PESANTREN ANGKER
31. Gerbang Terkutuk
Malik Azhraq berdiri dengan megah di hadapan mereka. Tingginya hampir empat meter. Jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin. Dari tubuhnya, asap hitam keluar perlahan, merayap di tanah seperti kabut.
"Dua puluh satu tahun," ucapnya dengan suara yang membuat tanah bergetar, "aku menunggu. Menunggu tumbal terakhir. Dan akhirnya... kamu datang juga."
Zahra mundur selangkah. Tangannya menggenggam dua tasbih erat-erat.
"Jangan takut, anak Rizwan," Malik Azhraq tersenyum lebar. "Kematianmu akan cepat. Tidak akan sesakit ayahmu yang sudah menderita dua puluh satu tahun."
"JANGAN DENGARKAN DIA!" teriak Gus Azka sambil maju ke depan, melindungi Zahra. "Dia hanya mencoba menakut-nakutimu!"
Azka mengangkat Al-Quran kecil di tangannya, membaca dengan suara keras:
"QUL HUWALLAAHU AHAD! ALLAAHUS-SHAMAD!"
Cahaya putih memancar dari Al-Quran—mengarah ke Malik Azhraq.
Tapi jin itu hanya tertawa. Mengangkat tangannya—cahaya putih itu memantul, terlempar ke samping.
"Kau pikir bacaan kecil seperti itu bisa melukaiku?" Malik Azhraq mengejek. "Aku adalah Ifrit tertua. Aku sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman. Ruqyah kalian tidak ada artinya bagiku!"
Bu Le maju, berdiri di samping Azka. "Kalau begitu, coba ini!"
Dia membaca dengan suara yang jauh lebih keras—suara yang tidak mungkin keluar dari tubuh wanita paruh baya:
"BISMILLAHILLADZI LAA YADURRU MA'ASMIHI SYAI'UN FIL ARDHI WA LAA FIS-SAMAA'I WA HUWAS-SAMII'UL 'ALIIM!"
Cahaya putih lebih terang meledak dari tubuh Bu Le—menyerang Malik Azhraq.
Kali ini, jin itu meringis. Tubuhnya mundur sedikit.
"Lumayan," ucapnya sambil tersenyum miring. "Tapi masih tidak cukup."
Malik Azhraq mengangkat kedua tangannya. Dari tangannya, keluar energi hitam pekat—membentuk gelombang yang menyapu ke arah mereka.
"BERTAHAN!" teriak Azka.
Dia dan Bu Le berdiri berdampingan, membaca Ayat Kursi bersama dengan suara sekuat tenaga:
"ALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUW, AL-HAYYUL-QAYYUUM!"
Cahaya putih membentuk tameng di depan mereka—menahan gelombang hitam.
DUARR!
Benturan antara cahaya putih dan energi hitam menciptakan ledakan dahsyat. Tanah di sekeliling mereka retak. Ilalang terbakar.
Zahra terlempar ke belakang, jatuh tersungkur di tanah.
"ZAHRA!" Bu Le berteriak sambil terus mempertahankan tameng.
Zahra bangkit dengan susah payah. Lututnya berdarah. Tangannya gemetar.
Tapi dia tidak menyerah.
Dia mengangkat dua tasbih—menyatukannya di genggaman tangannya.
"Ya Allah," bisiknya dengan suara bergetar, "berikanlah hamba kekuatan. Hamba tidak sanggup menghadapi ini sendirian."
Dan tiba-tiba—
FLASH!
Cahaya biru terang memancar dari dua tasbih yang disatukan. Cahaya yang sangat kuat. Lebih terang dari cahaya yang dihasilkan Azka dan Bu Le.
Malik Azhraq menatap cahaya itu dengan mata menyipit. "Itu... itu kunci pembuka segel."
Dia tersenyum lebar. "Bagus. Buka segelnya, anak Rizwan. Buka! Supaya Gerbang Kegelapan terbuka sepenuhnya! Supaya aku bisa bebas dan menguasai dunia!"
