PESANTREN ANGKER
33. Lorong Kenangan
Mereka jatuh.
Jatuh ke dalam kegelapan yang seperti tidak ada ujungnya.
Zahra merasakan tubuhnya melayang—tidak ada gravitasi, tidak ada arah. Hanya gelap gulita yang menyelimuti.
Dia masih menggenggam tangan Bu Le di sebelahnya. Merasakan genggaman itu—hangat, nyata—satu-satunya bukti bahwa dia tidak sendirian.
"Bu Le!" teriak Zahra dalam kegelapan.
"Aku di sini, Nak!" suara Bu Le terdengar dari samping. "Jangan lepaskan tanganku!"
"Gus Azka! Ayah!" Zahra berteriak lagi.
"Kami masih di sini!" suara Azka terdengar agak jauh. "Terus pegang erat!"
Mereka terus jatuh. Entah sudah berapa lama. Rasanya seperti berjam-jam, tapi mungkin hanya beberapa detik.
Tiba-tiba—
Zahra melihat cahaya. Cahaya redup di kejauhan.
Cahaya itu semakin dekat. Semakin jelas.
Dan tiba-tiba, mereka tidak lagi jatuh—tapi berdiri.
Berdiri di sebuah lorong.
Lorong panjang dengan dinding putih bersih. Lantai keramik yang mengkilap. Lampu-lampu neon di langit-langit.
Lorong... rumah sakit?
"Di mana ini?" bisik Zahra sambil menatap sekeliling dengan bingung.
Bu Le yang berdiri di sampingnya juga terlihat bingung. "Ini seperti... rumah sakit."
Gus Azka yang berdiri beberapa meter di depan menatap sekeliling dengan waspada. "Ini bukan rumah sakit biasa. Ini... ilusi. Dimensi lain."
"Bukan ilusi," suara Rizwan terdengar lemah.
Zahra menoleh—ayahnya berdiri dengan susah payah, bersandar di dinding. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.
"Ini adalah Lorong Kenangan," lanjut Rizwan dengan napas terengah-engah. "Portal antara dimensi gaib dan dunia nyata. Untuk keluar, kita harus melewati lorong ini. Tapi... lorong ini akan menunjukkan kenangan terburuk kita."
Hening.
"Kenangan terburuk?" ulang Zahra dengan suara bergetar.
Rizwan mengangguk lemah. "Kenangan yang kita sembunyikan. Kenangan yang kita takuti. Lorong ini akan memaksanya keluar. Dan kita harus... menghadapinya."
Sebelum ada yang bisa bertanya lebih lanjut—
Pintu-pintu di sepanjang lorong mulai terbuka. Satu per satu.
Dari pintu pertama di sebelah kanan, keluar seorang perempuan muda berjilbab putih. Wajahnya cantik, tapi pucat. Perutnya besar—sedang hamil.
Zahra tercekat. "Ibu?"
Perempuan itu—Khadijah versi muda—berjalan perlahan di lorong. Menangis tersedu-sedu.
"Rizwan... di mana kamu? Kenapa kamu pergi? Aku butuh kamu... anak kita butuh kamu..."
Rizwan yang melihat itu langsung menangis. "Khadijah... maafkan aku..."
Dia melangkah mendekat—tapi sosok Khadijah itu menembus tubuhnya seperti hologram. Lalu menghilang di ujung lorong.
"Itu bukan ibu yang sebenarnya," Zahra berbisik. "Itu... kenangan."
Dari pintu kedua, keluar seorang anak perempuan kecil—sekitar tujuh tahun. Mengenakan baju seragam SD. Wajahnya... wajah Zahra.
Zahra kecil itu duduk di lantai lorong, menangis.
"Kenapa aku berbeda? Kenapa aku bisa lihat yang lain tidak bisa lihat? Aku takut... aku tidak mau jadi aneh..."
