan agar dia tetap bertahan.
“Kenapa harus dilepas, Mbah?” tanya Papah pelan, suaranya berat dan nyaris putus. Mamah menggenggam tangannya erat.
Pria tua itu menghela napas, menggeleng pelan, kemudian menundukkan kepalanya. “Nauzubillah min zalik … orang itu … ibuknya anak ini … dia bukan manusia lagi. Ilmunya sudah kelewat batas. Dia bukan sekadar mengikat sukma dia menyedot kehidupan anak ini perlahan dari dalam. Semua alat medis ini tak ada gunanya kalau sumber masalahnya bukan di sini.”
Suasana makin mencekam. Dupa di tangan pria tua itu mengeluarkan asap tipis, membentuk pola aneh di udara. Baunya menusuk hidung, membuat merinding, tapi tak seorang pun berani bergerak.
Aku menatap Mas Raka, dada sesak, tenggorokan perih.
“Mbah … kalau semua alat itu dilepas dia … dia bisa … bisa …,” kalimatku tercekat, tak mampu kusebutkan kata ‘Mati.”
Mbah dukun itu mengangguk pelan, seakan membaca isi kepalaku. “Aku paham ketakutanmu, Nak. Tapi percayalah … kalau dibiarkan begini … sukma anak ini akan habis. Diambil utuh malam ini juga. Alat-alat ini hanya menyambung raganya … sementara jiwanya sudah diikat dan disiksa di alam sana. Tidak akan ada artinya kalau sukma dan raganya tidak disatukan kembali.”
“Tapi … rumah sakit … prosedur medis … peralatan ini ….” Papah masih berusaha berpikir logis di tengah situasi kacau itu.
Dukun itu mendekat, menyentuh bahu Papah pelan. “Pak … anak Bapak ini sudah tak bisa ditangani di sini. Ini bukan wilayah dokter lagi. Ini wilayah langit dan neraka.”
Aku menggigit bibirku, tangan menggenggam jemari Mas Raka erat. Air mataku mengalir deras tanpa bisa kutahan.
“Ayna … percayalah… kalau malam ini kita nggak lakukan apa-apa … anak ini gak akan pernah bangun lagi. Yang tersisa cuma jasad kosong,” ucap Mbah dukun lirih.
Suasana hening. Hanya suara monitor detak jantung yang masih terdengar tit … tit … tit … samar.
Aku menarik napas panjang, lalu berkata pelan tapi mantap, “Kalau itu satu-satunya cara … aku setuju, Mbah. Aku rela, asal Mas Raka selamat.”
Mamah memelukku erat, menangis. Papah mengangguk pelan, menyerah pada kenyataan yang tak bisa lagi ditolak logika.
“Baiklah .…” Papah akhirnya berkata pelan. “Kita bawa anak saya.”
Mbah dukun tersenyum samar, lalu mulai menancapkan dupa di sudut ruangan, membaca mantra pelan, mulutnya komat-kamit dalam bahasa yang tak kami pahami. Tim medis awalnya keberatan, tapi setelah diberi penjelasan dan surat persetujuan, mereka hanya bisa pasrah.
Satu per satu alat medis dilepas. Selang-selang ditarik pelan, kabel monitor dilepaskan, suara tit… tit… yang tadinya jadi penguat harapan kini perlahan menghilang. Aku gemetar, hampir tak sanggup melihatnya.
“Ya Allah … jagain dia … lindungin dia …,” bisikku di antara isak.
Begitu semua peralatan medis terlepas, tubuh Mas Raka diangkat dengan hati-hati ke atas tandu kain anyaman yang dibawa Mbah dukun. Empat pria berbadan besar ikut membantu, wajah mereka serius. Bau dupa makin pekat, asap membungkus ruangan, membuat suasana makin mistis dan mencekam.
“Ayo … waktunya mepet … kita harus segera bawa dia ke tempat aman,” ucap Mbah dukun, lalu memimpin kami keluar dari ruang ICU.
Saat kami berjalan di koridor rumah sakit, beberapa perawat dan pasien yang kebetulan melihat langsung beristigfar. Beberapa mengusap dada. Tak sedikit yang merinding karena dari tubuh Mas Raka, samar-samar seperti ada kabut tipis kehitaman yang mengepul pelan.
Dan aku, tetap menggenggam tangannya erat, seolah takut kalau nyawanya akan kembali ditarik paksa di tengah jalan.
