Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Ibuku?
“Allahu Akbar!!” teriakku sekeras-kerasnya. Keris di tanganku kutancapkan seluruh kekuatan dan amarah ke udara, lalu kulempar keras ke arah tubuh ibuk.
Keris itu berputar cepat, berkilat di antara cahaya lilin dan kabut hitam, lalu …. TRAPP!!
Tepat menusuk dada ibuk.
“AAARRGGHH!!” jeritannya memekakkan telinga. Tubuhnya terjungkal ke belakang, darah hitam menyembur deras dari dadanya. Wajahnya yang sudah rusak makin menyeramkan, matanya melotot, giginya mengerat-ngerat. Suaranya berat, parau, bercampur amarah dan kesakitan.
“Cih … dasar anak sialan! Anak durhaka! KAU ANAK KUTUKAN!!” teriaknya histeris.
Aku tak peduli.
Aku berlari secepat mungkin menuju Mas Raka yang tergeletak lemah, tubuhnya masih berlumuran darah, wajahnya pucat, tangannya gemetar mencoba meraihku. Air mata bercampur darah di sudut matanya.
“Dek … aku nggak kuat .…”
“Aku di sini, Mas … aku di sini!” Aku raih tangannya, menggenggam erat. Tangisku pecah. Tapi saat itu, ibuk kembali bangkit.
“Kau kira semudah itu mengambil anakku?!” raungnya.
Aku menoleh dan dalam sekejap ibuk sudah di depanku. Tubuhnya bergerak cepat tak wajar. Tangannya mencengkram kerah bajuku, menarikku kasar. Kami terlibat pergulatan. Tubuhnya bau anyir bercampur amis darah. Cakarnya mencakar kulitku, perih luar biasa.
Aku menendangnya, tapi dia kembali merangsek. Seperti kesetanan.
“Kembalikan anakku!! Kau perempuan jalang!!”
Aku berusaha sekuat tenaga menangkisnya. Di saat tubuhku hampir roboh, naluriku mendorong tangan kananku meraih keris yang tadi sempat tergeletak di samping kami.
Dengan sisa tenaga, aku tusukkan keris itu ke perutnya.
Sreeeekkk!!!
Darah hitam menyembur. Ibuk mengerang. Tapi aku tak berhenti.
Braakkk!!! Braakkk!!!
Berkali-kali aku tusukkan keris itu ke tubuh ibuk. Amarah, ketakutan, dendam, semuanya meledak. Aku menangis histeris sambil terus menghunjamkan keris ke tubuhnya.
“Ini karena kau! Ini semua karena kau!!”
Darahnya muncr4t ke tubuhku. Bau amis dan anyir memenuhi rongga hidungku. Hingga akhirnya tubuh ibuk ambruk. Diam. Tak bergerak.
Aku terhuyung. Nafasku tersengal. Pandanganku kabur. Tubuhku goyah.
Gelap …
Semuanya perlahan menghitam.
Aku ambruk di samping tubuh Mas Raka. Suasana gua itu menghilang perlahan, seperti kabut yang memudar. Suara-suara seram, jeritan, desisan ular, ratapan ibuk … semuanya lenyap.
Ketika aku membuka mata aku bukan lagi di gua. Bukan di panggungan. Bukan di hutan.
Aku terbaring di atas ranjang. Dinding ruangan itu putih bersih. Bau alkohol dan obat-obatan tercium. Lampu neon tua bergantung di langit-langit.
Aku di rumah sakit.
Tapi … ada yang aneh. Semua perabotan tampak lawas. Bentuk botol infusnya kuno, alat medis di sudut ruangan seperti buatan lama. Seragam suster yang mondar-mandir mengenakan kebaya putih dan kain jarik.
Aku mengerutkan kening. “Tahun berapa ini …?” tanyaku dalam batin.
Aku menoleh ke arah kursi di sudut ruangan.
Di sana, ibuk duduk.
Tapi wajahnya … bukan lagi ibuk yang penuh darah dan kegilaan tadi. Ia tampak sebagai perempuan sederhana, mengenakan kebaya abu-abu lusuh, rambut digelung, wajahnya kuyu dan lesu, menatap kosong ke arah jendela.
“Ibuk …?” aku ingin berkata tapi suaraku tidak keluar.
Ia menoleh pelan. Mata sayunya merah, sembab seolah habis menangis berhari-hari.
“Anakku … kamu udah bangun, ya? Ibuk khawatir sekali .…”
Aku tercekat. Hati berdegup. Mataku kembali memandangi ruangan.
Bukan … ini bukan masa sekarang.
Aku … aku kembali ke masa lalu. Di kalender itu tertulis Tahun 90-an … saat ibuk masih hidup normal. Saat semua belum gila .…
Aku menggenggam dada. “Ya Allah … apa yang sebenarnya terjadi?”
