PESANTREN ANGKER

Bab 01: Perceraian

Pengadilan Agama Kota Malang

“Dengan ini saya, Farhan Al-Fikri, menyatakan IKRAR TALAK 1 (satu) kepada istri saya, Zahra Kamilah".

Kata-kata itu keluar dari bibir Farhan dengan suara yang datar. Dingin. Tanpa emosi. Seolah dia baru saja membaca pengumuman biasa, bukan mengakhiri ikatan pernikahan yang sudah berjalan tiga tahun.

Zahra Kamilah—wanita yang kini berstatus sebagai mantan istri Farhan—hanya terdiam di kursi. Kerudung segiempat putihnya basah oleh air mata yang terus mengalir sejak sidang dimulai satu jam lalu. Tangannya terkepal di atas rok panjang biru dongker yang dipakainya.

Hakim mengetuk palu.

"Perceraian dikabulkan. Saudara Farhan Al-Fikri dan Saudari Zahra Kamilah resmi bercerai sejak hari ini. Semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi kalian berdua."

Zahra menutup wajah dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah. Tiga tahun. Tiga tahun dia berusaha menjadi istri yang baik. Melayani suami. Taat. Setia. Sabar.

Tapi ternyata, semua itu tidak cukup.

Karena rahimnya tidak mampu memberikan keturunan.

"Zahra."

Suara Farhan membuatnya mendongak. Laki-laki berjenggot tipis itu berdiri di hadapannya dengan wajah yang masih datarnya. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya kekosongan.

"Ini iddahmu. Aku sudah siapkan uang untuk tiga bulan." Farhan meletakkan amplop coklat tebal di meja. "Maaf, tapi ini keputusan terbaik.

"Terbaik untuk siapa?" suara Zahra serak. "Untuk Mas Farhan? Atau untuk Bapak Ibumu?"

Farhan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Untuk kita berdua, Zahra. Aku tidak mungkin menikah lagi kalau kamu masih jadi istriku. Kamu tahu Bapak dan Ibu sangat mengharapkan cucu. Pesantren butuh penerus.

"Kalau Mas Farhan mau poligami, aku ikhlas! Aku sudah bilang aku rela!" Zahra berdiri, menatap mata suaminya—mantan suaminya—dengan penuh harap yang hampir mati

"Aku tidak mau poligami." Farhan menggeleng. "Aku tidak sanggup berbagi hati. Jadi lebih baik kita berpisah sekarang sebelum semuanya makin rumit."

"Berbagi hati?" Zahra tertawa pahit. Air matanya jatuh lagi. "Mas Farhan bahkan tidak pernah memberikan hatimu sepenuhnya padaku. Aku tahu. Sejak awal, pernikahan ini hanya karena perjodohan orang tua."

Farhan tidak menjawab. Itu artinya, Zahra benar

"Aku sudah berusaha mencintai Mas Farhan. Aku berusaha menjadi istri yang baik. Tapi ternyata, semua itu sia-sia hanya karena aku tidak bisa hamil." Zahra mengambil amplop itu, lalu melemparkannya ke wajah Farhan. "Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh penghargaan sebagai manusia!"

Amplop itu jatuh ke lantai. Lembaran uang seratus ribuan berserakan.

Zahra berbalik, mengambil tasnya, lalu berjalan keluar ruang sidang. Langkahnya gontai. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya diseret beban seberat gunung.

Di luar ruang sidang, ada dua orang yang menunggunya.

Kyai Hasan Al-Fikri, ayah Farhan. Dan Nyai Aminah, ibu Farhan. Mereka berdiri dengan wajah lega.

Zahra berhenti melangkah

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Nyai Aminah sambil melirik mantan menantunya. "Farhan bisa segera mencari istri yang lebih baik."

Lebih baik. Kata itu seperti pisau yang menusuk dada Zahra.

Jadi selama ini, dia dianggap buruk? Dianggap tidak layak? Gara-gara tidak bisa hamil?

"Zahra," Kyai Hasan memanggil dengan nada yang sedikit lebih lembut—meski tetap terdengar kaku. "Ini bukan salahmu. Ini takdir Allah. Tapi Farhan punya tanggung jawab sebagai anak tunggal kami. Pesantren Al-Muqorrobin tidak bisa begitu saja hilang tanpa penerus."

"Aku mengerti, Pak Kyai," Zahra menjawab dengan suara bergetar. "Tapi... apakah harus dengan cara ini? Apakah aku tidak berharga sama sekali di mata kalian?"

Nyai Aminah dan Kyai Hasan saling berpandangan.

"Kamu berharga, Nak," jawab Nyai Aminah. "Tapi keluarga juga punya kebutuhan. Kamu pasti mengerti, kan? Kamu juga anak seorang kyai. Pasti paham bagaimana pentingnya penerus dalam sebuah pesantren."

Zahra ingin tertawa. Ingin berteriak. Tapi dia hanya mengangguk lemah.

"Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk kalian," kata Zahra pelan, lalu berlalu melewati mereka berdua. “Assalamualaikum!”

Tidak ada yang menghentikan kepergiannya.

Tidak ada yang memeluknya.

Tidak ada yang mengatakan, "Kamu sudah berusaha dengan baik."

