PESANTREN ANGKER

Bab 16. Dendam

Kyai Taufik berhenti sebentar. Menatap Zahra lekat-lekat. 

 

"Malik Azhraq sangat marah. Dia mengurung ayahmu di dimensi gaib yang dibuatnya. Dan dia menunggu tumbal terakhirnya, kamu."

 

“Tumbal terakhir?” Zahra terperanjat.

 

"Kamu memiliki kemampuan istimewa. Seperti ayahmu."

 

Zahra mengerutkan dahi. Tidak merasa memiliki kemampuan apa-apa.

 

"Kamu bisa memasuki alam gaib.” Kyai Taufiq berkata dengan nada serius. “Kamu bisa melihat dimensi yang tidak bisa dilihat orang biasa. Kamu seperti ayahmu. Bahkan mungkin lebih kuat."

 

"Malik Azhraq membutuhkan tumbal dari orang berkemampuan khusus sepertimu. Tumbal paling berharga, apalagi Anak dari orang yang pernah mengalahkannya."

 

Kyai Taufiq menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi dengan tatapan sangat sedih.

 

"Kalau Malik Azhraq berhasil mengorbankan jiwamu di Pesantren Al-Falah, ritual akan selesai. Gerbang Kegelapan akan terbuka. Dan ayahmu akan terkurung selamanya. Atau lebih buruk lagi jiwanya akan dihancurkan."

 

Zahra menggeleng. "Kyai, saya orang biasa. Saya tidak bisa melihat makhluk halus seperti yang kyai katakan. Saya tidak—"

 

"Kemampuanmu ditutup," potong Kyai Taufiq. "Sejak kamu masih kecil."

 

Zahra terdiam. Bingung.

 

Kyai Taufiq menarik napas panjang. 

"Ibumu mungkin tidak pernah bercerita, karena masa itu menakutkan baginya," Kyai Taufiq berkata dengan nada penuh penyesalan. "Saat kamu berusia dua tahun, kamu sudah menghafal ayat-ayat ruqyah."

 

Zahra tersentak. Tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa menghafal ayat saat umur 2 tahun, kalau selama ini untuk menghafal ayat Alquran, walau hanya surat pendek, dia kesulitan. 

 

"Ibumu sering membaca Al-Quran di sampingmu. Membacakan ayat-ayat ruqyah untuk melindungimu," Kyai Taufiq menjelaskan. "Dan kamu hanya dengan sekali dengar langsung hafal. Kamu bisa mengulang ayat-ayat itu dengan sempurna. Padahal kamu baru berusia dua tahun, bahkan belum bisa bicara dengan lancar."

 

Zahra terperangah. 

 

"Itu bukan satu-satunya," lanjut Kyai Taufiq. "Kamu sering menunjuk ke arah kosong. Berbicara pada sesuatu yang tidak terlihat oleh ibumu. Kamu sering tertawa sendiri. Atau menangis ketakutan tanpa sebab yang jelas."

 

Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri.

 

"Dan yang paling menakutkan ibumu," Kyai Taufiq melanjutkan dengan suara yang hampir berbisik, "kamu pernah berpindah tempat tanpa sepengetahuannya."

 

"Berpindah tempat?" ulang Zahra dengan suara bergetar.

 

Kyai Taufiq mengangguk. "Ibumu meninggalkanmu tidur di kamar. Dia pergi ke dapur sebentar. Saat kembali, kamu tidak ada di kamar. Ibumu panik. Mencari ke seluruh rumah. Dan akhirnya, dia menemukan mu tidur di bawah pohon rambutan di halaman belakang pesantren ayahmu. Karena itu dulu ibumu buru-buru membawamu kemari."

 

Zahra merasakan kepalanya berputar. "Bagaimana itu bisa terjadi?"

 

"Kamu bisa berpindah antar dimensi, bahkan tanpa sadar. Saat kamu tidur, jiwamu bisa keluar dari tubuh. Bisa berjalan ke alam gaib. Dan tubuhmu ikut berpindah."

 

Zahra menggeleng. "Saya tidak ingat apa-apa. Saya tidak pernah merasakan kemampuan seperti itu sekarang."

 

"Aku sudah menutup kemampuan itu," Kyai Taufiq berkata dengan nada penuh penyesalan. "Ibumu sangat khawatir. Dia takut kamu akan diambil oleh makhluk gaib. Atau terluka karena kemampuanmu yang tidak terkendali."

 

Kyai Taufiq berhenti sejenak, menatap Zahra dengan tatapan sedih.

