PESANTREN ANGKER

28. Investigasi Siang Hari

Pagi-pagi, Zahra terbangun dengan mata bengkak. Semalam dia hampir tidak tidur—pikirannya terus terbayang pesantren gelap yang terlihat dari jendela kamarnya.

 

Di ruang makan sederhana, Haji Usman sudah menyiapkan sarapan—nasi putih dengan telur dadar dan sambal terasi. Aroma kopi pahit menyeruak dari cangkir tanah liat di atas meja.

 

"Alhamdulillah, sudah bangun semua," sapa Haji Usman dengan ramah. "Ayo sarapan dulu. Nanti saya antar kalian survei pesantren dari jauh."

 

"Dari jauh?" tanya Gus Azka sambil duduk.

 

"Iya," Haji Usman mengangguk sambil menuangkan kopi. "Jangan langsung masuk. Kalian harus tahu dulu medan yang akan dihadapi. Lihat dari luar. Rasakan auranya. Baru besok kalian bisa memutuskan mau masuk atau tidak."

 

Bu Le yang duduk di samping Zahra menambahkan, "Pak Haji benar. Kita harus hati-hati. Jangan gegabah."

 

Setelah sarapan dan shalat Dhuha, mereka berempat berjalan menyusuri jalan setapak menuju Pesantren Al-Falah. Haji Usman membawa tongkat kayu dan tasbih panjang yang terus diputarnya sambil berdzikir pelan.

 

Semakin dekat mereka dengan pesantren, semakin sepi jalannya. Rumah-rumah di kanan-kiri jalan terlihat kosong, ditinggalkan bertahun-tahun lalu. Rumput liar tumbuh tinggi menutupi pagar-pagar yang runtuh.

 

"Dulunya," Haji Usman bercerita sambil berjalan pelan, "jalanan ini ramai. Banyak santri berlalu lalang. Banyak orang tua yang antar anak mereka mondok. Tapi setelah kejadian dua puluh dua tahun lalu... semua berubah."

 

"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Haji?" tanya Zahra.

 

Haji Usman berhenti sejenak, menatap jalan di depan dengan tatapan gelap. "Tujuh santri kesurupan bersamaan. Mereka berteriak-teriak dalam bahasa aneh. Tubuh mereka kaku seperti mayat hidup. Mata mereka merah menyala."

 

Dia melanjutkan berjalan. "Kyai pesantren waktu itu, Kyai Hasyim, mencoba meruqyah mereka. Tapi malah dia sendiri yang tumbang—kena serangan jantung dan meninggal di tempat. Santri-santri lain panik. Sebagian kabur. Sebagian tetap bertahan mencoba membantu."

 

"Lalu ayah saya datang?" tanya Zahra.

 

"Ya," Haji Usman mengangguk. "Ayahmu datang karena diminta warga desa. Dia langsung masuk ke pesantren. Melakukan ruqyah massal selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Dan akhirnya... tujuh santri itu sembuh."

 

"Alhamdulillah," bisik Bu Le.

 

"Tapi," Haji Usman melanjutkan dengan nada berat, "ayahmu tidak langsung pulang. Dia bilang masih ada yang harus diselesaikan. Dia masuk lagi ke pesantren sendirian. Malam itu, kami mendengar suara ledakan keras. Cahaya terang menyembur dari dalam pesantren. Lalu... hening."

 

Zahra merasakan dadanya sesak.

 

"Pagi harinya, kami masuk mencari ayahmu," lanjut Haji Usman dengan suara bergetar. "Tapi dia tidak ada. Yang kami temukan hanya jubahnya yang tergeletak di dekat sumur tua. Dan tasbihnya... patah, butiran kayunya berserakan."

 

Zahra menggenggam tasbih ayahnya yang tergantung di lehernya.

 

"Sejak itu," Haji Usman menggeleng sedih, "pesantren itu ditutup. Tidak ada yang berani masuk lagi."

 

Mereka berjalan dalam hening sampai akhirnya tiba di sebuah bukit kecil. Dari sana, Pesantren Al-Falah terlihat jelas di bawah.

 

Zahra merasakan napasnya tercekat.

