Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Kalian Semua Akan Mati Disini!

12 Juli 2025

 

Malam ini gelapnya benar-benar berbeda. Bukan gelap biasa, tapi gelap yang seolah punya nyawa. Seakan setiap langkah kami diikuti mata-mata tak terlihat, mengintai dari balik semak, pepohonan dan bayang-bayang malam. Angin dingin menusuk kulit, mencabik rasa tenang di dada. Hanya suara desir ranting dan hembusan angin yang terdengar di telinga, bersahut dengan detak jantungku yang berdebar tak karuan.

 

Aku dan Mbah Karso berjalan beriringan. 

Atau lebih tepatnya  aku berusaha mengikuti langkah cepat lelaki tua itu yang seakan tak kenal lelah. Badannya memang ringkih, keriput di mana-mana, tapi langkahnya lincah, mantap, seolah ia tak menapaki tanah, seperti melayang ringan.

 

“Ayna! Buruan! Jangan melamun, purnama sudah turun tiga perempat, waktu kita nggak banyak!” bentaknya tanpa menoleh.

 

Aku mengangguk cepat, meski napasku sudah memburu. Tenggorokanku perih, paru-paruku terasa terbakar karena terus-menerus dipaksa menarik oksigen di udara dingin dan tipis pegunungan.

 

Dalam hati aku menggerutu.

“Ya Allah … kenapa nggak naik motor aja sih Mbah … siapa juga yang bisa jalan kaki ke gunung setinggi ini dalam waktu satu jam?”

 

Tapi omelan itu hanya mampu kusimpan dalam kepala. Aku tahu, ini bukan urusan biasa. Ini bukan perjalanan tamasya atau sekadar naik ke puncak gunung. Ini perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, antara hidup dan mati. Antara aku, Mas Raka … dan ibuknya.

 

Lamat-lamat, langkahku mulai ringan. Kakiku yang semula berat terasa melayang. Nafas yang tadinya sesak kini mulai longgar. Aku merasa seperti tidak lagi benar-benar berjalan di tanah. Aku menengok ke bawah benar saja, jejak kakiku tak lagi menyentuh tanah basah dan rerumputan. Aku … melayang. Entah bagaimana caranya, Mbah Karso membuat tubuh kami bergerak seakan menembus kabut dan kegelapan tanpa gesekan.

 

“Kita sekarang sudah masuk wilayah batas alam nyata dan alam batin. Jangan sekali-sekali berpikiran buruk, jangan menoleh ke belakang, dan jangan panggil nama siapa pun, paham?!” seru Mbah Karso, tanpa menoleh sedikit pun.

 

Aku mengangguk cepat.

 

Angin mendadak berhenti. Langkah kami kini memasuki jalan setapak yang dipenuhi kabut tipis, seolah awan turun ke bumi. Di depan sana samar-samar terlihat sebuah batu besar menjulang, di sekelilingnya obor menyala liar, cahayanya menari-nari ditiup angin yang tak ada.

 

Mbah Karso mempercepat langkah, aku pun ikut. Langkah kami kini terasa seperti hanya menyentuh udara.

“Itu panggungan leluhur. Tempat membuka jalan sukma. Kita harus sampai sebelum bayangan bulan benar-benar hilang dari batu itu,” terangnya.

 

Aku melihat ke atas, bulan memang mulai meredup, tertutup awan hitam tebal. Tapi pantulan sinarnya masih menyentuh bagian atas batu panggungan itu.

 

“Ayo lari Ayna! Cepat!”

 

Tanpa pikir panjang aku berlari, atau mungkin lebih tepatnya terbang ringan. Tak peduli lagi tanah berbatu, akar pepohonan, atau hewan-hewan malam yang mengawasi dari balik kegelapan.

 

Begitu sampai di panggungan leluhur, Mbah Karso langsung menyuruhku duduk di tengah lingkaran yang terbuat dari daun-daun kering dan reranting. Di sekelilingnya tertancap tujuh bilah keris tua berkarat, masing-masing menghadap ke arah mata angin.

 

“Ingat, begitu kau memejamkan mata nanti, jiwamu akan ditarik masuk ke alam batin. Di sana, kamu bakal ketemu ibuknya Raka. Wujud aslinya … jauh lebih buruk dari yang pernah kamu lihat. Kau harus kuat, Ayna. Harus kuat. Kalau enggak  kamu nggak akan bisa kembali.”

 

Aku menelan ludah. Badanku gemetar. Jantungku berdetak kencang. Tapi aku tahu, aku tidak boleh mundur.

 

“Aku siap, Mbah … demi Mas Raka.”

 

Mbah Karso mengangguk. Dia mulai membaca doa dan mantranya, suaranya berat, rendah, seperti berasal dari dada paling dalam. Kabut makin tebal, angin kembali berhembus, api obor menari liar.