"JANGAN, ZAHRA!" teriak Azka. "Kalau kamu buka sekarang, Malik Azhraq akan langsung menyerangmu!"
Tapi Zahra tidak punya pilihan.
Dia berjalan menuju sumur—dua tasbih bersinar terang di tangannya.
"Ya Allah," bisiknya sambil terus melangkah, "jika ini takdir hamba, hamba ikhlas. Tapi tolong... selamatkan ayah hamba."
Malik Azhraq tertawa keras. Suaranya menggelegar di seluruh dimensi.
"AKHIRNYA! AKHIRNYA GERBANG AKAN TERBUKA!"
Zahra sampai di bibir sumur. Dia menatap ke dalam—gelap gulita yang seperti menelannya.
Dengan tangan gemetar, dia menggoreskan pisau kecil ke telapak tangannya. Darah merah segar mengalir.
"Darah keturunan Rizwan," bisiknya sambil meneteskan darahnya ke dalam sumur, "aku persembahkan untuk membuka segel ini. Bukan untuk kegelapan. Tapi untuk membebaskan ayahku."
Tetesan darah jatuh ke dalam sumur—
BOOOMMM!
Ledakan cahaya biru menyembur dari dalam sumur. Menjulang tinggi ke langit. Membentuk pilar cahaya yang menembus dimensi.
Tanah bergetar hebat. Bangunan-bangunan pesantren mulai runtuh. Langit berubah menjadi merah darah.
"HAHAHA! YA! YA! GERBANG TERBUKA!" Malik Azhraq merentangkan tangannya. "SEKARANG, DUNIA AKAN MENJADI MILIKKU!"
Dari dalam sumur, mulai keluar kabut hitam pekat. Semakin banyak. Semakin tebal.
Dan dari kabut itu, muncul sosok-sosok. Ratusan. Ribuan. Jin-jin dengan bentuk mengerikan. Mata merah menyala. Cakar tajam. Taring runcing.
"Ya Allah," bisik Bu Le dengan wajah pucat. "Ini... ini tidak baik."
Tapi tiba-tiba—
Cahaya biru dari sumur berubah. Bukan lagi cahaya yang menyeramkan. Tapi cahaya yang... hangat.
Dan dari dalam cahaya itu, muncul sebuah sangkar energi biru transparan.
Di dalam sangkar—terkurung seorang pria kurus lemah, berjanggot panjang, mengenakan jubah compang-camping.
Kyai Rizwan.
"AYAH!" Zahra berteriak dengan air mata mengalir deras.
Rizwan yang terkurung dalam sangkar energi mengangkat wajahnya. Matanya yang cekung menatap Zahra—dan air matanya jatuh.
"Zahra... anakku..." suaranya serak, hampir tidak terdengar.
Zahra berlari mendekat—tapi sangkar energi membakar tangannya saat disentuh.
"AAHHH!" dia berteriak kesakitan.
"JANGAN SENTUH!" teriak Azka sambil menarik Zahra menjauh. "Sangkar itu dilindungi segel energi gelap! Kalau kamu sentuh, kamu akan terbakar!"
"Lalu bagaimana?!" Zahra menangis frustasi. "Bagaimana cara membebaskan ayah?!"
Malik Azhraq yang melihat itu tertawa puas. "Kau lihat? Ayahmu ada di depan matamu. Tapi kau tidak bisa menyentuhnya! Tidak bisa membebaskannya!"
Dia melangkah mendekat. "Sangkar itu hanya bisa dibuka dengan dua cara. Pertama, aku yang membukanya. Kedua... kau mengorbankan jiwamu untuk menggantikan ayahmu di dalam sangkar itu."
Hening.
Zahra menatap Malik Azhraq dengan tatapan penuh kebencian. "Kalau aku mengorbankan jiwa, ayah akan bebas?"
"ZAHRA, JANGAN!" Rizwan berteriak dari dalam sangkar. Suaranya lemah tapi penuh kepanikan. "JANGAN LAKUKAN ITU!"