 

"Kemampuanmu terlalu kuat untuk tubuhmu yang masih kecil. Kamu bahkan pernah sakit keras," lanjut Kyai Taufiq. "Dokter tidak bisa menjelaskan penyakitmu. Tapi aku tahu, seperti lampu yang terlalu terang hingga membuat kabelnya terbakar. Kemampuanmu membuatmu dalam bahaya. Jadi, aku memutuskan untuk menutup mata batinmu."

 

Zahra menatap Kyai Taufiq dengan mata terbelalak.

 

"Aku tahu mungkin keputusanku itu berpengaruh pada hidupmu setelahnya. Tapi saat itu, kami tidak punya pilihan.”

 

Zahra merasakan air mata mengalir di pipinya. "Maksud Kyai?"

 

"Dengan menutup mata batinmu, aku juga menutup sebagian takdirmu," jawab Kyai Taufiq dengan suara penuh penyesalan. "Kamu kehilangan perlindungan spiritual yang seharusnya kamu miliki. Kamu menjadi rentan. Mudah diserang. Mudah sakit."

 

Kyai Taufiq menatap Zahra dengan lekat.

 

"Tubuhmu seharusnya memiliki pertahanan alami. Nur yang melindungimu dari serangan gaib. Tapi karena aku menutupnya, kamu menjadi tidak berdaya."

 

Zahra menitikkan air mata, meski belum terlalu paham dengan semua penjelasan membingungkan yang didengarnya. Tapi satu hal pasti, semua yang terjadi dalam hidupnya berhubungan dengan Jin yang dendam pada ayahnya. 

 

“Mbah, kalau kemampuan mbak Zahra ditutup. Apa mungkin itu bisa dibuka lagi?” 

 

Gus Azka yang mendengar semua ini ikut bicara dengan wajah tegang. Tangannya terkepal di atas lututnya.

 

Kyai Taufiq terdiam lama. Sangat lama.

 

Lalu dia mengangguk pelan.

 

"Bisa," jawabnya. "Tapi proses akan sangat berat. Sangat menyakitkan. Dan berbahaya."

 

“Apa kemampuan itu bisa membantu saya menyelamatkan ayah?” tanya Zahra. “Kalau bisa. Tolong lakukan. Saya tidak takut."

 

Kyai Taufiq menatap Zahra dengan tatapan penuh kekaguman.

 

"Kalau itu keputusanmu, aku akan buka mata batinmu kembali. Melatih mu menggunakan kemampuanmu. Dan mempersiapkanmu untuk pertarungan terberat dalam hidupmu."

 

Zahra mengangguk mantap. Tidak ragu. “Insya Allah saya siap.”

 

Kyai Taufiq memperingatkan, "Tapi ilmu dan kemampuan saja tidak cukup. Kamu butuh iman yang sangat kuat. Hati yang bersih. Dan keberanian yang tidak goyah. Kalau sedikit saja ada keraguan di hatimu Malik Azhraq akan memakai itu untuk menghancurkanmu."

 

Zahra mengangguk. "Saya mengerti, Kyai."

 

"Kamu bisa tinggal di sini," Kyai Taufiq berkata. "Belajar di pesantren ini. Azka akan membantumu."

 

Gus Azka terperanjat. Dia menatap kakeknya dengan kaget. “Saya bantu Mbak Zahra, Mbah?”

 

Kyai Taufiq mengangguk. "Mbah sudah tua. Tidak memiliki banyak tenaga. Kamu akan mengajari Zahra ilmu ruqyah. Melatihnya. Dan kalau kamu siap, kamu mendampingi dia ke Pesantren Al-Falah."

 

"Gus tidak perlu—"

 

"Kamu tidak bisa pergi sendirian, Nduk," potong Kyai Taufiq tegas. Matanya menatap Zahra dengan tatapan yang sangat dalam. "Ayahmu adalah murid terbaikku. Dan sebelum kepergiannya dia menitipkan kamu dan ibumu padaku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi menghadapi bahaya sendiri."

 

Zahra terdiam. Hatinya tersentuh. Dia melirik Gus Azka. Menunggu pendapatnya tentang permintaan kyai Taufiq. 

 

"Mbah benar, Mbak Zahra. Tidak baik pergi sendiri. Insya Allah saya dampingi," ucap Azka, "Dan mulai besok, kita akan berlatih. Setiap hari. Sampai kamu benar-benar siap."

 

“Alhamdulillah,” Zahra mengangguk. "Terima kasih, Gus Azka, Pak kyai."

 

Zahra tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak bercerai, dia merasa tidak sendirian.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!