PESANTREN ANGKER
30. Persiapan Terakhir
Mereka bertiga berhenti di bukit kecil—tempat yang sama saat mereka survei kemarin. Dari sini, Pesantren Al-Falah terlihat jelas dengan semua kegelapannya.
Gus Azka mengeluarkan buku catatan Kyai Rizwan dari tas. Membaca halaman terakhir dengan seksama.
"Menurut catatan ayah Mbak Zahra," ucap Azka sambil menunjuk sketsa peta, "kita tidak masuk lewat gerbang utama. Terlalu berisiko. Kita masuk lewat tembok belakang yang runtuh, dekat sumur."
Bu Le menatap peta itu dengan serius. "Tapi bukankah sumur itu justru pusat kekuatan Malik Azhraq? Kenapa kita harus mendekatinya langsung?"
"Karena ayah Mbak Zahra ada di sana," jawab Azka. "Dan karena untuk membuka segel dimensi gaib, kita harus melakukannya di titik paling lemah dari dimensi itu—yaitu sumur. Di situlah portal antara dimensi nyata dan dimensi gaib paling tipis."
Zahra menatap sumur tua yang terlihat dari kejauhan. "Jadi kita langsung ke sana? Tidak perlu survei bangunan lain?"
"Tidak ada waktu," Azka menggeleng. "Kita harus bergerak cepat. Masuk, buka segel, bebaskan ayah Mbak Zahra, lalu keluar. Semakin lama kita di dalam, semakin berbahaya."
Bu Le mengeluarkan botol air zam-zam dari tas. "Sebelum masuk, kita minum air zam-zam dulu. Dan basuh wajah dengan air ini. Untuk perlindungan ekstra."
Mereka duduk melingkar di atas rumput kering. Bu Le menuangkan air zam-zam ke telapak tangan mereka bergantian.
Zahra membasuh wajahnya dengan air yang dingin menyegarkan. Ada kehangatan aneh yang menyebar dari wajahnya ke seluruh tubuh.
"Sekarang," Gus Azka membuka Al-Quran kecilnya, "kita baca Surat Al-Fatihah tujuh kali. Surat Al-Ikhlas tiga kali. Ayat Kursi tiga kali. Dan Surat Al-Falaq dan An-Nas masing-masing tiga kali."
Mereka membaca bersama. Suara mereka pelan tapi khusyuk. Setiap huruf terucap dengan jelas.
Setelah selesai, Azka menutup Al-Quran. "Sekarang kita berdoa. Minta perlindungan Allah. Minta kekuatan. Minta petunjuk."
Mereka mengangkat tangan berdoa.
"Ya Allah," Azka memimpin doa dengan suara bergetar, "Engkau Maha Mengetahui apa yang kami hadapi. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami mohon perlindungan-Mu. Kami mohon kekuatan-Mu. Lindungi kami dari kejahatan makhluk yang kasat mata dan yang tidak kasat mata."
"Amin," Zahra dan Bu Le mengamini dengan air mata mengalir.
"Ya Allah," Bu Le melanjutkan dengan suara penuh harap, "kembalikanlah Kyai Rizwan yang telah lama terkurung. Bebaskan dia dari penderitaan. Dan lindungi anak-Mu ini, Zahra, yang rela mempertaruhkan nyawanya demi ayahnya."
"Amin," mereka mengamini bersama.
"Ya Allah," Zahra berbisik dengan suara bergetar, "jika ini adalah hari terakhir hamba di dunia, hamba ikhlas. Tapi hamba mohon... selamatkan ayah hamba. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia."
Air mata Zahra jatuh membasahi tangannya yang terangkat.
"Amin ya Rabbal 'alamin," Azka dan Bu Le mengamini dengan suara serak.
Mereka menurunkan tangan. Menghapus air mata.
Lalu Gus Azka berdiri. "Sudah waktunya. Kita tidak bisa menunda lagi."
Zahra dan Bu Le ikut berdiri. Mereka menatap Pesantren Al-Falah di bawah dengan tatapan penuh tekad.
"Satu hal lagi," Azka berkata sambil menatap mereka berdua dengan serius. "Apapun yang terjadi di dalam, kita harus tetap bersama. Jangan pisah. Malik Azhraq akan mencoba memisahkan kita. Dia akan membuat ilusi. Membuat kita saling curiga. Jangan percaya pada apapun yang kita lihat kecuali kita yakin benar itu nyata."
"Bagaimana cara membedakan nyata dan ilusi?" tanya Zahra.
"Baca Ayat Kursi," jawab Bu Le. "Kalau itu ilusi, akan langsung hilang. Kalau nyata, akan tetap ada."
Zahra mengangguk paham. "Baik."
"Dan satu hal lagi yang sangat penting," Azka menatap Zahra dengan tatapan yang sangat serius. "Mbak Zahra, kamu adalah kunci pembuka segel. Artinya kamu akan menjadi target utama Malik Azhraq. Dia akan fokus menyerangmu. Aku dan Bu Le harus melindungimu dengan nyawa kami."
"Tidak," Zahra menggeleng keras. "Tidak ada yang boleh berkorban untuk saya. Kita masuk bersama, kita keluar bersama."
Bu Le tersenyum lembut sambil menyentuh pipi Zahra. "Nak, kalau Bu Le harus berkorban untuk menyelamatkanmu dan ayahmu, Bu Le akan melakukannya dengan ikhlas. Itu janji Bu Le pada ayahmu dua puluh satu tahun lalu."