 

Pesantren itu terlihat mengerikan bahkan di siang hari terik.

 

Gerbang besi berkarat setinggi tiga meter dengan tulisan "PESANTREN AL-FALAH" yang sebagian hurufnya sudah hilang. Di balik gerbang, tampak bangunan-bangunan bobrok—atap runtuh, tembok retak, jendela-jendela pecah seperti mata kosong yang menatap.

 

Halaman pesantren luas, penuh ilalang setinggi lutut. Ada beberapa bangunan masih berdiri kokoh meski berlumut tebal: Asrama Putra, Asrama Putri, Ruang Kelas, dan bangunan utama yang dulunya mushola.

 

Dan yang paling mencolok—sumur tua di tengah halaman belakang. Sumur batu hitam dengan bibir sumur yang retak. Di sekitar sumur, tanah terlihat kering kecoklatan, tidak ditumbuhi rumput sama sekali.

 

"Di sana," Haji Usman menunjuk sumur itu dengan tongkatnya. "Di situ ayahmu terakhir kali terlihat."

 

Zahra menutup matanya, membuka mata batinnya perlahan.

 

Dan dia melihatnya.

 

Kabut hitam pekat menyelimuti seluruh area pesantren. Seperti kubah gelap yang mengepung. Kabut itu bergerak-gerak perlahan, seperti makhluk hidup yang bernapas.

 

Di tengah kubah itu, tepat di atas sumur, ada cahaya redup berwarna biru. Sangat redup. Hampir padam.

 

Tapi cahaya itu masih ada.

 

"Ayah," bisik Zahra dengan air mata mengalir. "Aku melihatmu."

 

Gus Azka yang berdiri di sampingnya juga membuka mata batinnya. Wajahnya langsung pucat. "Ya Allah... auranya sangat kuat. Sangat gelap."

 

Dia menutup matanya cepat-cepat, lalu tiba-tiba limbung—hampir jatuh kalau tidak ditahan Bu Le.

 

"Azka!" Bu Le menopang tubuhnya dengan cemas.

 

Gus Azka memegang kepalanya. Hidungnya berdarah. "Maaf... Bu Le... aku terlalu memaksakan diri melihat."

 

Bu Le mengeluarkan sapu tangan, mengusap darah di hidung Azka dengan lembut. "Jangan dipaksakan. Kekuatan gaib di sana terlalu besar untukmu."

 

Haji Usman menatap mereka dengan khawatir. "Kalian merasakan sesuatu?"

 

"Lebih dari merasakan," jawab Zahra dengan suara bergetar. "Kami melihatnya. Kabut hitam yang menutupi seluruh pesantren. Dan di tengahnya... ada cahaya biru. Ayah saya ada di sana."

 

Haji Usman mengangguk paham. "Dulu, beberapa ustadz yang datang ke sini juga bilang begitu. Mereka bilang pesantren itu seperti tertutup 'tirai gelap' yang tidak bisa ditembus."

 

"Tirai gelap itu adalah dimensi gaib," Gus Azka menjelaskan sambil menghapus darah di hidungnya. "Malik Azhraq membuat dimensi tersendiri di tempat itu. Seperti penjara di dalam penjara."

 

"Lalu bagaimana cara masuknya?" tanya Bu Le.

 

Zahra mengeluarkan buku catatan ayahnya dari tas. Membuka halaman tentang cara membuka segel.

 

"Ayah menulis di sini," Zahra membaca dengan serius, "untuk membuka segel dimensi gaib, dibutuhkan dua hal: darah keturunan langsung, dan pengorbanan sukarela."

 

"Darah keturunan maksudnya..." Bu Le menatap Zahra dengan khawatir.

 

"Darahku," jawab Zahra. "Hanya aku yang bisa membuka segel itu."

 

Gus Azka membaca catatan itu lebih detail. "Tapi di sini juga ditulis... proses pembukaan segel akan menarik perhatian semua makhluk gaib di dalam dimensi itu. Artinya begitu Mbak Zahra membuka segel, serangan akan langsung datang."

