PESANTREN ANGKER

15. Jebakan

Rizwan merasakan dadanya sesak. "Lalu? Apa kata dokter?"

 

"Mereka bingung. Mereka bilang gejala penyakitnya aneh. Seperti ada yang menghisap energi hidup dari tubuh orang-orang," ibunya berbisik ketakutan. "Pak Kepala Desa sudah coba panggil dukun dari kampung sebelah, tapi dukunnya malah pingsan setelah melihat kondisi desa kita. Begitu sadar, dia langsung kabur. Dia bilang ada makhluk halus yang sangat kuat mengepung desa. Dia bilang ini bukan jin biasa."

 

Rizwan mengepalkan tangannya. Dia tahu. Ini pasti ulah makhluk jahat tingkat tinggi. "Ayah bagaimana?"

 

Hening sejenak. Lalu terdengar isak tangis ibunya.

 

"Ayahmu juga curiga ini perbuatan jin. Dia sudah mencoba mengobati, tapi dia juga malah terserang sakit," suara ibun Rizwan pecah. "Kemarin sore dia mulai panas tinggi. Tadi pagi kejang-kejang hebat. Sekarang dia terbaring tidak sadarkan diri. Napasnya lemah sekali. Ibu takut kehilangan ayahmu."

 

Suara tangis ibunya semakin keras.

 

Rizwan menutup matanya sejenak. Napasnya tertahan. Tangannya yang memegang ponsel gemetar. "Ibu harus tenang. Ibu jaga Ayah baik-baik. Bacakan Ayat Kursi terus-menerus di samping Ayah. Jangan biarkan dia sendirian."

 

"Baik, Nak… baik…" suara ibunya bergetar.

 

"Insya Allah, Aku akan pulang ke Lampung secepatnya," ucap Rizwan tegas.

 

"Rizwan… Ibu doakan kamu selamat sampai sini, Nak. Hati-hati di perjalanan. Jangan lupa titip salam untuk istrimu."

 

"Insya Allah, Bu. Aku mau bersiap dulu. Assalamualaikum."

 

"Waalaikumsalam."

 

Sambungan terputus.

 

Rizwan berdiri diam, menatap ponsel di tangannya. Wajahnya pucat. Rahangnya terkatup keras. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena khawatir pada keluarganya.

 

Khadijah berdiri dengan susah payah—perutnya yang membesar membuat gerakannya lambat. Dia menghampiri suaminya, menyentuh lengannya dengan lembut.

 

"Mas… ada apa?" tanyanya pelan, meski dia sudah bisa menebak dari wajah suaminya.

 

Rizwan menoleh. Menatap wajah istrinya yang penuh kekhawatiran.

 

"Kampung halamanku di Lampung," ucapnya pelan. "Ada wabah aneh. Banyak orang sakit. Banyak yang meninggal. Ada gangguan makhluk halus yang sangat kuat. Ayahku juga sakit. Tidak sadarkan diri."

 

“Innalilahi,” Khadijah menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung mengalir. 

 

"Aku harus pergi," ucap Rizwan dengan nada berat. Dia menatap mata istrinya dalam-dalam. "Keluargaku butuh aku."

 

Khadijah langsung mengangguk cepat. "Aku ikut."

 

"Tidak," Rizwan menggeleng tegas. Tangannya menyentuh perut istrinya dengan lembut. "Kandunganmu lemah. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat. Perjalanan ke Lampung sangat jauh. Belasan jam naik bus dari sini ke Merak, terus naik kapal ferry nyeberang Selat Sunda, belum lagi harus naik bus dari Bakauheni sampai ke desaku. Itu terlalu berat untukmu dan anak kita."

 

Khadijah menangis. Tidak rela berpisah.

 

Tapi Rizwan harus pergi.

 

Sebelum berangkat, Rizwan memeluk istrinya erat.

 

"Aku janji akan kembali," bisiknya. "Tunggu aku. Jaga anak kita."

 

"Hati-hati, Mas," bisik Khadijah sambil menangis.

 

Rizwan melepaskan pelukan. Dia menatap wajah istrinya lama. Seolah ingin mengingat setiap detail.

 

Lalu dia pergi.

 

Dan itu pertemuan terakhir mereka.

 

Kembali Ke Masa Kini…

 

Kyai Taufiq membuka matanya. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.

 

“Dua minggu sejak ayahmu pergi, tidak ada kabar.”

 

Zahra menangis tersedu-sedu. Tangannya menutupi wajahnya.

 

Gus Azka duduk diam, menatap lantai dengan rahang terkatup.

 

“Waktu itu, Ibumu, Khadijah menangis setiap hari. Aku pergi ke kampung halaman ayahmu di Sumatera mencari tahu kabarnya. Tapi, warga mengatakan Rizwan menghilang. Di sebuah pesantren.”

 

Kyai Taufiq menatap Zahra dengan sendu. 

