PESANTREN ANGKER
22. Pesan dari Masa Lalu
Sore itu, setelah latihan meditasi spiritual yang melelahkan, Zahra beristirahat di kamarnya. Bu Le membawakan segelas air kelapa muda hangat yang sudah dibacakan doa.
"Minum, Nak. Biar badanmu segar lagi," ucap Bu Le sambil menyerahkan gelas itu.
Zahra menerima dengan tersenyum. "Terima kasih, Bu Le."
Bu Le duduk di tepi tempat tidur, menatap Zahra dengan lembut. "Kamu hebat sekali hari ini. Baru latihan pertama sudah bisa masuk ke alam spiritual. Biasanya orang butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu."
"Mungkin karena kemampuan ini memang sudah ada sejak lahir," jawab Zahra sambil meminum air kelapanya pelan. "Cuma ditutup saja."
"Bukan hanya itu," Bu Le menggeleng. "Tapi karena hatimu tulus. Niatmu ikhlas. Allah membukakan jalan bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh."
Zahra tersenyum. Tapi senyumnya memudar saat teringat bayangan gelap yang dilihatnya tadi di alam spiritual.
"Bu Le," ucap Zahra pelan, "tadi saat saya di alam spiritual, saya melihat bayangan gelap. Itu... apa ya?"
Bu Le menatap Zahra dengan serius. "Alam spiritual itu luas, Nak. Ada banyak lapisan. Ada yang aman, ada yang berbahaya. Bayangan yang kamu lihat tadi mungkin jin yang berkeliaran. Atau bisa jadi... pengawas."
"Pengawas?"
"Jin yang ditugaskan Malik Azhraq untuk memantau aktivitasmu," jawab Bu Le dengan nada khawatir. "Dia pasti sudah tahu kamu sedang berlatih. Dan dia tidak akan tinggal diam."
Zahra merasakan dadanya sesak. "Kalau begitu, apa saya harus berhenti latihan?"
"Tidak," Bu Le menggenggam tangan Zahra erat. "Justru kamu harus semakin giat. Semakin kuat kamu, semakin kecil peluang Malik Azhraq mengalahkanmu."
Zahra mengangguk pelan. "Baik, Bu Le."
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.
"Mbak Zahra? Bu Le?" suara Gus Azka dari luar. "Mbah Kyai memanggil. Ada yang ingin diberikan pada Mbak Zahra."
Bu Le dan Zahra saling berpandangan. Lalu mereka berdiri, keluar dari kamar.
***
Di ruang tamu kediaman Kyai Taufiq, sang kyai duduk di kursi kayunya dengan sebuah kotak kayu tua di pangkuannya. Wajahnya terlihat serius tapi juga... sedih.
"Duduk, Nduk," ucap Kyai Taufiq sambil menepuk kursi di hadapannya.
Zahra duduk dengan perasaan penasaran. Bu Le dan Gus Azka berdiri di belakangnya.
Kyai Taufiq menatap kotak kayu di pangkuannya lama. Tangannya yang keriput mengelus permukaan kayu itu dengan lembut—seolah menyimpan kenangan yang berharga.
"Ini," Kyai Taufiq berkata pelan, "adalah peninggalan ayahmu. Kyai Rizwan menitipkan kotak ini padaku sebelum dia pergi ke Lampung dua puluh satu tahun lalu."
Zahra merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Dia bilang," lanjut Kyai Taufiq dengan suara bergetar, "kalau dia tidak kembali dalam sebulan, aku harus memberikan kotak ini pada anaknya. Pada... kamu."
Kyai Taufiq mengulurkan kotak itu pada Zahra dengan tangan gemetar.
Zahra menerima kotak itu dengan hati-hati. Kotak kayu jati tua yang sudah berwarna gelap. Ada ukiran kaligrafi Arab di permukaannya: Bismillahirrahmanirrahim.
"Buka," bisik Kyai Taufiq.
Zahra membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya, ada sebuah buku catatan tebal dengan sampul kulit coklat yang sudah usang. Di sampingnya, ada sebuah foto hitam putih ukuran kecil—foto seorang pria muda tampan berjenggot tipis, mengenakan koko putih dan peci hitam, tersenyum lembut. Di sebelahnya, seorang wanita cantik berjilbab putih—wajahnya mirip sekali dengan ibu Zahra.
Zahra mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Air matanya langsung jatuh.
"Ayah... ibu..." bisiknya.