 

"Kita harus siap," Bu Le berkata dengan nada mantap meski wajahnya pucat. "Kita lindungi Zahra dengan semua yang kita punya."

 

Haji Usman menatap mereka bertiga dengan tatapan penuh keprihatinan. "Kalian yakin mau melakukan ini? Masih ada waktu untuk mundur."

 

Zahra menatap pesantren di bawah dengan tatapan penuh tekad. "Saya tidak akan mundur, Pak Haji. Ayah saya sudah menunggu dua puluh satu tahun. Saya tidak akan membiarkan dia menunggu lebih lama lagi."

 

Haji Usman tersenyum tipis. "Kamu benar-benar anak ayahmu."

 

Mereka berdiri di sana beberapa saat, mengamati pesantren dari kejauhan. Mencatat setiap detail. Setiap bangunan. Setiap jalan masuk.

 

"Lihat," Gus Azka menunjuk gerbang utama. "Gerbang itu setengah terbuka. Seperti... mengundang."

 

"Itu jebakan," Haji Usman berkata. "Gerbang itu selalu setengah terbuka. Seolah mengajak orang masuk. Tapi yang masuk... jarang yang keluar."

 

Zahra melihat ada jalur lain—jalan setapak di sisi kanan pesantren yang menuju ke bagian belakang, dekat sumur.

 

"Ayah menulis di catatannya," Zahra membaca lagi, "masuk lewat gerbang utama akan langsung terdeteksi. Lebih baik masuk lewat tembok belakang yang runtuh, dekat sumur. Lebih dekat ke target dan lebih sedikit penghalang."

 

"Tapi lebih berbahaya," tambah Azka. "Karena sumur itu adalah pusat kekuatan Malik Azhraq."

 

"Bahaya atau tidak," Zahra menutup buku catatan, "itu jalan yang harus kita ambil."

 

Bu Le menggenggam tangan Zahra. "Kalau begitu, kita persiapkan diri sebaik-baiknya. Besok kita masuk."

 

"Besok?" Haji Usman tersentak. "Tapi besok sudah mendekati bulan purnama."

 

"Justru itu," Zahra menjawab. "Kami harus masuk sebelum bulan purnama. Kalau sudah purnama, Malik Azhraq akan terlalu kuat. Kami tidak akan bisa menandinginya."

 

Gus Azka mengangguk setuju. "Mbah Kyai juga bilang begitu. Kita harus bergerak cepat."

 

Haji Usman menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu, hari ini kalian istirahat. Perbanyak dzikir. Perbanyak doa. Dan malam ini... kita lakukan ritual persiapan."

 

"Ritual persiapan?" tanya Bu Le.

 

"Mandi keramas dengan air yang sudah diruqyah," jawab Haji Usman. "Puasa hari ini sampai besok. Dan membaca wirid khusus ribuan kali. Supaya tubuh dan jiwa kalian bersih. Supaya kalian punya perlindungan maksimal saat masuk ke sana."

 

Zahra mengangguk mantap. "Baik, Pak Haji. Kami akan ikuti semua petunjuk Bapak."

 

Mereka berbalik, berjalan turun dari bukit, meninggalkan Pesantren Al-Falah yang berdiri menakutkan di bawah terik matahari.

 

Tapi Zahra tidak tahu—dari dalam pesantren, sepasang mata merah menyala sedang mengawasi mereka.

 

Malik Azhraq berdiri di puncak bangunan mushola yang runtuh. Jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin. Senyum lebar terkembang di wajahnya yang mengerikan.

 

"Datanglah, anak Rizwan," bisiknya dengan suara yang bergema di alam gaib. "Aku sudah menyiapkan segalanya untukmu. Besok... kita akan bertemu. Dan besok... takdirmu akan berakhir di tanganku."

 

Tawa mengerikan bergema di seluruh dimensi gaib pesantren.

 

Di dalam sangkar energi biru, Kyai Rizwan yang terkurung mendengar tawa itu. Tubuhnya gemetar. Air matanya jatuh.

 

"Zahra... jangan datang... jangan..." bisiknya dengan suara lemah yang tidak terdengar siapa pun.

 

Tapi dia tahu—anaknya akan datang.

 

Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!