Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Pilih Aku atau Ibumu
“Mas, kamu ngapain?” Aku menegur Mas Raka yang tidak memperdulikan sama sekali perasaanku.
Melihat perilakunya barusan entah kenapa aku merasa jijik dengan suamiku sendiri.
“Mas … kamu ngapain?!” tanyaku lagi.
Suaraku meninggi. Tak bisa kutahan. Tenggorokanku tercekat, tapi amarah ini terlalu penuh untuk didiamkan.
Aku menatapnya tajam. Tatapan yang selama ini penuh kagum, kini berganti jadi jijik. Sumpah, entah kenapa aku merasa muak dengan suamiku sendiri.
Lelaki yang selama delapan tahun jadi sandaran hati, kini berubah wujud jadi sosok asing yang bahkan aromanya membuatku mual.
Mas Raka hanya menoleh pelan.
Datar. Tanpa beban. Seolah tak ada apa-apa barusan. Seolah yang kulihat tadi cuma mimpi buruk di siang bolong.
“Dek … jangan gitu lagi ke Ibuk, ya,” ucapnya tenang.
“Mas memang dari dulu biasa mandi sama Ibuk. Cuma sekadar bantu bersihin badan aja. Nggak ada yang aneh.”
Hah?!
Aku mengerjap. Dadaku berdegup tak karuan.
Sekadar bersihin badan katanya?! Dia bodoh atau pura-pura bego? Atau memang sudah kehilangan akal sehatnya?
Aku rasakan tubuhku bergetar. Napas pendek-pendek. Tenggorokanku tercekat, tapi aku paksa berbicara.
“Mas …,” suaraku pelan, namun berat.
“Aku ini istrimu! Kau anggap aku apa? Boneka? Pelengkap kasur? Barang pajangan di rumah ini?!”
Bentakanku akhirnya pecah. Tak peduli lagi apa Ibuk mendengar. Aku sudah terlalu lelah berpura-pura.
Mas Raka mendesah.
Seolah akulah yang sedang lebay. Seolah aku yang terlalu drama. Seolah aku yang salah.
“Dek … jangan bawa emosi, deh. Mas sayang kamu. Tapi kamu harus ngerti, Ibuk itu orang tua Mas. Kita harus hormat sama orang tua. Apalagi Ibuk sendirian dari dulu, siapa lagi yang bantuin kalo bukan Mas?”
Lagi-lagi … tanpa rasa bersalah. Tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan.
Aku menatapnya lama.
Ingin rasanya kulempar barang apa saja ke kepalanya. Tapi tubuhku terlalu lemas. Luka batin ini terlalu besar. Mulutku kelu, tapi hatiku sudah hancur.
“Kamu sayang aku?!”
Aku tertawa miris.
“Sayang model apa kayak gini?! Sayang yang tega bikin istrimu muak sama kelakuan suaminya sendiri?!”
Aku berhenti bicara, menahan napas yang memburu.
Mataku basah. Tapi aku nggak mau nangis di depannya. Biar saja dada ini sesak, asal jangan sampai air mata ini jatuh di hadapan laki-laki macam dia.
“Mas … kalau kau masih waras, berhenti perlakukan aku kayak gini. Aku nggak butuh jadi istri kalau cuma dianggap pelengkap.”
Mas Raka diam.
Bungkam. Mungkin baru sadar, atau pura-pura bodoh lagi. Tatapannya kosong. Tangannya mengusap tengkuknya pelan.
Aku mendekat, berdiri hanya sejengkal dari wajahnya.
“Kalau kau masih suamiku … pilih! Aku, atau kebiasaan sakit jiwamu itu!”
Mas Raka menunduk, suaranya lirih. “Dek … jangan maksa Mas .…”
Aku mundur satu langkah.
“Bagus. Karena setelah ini, aku nggak akan maksa kamu lagi.”
Langkahku cepat.
Tanpa pikir panjang, aku masuk ke kamar, tanganku gemetar meraih lemari.
Kubereskan semua pakaianku, kutarik kasar baju-baju dari gantungan, kuseret semuanya ke atas kasur.
Tanpa lipatan rapi, asal masuk saja ke koper.
Jantungku berdentum keras.
Kepalaku panas. Dadaku sesak. Aku nggak peduli apa pun lagi. Yang ada di pikiranku hanya satu: keluar dari rumah ini.
Pagi ini juga!
“Ayna … Ayna …!”
Suara Mas Raka terdengar panik. Dia buru-buru menyusulku ke kamar, langkahnya berat dan tergesa.
Tangannya menarik lenganku.
“Ayna, tolong … jangan kayak gini … dengerin dulu, Sayang … tolong jangan pergi …,” suaranya parau, nadanya turun drastis, nyaris seperti orang yang putus asa.
Aku tepis tangannya.
“Lepas, Mas!! Jangan sentuh aku!!” bentakku lantang.
Air mataku akhirnya tumpah juga. Entah karena amarah atau karena rasa kecewa yang terlalu dalam.
Mas Raka menjatuhkan dirinya ke lantai, bersimpuh.
Aku tercekat.
“Ayna … demi Allah, Mas sayang kamu … Mas mencintaimu … Mas nggak bisa kalau kamu pergi, Dek ….”
Matanya memerah.
Nafasnya memburu.
Aku menggeleng, air mataku makin deras.
“Cinta apa kayak gini, Mas? Cinta yang rela bikin aku jijik sama laki-laki yang kupilih jadi suamiku?!”
Mas Raka bangkit, lagi-lagi menggenggam tanganku, tangisnya pecah.
“Mas mohon, jangan pergi, Dek … apa pun yang kamu minta, Mas turutin … asal jangan ninggalin Mas …,”
Suaranya bergetar, pelipisnya basah keringat. Dada bidangnya naik-turun cepat.