Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Di Kantor Polisi
“Ayna … Ayna!!” suara itu menggema keras di telingaku.
Aku terperanjat. Tubuhku terguncang. Nafasku tercekat seperti baru saja muncul ke permukaan setelah tenggelam lama dalam air yang pekat. Cahaya samar dari obor kecil menyorot wajah keriput Mbah Karso yang tampak penuh lega dan gemetar karena kelelahan. Wajahnya yang biasanya keras kini basah oleh keringat dan debu.
“Alhamdulillah … kamu bangun. Kita berhasil, Nak … kamu hebat! Luar biasa!” katanya sambil meremas lenganku penuh semangat dan kelegaan.
Aku langsung terduduk, tubuhku menggigil. Keringat dingin membanjiri punggungku meski udara di dalam gua ini sangat dingin dan lembap.
“Ibuk … ibuk di mana?! Di mana ibuk?! Dimana ibuk?!!” aku meraung seperti orang kesurupan, mataku menatap liar ke segala arah. Aku bahkan nyaris merangkak sambil mengais udara, berharap bisa menemukan sosoknya.
“Ibuk!!!” teriakku lagi, parau dan putus asa.
Mbah Karso tampak menegang. Matanya berubah tajam. Ia segera menarik lenganku dengan kasar, menyeretku dari lantai gua yang dingin dan basah.
“Cukup!!” bentaknya keras. “Mertuamu? Jangan pikirkan lagi! Sudah bukan urusanmu, Ayna! Sukmanya … nasibnya … jalannya, itu bukan bagian kita!”
Aku menggeleng liar. “Tapi … dia ibuk! Dia ibuk!!” hatiku menjerit lebih keras daripada suara mulutku. Tapi lidahku kaku. Tak bisa berkata apa-apa. Aku ingin mengatakan bahwa aku melihat semuanya, masa lalunya, penderitaannya, bahkan cintanya yang aneh tapi nyata. Tapi kenapa suara itu tak keluar?
Lidahku kelu. Suaraku tercekat di kerongkongan, seperti ada gumpalan panas yang membekukan semua yang ingin aku ucapkan.
“Ayo! Suamimu sudah sadar! Dia menunggumu! Kita harus kembali sekarang juga!” seru Mbah Karso.
Langkahnya cepat, seperti tak memberi ruang untuk menawar atau menolak. Ia menyeretku keluar dari gua tua itu. Aroma dupa masih mengambang di udara, menyatu dengan lembab tanah dan aroma lumut tua yang melekat di dinding-dinding batu.
Aku hanya bisa menurut. Kakiku terasa menggantung. Setiap langkah yang kuambil tak menyentuh tanah, seperti melayang. Atau mungkin memang kami sedang melayang? Entahlah. Realita dan mimpi terasa kabur. Aku tidak tahu apa yang nyata lagi. Yang kutahu, tubuhku digeret oleh Mbah Karso menuruni jalur hutan yang gelap dan sempit, dengan jurang menganga di sisi kiri dan kanan.
Pohon-pohon raksasa berdiri seperti makhluk hidup yang sedang memperhatikan kami. Angin menerpa wajahku, dingin dan getir. Suara dedaunan bergesekan seperti bisikan samar. Suasana begitu sunyi, bahkan suara detak jantungku terasa paling nyaring di antara semuanya.
“Dia ibuku …,” bisikku dalam hati, “Walau aku tak pernah tahu kebenarannya sejak awal, tapi aku tahu … dia lebih dari sekadar sosok menyeramkan yang selama ini kutakuti … dia ibuku … dan aku meninggalkannya di sana sendirian.”
Air mata menetes, tanpa suara, tanpa gemetar. Rasanya kosong. Ada sesuatu dalam diriku yang hancur, tapi tidak sempat kuperbaiki. Dan itu … ah entahlah.
Langkah kami makin cepat, semakin jauh dari kegelapan gua. Cahaya matahari pagi mulai menembus sela-sela dedaunan.
Satu jam perjalanan yang terasa seperti seumur hidup akhirnya mengantarkan kami kembali ke rumah.
Langkah kaki kami menjejak halaman depan dengan gontai. Kakiku lemas, nafasku tak beraturan. Tapi ada sesuatu yang menggetarkan dadaku saat kulihat sosok itu duduk di bangku kayu depan rumah tubuh yang sangat kukenal, siluet yang selama ini kupertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.
Mas Raka.
Dia duduk bersandar, memakai sweater abu yang biasa ia kenakan di malam hari. Tangan kanannya menggenggam gelas teh hangat yang baru saja diberikan oleh mamahku. Aroma melati samar tercium dari uap teh yang mengepul tipis. Senyumnya menyambutku, lembut, damai … terlalu damai.
“Dek,” sapanya pelan.
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku terpaku. Mataku mendadak berkaca-kaca. Bibirku bergetar menahan haru. Jantungku berdetak begitu kencang hingga hampir tak tertahankan.
Dia sadar.
Dia kembali. Dia benar-benar kembali.
Suamiku .…
Lelaki yang berkali-kali ingin kuhampiri tapi selalu tertahan oleh nasib buruk, kini duduk di depanku, hidup, tersenyum … dan memanggilku dengan suara yang kurindukan setiap malam.