"Bu Le—"
"Tidak ada tapi-tapian," Bu Le memotong dengan nada tegas tapi penuh kasih. "Bu Le sudah bulat tekadnya. Dan kamu tidak bisa melarang Bu Le."
Zahra memeluk Bu Le dengan erat. Menangis di bahunya.
"Sudah, sudah," Bu Le mengelus punggung Zahra. "Jangan menangis. Kita belum masuk sudah menangis. Nanti nggak kuat."
Zahra melepaskan pelukan, menghapus air matanya. "Maaf."
"Tidak perlu minta maaf," Bu Le tersenyum. "Sekarang, kita berjalan."
Mereka turun dari bukit, berjalan menyusuri jalan setapak menuju Pesantren Al-Falah. Semakin dekat mereka, semakin dingin udaranya. Meski matahari bersinar terang, mereka merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Burung-burung tidak berkicau. Serangga tidak berbunyi. Hanya langkah kaki mereka yang terdengar di tanah kering.
Mereka melewati gerbang utama yang setengah terbuka—tapi tidak masuk lewat sana. Mereka berjalan memutar ke samping, mencari tembok belakang yang runtuh.
"Di sana," Azka menunjuk sebuah bagian tembok bata yang roboh. Cukup lebar untuk mereka lewati.
Mereka berhenti di depan tembok runtuh itu. Di balik tembok, tampak halaman belakang pesantren yang dipenuhi ilalang tinggi. Dan di tengahnya—sumur tua dengan bibir batu hitam.
Zahra merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Ini dia. Mereka akan masuk.
"Sebelum masuk," Gus Azka berkata, "kita baca Bismillah tiga kali. Dan kita injak kaki kanan dulu saat masuk."
Mereka berdiri berbaris. Azka di depan. Zahra di tengah. Bu Le di belakang.
"Bismillahirrahmanirrahim," mereka membaca bersama.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Bismillahirrahmanirrahim."
Gus Azka melangkah pertama. Kaki kanannya menginjak tanah di dalam area pesantren.
Begitu kakinya menyentuh tanah—
WUUSSHH!
Angin kencang tiba-tiba bertiup. Ilalang bergoyang keras. Udara menjadi sangat dingin seketika.
"Terus jalan!" teriak Azka. "Jangan berhenti!"
Zahra melangkah masuk. Bu Le mengikuti.
Begitu mereka bertiga masuk sepenuhnya—
BRAK!
Tembok yang runtuh tadi tiba-tiba berdiri kembali. Menutup jalan keluar mereka.
Mereka terkurung.
"Jangan panik," Azka berkata sambil menatap sekeliling dengan waspada. "Ini sudah diprediksi. Kita memang tidak bisa keluar sampai segel dibuka dan ayah Mbak Zahra dibebaskan."
Zahra menatap sumur di tengah halaman. Jarak mereka dengan sumur sekitar lima puluh meter.
"Ayo," ucap Zahra dengan suara bergetar tapi penuh tekad. "Kita ke sumur."
Mereka berjalan perlahan melintasi halaman. Setiap langkah terasa berat—seolah ada sesuatu yang menarik kaki mereka ke bawah.
Ilalang di kanan-kiri bergerak-gerak meski tidak ada angin.
Zahra membuka mata batinnya sedikit—dan langsung melihat ratusan bayangan hitam berdiri diam di sekeliling mereka. Menatap. Mengawasi.
"Ada banyak," bisik Zahra.
"Jangan dilawan dulu," Azka berbisik balik. "Mereka belum menyerang. Biarkan saja. Fokus ke sumur."
Mereka terus berjalan.
Empat puluh meter.
Tiga puluh meter.
Dua puluh meter.
Bayangan-bayangan itu mulai bergerak. Perlahan mendekat.
"Baca Ayat Kursi," Bu Le berbisik. "Pelan-pelan. Terus-menerus."
Mereka membaca Ayat Kursi sambil berjalan. Suara mereka pelan tapi jelas.
"Allahu laa ilaaha illaa Huw, Al-Hayyul-Qayyuum..."
Bayangan-bayangan itu berhenti. Tidak berani mendekat lebih jauh.
Sepuluh meter.
Lima meter.
Mereka tiba di bibir sumur.
Zahra menatap ke dalam sumur—gelap gulita. Tidak ada dasarnya. Seperti lubang tanpa akhir.
Dan dari dalam sumur itu, terdengar suara.
Suara bisikan.
Suara tawa.
Suara... ayahnya.
"Zahra... anakku... tolong ayah..."
Zahra merasakan air matanya jatuh. "Ayah..."
"Itu bukan ayahmu," Azka menahan lengan Zahra. "Itu jebakan. Jangan dengarkan."
Tapi suara itu terus terdengar. Semakin jelas. Semakin menyayat hati.
"Zahra... kenapa kamu lama sekali... ayah kesakitan... tolong ayah..."
Zahra hampir melangkah lebih dekat—tapi Bu Le menariknya.
"Nak! Sadar! Itu bukan ayahmu!"
Tiba-tiba—
BLAMM!
Tanah di sekeliling mereka meledak. Keluar asap hitam pekat.
Dan dari asap itu, muncul sosok.
Sosok tinggi besar berjubah hitam. Wajah pucat kehijauan. Mata merah menyala. Senyum lebar dengan taring runcing.
Malik Azhraq.
"Selamat datang," suaranya menggelegar, "di istanaku, anak Rizwan."