Zahra dewasa merasakan dadanya sesak. Ini adalah kenangan masa kecilnya—saat kemampuannya belum ditutup. Saat dia masih bisa melihat makhluk gaib dan merasa ketakutan setiap hari.
"Nak," Bu Le menggenggam tangan Zahra, "itu sudah berlalu. Kamu tidak sendirian lagi sekarang."
Dari pintu ketiga, keluar Bu Le versi lebih muda—sekitar dua puluh lima tahun. Dia berdiri di depan sebuah makam, menangis.
"Maafkan saya, Ustad. Saya tidak bisa menyelamatkan istri dan anak Ustad. Saya tidak cukup kuat. Maafkan saya..."
Bu Le yang sekarang menutup wajahnya dengan tangan. Menangis.
"Bu Le?" Zahra menatap Bu Le dengan khawatir.
"Itu... kenangan saat Kyai Rizwan dinyatakan hilang," bisik Bu Le dengan suara bergetar. "Bu Le merasa gagal. Gagal menjaga Khadijah dan kamu. Gagal sebagai santri yang dipercaya guru."
Zahra memeluk Bu Le erat. "Bu Le tidak gagal. Bu Le sudah menjaga kami dengan baik."
Dari pintu keempat, keluar Gus Azka versi lebih muda—sekitar lima belas tahun. Dia berdiri di depan pusara, menatap dengan tatapan kosong.
"Ibu... ayah... maafkan aku. Aku tidak sempat pamit. Aku tidak sempat bilang aku sayang kalian..."
Azka yang sekarang mengepalkan tangannya. Rahangnya terkatup keras.
Zahra tahu—Azka yatim piatu sejak kecil. Dibesarkan oleh Kyai Taufiq, kakeknya. Tapi dia tidak pernah bercerita detail tentang orang tuanya.
"Gus," Zahra memanggil pelan.
Azka menggeleng. "Aku baik-baik saja, Mbak. Ini... ini sudah lama."
Tapi air matanya jatuh.
Dari pintu kelima—pintu paling besar di ujung lorong—keluar sosok yang membuat mereka semua membeku.
Malik Azhraq.
Tapi bukan Malik Azhraq yang mengerikan. Ini adalah Malik Azhraq versi... manusia?
Seorang laki-laki tampan berkulit gelap, berambut panjang hitam legam, mengenakan jubah mewah. Wajahnya tenang tapi sedih.
Dia berjalan perlahan di lorong—menatap mereka satu per satu.
"Kalian pikir aku monster sejak awal?" suaranya tidak lagi menggelegar. Suara normal. Suara... manusia.
"Aku dulunya adalah manusia," lanjutnya sambil terus berjalan. "Manusia yang saleh. Manusia yang mengabdi pada Allah. Tapi aku... dikhianati. Dibunuh secara zalim. Dan dalam kematianku, aku berubah. Menjadi... ini."
Dia berhenti di depan Rizwan.
"Kau dan aku tidak berbeda, Rizwan," ucapnya dengan nada sedih. "Sama-sama korban. Sama-sama terperangkap dalam takdir yang tidak kita pilih."
Rizwan menatap sosok itu dengan tatapan sulit dijelaskan. "Tapi aku tidak membunuh orang tak bersalah. Aku tidak mengurung jiwa-jiwa untuk kekuasaan."
Sosok Malik Azhraq itu tersenyum pahit. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya... hidup berabad-abad dalam kebencian. Dalam kesepian. Dalam... kegelapan."
Lalu dia menatap Zahra.
"Tapi kamu," ucapnya pelan, "kamu berbeda. Kamu punya kekuatan. Punya kebencian yang sah—pada ayah yang meninggalkanmu, pada ibu yang berbohong, pada takdir yang tidak adil. Tapi kamu... memilih cahaya."
Zahra tidak menjawab. Hanya menatap.
"Itu sebabnya aku kalah," lanjut sosok itu. "Bukan karena kamu lebih kuat. Tapi karena kamu... memilih dengan benar."
