Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Flashback

Aku masih dalam pelukan ibuk. Tubuh mungilku yang dibalut selimut tipis terasa hangat di dadanya. Aku bisa mendengar degup jantungnya berdetak, pelan namun kuat, seperti irama yang mengiringi langkahnya. Di luar, langit mulai merintik. Hujan kecil turun satu-satu, menyentuh tanah kering yang sejak tadi menahan rindu pada hujan.

 

Ibuk membenarkan kain jarik yang tadi ia gunakan untuk menggendongku, lalu menarik ujungnya hingga menutupi wajahku sepenuhnya. 

 

Aku tak bisa melihat apa-apa. Hanya aroma tubuhnya, bau kain jarik yang sudah pudar wangi sabun, dan suara hujan tipis di luar sana, yang kini menjadi teman dalam keheningan.

 

Langkah ibuk terus berjalan. 

 

Aku hanya bisa merasakan tubuhnya bergerak pelan, bergoyang seiring ayunan langkahnya. Kadang-kadang terdengar suara gesekan ranting, kadang suara air yang menggenang di tanah becek terinjak kakinya. 

 

Entah menuju ke mana. Aku tak tahu. 

 

Lalu, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan.

Suara perempuan lain. Parau dan penuh kemarahan.

 

“Nih! Baju-bajumu!!!”

Disusul suara benda-benda berat terlempar ke tanah. Gemerincing besi dan debuman kain basah bercampur tanah.

 

“Jangan pernah injak rumah ini lagi! Aku gak sudi punya anak angkat kayak kamu!!!”

Suaranya tajam, dingin, penuh amarah.

 

Aku mendengar napas ibuk memburu. Tubuhnya sedikit bergetar menahan sesuatu yang tak bisa aku lihat. Tapi aku bisa merasakannya. Hatinya luka. Ada perih yang tak bisa disembunyikan.

 

Hujan kini turun lebih deras. Suara air menimpa dedaunan dan tanah basah seperti menyanyikan lagu sedih. Ibuk tetap diam. Dia tak berkata apa-apa. Hanya memelukku lebih erat, seolah aku satu-satunya yang masih tersisa di dunia ini.

 

Aku mendengar langkah kaki perempuan itu masuk ke dalam rumah, pintu kayu ditutup keras hingga dentumannya menggema.

 

Ibuk menarik napas panjang, lalu menunduk.

“Kita gak butuh mereka, Nak … Kita cuma butuh Allah,” bisiknya, suara serak dan basah oleh air mata.

 

Aku ingin membuka mataku, ingin melihat wajah ibuk saat itu. Tapi kain jarik ini tetap menutupi wajahku rapat. Aku hanya bisa merasakan. Bahwa di balik hujan ini, di balik amarah dan pengusiran itu, ada luka lama yang dipaksa sembuh sendirian.

 

Ibuk kembali melangkah. Kakinya menapaki jalanan becek, suara air muncr4t setiap ia melangkah. Aku masih dalam dekapannya. Hujan menyelimuti kami. Dunia terasa sunyi, seolah hanya kami berdua yang masih hidup di bawah langit abu-abu itu.

 

Entah ke mana arah tujuan ibuk. Tapi langkahnya terus maju, menjauh dari rumah yang kini tak sudi menerimanya. 

 

“Kita di sini dulu ya, Nak … yang penting kamu nggak kehujanan lagi.”

 

Ibuk berbisik lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan yang masih mengguyur deras malam itu.

 

Aku yang masih bayi, hanya bisa menangis pelan. Tubuh mungilku dibalut kain jarik yang basah oleh air hujan dan peluh tubuh ibuk. Dengan tangan gemetar, ibuk merangkulku erat, mencari-cari tempat berteduh di tengah malam yang sepi.

 

Akhirnya kami menemukan sebuah jembatan tua. Gelap, lembab dan bau tanah basah bercampur lumpur menyengat di udara. Ibuk meletakkan beberapa pakaian bekas miliknya di atas tanah becek, dijadikan alas untuk tubuhku. Lalu, dengan sisa kekuatannya, dia mendekapku, menyusuiku, meski tubuhnya sendiri menggigil hebat.

 

“Maafkan ibuk, Nak … belum bisa kasih tempat layak buat kamu. Tapi yang penting kamu hangat yang penting kamu masih bisa minum.”

Matanya berkaca-kaca, membiarkan air mata bercampur hujan membasahi pipinya.

 

Malam semakin pekat. Angin meniup bulir-bulir hujan masuk ke kolong jembatan. Ibuk memelukku makin erat, seolah takut kehangatan terakhir yang ia miliki di dunia ini direnggut pergi.

 

Aku mulai mengantuk. Suara hujan yang menimpa tanah dan gelegar petir di kejauhan justru membuat mataku perlahan tertutup. Tapi sebelum benar-benar lelap, aku mendengar suara langkah kaki berat. Derap sepatu yang menghentak tanah basah, mendekat dengan kasar.

 

Dua pria muncul dari balik gelap. Tubuh mereka besar, penuh tato di lengan dan leher. Bau alkohol dan asap rokok menguar dari napas mereka.

 

“Sendirian aja nih, Cantik?” goda salah satu dari mereka, suaranya serak, penuh nada sinis.

“Kasian amat, basah-basahan begini,” sambung temannya sambil tertawa pelan.

 

Ibuk langsung berdiri, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat.