Aku melangkah cepat tanpa sadar, lalu berlari kecil ke arahnya. Pelukanku melingkari tubuhnya erat, seolah aku tak ingin kehilangan dia lagi. Tangisku pecah, membasahi pundaknya.
“Mas …,” suaraku nyaris tak terdengar.
Dia membalas pelukanku dengan lembut. Tapi ada sesuatu yang ganjil. Tangannya terasa dingin. Terlalu dingin.
“Ya, Dek …,” balasnya pelan, lalu ia tersenyum lagi.
Senyum itu … entah kenapa tidak seperti biasanya. Matanya … kosong, tenang, seperti cermin yang tak memantulkan siapa pun. Bukan seperti mas Raka yang kukenal. Tapi ah … mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin ini dampak dari semua trauma yang kami alami. Aku mencoba menepis segala prasangka.
“Mas … sudah sehat?” tanyaku hati-hati, masih menggenggam jemarinya.
Ia mengangguk pelan. “Sudah. Maapin mas ya, Dek … semua yang terjadi … semua luka yang kamu tanggung. Mas gak bisa ngelindungin kamu, mas nyakitin kamu … mas gak cukup kuat lawan semuanya.”
Air mataku menetes lagi.
“Udah, mas. Udah. Sekarang kamu udah di sinic… itu cukup. Itu lebih dari cukup.”
Aku menatap matanya, mencoba mencari jejak luka, rasa takut, atau trauma. Tapi tak ada. Yang kulihat hanyalah ketenangan … terlalu tenang.
Terlalu … tenang.
Aku menggenggam tangannya lebih erat, mencoba mengabaikan keganjilan itu. Tapi jauh di lubuk hati, ada suara kecil yang berbisik.
“Kau yakin … itu benar-benar Mas Raka?”
Tapi kupeluk dia lebih erat, menolak mendengar bisikan itu lebih lanjut.
Dia adalah suamiku.
Dan dia telah kembali.
Atau … mungkin hanya tubuhnya saja?
Entahlah ….
Di membalas pelukanku
Pelukannya … terlalu kencang.
Teramat erat sampai tulang rusukku seperti diremas. Aku mendesah pelan, mencoba menarik napas yang mulai sesak, tapi lengannya justru semakin mengunci tubuhku dalam dekapannya.
“Mas … mas, kekencengan … sakit!” desisku, mencoba menjauh, menepuk-nepuk punggungnya.
Tapi ia tak bergeming. Mas Raka hanya tersenyum. Senyum yang … aneh. Tipis, menggigil. Ada semacam ketakutan yang membalut bibirnya, bukan kebahagiaan seperti biasanya.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, kepalanya menunduk. Tubuhnya gemetar. Kedua tangannya masih membekap tubuhku, tapi wajahnya tenggelam dalam bayang pelukannya sendiri.
“Mas?” panggilku lagi, sedikit panik. “Mas, kenapa? Mas?”
Aku mengguncang-guncang tubuhnya pelan, tapi ia tak menjawab. Masih membungkuk, seperti menahan sesuatu. Napasnya mulai terdengar berat … putus-putus … dan lalu .…
Isakan itu pecah.
Suamiku menangis. Terisak seperti anak kecil yang baru saja kehilangan seluruh hidupnya.
“Mas …?”
Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya. Matanya memerah, air matanya mengalir deras menuruni pipi. Bahunya berguncang hebat.
“Maafkan mas, Dek …,” ucapnya pelan. “Maafin mas .…”
“Mas … kenapa?” suaraku gemetar, tak mengerti.
“Mas … mas kotor, Dek. Mas ini … penuh dosa. Penuh dosa besar!” Ia meremas rambutnya sendiri, wajahnya diliputi rasa bersalah yang mengerikan. “Mas gak pantas hidup, mas gak pantas jadi suamimu, mas gak pantas nerima maaf dari siapa pun!”
“Mas jangan bicara kayak gitu.”
“Tolong.” Potongnya dengan suara parau. “Ajak mas ke kantor polisi, Dek. Tolong … tolong bawa mas sekarang juga. Mas mau ngaku. Mas mau bersaksi. Mas mau jujur. Mas gak sanggup lagi … selama ini mas tutupin semuanya, mas ikut diam, mas diem … karena takut … karena ibuk … karena semua yang mas liat .…”
Dadaku tercekat.
“Mas liat apa …?” tanyaku dengan pelan, nyaris berbisik.
Tapi dia tak menjawab. Hanya menangis semakin keras. Ia jatuh berlutut di depanku, tangannya meraih kakiku seperti seorang pesakitan yang memohon pengampunan terakhirnya.
“Mas takut, Dek. Tapi sekarang mas lebih takut kehilangan akal sehat. Mas lebih takut jadi sama kayak dia. Mas lebih takut … kalau mas diem terus, mas bakal berubah. Mas gak mau itu.”
Aku menunduk, mengusap rambutnya dengan lembut, mencoba menenangkannya meski pikiranku sendiri kalut tak keruan.
“Kita akan hadapi sama-sama, Mas … asal kamu jujur. Kita cari jalan keluar bareng-bareng.”
“Mas udah telat sadar, Dek .…” Ia menatapku. “Tapi selama kamu masih mau gandeng tangan mas … tolong, bawa mas. Ke kantor polisi. Mas mau buka semua. Semua ….”