"Iya," Malik Azhraq tersenyum lebar. "Tapi kalau kau mengorbankan jiwa, Gerbang Kegelapan akan terbuka sepenuhnya. Dunia akan diliputi kegelapan. Jadi... pilih. Selamatkan ayahmu tapi hancurkan dunia? Atau biarkan ayahmu terkurung selamanya?"
Zahra merasakan dadanya sesak. Pilihannya tidak ada yang baik.
"Jangan dengarkan dia, Nak!" Bu Le berteriak sambil terus bertarung melawan jin-jin rendahan yang mulai menyerang. "Pasti ada cara lain!"
Gus Azka juga sibuk melawan—membaca ruqyah sambil mengayunkan pisau besi ke arah jin-jin yang mendekat.
Tapi mereka kewalahan. Jin-jin itu terlalu banyak.
Zahra menatap ayahnya yang terkurung. Menatap mata ayahnya yang penuh air mata.
"Ayah," bisiknya, "maafkan aku."
"TIDAK, ZAHRA!" Rizwan berteriak. "JANGAN!"
Tapi Zahra sudah mengambil keputusan.
Dia melangkah menuju sangkar—mengabaikan rasa sakit terbakar di tangannya—dan meletakkan tangannya di atas sangkar.
"Aku mengorbankan diriku," ucapnya dengan suara bergetar, "untuk membebaskan ayahku."
Cahaya biru dari sangkar semakin terang. Menyilaukan.
Malik Azhraq tertawa keras. "BODOH! KAU MEMILIH MENGHANCURKAN DUNIA DEMI AYAHMU!"
Tapi tiba-tiba—
Suara lain terdengar. Suara yang sangat lembut. Suara yang familiar.
Suara malaikat yang pernah Zahra lihat saat shalat Tahajud.
*"Pengorbanan yang ikhlas tidak akan sia-sia, anak manusia."*
Dan tiba-tiba, dari langit yang merah darah, turun cahaya putih keemasan.
Cahaya yang sangat terang. Sangat suci.
Malik Azhraq menatap ke atas dengan wajah penuh ketakutan. "TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!"
Cahaya putih itu menyelimuti Zahra. Melindunginya.
Dan dari dalam cahaya itu, terdengar suara yang menggelegar—bukan suara malaikat, tapi suara yang lebih besar. Suara yang membuat seluruh dimensi bergetar.
Suara... Allah.
Bukan suara harfiah—karena Allah tidak berbicara seperti makhluk—tapi sebuah kehendak yang terasa di seluruh jiwa.
*Cukup.*
Dan dengan satu kata itu—
Sangkar energi yang mengurung Rizwan pecah.
Rizwan jatuh ke tanah, bebas.
Jin-jin yang menyerang terbakar oleh cahaya putih—meledak menjadi asap dan lenyap.
Malik Azhraq meraung kesakitan—tubuhnya terbakar oleh cahaya.
"TIDAAAKKK! INI TIDAK ADIL! AKU SUDAH MENUNGGU DUA PULUH SATU TAHUN!"
Tapi cahaya putih itu tidak peduli.
Cahaya itu terus membakar. Terus membersihkan.
Zahra jatuh berlutut—tubuhnya lelah. Tapi dia tersenyum.
Ayahnya... bebas.
Bu Le dan Azka berlari menghampiri Rizwan yang terbaring lemah di tanah.
"Kyai! Kyai Rizwan!" Bu Le menangis sambil menopang kepala Rizwan.
Rizwan membuka matanya—menatap Bu Le dengan tatapan terharu. "Halimah... kamu... masih sama seperti dulu..."
Lalu dia menatap Zahra yang berlutut tidak jauh dari sana.
"Zahra... anakku..."
Zahra merangkak mendekat—memeluk ayahnya yang kurus kering.
"Ayah... akhirnya... akhirnya aku bertemu ayah..."
Mereka berdua menangis dalam pelukan.
Tapi pertarungan belum selesai.
Malik Azhraq masih hidup.
Dan dia... sangat marah.