“Aku bawa kamu pulang, Mas … aku selamatin kamu … aku bakal lawan semua ini,” bisikku lirih.
Sesampainya di rumah, suasana begitu mencekam. Angin malam bertiup kencang, dedaunan di halaman berserakan, ranting-ranting pohon saling bergesekan menghasilkan suara yang membuat bulu kuduk meremang. Langit hitam kelam tanpa bintang, seolah langit pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini.
Mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di depan teras rumah. Tanpa buang waktu, para pria yang tadi ikut mengangkat tandu segera menurunkan tubuh Mas Raka. Tubuhnya benar-benar sudah tak tampak seperti manusia hidup. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, bola matanya tertutup rapat. Seluruh tubuhnya dingin, nyaris tak ada lagi jejak hangat kehidupan.
Aku yang sejak tadi duduk di sampingnya langsung turun sambil terus memegangi tangannya. Mamah memelukku erat, tangannya gemetar. Papah berdiri terpaku di dekat pagar, wajahnya tegang.
“Cepat! Cepat turunkan dia! Jangan lama-lama di luar, waktunya sudah sempit!” seru Mbah Karso dukun tua yang sejak tadi memimpin semuanya. Suaranya serak berat, tatapannya tajam. Wajah keriputnya tertutup kerudung hitam yang membuatnya tampak seperti orang yang sudah hidup berabad-abad.
“Cepat matikan semua lampu! Tutup semua tirai! Jangan sampai cahaya lampu listrik menyentuh tubuh anak ini!” perintahnya keras.
Para pria segera berlarian ke dalam rumah. Saklar-saklar dipadamkan. Rumah itu kini gelap total, hanya cahaya bulan samar di sela-sela tirai yang sedikit bergerak karena angin. Udara terasa berat, bau dupa mulai menyebar, menusuk hidung.
“Ayo! Taruh anak itu di tengah ruangan sini!” teriak Mbah Karso, menunjuk lantai ruang tengah rumah yang sudah dibersihkan.
Tandu diturunkan pelan-pelan. Aku ikut berlutut di sisi Mas Raka, menggenggam tangannya erat, air mataku tak berhenti mengalir.
“Mas … dengar aku kamu harus bangun, Mas … demi aku … demi kita … kamu gak boleh kalah,” bisikku sambil mengecup punggung tangannya.
“Cepat hidupkan semua lilin! Buat 27 lilin, taruh melingkar mengelilingi tubuhnya!” perintah Mbah Karso lagi.
Sejumlah orang mulai mengambil lilin-lilin yang sudah disiapkan. Satu per satu lilin dinyalakan. Cahaya kecilnya mulai menari-nari di tengah kegelapan, membentuk lingkaran sempurna di sekeliling tubuh Mas Raka.
“Kenapa 27 lilin, Mbah?” Papah bertanya pelan, suara bergetar.
Mbah Karso menoleh sekilas, wajahnya tegang. “Jumlah itu sesuai jumlah malam hitam yang pernah dilalui ibunya selama 27 tahun terakhir. Ritual sesat itu harus dipatahkan dengan jumlah lilin yang sama. Kalau kurang atau lebih … bisa jadi malapetaka besar. Nyawamu semua bisa terambil malam ini.”
Ucapan itu membuat suasana semakin mencekam. Semua orang terdiam, hanya suara gemerisik angin dan bunyi api lilin yang sesekali berdesis.
Mbah Karso mulai merapal doa-doa dan mantra-mantra kuno, suaranya rendah tapi menggema. Dupa dinyalakan lagi. Bau harum pekat memenuhi ruangan. Asap tipis mengelilingi Mas Raka, membuat bayangan samar tubuhnya seperti berpendar di antara cahaya lilin.
Aku tak berhenti menangis. Mamah duduk di sebelahku, memeluk bahuku erat. Papah berdiri dengan kedua tangan di dada, menahan ketegangan yang luar biasa.
“Kalian semua jangan sampai keluar dari lingkaran ini, apa pun yang terjadi. Sekuat apa pun kalian dengar suara … jangan menoleh, jangan hiraukan. Sampai aku bilang selesai. Paham?!” tegas Mbah Karso, matanya menyapu semua orang.
Kami semua mengangguk.
“Baik … sebentar lagi ritual pemanggilan sukma akan dimulai.” ujar Mbah Karso, lalu duduk bersila di ujung kepala Mas Raka, di luar lingkaran lilin.