Hanya keheningan seolah Farhan dan orang tuanya tidak pernah benar-benar menganggapnya bagian dari keluarga selama tiga tahun ini. 

Zahra berjalan dari Pengadilan Agama dengan langkah sempoyongan. Matanya sembab. Kepalanya pusing. Dadanya sesak seperti dihimpit batu besar.

Dia berhenti di pinggir jalan, menatap jalanan yang ramai dengan kendaraan berlalu-lalang. Hidup terus berjalan. Orang-orang tetap tertawa. Dunia tidak berhenti hanya karena hatinya hancur

Zahra mengangkat tangan, menghentikan becak yang lewat

"Ke Terminal Arjosari, Pak."

Tukang becak mengangguk. Zahra naik dengan tubuh lemas. Begitu duduk di jok becak, air matanya kembali mengalir.

Dia menutup wajah dengan telapak tangan, menangis dalam diam.

‘Ya Allah... kenapa hidupku seperti ini?’ batin Zahra. 

Becak melaju perlahan. Zahra menatap kosong ke jalanan. Pikirannya kalut. Dia akan pulang ke rumah orang tuanya di Jombang. Rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya. Rumah yang sebenarnya... tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.

Tapi mau bagaimana lagi

Dia sudah tidak punya tempat lain.

Terminal Arjosari - Malang

Zahra membeli tiket bus jurusan Malang-Jombang. Perjalanan sekitar dua jam. Dia duduk di kursi paling belakang, memeluk tas ranselnya erat-erat.

Bus mulai jalan. Mesin menderu. Pemandangan kota Malang perlahan berganti dengan sawah dan desa.

Zahra menatap keluar jendela. Pikirannya melayang ke tiga tahun lalu—saat dia menikah dengan Farhan.

Pernikahan itu tidak didasari cinta. Zahra tahu. Farhan juga tahu. Semua orang tahu. Ini hanya perjodohan antara dua keluarga kyai terpandang. Keluarga Kyai Hasan Al-Fikri dari Malang, dan keluarga Kyai Syamsul Hadi dari Jombang.

Zahra adalah anak keempat dari istri kedua. Tapi sejak kecil, dia selalu merasa berbeda. Ayahnya—Kyai Syamsul Hadi—selalu memperlakukannya dengan dingin. Tidak seperti kakak-kakak atau adik-adiknya yang selalu dimanja.

Dulu, Zahra pikir itu karena dia anak perempuan dan kurang pintar. Dia bahkan buru-buru dinikahkan saat baru menginjak umur 18 tahun. Tapi sekarang...

Zahra mulai bertanya-tanya.

Apakah ada alasan lain?

Suara kondektur membangunkan lamunannya.

"Jombang! Terminal Jombang!"

Zahra turun dari bus dengan langkah gontai. Tas ranselnya terasa berat di punggung. Padahal isinya hanya baju dan beberapa buku. Yang berat sebenarnya adalah beban di hatinya.

Zahra naik ojek menuju rumah orang tuanya di Pondok Pesantren Nurul Huda.

Rumah itu besar. Dua lantai dengan halaman luas. Papan nama terpasang di gerbang: Kediaman Kyai Syamsul Hadi - Pengasuh Pesantren Nurul Huda.

Zahra berhenti sejenak di depan gerbang. Dadanya berdebar. Tangannya berkeringat.

Dia belum memberitahu keluarganya tentang perceraian.

Dia belum siap melihat wajah kecewa orang tuanya.

Tapi mau tidak mau, Zahra harus masuk dan memberitahu keadaannya. 

Zahra mendorong gerbang besi. Terdengar suara derit besi pelan. Dia melangkah masuk ke halaman.

"Zahra?"

Suara itu datang dari teras. Seorang perempuan muda mengenakan gamis pink berdiri dengan wajah terkejut. Itu Aisyah, adik tiri Zahra dari istri pertama ayahnya.

"Assalamualaikum," sapa Zahra pelan.

"Waalaikumsalam. Lho, kok pulang? Kenapa nggak ngabari dulu?" Aisyah turun dari teras, mendekati Zahra dengan raut bingung.

"Maaf, mendadak," jawab Zahra singkat.

Aisyah menatap wajah Zahra yang sembab. Mata yang merah. Bibir yang pucat. 

"Kamu nangis? Kenapa? Ada apa?"

Zahra menggeleng. "Nanti aku cerita. Ibu di mana?"

"Ibu lagi di dapur. Lagi masak buat santri. Ayah baru pulang dari pengajian, lagi istirahat di kamar."

Zahra mengangguk. Dia melangkah menuju rumah, tapi Aisyah menahan tangannya.

"Zahra, serius. Kamu kenapa? Kok kayak habis—"

"Aku baik-baik aja, Aisyah. Makasih." Zahra tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata

Aisyah melepaskan tangannya dengan ragu.

Zahra masuk ke rumah. Aroma masakan semerbak dari dapur. Suara anak-anak santri bermain di belakang rumah terdengar samar. Semuanya seperti biasa.

Tapi bagi Zahra, semuanya sudah berubah.

Dia bukan lagi Zahra Kamilah, istri seorang ustadz.

Dia kini hanya Zahra Kamilah.

Seorang janda cerai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!