 

“Dia tidak pernah kembali setelah menolong para santri yang kesurupan masal. Setelah beberapa bulan, ayahmu dinyatakan meninggal, meski jasadnya tidak pernah ditemukan. Itulah… yang terjadi dua puluh satu tahun yang lalu," ucap Kyai Taufiq dengan suara serak. "Ayahmu… mengorbankan segalanya untuk ibumu. Dan aku tahu hilangnya ayahmu berhubungan dengan itu.” 

 

Zahra . Tidak mengerti. 

 

“Melalui penglihatan batin, aku tahu ayahmu masih hidup. Dia terkurung di Pesantren Al-Falah. Terkurung oleh jin yang pernah dia kalahkan saat menyembuhkan ibumu. Jin kuat dan pendendam, Jin dari jenis ifrit, Malik Azhraq."

 

Zahra mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah oleh air mata.

 

"Kyai," suara Zahra bergetar, "tolong beritahu saya. Bagaimana cara menyelamatkan ayah?"

 

Kyai Taufiq menatap Zahra dengan tatapan penuh penyesalan.

 

"Satu-satunya cara, kamu harus masuk ke Pesantren Al-Falah. Masuk ke dimensi gaib tempat ayahmu terkurung. Dan menghadapi Malik Azhraq secara langsung."

 

Hening.

 

Zahra menatap Kyai Taufiq dengan tatapan penuh keteguhan. "Saya akan melakukan itu, Kyai."

 

"Tunggu, Nak," Kyai Taufiq mengangkat tangan dengan wajah sangat serius. "Kamu harus tahu ini bukan sekadar misi penyelamatan biasa. Ini mungkin jebakan."

 

"Jebakan?" Zahra mengerutkan dahi.

 

Kyai Taufiq mengangguk pelan. "Malik Azhraq bukan jin biasa. Dia Jin Ifrit yang sangat cerdas. Sangat licik. Dia mungkin sudah merencanakan ini sejak lama."

 

Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri.

 

"Aku yakin kedatanganmu kesini bukan takdir biasa, itu bisa jadi undangan,” ucap Kyai Taufiq dengan suara gemetar. “Tanpa kamu sadari, dia mungkin sudah memanggilmu." 

 

Zahra langsung teringat mimpi buruknya semalam. Mimpi tentang pesantren gelap dengan tulisan Al-Falah. Dan kejadian buruk yang dialaminya akhir-akhir ini. Kemandulan. Perceraian. Kenyataan kalau ternyata dia bukan anak dari pria yang selama ini dianggapnya sebagai ayah.

 

"Malik Azhraq tidak peduli kamu kenal ayahmu atau tidak," Kyai Taufiq melanjutkan. "Dia akan membuat kamu datang padanya. Bagaimana pun caranya. Lewat mimpi. Lewat bisikan. Lewat rasa ingin tahumu. Lewat cinta pada ayah yang tidak pernah kamu temui."

 

"Kenapa…" Zahra tercekat. "Kenapa jin itu menginginkan saya datang?"

 

Kyai Taufiq menatap Zahra lama. Sangat lama. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat berat.

 

"Karena kamu adalah kunci," jawabnya akhirnya. "Dimensi gaib tempat ayahmu terkurung disegel oleh ritual gelap. Segel itu sangat kuat. Bahkan aku, dan ustadz ruqyah lain tidak bisa membukanya. Hanya ada satu cara untuk membukanya…"

 

Kyai Taufiq berhenti sejenak, menarik napas dalam.

 

"Darah keturunan Rizwan," bisiknya. "Hanya darah keturunannya yang bisa membuka segel itu. Hanya kamu."

 

Zahra merasakan dadanya sesak. "Jadi… Jin itu butuh aku untuk membuka segel?"

 

"Bukan hanya itu," Kyai Taufiq menggeleng. "Dia butuh lebih dari sekadar membuka segel. Dia butuh jiwamu."

 

Hening mencekam.

 

"Dua puluh dua tahun lalu, Pesantren Al-Falah ditutup setelah tujuh santri meninggal secara misterius," Kyai Taufiq menceritakan dengan suara pelan. "Mereka adalah tumbal. Tumbal untuk ritual gelap Malik Azhraq. Ritual untuk membuka Gerbang Kegelapan."

 

"Gerbang Kegelapan?" ulang Zahra.

 

"Gerbang antara dunia manusia dan dunia jin," jawab Kyai Taufiq. "Kalau gerbang itu terbuka sepenuhnya… jin-jin jahat bisa masuk ke dunia manusia dengan bebas. Mereka bisa merasuki siapa saja. Menghancurkan siapa saja. Dunia mungkin akan kacau."

 

Zahra merinding mendengarnya.

 

"Tapi dua puluh satu tahun lalu, ayahmu berhasil mengalahkan Malik Azhraq. Mengusirnya dari tubuh ibumu," Kyai Taufiq melanjutkan. "Dan dengan kemenangan itu… ayahmu tanpa sadar menutup ritual Malik Azhraq. Gerbang Kegelapan yang hampir terbuka tertutup kembali."

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!