 

“Sekarang pejamkan matamu … tarik napas dalam-dalam … pikirkan Mas Raka … pikirkan senyum dia … saat dia pertama kali pegang tanganmu … saat dia lamar kamu … saat dia janji jagain kamu … biar sukma kalian bisa saling menemukan.”

 

Aku menurut. Kutarik napas dalam-dalam. Kurasakan dadaku penuh. Mataku terpejam. Aku membayangkan wajah Mas Raka. Senyumnya, tawanya, cara dia memanggilku ‘dek’ dengan suara khasnya.

 

Hawa di sekelilingku mendadak berat. Aku merasa tubuhku enteng. Dunia seakan berputar. Segalanya gelap.

 

Dan tepat saat suara Mbah Karso menyentuh puncak mantra pamungkasnya, aku merasakan tubuhku seperti ditarik ke dalam lubang, jatuh, jauh, dan jauh lebih dalam.

 

Aku tahu … sekarang aku sedang memasuki alam batin.

 

 

Tempat itu … tempat di mana aku harus menjemput sukma Mas Raka. Tempat di mana aku harus menghadapi ibuk … atau aku takkan pernah kembali lagi.

 

Aku menarik napas panjang, menelan ketakutan yang rasanya nyaris mencekik.

 

“Bismillah .…”

 

Langkah kakiku berat saat masuk ke pelataran. Asap pekat mengepul dari tanah. Bau anyir darah bercampur kemenyan membubung. Di hadapanku, Mas Raka terbaring. Tubuhnya lemah, pucat seperti mayat. Matanya sayu, bibirnya pecah-pecah parah.

 

“Dek … tolong … tolong aku …,” bisiknya, lirih tapi jelas di telingaku.

 

Tepat di atas tubuhnya  sosok ibuk. Tapi bukan lagi manusia. Tubuhnya membusuk, rambutnya menjuntai tak beraturan, matanya merah membara. Tangannya kini penuh kuku panjang hitam melengkung seperti cakar. Giginya gemeretak, mulutnya berbisik mantra tak jelas.

 

“Hidupmu, hidupku … satu … tidak akan pernah terpisah!” raungnya parau, membuat udara di sekitarku terasa berat.

 

Tiba-tiba ibuk menancapkan kukunya ke dada Mas Raka. D4r4h muncrat!

 

“AAARRRGHHH!!” teriakan Mas Raka menggema. Tubuhnya menggeliat, darah mengalir dari dada, tapi ibuk semakin menggila. Ia mencakar, menarik sesuatu dari tubuh Mas Raka  kabut hitam pekat seperti asap, berputar di telapak tangannya.

 

“Ini … jiwa anakku! Dia milikku! Tidak akan pernah kau bawa pergi!”

 

Mas Raka megap-megap, tangannya terangkat lemah ke arahku. “Dek … tolong … aku .…”

 

Aku menggertakkan gigi. “Cukup, Bu!! Jangan sentuh dia lagi!!”

 

Ibuk menyeringai. Giginya membesar, lidahnya menjulur sampai ke dagu. Tubuhnya merayap cepat ke dinding, seperti laba-laba. Mata merahnya menatapku.

 

“Kau kira bisa selamat?! HAH?! Aku akan ambil jiwamu juga, dasar perempuan j4l4n9!”

 

Sekujur tubuhku merinding.

 

Tiba-tiba ibuk menjatuhkan diri dari langit-langit, mendarat tepat di samping Mas Raka. Tangannya menusuk perut Mas Raka, menarik keluar organ hitam legam yang sudah hangus. Darah segar membasahi lantai.

 

Mas Raka hanya bisa mengerang, air matanya jatuh. “Dek … aku mohon .…”

 

Ibuk tertawa keras, suaranya menggema menyeramkan. “Dia milikku! Dan kau akan menyaksikannya sampai mati!”

 

Aku tak tahan lagi. Aku meraih keris kecil pemberian Mbah Karso dari balik ikat pinggang. Dengan suara tak terkendali aku berteriak.

 

“IBUUUUKKKK!!!”

 

Aku lemparkan keris itu. Tepat mengenai lengan ibuk.

 

SREEEKKK!!

 

Asap hitam menyembur dari lukanya. Ibuk meraung.

 

“AARGHHH!!”

 

Tubuhnya terguling. Darah hitam pekat muncrat ke segala arah. Mas Raka langsung lemas.

 

“Dek … lari … jangan peduli aku .…”

 

Aku menangis keras. “Aku nggak akan tinggalin kamu, Mas! Aku akan bawa kamu! Itu tujuanku kesini!”

 

Ibuk bangkit, merangkak cepat. Mulutnya menganga, dari sana keluar suara desisan ribuan ular. Matanya membara.

 

“Kalian semua … AKAN MATI DI SINI!!”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!