Bu Le di belakangnya juga menangis. "Itu foto pernikahan mereka," ucap Bu Le dengan suara bergetar. "Bu Le yang memotretnya."
Zahra memeluk foto itu erat. Menangis tersedu-sedu.
Ini pertama kalinya dia melihat foto ayah kandungnya. Selama ini, dia hanya membayangkan. Tapi sekarang... dia bisa melihat wajah ayahnya yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat, Zahra menghapus air matanya. Dia mengambil buku catatan dari dalam kotak.
"Itu catatan penelitian ayahmu tentang Pesantren Al-Falah dan Malik Azhraq," Kyai Taufiq menjelaskan. "Dia menulis semuanya dengan sangat detail. Semua yang dia pelajari. Semua yang dia temukan."
Zahra membuka halaman pertama. Tulisan tangan yang rapi dengan tinta hitam:
*"Bismillahirrahmanirrahim. Catatan ini aku tulis sebagai dokumentasi dan juga peringatan. Jika ada yang membacanya, berarti aku telah gagal. Maafkan aku. - Rizwan bin Ahmad, Muharram 1404 H."*
Zahra membaca halaman demi halaman. Tangannya gemetar.
Di halaman pertama, ayahnya menulis tentang sejarah Pesantren Al-Falah. Pesantren itu dibangun tahun 1920 oleh seorang ulama bernama Kyai Hasyim. Lokasinya di atas bekas kuburan massal—tempat ratusan pribumi dibantai oleh tentara kolonial tahun 1800-an.
"Tanah ini sejak awal sudah bermasalah," Kyai Rizwan menulis. "Energi negatif dari kematian massal, dendam, dan kesedihan mendalam meresap ke dalam tanah. Menjadikannya 'titik lemah' antara dunia manusia dan dimensi gaib."
Zahra terus membaca. Di halaman berikutnya, ayahnya menulis tentang Malik Azhraq.
*"Malik Azhraq adalah Jin Ifrit yang pernah dikalahkan oleh wali Allah bernama Syekh Abdul Qadir pada tahun 1250 H (sekitar 1834 M). Jin ini dikurung di dalam dimensi gaib selama hampir 100 tahun. Tapi pada tahun 1920, saat Pesantren Al-Falah dibangun, segel penjara dimensinya mulai melemah. Jin itu perlahan bangkit kembali."*
*"Kyai Hasyim tidak tahu bahwa pesantrennya dibangun tepat di atas portal dimensi gaib. Dan karena aktivitas spiritual yang tinggi di pesantren—shalat berjamaah, hafalan Al-Quran, dzikir—energi spiritual itu justru 'memberi makan' pada Malik Azhraq. Membuatnya semakin kuat."*
Zahra merinding membacanya.
Di halaman selanjutnya, ada sketsa peta Pesantren Al-Falah. Digambar dengan detail. Ada tanda "X" merah tebal di lokasi sumur tua di belakang Asrama Putra.
Di bawah sketsa, ayahnya menulis: *"Sumur tua ini adalah pusat portal. Di sinilah Malik Azhraq dikurung. Dan di sinilah dia akan membuka Gerbang Kegelapan jika berhasil mengumpulkan tumbal yang cukup."*
Zahra menelan ludah. Jadi sumur tua itu adalah kunci dari semuanya.
Dia terus membaca. Halaman demi halaman berisi catatan penelitian ayahnya yang sangat mendalam. Tentang cara kerja dimensi gaib. Tentang bagaimana jin bisa mengurung manusia. Tentang ritual gelap yang dilakukan Malik Azhraq.
Sampai akhirnya, Zahra tiba di halaman terakhir.
Halaman itu berbeda dari halaman-halaman sebelumnya. Tulisannya tidak rapi. Seperti ditulis dengan tergesa-gesa. Tintanya lebih gelap, seperti ditekan dengan kuat.
Dan yang membuatnya menangis—ada tulisan untuk Zahra. Meski ayahnya belum pernah bertemu dengannya saat menulis ini.