Sosok itu perlahan memudar—seperti asap yang tertiup angin.
"Selamat jalan, anak Rizwan. Semoga kamu tidak berakhir seperti aku."
Dan dia menghilang sepenuhnya.
Hening.
Lorong rumah sakit itu perlahan berubah. Dinding putih menjadi cahaya. Lantai keramik menjadi awan.
Dan di ujung lorong, muncul pintu besar bercahaya putih.
"Itu pintu keluar," Rizwan berkata lemah. "Kita harus lewat sana. Sekarang."
Mereka berjalan—perlahan—menuju pintu itu.
Setiap langkah terasa berat. Seolah ada sesuatu yang menarik mereka kembali.
Tapi mereka terus berjalan.
Zahra menopang ayahnya di satu sisi. Bu Le di sisi lain. Gus Azka berjalan di depan, membuka jalan.
Sepuluh meter.
Lima meter.
Satu meter.
Gus Azka membuka pintu itu—
FLASH!
Cahaya putih terang menyilaukan memenuhi pandangan mereka.
Zahra menutup mata. Merasakan tubuhnya ditarik dengan kuat—seperti terhisap oleh pusaran air.
Dan tiba-tiba—
***
Zahra terbangun dengan tersentak.
Dia berbaring di atas tanah. Tanah berumput. Udara segar. Matahari terik menyinari wajahnya.
Dia membuka mata—langit biru cerah. Awan putih bergerak perlahan.
"Ughh..." dia mencoba duduk. Tubuhnya pegal semua. Kepalanya pusing.
Di sampingnya, Bu Le juga mulai sadar. Merintih pelan.
"Bu Le?" Zahra langsung menghampiri.
"Zahra... kita... kita di mana?" Bu Le mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya.
Zahra menatap sekeliling—dan tercekat.
Mereka ada di halaman Pesantren Al-Falah. Tapi bukan dimensi gaib. Ini dunia nyata.
Reruntuhan bangunan. Ilalang tinggi. Sumur tua yang sekarang hanya lubang kosong tanpa air.
"Kita... keluar," bisik Zahra tidak percaya. "Kita berhasil keluar."
"Gus Azka? Ayah?" Zahra langsung mencari.
Beberapa meter dari mereka, Gus Azka terbaring terlentang, napasnya terengah-engah. Dia sadar, tapi lelah.
Dan di sampingnya—
Kyai Rizwan.
Terbaring lemah, mata terpejam, napas tertahan.
"AYAH!" Zahra berlari menghampiri.
Dia berlutut di samping ayahnya. Memeriksa napas—masih ada, tapi sangat lemah.
"Ayah, bertahanlah," Zahra menangis sambil menggenggam tangan ayahnya yang kurus. "Kita sudah keluar. Kita sudah selamat. Bertahanlah..."
Rizwan membuka matanya perlahan. Menatap Zahra dengan tatapan lembut.
"Zahra... anakku..." suaranya hampir tidak terdengar.
"Jangan bicara dulu, Ayah. Hemat tenaga," Zahra menghapus air matanya.
"Ayah... bangga padamu," bisik Rizwan dengan senyum tipis. "Sangat... bangga..."
"Ayah akan baik-baik saja," Zahra mengangguk sambil menangis. "Kita akan pulang. Ayah akan bertemu ibu. Kita akan jadi keluarga utuh."
Rizwan tersenyum—senyum yang penuh kedamaian.
Lalu matanya perlahan menutup.
"Ayah? AYAH!" Zahra mengguncang tubuh ayahnya.
Tapi Rizwan tidak menjawab.
Bu Le yang sudah bisa berdiri langsung menghampiri. Memeriksa nadi Rizwan di leher.
Wajahnya pucat.
"Zahra..." bisiknya dengan suara bergetar.
"Tidak," Zahra menggeleng keras. "Tidak, