PESANTREN ANGKER

26. Keberangkatan

Pagi itu, langit masih gelap saat Zahra terbangun. Jam menunjukkan pukul 04.30 dini hari. Dia tidak benar-benar tidur—hanya terpejam dengan pikiran berkelana.

 

Di sampingnya, Bu Le sudah bangun lebih dulu. Wanita itu sedang melipat pakaian dengan rapi, memasukkannya ke dalam tas kecil.

 

"Sudah bangun, Nak?" tanya Bu Le dengan suara lembut.

 

Zahra mengangguk. "Tidak bisa tidur, Bu Le."

 

"Bu Le juga," Bu Le tersenyum tipis. "Terlalu banyak yang dipikirkan."

 

Mereka berdua bersiap dengan tenang. Mandi, mengenakan pakaian bersih, lalu shalat Subuh di mushola pesantren. Zahra merasakan setiap gerakan shalatnya lebih khusyuk dari biasanya—seolah ini adalah shalat terakhirnya di tempat yang sudah menjadi rumah keduanya.

 

Setelah shalat, Gus Azka sudah menunggu di halaman depan. Di sampingnya, berdiri Kyai Taufiq dengan tongkat kayunya.

 

"Kalian sudah siap?" tanya Kyai Taufiq.

 

Zahra mengangguk. "Insya Allah, Kyai."

 

Kyai Taufiq menatap mereka bertiga dengan tatapan penuh kasih sayang—seperti seorang kakek yang harus melepas cucu-cucunya ke medan perang.

 

"Dengarkan baik-baik," ucapnya dengan nada serius. "Perjalanan ke Lampung akan memakan waktu belasan jam. Kalian akan naik bus dari sini ke terminal, lalu bus antar kota ke Merak. Dari Merak, kalian naik kapal ferry menyeberang Selat Sunda. Sampai di Bakauheni, kalian naik bus lagi ke arah Lampung Timur."

 

Gus Azka mencatat semua rute di ponselnya. "Baik, Mbah."

 

"Selama perjalanan," Kyai Taufiq melanjutkan, "jangan lengah. Malik Azhraq pasti sudah tahu kalian akan datang. Dia bisa mengirim gangguan kapan saja. Di jalan. Di rest area. Bahkan di dalam bus."

 

Zahra merasakan tengkuknya merinding.

 

"Bacakan Ayat Kursi setiap kali naik kendaraan," Bu Le menambahkan sambil memeriksa tas perbekalan untuk terakhir kali. "Dan jangan pisah dari Azka. Kalian harus selalu berdekatan."

 

"Baik, Bu Le," jawab Zahra.

 

Kyai Taufiq mengulurkan sebuah amplop coklat pada Gus Azka. "Ini uang untuk perjalanan. Dan ini—" dia mengeluarkan secarik kertas dengan tulisan tangan "—alamat Haji Usman. Beliau teman lamaku. Tinggal di desa dekat Pesantren Al-Falah. Kalian bisa menginap di rumahnya."

 

"Terima kasih, Mbah," Azka menerima amplop dan kertas itu dengan hormat.

 

"Dan ini," Kyai Taufiq mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah pisau lipat dengan sarung kulit tua. "Pisau besi yang sudah dibacakan ayat-ayat pelindung. Kalau kalian menghadapi sesuatu yang berbentuk fisik—bukan hanya spiritual—gunakan ini."

 

Gus Azka menerima pisau itu dengan serius. "Insya Allah, Mbah."

 

Kyai Taufiq menatap Zahra lama. Lalu mengangkat tangannya, meletakkannya di atas kepala Zahra.

 

"Bismillahirrahmanirrahim," bisiknya. "Ya Allah, lindungi anak ini. Kuatkan dia. Bimbing langkahnya. Dan kembalikanlah dia dengan selamat bersama ayahnya."

 

Zahra merasakan air matanya jatuh. "Amin."

 

Bu Le ikut mengamini sambil menghapus air matanya.

 

"Sekarang pergilah," Kyai Taufiq melepaskan tangannya. "Jangan tunda lagi. Waktu tidak banyak."