“Maaf … kami cuma numpang lewat. Kami gak ganggu siapa-siapa. Saya mohon .…”

 

“Heh, jangan banyak bacot, sini anak lo!”

Tiba-tiba salah satu dari mereka merampas tubuhku dari pelukan ibuk. Tubuh mungilku dilempar kasar ke tanah berlumpur.

 

Brak!

Aku menangis keras.

 

“Anakku! Anakku! Jangan sakiti anakku! Saya mohon, mau apa kalian?! Saya baru saja melahirkan tolong Karan saya.”

 

Teriak ibuk histeris, berlutut di hadapannya.

 

Pria bertato itu tertawa puas.

“Laper nih, bro. Gimana kalo yang ini buat hiburan dulu?”

 

“Baru aja lahiran katanya, uhuy masih anget dong,” yang satunya ikut menyeringai.

 

“Tolong … saya mohon … saya baru lahiran … saya mohon, jangan … jangan!”

Suara ibuk makin lemah, tangisnya bercampur suara hujan dan gemuruh malam.

 

“Kau pikir kami peduli? Hahaha!”

 

Gelak tawa mereka pecah, memekakkan telinga, menyayat malam.

 

Salah satu pria itu mendorong ibuk hingga terjatuh ke tanah. Dengan brutal, mereka mencengkeram lengannya, menarik tubuhnya yang lemah ke arah gelap di bawah jembatan. Ibuk terus meronta, berusaha meraih tubuhku yang tergeletak tak berdaya di tanah.

 

“Anakku … jangan sakiti anakku … saya mohon, sakiti saya saja … jangan anak saya … jangan anak saya .…”

Teriakannya menggema, namun tak ada yang datang menolong.

 

Langit makin pekat. Hujan turun tanpa henti. Aku menangis sejadi-jadinya, tubuh kecilku kedinginan, ketakutan dan lemah tak mampu apa-apa.

 

Ibuk terus meronta sampai suara tubuhnya terdengar dihempaskan ke tanah. Aku tak bisa melihat jelas, tapi aku bisa merasakan ketakutannya. Aku bisa mendengar tangisnya yang perlahan mulai melemah.

 

“Udah ah, habisin aja. Dari pada cerewet begini!”

 

Suara pria itu terdengar kejam.

 

Aku tak tahu pasti apa yang terjadi setelah itu. Tapi yang pasti malam penuh dosa itu, dua pria laknat telah menodai ibuk di depan anaknya sendiri.

 

 

 

Hari perlahan berganti. Kabut tipis mulai menipis, dan cahaya fajar mengendap-endap menyusup di sela-sela dedaunan, menerobos celah-celah kayu lapuk di bawah jembatan tua itu. Hujan telah reda, menyisakan aroma tanah basah yang menyengat menusuk hidung.

 

Aku, bayi mungil yang bahkan belum sempat mengenal dunia, masih tergeletak lemah di atas tanah berlumpur. Tubuhku dingin, kulitku pucat, dan suara tangisku yang sejak semalam meraung, kini nyaris tak terdengar. Hanya isakan pelan seolah sisa napas ini pun tinggal menunggu waktu untuk lenyap.

 

Dari kejauhan, suara langkah kaki terseok terdengar. Tubuh ibuk yang berlumuran lumpur dan darah, dengan pakaian robek di sana-sini, wajahnya penuh luka lebam dan goresan, menyeret dirinya mendekatiku. 

 

Ia berjalan tertatih, dengan tubuh gemetar seperti kehilangan tenaga, tapi matanya … matanya menyala dengan kekuatan seorang ibu yang tak rela anaknya binasa.

 

Dengan sisa-sisa kekuatannya, ibuk merangkak. Lututnya menyeret tanah, telapak tangannya gemetar menahan perih, tapi ia terus maju. Air mata membasahi pipinya, bercampur dengan lumpur yang mengering di wajahnya.

 

“Anakku … Nak … jangan tinggalin ibuk … jangan tinggalin ibuk ya, Nak …,” lirihnya, suara itu pecah, serak, lebih mirip bisikan ketimbang suara manusia.

 

Akhirnya ia berhasil meraih tubuh kecilku. Dipeluknya aku erat, seolah takut aku akan hancur di dalam pelukannya yang ringkih. Tubuh kami sama-sama kotor, sama-sama dingin, sama-sama luka … tapi pelukan itu terasa begitu hangat. Hangat yang tak bisa ditukar dengan apa pun di dunia ini.

 

Ibuk menangis sejadi-jadinya. Suaranya menggema lirih di bawah jembatan yang mulai diterangi cahaya pagi. “Ya Allah … kau boleh hancurkan aku … boleh siksa aku … boleh cabik-cabik tubuh ini … tapi jangan anakku … jangan ambil anakku …,” isaknya, mengguncang tubuhku pelan.

 

Pelukannya mengencang, wajahnya menempel di pipiku yang membiru. Aku, meski tak mengerti, bisa merasakan derasnya air mata ibuk membasahi wajah kecilku.

 

“Izinkan dia bahagia, meski aku tak pernah harapkan dia lahir, meski dulu aku pernah benci kehadirannya di tahini … tapi demi Allah, aku mencintainya … aku mencintainya … aku mohon … izinkan dia hidup … walau aku harus mati seribu kali pun aku rela …,” ucapnya terisak, suara itu menyayat.

 

(MASIH EDISI FLASH BACK) 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!