PESANTREN ANGKER

Bab 13. Jin Malik Azhraq

Dua Hari Kemudian…

 

Khadijah terbangun di sebuah kamar kecil yang bersih. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya. Matanya jernih.

 

Kyai Taufiq duduk di sampingnya, tersenyum lega.

 

"Alhamdulillah… kamu sudah sadar," ucapnya lembut.

 

"Kyai…" Khadijah berbisik lemah. "Apa yang terjadi pada saya?"

 

"Kamu kemasukan jin. Tapi sudah aku usir. Untuk sementara," jawab Kyai Taufiq. "Tapi… aku belum yakin jinnya benar-benar keluar. Dia terlalu kuat. Mungkin hanya bersembunyi."

 

Khadijah menatap Kyai Taufiq dengan mata berkaca-kaca. "Lalu… apa yang harus saya lakukan?"

 

"Tinggal di sini dulu," Kyai Taufiq berkata. "Mondok di pesantren. Perbanyak dzikir, shalat, dan baca Al-Quran. Aku akan terus mengawasimu."

 

Ayah Khadijah yang menunggu di luar langsung masuk. Wajahnya penuh syukur.

 

"Kyai, terima kasih sudah menyelamatkan anak saya," ucapnya sambil bersimpuh di kaki Kyai Taufiq.

 

"Jangan begitu, Pak Wahid," Kyai Taufiq membantu laki-laki itu berdiri. "Ini kewajiban saya. Tapi… saya minta Khadijah tinggal di sini untuk sementara. Supaya saya bisa terus memantaunya."

 

Pak Wahid mengangguk cepat. "Baik, Kyai. Saya titipkan anak saya pada Kyai."

 

DUA MINGGU KEMUDIAN

 

Khadijah sudah terlihat jauh lebih baik. Wajahnya cerah. Tubuhnya berisi. Dia rajin mengaji, shalat berjamaah dengan santriwati lain, dan membantu pekerjaan dapur pesantren.

 

Kyai Taufiq merasa lega. Mungkin jinnya memang sudah pergi.

 

Tapi suatu malam…

 

Kyai Taufiq terbangun karena mendengar teriakan dari arah asrama santriwati.

 

Dia berlari keluar. Beberapa santri sudah berkumpul di depan kamar Khadijah.

 

"Kyai! Mbak Khadijah kambuh!" teriak salah satu santriwati dengan wajah pucat.

 

Kyai Taufiq langsung masuk ke kamar.

 

Pemandangan yang dia lihat membuat darahnya seolah membeku.

 

Khadijah berdiri di tengah kamar. Tubuhnya kaku. Matanya terbuka lebar—tapi bukan mata normal. Matanya merah menyala. Rambutnya terurai liar.

 

Dan yang paling mengerikan… dia tersenyum. Senyum miring yang mengerikan.

 

"Kyai Taufiq…" suara berat keluar dari mulut Khadijah. "Kau pikir kau bisa mengusirku? Aku tidak akan pernah pergi…"

 

Kyai Taufiq menelan ludah. Ini lebih parah dari sebelumnya. Jin itu tidak bersembunyi. Dia sepenuhnya menguasai tubuh Khadijah sekarang.

 

"Keluar dari tubuhnya!" Kyai Taufiq berteriak sambil mulai membaca ayat.

 

Tapi tiba-tiba, Khadijah—atau jin di dalamnya—tertawa keras. Tawa yang memekakkan telinga.

 

"Kau terlalu lemah, manusia tua!" teriak jin itu. "Kau tidak bisa melawanku! AKU MALIK AZHRAQ! PENGUASA BIRU!"

 

Tubuh Khadijah melompat tinggi—tidak wajar tingginya, hampir menyentuh langit-langit kamar. Lalu mendarat dengan keras di lantai, membuat seluruh bangunan bergetar.

 

Para santri berteriak ketakutan, berlarian keluar.

 

Kyai Taufiq tetap bertahan. Dia terus membaca ayat-ayat, tapi tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi wajahnya.

 

Dia tahu tidak akan sanggup melawan jin ini sendirian.

 

"Jaga Khadijah," Kyai Taufiq berkata pada para murid dengan suara gemetar. "Jangan biarkan dia keluar dari kamar. Tutup pintu dan jendela. Aku akan memanggil seseorang untuk membantu."

 

“Baik. Kyai.” 

 

Para santriwati dengan cepat menutup jendela dan pintu. Mereka mengurung Khadijah di dalam kamar. 

 

Jin itu berhenti. Menatap Kyai Taufiq yang pergi dengan tatapan mengejek.

 

"Siapa yang akan kau panggil? Tidak ada yang bisa mengalahkanku!" 

 

Tapi Kyai Taufiq tidak menjawab. Dia keluar dari kamar dengan cepat, menutup pintu rapat-rapat.

 

Dari dalam, terdengar tawa mengerikan jin itu bergema.

 

Keesokan Paginya, Kyai Taufiq duduk di ruang tamunya dengan wajah gelisah. Semalaman dia tidak tidur. Dia berdoa dan berpikir.

 

Dia sudah memanggil salah satu santri seniornya dan sedang menunggu kedatangannya. Beruntung, dia sedang berada di Jawa Timur. Padahal rumahnya berada di seberang pulau. 

 

Beberapa jam kemudian…

Sebuah sepeda motor tua masuk ke halaman pesantren. Seorang pemuda turun dari motor.

