PESANTREN ANGKER

Bab 11. Darul Istiqomah

Perjalanan menuju Paciran terasa sangat panjang. Jalan semakin sepi. Lampu jalan semakin jarang. Kanan kiri hanya ada sawah gelap dan pepohonan rindang yang membentuk kanopi mencekam.

 

Zahra duduk di belakang dengan tubuh kaku. Tangannya mencengkeram tasbih di dalam saku gamis. Setiap kali angin malam menerpa wajahnya, bulu kuduknya berdiri.

 

Tukang ojek sesekali menoleh ke belakang. "Mbak tidak apa-apa?"

 

"Iya, Pak. Saya baik-baik saja."

 

"Mbak punya keluarga di Pesantren Kyai Taufiq?"

 

"Tidak, Pak. Saya hanya ingin bertemu beliau. Ada yang ingin saya tanyakan."

 

"Ooh." 

 

Tukang ojek tidak bertanya lebih lanjut. Tapi Zahra bisa merasakan keingintahuannya.

 

Setelah sekitar empat puluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan kecil. Di ujung jalan, tampak sebuah gerbang pesantren dengan tulisan kayu usang: Pondok Pesantren Darul Istiqomah.

 

"Sampai, Mbak. Ini pesantrennya."

 

Zahra turun dari motor. Dia mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompet, menyerahkannya pada tukang ojek.

 

"Terima kasih, Pak."

 

"Sama-sama, Mbak. Hati-hati ya. Malam-malam begini jangan keluyuran. Banyak yang aneh-aneh."

 

Zahra mengangguk. Tukang ojek itu pun pergi, meninggalkan Zahra sendirian di depan gerbang pesantren.

 

Zahra menatap gerbang itu. Pesantren ini terlihat tua. Bangunannya sederhana—tidak seperti pesantren besar di Jombang. Hanya ada beberapa bangunan kayu dan bata yang sebagian catnya sudah mengelupas. Halaman kecil dengan satu pohon mangga tua di tengahnya.

 

Dari dalam pesantren, terdengar suara santri mengaji samar. Suara merdu yang menenangkan.

 

Zahra menarik napas, lalu melangkah masuk melewati gerbang.

 

Di teras bangunan utama, ada seorang santri muda—laki-laki berusia sekitar tujuh belas tahun, mengenakan sarung dan peci putih—sedang duduk sambil membaca buku.

 

"Assalamualaikum," sapa Zahra.

 

Santri itu mendongak, terkejut melihat ada tamu wanita. "Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

 

"Saya ingin bertemu dengan Kyai Taufiq. Apakah beliau ada di sini?"

 

Santri itu menatap Zahra dengan tatapan ragu. "Kyai Taufiq… Kyai sudah sangat sepuh, Mbak. Beliau jarang menerima tamu. Apalagi sudah malam begini. Mbak siapa? Ada keperluan apa?"

 

"Nama saya Zahra. Saya anak dari seseorang yang dulu pernah dikenal oleh Kyai Taufiq. Ini sangat penting. Saya mohon, bisa saya bertemu beliau?"

 

Santri itu terdiam. Lalu dia mengangguk pelan. "Tunggu sebentar, Mbak. Saya tanyakan dulu ke Gus Azka—cucu Kyai Taufiq."

 

Santri itu bangkit, masuk ke dalam rumah. Zahra menunggu di teras dengan gugup. Tangannya meremas ujung kerudung.

 

Beberapa menit kemudian, santri itu keluar bersama seorang laki-laki muda berusia sekitar tiga puluh tahun. Tinggi, berjenggot rapi, mengenakan sarung kotak-kotak dan baju koko putih. Wajahnya tenang tapi ada tatapan selidik di matanya.

 

"Assalamualaikum," ucap laki-laki itu. "Saya Azka, cucu Kyai Taufiq. Mbak mencari Mbah saya?"

 

"Waalaikumsalam. Iya, Gus. Saya Zahra. Saya ingin bertemu Kyai Taufiq. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya tanyakan."