*"Kepada anakku yang belum lahir,*
*Jika kamu membaca ini, artinya aku gagal kembali. Artinya aku terkurung atau... lebih buruk.*
*Maafkan ayah. Ayah tidak bisa melihatmu tumbuh. Tidak bisa memelukmu. Tidak bisa mengajarimu mengaji. Tidak bisa menjadi ayah yang seharusnya.*
*Tapi ingatlah, nak. Ayah mencintaimu. Meski belum pernah bertemu, ayah sudah mencintaimu sejak tahu ibumu mengandungmu.*
*Jika kamu punya kemampuan seperti ayah—kemampuan melihat yang tidak terlihat—jangan takut. Itu anugerah dari Allah. Gunakan untuk kebaikan.*
*Tapi JANGAN mencari ayah.*
*Jangan datang ke Pesantren Al-Falah.*
*Malik Azhraq sangat berbahaya. Dia akan menggunakan apapun untuk menjebakmu. Termasuk... ayah.*
*Jalani hidupmu. Berbaktilah pada ibumu. Jaga dia. Sayangi dia.*
*Dan doakan ayah.*
*Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ayah.*
*Ayahmu yang mencintaimu, Rizwan."*
Zahra menangis sejadi-jadinya. Tangannya memegang buku itu erat. Dadanya sesak.
Bu Le memeluknya dari belakang, menangis bersama.
Gus Azka berdiri dengan rahang terkatup, matanya juga berkaca-kaca.
Kyai Taufiq menghapus air matanya dengan ujung sarungnya.
"Ayahmu..." Kyai Taufiq berkata dengan suara serak, "adalah murid terbaik yang pernah aku miliki. Dia cerdas. Berani. Ikhlas. Dia rela berkorban untuk menyelamatkan orang lain. Dan sampai detik ini... dia masih berkorban."
Zahra mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Kyai, di catatan ini tidak disebutkan bagaimana cara mengalahkan Malik Azhraq. Kenapa?"
Kyai Taufiq tersenyum sedih. "Karena ayahmu tahu, melawan Malik Azhraq bukan soal teknik atau ilmu. Tapi soal pengorbanan."
"Pengorbanan?"
"Untuk menutup Gerbang Kegelapan sepenuhnya," Kyai Taufiq menjelaskan dengan berat, "dibutuhkan pengorbanan sukarela dari seseorang yang punya darah keturunan orang yang pernah mengalahkan Malik Azhraq. Dan ayahmu... dia tahu itu."
Zahra merasakan seluruh tubuhnya membeku.
"Dia pergi ke Pesantren Al-Falah dengan niat mengorbankan dirinya," lanjut Kyai Taufiq. "Tapi Malik Azhraq tidak membunuhnya. Jin itu lebih licik. Dia mengurung ayahmu. Menjadikannya umpan. Untuk menarik tumbal yang lebih berharga."
"Saya," bisik Zahra.
Kyai Taufiq mengangguk pelan. "Kamu, Nduk. Anak dari orang yang pernah mengalahkannya. Darahmu lebih 'murni' daripada darah ayahmu untuk ritual gelap Malik Azhraq."
Hening mencekam.
Zahra menatap foto ayah dan ibunya lama. Lalu menatap buku catatan di tangannya.
"Tapi saya tidak akan membiarkan ayah terus terkurung," ucap Zahra dengan suara bergetar tapi penuh keteguhan. "Saya akan menyelamatkannya. Dengan cara saya. Tanpa harus mengorbankan siapapun."
Kyai Taufiq menatap Zahra dengan tatapan penuh kekaguman. "Kamu benar-benar anak ayahmu. Keras kepala. Tapi penuh harapan."
Dia tersenyum tipis. "Kalau itu tekadmu, Nduk, aku akan membantumu semampuku. Besok, kita mulai latihan yang lebih keras. Kamu harus belajar cara membuka segel dimensi. Cara melawan jin tingkat tinggi. Dan cara... bertahan hidup di Pesantren Al-Falah."
Zahra mengangguk mantap. "Terima kasih, Kyai."
Malam itu, Zahra tidak bisa tidur. Dia terus membaca catatan ayahnya. Menghafal setiap detail. Setiap informasi.
Di sampingnya, Bu Le tidur dengan tenang—meski sesekali terbangun untuk memastikan Zahra baik-baik saja.
Zahra memegang foto ayah dan ibunya. Mengusap wajah ayahnya dengan lembut.
"Ayah," bisiknya, "saya akan datang. Saya akan menyelamatkan ayah. Maafkan saya tidak menuruti pesan ayah. Tapi... saya tidak bisa membiarkan ayah sendirian."
Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang.
Dan di kejauhan, sepasang mata merah menyala di balik pepohonan gelap.
Mengawasi.
Menunggu.