 

Mereka bertiga berpamitan—mencium tangan Kyai Taufiq satu per satu. Lalu berjalan menuju gerbang pesantren di mana sebuah mobil sudah menunggu untuk mengantarkan mereka ke terminal.

 

Saat Zahra menoleh ke belakang, dia melihat Kyai Taufiq masih berdiri di halaman, mengangkat tangannya melambaikan perpisahan.

 

Entah kenapa, Zahra merasakan dadanya sesak—seolah ini adalah perpisahan terakhir.

 

***

 

Bus malam melaju pelan meninggalkan terminal. Zahra duduk di bangku dekat jendela. Di sampingnya, Bu Le. Di depan mereka, Gus Azka duduk sendirian sambil membaca Al-Quran kecil.

 

Suasana bus cukup sepi. Hanya ada beberapa penumpang lain—seorang ibu dengan anak balita, beberapa pemuda dengan tas ransel besar, dan seorang lelaki tua yang langsung tertidur begitu bus jalan.

 

"Bu Le," bisik Zahra pelan, "apa Bu Le tidak takut?"

 

Bu Le menoleh, menatap Zahra dengan lembut. "Takut, Nak. Sangat takut. Tapi Bu Le lebih takut kalau membiarkanmu pergi sendirian."

 

Zahra tersenyum tipis. Menggenggam tangan Bu Le.

 

"Lagipula," lanjut Bu Le sambil mengusap tangan Zahra, "Bu Le pernah berjanji pada ayahmu dulu. Sebelum dia pergi ke Lampung. Dia bilang, 'Kalau aku tidak kembali, tolong jaga Khadijah dan anakku.' Bu Le sudah gagal menjaga Khadijah waktu itu—karena dia menikah dengan Kyai Syamsul. Sekarang, Bu Le tidak akan gagal lagi. Bu Le akan menjaga kamu sampai akhir."

 

Zahra merasakan air matanya mengalir. "Terima kasih, Bu Le."

 

Bu Le memeluk Zahra dengan hangat. "Sama-sama, Nak. Sekarang coba tidur. Perjalanan masih panjang."

 

Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Bu Le. Menutup mata. Mencoba tidur.

 

Tapi beberapa saat kemudian, dia merasakan sesuatu yang aneh.

 

Udara di dalam bus terasa dingin. Sangat dingin. Meski AC tidak menyala terlalu kencang.

 

Zahra membuka mata—dan jantungnya berhenti sejenak.

 

Di kaca jendela, ada bayangan. Bayangan hitam yang berdiri di luar—mengikuti bus yang melaju.

 

Zahra mengerjapkan mata—bayangan itu masih ada. Bahkan semakin jelas.

 

Dia melirik ke belakang—tidak ada yang aneh. Penumpang lain tidur nyenyak.

 

Tapi saat dia melirik ke depan, ke arah lorong bus—ada sesuatu.

 

Sosok hitam tinggi berdiri di ujung lorong. Diam. Menatap ke arah Zahra.

 

Zahra merasakan napasnya tercekat. Tangannya langsung menggenggam tasbih ayahnya yang tergantung di lehernya.

 

"A'udzu billahi minasy syaithanir rajim," bisiknya pelan.

 

Sosok itu melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Mendekat.

 

"Bu Le," bisik Zahra sambil mengguncang tangan Bu Le pelan.

 

Bu Le terbangun. "Ada apa, Nak?"

 

"Di depan," bisik Zahra dengan suara bergetar. "Ada sesuatu."

 

Bu Le langsung menatap ke arah lorong—matanya melebar.

 

Dia juga melihatnya.

 

"Azka," panggil Bu Le dengan suara keras tapi terkendali.

 

Gus Azka yang duduk di depan langsung menoleh. Melihat wajah Bu Le dan Zahra yang pucat. Lalu dia menatap ke belakang—dan ikut melihat sosok hitam itu.

 

Tanpa ragu, Azka berdiri. Menghadap sosok itu dengan tegap.

 

"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya dengan suara keras—cukup keras untuk membuat beberapa penumpang terbangun.

 

Lalu dia membaca Ayat Kursi dengan suara lantang.

 

"ALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUW, AL-HAYYUL-QAYYUUM!"

 

Sosok hitam itu meringis. Tubuhnya bergetar.