 

"Mbah sudah sangat tua. Kesehatannya juga tidak terlalu baik. Beliau jarang bicara dengan orang luar lagi." Gus Azka menatap Zahra lekat. "Mbak Zahra siapa? Apa hubungannya dengan Mbah?"

 

Zahra menelan ludah. "Saya… anak dari seseorang yang dulu pernah ditolong oleh Kyai Taufiq. Ibu saya dulu mondok di sini. Namanya Khadijah. Dan ayah saya namanya Ustadz Rizwan."

 

Gus Azka terdiam begitu mendengar nama Rizwan. Wajahnya berubah. Matanya melebar. Bibirnya terbuka sedikit, terkejut.

 

"Ustadz Rizwan?" gumamnya pelan. "Mbak, putri Ustadz Rizwan?"

 

"Iya, Gus. Apa Gus kenal?"

 

Gus Azka tidak langsung menjawab. Dia menatap Zahra dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada campuran terkejut, khawatir, dan takut?

 

"Tunggu di sini," ucapnya akhirnya. "Saya akan tanyakan ke Mbah."

 

Gus Azka masuk ke dalam. Zahra kembali menunggu. Jantungnya berdegup kencang. Kenapa Gus Azka terlihat terkejut saat mendengar nama ayahnya?

 

Sekitar sepuluh menit kemudian, Gus Azka keluar lagi.

 

"Mbah mau bertemu Mbak," ucapnya pelan. "Tapi Mbah bilang… Mbak Zahra harus siap mendengar hal-hal yang mungkin berat."

 

Zahra mengangguk mantap. "Saya siap, Gus."

 

"Ikut saya."

 

Zahra mengikuti Gus Azka masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan melewati lorong sempit dengan lampu temaram. Aroma kemenyan dan minyak kayu putih tercium samar.

 

Di ujung lorong, ada sebuah kamar dengan pintu setengah terbuka. Gus Azka mengetuk pelan.

 

"Mbah, saya bawa Mbak Zahra."

 

"Masuk," suara tua dan serak menjawab dari dalam.

 

Gus Azka membuka pintu. Zahra masuk dengan langkah hati-hati.

 

Kamar itu kecil, sederhana. Hanya ada dipan kayu dengan kasur tipis, satu lemari kecil, dan satu meja kecil dengan beberapa kitab kuning bertumpuk.

 

Di atas dipan, duduk seorang laki-laki tua. Sangat tua. Rambutnya putih semua. Jenggotnya panjang dan putih. Kulitnya keriput dalam. Tubuhnya kurus, bungkuk.

 

Tapi matanya masih tajam. Menatap Zahra dengan tatapan yang menusuk.

 

“Rizwan?” lirihnya. 

 

Zahra tertegun sejenak, lalu mengucap salam. 

 

"Assalamualaikum, Kyai," ucap Zahra sambil menunduk hormat.

 

"Waalaikumsalam," jawab Kyai Taufiq dengan suara parau. "Duduk, Nduk."

 

Zahra duduk di lantai, bersila. Gus Azka duduk di samping pintu, diam.

 

Kyai Taufiq menatap Zahra lama. Sangat lama. Seolah sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat.

 

Lalu dia berkata pelan, "Kamu mirip sekali dengan ayahmu."

 

Zahra tercekat. Air matanya langsung menggenang. "Kyai… sungguh kenal ayah saya?"

 

"Kenal," jawab Kyai Taufiq. Dia menghela napas panjang. "Rizwan. Ustadz Rizwan. Muridku. Salah satu ustadz ruqyah terbaik yang pernah kutemui."

 

"Kyai…" Zahra maju sedikit, menatap mata Kyai Taufiq dengan penuh harap. "Tolong beritahu saya. Apa yang terjadi pada ayah saya? Ibu bilang ayah menghilang dua puluh satu tahun lalu. Tidak pernah kembali. Apa ayah saya masih hidup? Atau dia sudah meninggal?"

 

Kyai Taufiq menutup matanya sejenak. Tangannya yang kurus gemetar di atas lutut.

 

"Dia bisa dibilang mati atau juga tidak," ucapnya dengan pelan.

 

Zahra membeku. “Maksud Kyai?” 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!