Samar, aku dengar suara suster memanggil di luar.
“Buk anaknya sudah sadar? ”
Ibuk berdiri pelan, menghampiriku, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya yang dingin mengelus rambutku.
“Maafkan ibuk, ya, Nak … maaf … ”
Aku menelan ludah. Dadaku sesak.
“Aku … aku di mana sebenarnya, Buk …?”
Ibuk diam. Tapi air matanya jatuh satu-satu, membasahi pipinya yang keriput. Di luar, suara lonceng malam terdengar bersahut-sahutan, menggema dalam sunyi yang aneh. Suara itu seperti menandai sesuatu … entah akhir, entah permulaan.
Ibuk masih di situ. Menangis pelan di sampingku. Entah kenapa, rasanya kali ini air matanya bukan lagi milik perempuan yang penuh amarah dan dendam. Tangis itu terdengar tulus … perih … seperti seseorang yang kehilangan segalanya.
Dan aku, entah kenapa, bisa ikut merasakan sakit yang sama. Sakit yang perihnya seperti merobek dada dari dalam.
Aku ingin menyentuhnya. Ingin menyeka air matanya, meski hanya dengan ujung jemari. Tapi tubuhku begitu berat. Seolah seluruh sendi tak mau digerakkan.
Aku hanya bisa menatap, dan ibuk pun akhirnya perlahan berdiri. Wajahnya masih basah oleh air mata. Senyum samar tersungging di bibirnya, senyum yang begitu asing … tapi hangat.
“Ibuk sholat dulu ya, Nak,” bisiknya lembut.
Hangat sekali.
Sungguh.
Untuk pertama kalinya, suara itu terdengar begitu menenangkan. Seperti seorang ibu yang benar benar mengasihi anaknya.
Tanpa menunggu jawaban, ibuk berjalan pelan ke luar ruangan. Langkahnya gemetar, tapi pasti. Suara langkah kakinya di lantai rumah sakit itu terdengar sayup … lalu hilang ditelan sunyi.
Aku terpejam.
Entah mengapa, dada ini sesak. Tapi bukan karena takut.
Ada sesuatu yang lebih dalam …
Rasa sakit .
Rasa kehilangan.
Yang belum aku pahami.
Beberapa menit kemudian, saat ibuk baru saja melepaskan mukenah dari kepalanya, aku masih bisa melihat sisa air mata di sudut matanya. Ia menghela napas panjang, seolah mengumpulkan sisa tenaga untuk menghadapi sesuatu yang berat.
Tok … tok … tok .…
Ketukan di pintu itu terdengar pelan tapi jelas di tengah hening ruangan. Pintu terbuka dan seorang perawat masuk dengan senyum ramah. Di tangannya tergenggam map berwarna biru muda.
“Buk Nurhayati, bayinya sudah boleh dibawa pulang ya, Buk. Dan ini hasil labnya,” ucap perawat itu sambil menyerahkan map tersebut.
Aku terdiam. Bayi?
Bayi siapa?
Kenapa namanya Nurhayati? Bukankah nama aslinya … Farida?
Kening ibuk sempat berkerut. Matanya menatap kosong beberapa detik ke arah perawat, lalu menoleh perlahan ke arah ranjang tempatku berada. Tubuhnya mendekat dan tanpa ragu dia mengulurkan tangannya ke arahku.
Sekejap saja, tubuhku terangkat dalam pelukannya. Ia menggendongku begitu ringan, begitu akrab, seperti sudah sejak lama kami saling mengenal. Tangannya gemetar sedikit, tapi hangat. Aroma tubuhnya, bau keringat, bercampur wangi sisa mukenah yang baru dilepas itu menyelinap ke hidungku.
Dan saat itulah, kesadaran itu menghantamku seperti badai.
Aku melihat tubuh di pantulan kaca jendela ruang perawatan.
Bukan aku yang tadi .…
Tapi seorang bayi merah, mungil, dengan selimut putih membungkus tubuhnya.
Ya Allah .…
Aku bayi itu.
Akulah bayi yang baru saja lahir itu.
Aku menatap mata ibuk yang sekarang seharusnya memanggilku anak dan untuk pertama kalinya aku sadar … ini bukan mimpi.
“Ayo, Nak … kita pulang,” bisik ibuk di telingaku. Suaranya lembut sekali. Tak ada dendam, tak ada amarah. Hanya suara seorang ibu yang baru saja memenangkan pertempuran panjang di hidupnya.
Di luar sana, malam masih menggantung di balik jendela, suara lonceng pelan bersahutan. Tapi di dalam ruangan ini
Semuanya terasa begitu asing dan anehnya … akrab.
Aku adalah bayi itu.
Aku pernah lahir di sini.
Dari perempuan ini.
Di waktu yang entah kapan.
Di kehidupan yang seakan berulang.