 

Tinggi, berkulit sawo matang, berjenggot tipis rapi. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Matanya tajam, penuh keteguhan. Dia mengenakan sarung, baju koko putih, dan peci hitam.

 

Kyai Taufiq yang sedang duduk di teras langsung berdiri. Wajahnya penuh kelegaan.

 

"Rizwan!" panggilnya.

 

Pemuda itu—Rizwan—tersenyum lembut. Dia menghampiri Kyai Taufiq, mencium tangan kyai itu dengan hormat.

 

"Assalamualaikum, Kyai," ucapnya dengan suara yang tenang tapi tegas.

 

"Waalaikumsalam, Nak. Alhamdulillah… kamu datang," Kyai Taufiq memeluk Rizwan sebentar. "Maaf aku merepotkanmu."

 

"Tidak masalah, Kyai. Ini kewajiban saya," jawab Rizwan. "Kyai bilang ada kasus jin Ifrit?"

 

Kyai Taufiq mengangguk. Wajahnya menjadi serius. "Jin Malik Azhraq. Sangat kuat. Aku sudah mencoba mengusirnya, tapi… aku tidak sanggup. Dia terlalu kuat untukku."

 

Rizwan mengangguk paham. "Siapa pasiennya?"

 

"Seorang wanita muda. Namanya Khadijah. Dia mondok di sini," Kyai Taufiq menjelaskan. "Sekarang dia dikurung di salah satu kamar. Jin itu sudah sepenuhnya menguasainya."

 

"Bawa saya kepadanya," ucap Rizwan tenang.

 

Mereka berjalan menuju kamar di sudut pesantren. Kamar yang pintunya masih tertutup. Di depan pintu, beberapa santri senior berjaga dengan wajah tegang sambil membaca Al-Quran.

 

"Bagaimana keadaannya?" tanya Kyai Taufiq pada salah satu santri.

 

"Dari tadi dia terus tertawa, Kyai," jawab santri itu dengan suara bergetar. "Tidak berhenti. Suaranya mengerikan."

 

“Innalillahi,” Kyai Taufiq menghela napas. Lalu dia menatap Rizwan. "Kamu siap?"

 

Rizwan mengangguk. "Bismillah."

 

Pintu dibuka.

 

Di dalam kamar yang temaram, Khadijah duduk di sudut. Rambutnya menutupi wajahnya. Tubuhnya diam. Tapi ada aura gelap di sekelilingnya.

 

Begitu Rizwan masuk, Khadijah perlahan mengangkat kepalanya.

 

Matanya merah menyala. Menatap Rizwan dengan tatapan penuh kebencian.

 

"Kau…" desis suara jin dari mulut Khadijah. "Nur imanmu kuat… siapa kau?"

 

Rizwan berdiri tenang. Tidak takut. Matanya menatap tajam ke arah jin itu.

 

"Aku Rizwan, abdullah! Keluar dari tubuh wanita ini," ucap Rizwan dengan suara tenang tapi penuh wibawa. "Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa, keluar."

 

Jin itu tertawa. "Kau pikir aku takut padamu?"

 

"Kau harus takut," jawab Rizwan. "Karena aku datang bukan dengan kekuatanku. Tapi dengan kekuatan Allah."

 

Rizwan mengangkat tangannya. Mulai membaca ayat ruqyah.

 

"Bismillahilladzi laa yadurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fis-samaa'i wa huwas-samii'ul 'aliim…"

 

Tubuh Khadijah mulai bergetar. Dia meraung. Menjerit kesakitan.

 

"BERHENTI! BERHENTI!"

 

Tapi Rizwan tidak berhenti. Dia terus membaca. Suaranya semakin keras. Semakin kuat.

 

Cahaya putih mulai muncul dari tangannya. Cahaya yang terang. Cahaya yang hangat.

 

"TIDAK! TIDAAAAK!" teriak jin itu.

 

Tubuh Khadijah terlempar ke belakang. Lalu tiba-tiba—dia diam.

 

Hening.

 

Rizwan berhenti membaca. Napasnya memburu. Keringat membasahi wajahnya.

 

Kyai Taufiq bangkit segera menghampiri Khadijah yang tergeletak tidak bergerak.

 

"Dia…?" bisiknya.

 

Rizwan berjalan mendekat. Dia berlutut di samping Khadijah, menyentuh dahinya dengan lembut.

 

"Dia masih hidup," ucap Rizwan. "Tapi jinnya belum keluar sepenuhnya, kyai. Dia masih di dalam. Hanya bersembunyi."

 

Kyai Taufiq menghela napas lega sekaligus khawatir. "Kalau begitu, bagaimana cara mengeluarkannya?"

 

Rizwan menatap Khadijah lama. Wajah wanita muda itu terlihat sangat rapuh. Sangat lemah.

 

"Aku harus melakukan ruqyah intensif," jawab Rizwan pelan. "Seharian penuh. Mungkin lebih. Di ruangan tertutup. Hanya berdua."

 

Kyai Taufiq terdiam. Dia paham maksudnya.

 

"Itu tidak bisa dilakukan karena kalian bukan mahram." Kyai Taufiq berkata pelan, "Kecuali, kalau kamu menikah dengannya dulu."

 

Rizwan menatap wajah Khadijah yang damai dalam ketidaksadarannya, lalu dia mengangguk. 

 

"Aku rela," ucapnya pelan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!