 

"LAA TA'KHUZUHUU SINATUW WA LAA NAWM!"

 

Bu Le ikut membaca dengan suara keras. Zahra juga.

 

Cahaya putih samar mulai muncul—dari Azka, dari Bu Le, dari Zahra. Bergabung menjadi satu.

 

Sosok hitam itu meraung—suara yang membuat beberapa penumpang terbangun dengan ketakutan.

 

"LAHUU MAA FIS-SAMAAWAATI WA MAA FIL ARDH!"

 

Cahaya semakin terang. Sosok itu mulai memudar.

 

"MAN DZAL-LADZII YASYFA'U 'INDAHUU ILLAA BI-IDZNIH!"

 

FLASH!

 

Sosok itu meledak menjadi asap hitam—lalu lenyap sepenuhnya.

 

Hening.

 

Bus masih melaju. Tapi udara kembali normal. Tidak dingin lagi.

 

Beberapa penumpang menatap mereka dengan bingung—tapi tidak ada yang bertanya. Mereka kembali tidur, seolah menganggap itu hanya mimpi buruk.

 

Gus Azka kembali duduk. Napasnya terengah-engah. "Alhamdulillah."

 

"Itu baru awal," bisik Bu Le dengan nada serius. "Semakin dekat kita dengan Pesantren Al-Falah, semakin banyak gangguan yang akan datang."

 

Zahra mengangguk. Tangannya masih menggenggam tasbih erat.

 

***

 

Perjalanan berlanjut. Mereka transit di beberapa terminal, berganti bus, hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Merak saat matahari sudah tinggi.

 

Gus Azka membeli tiket ferry. Mereka naik kapal besar yang penuh sesak dengan penumpang dan kendaraan.

 

Di atas kapal, mereka berdiri di geladak, menatap laut yang membentang luas.

 

"Mbak Zahra," Azka berbicara serius, "mulai sekarang kita harus lebih waspada. Laut adalah wilayah netral—artinya jin-jin bisa lebih leluasa bergerak."

 

"Apa maksudnya?" tanya Zahra.

 

"Di darat, masih ada manusia, ada masjid, ada dzikir yang melindungi. Tapi di tengah laut..." Azka menatap ombak dengan serius. "Hanya kita dan Allah."

 

Bu Le menggenggam tangan Zahra. "Jangan jauh-jauh dari Bu Le."

 

Tiba-tiba, seorang anak kecil mendekat. Laki-laki berusia sekitar tujuh tahun, berpakaian lusuh, wajahnya pucat.

 

"Kakak," panggilnya dengan suara pelan. "Kakak mau ke mana?"

 

Zahra menatap anak itu. Ada sesuatu yang aneh. Mata anak itu... terlalu gelap. Terlalu dalam.

 

"Kami mau ke Lampung," jawab Zahra hati-hati.

 

Anak itu tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya.

 

"Jangan ke sana," bisiknya. "Di sana, ada yang menunggu. Dia akan membunuh kakak."

 

Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri.

 

"Jangan masuk saat bulan purnama," lanjut anak itu dengan nada datar. "Itulah saat mereka paling kuat. Saat gerbang terbuka. Saat darah tumpah."

 

"Siapa kamu?" tanya Gus Azka dengan waspada.

 

Anak itu menatap Azka—dan matanya berubah. Menjadi merah menyala.

 

"Aku... hanya utusan."

 

Lalu anak itu berbalik, berjalan menjauh—dan menghilang di antara kerumunan penumpang.

 

Zahra, Azka, dan Bu Le saling berpandangan dengan wajah tegang.

 

"Malik Azhraq mengirim peringatan," bisik Bu Le. "Dia tahu kita datang."

 

"Bagus," Zahra berkata dengan nada lebih mantap dari yang dia rasakan. "Biar dia tahu. Kami tidak takut."

 

Bu Le menatap Zahra dengan bangga. "Berani sekali kamu, Nak."

 

Kapal ferry terus melaju membelah ombak. Di kejauhan, garis pantai Sumatera mulai terlihat.

 

Zahra menatap daratan itu dengan tatapan penuh tekad.

 

*Ayah, aku datang. Bertahanlah sedikit lagi.*

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!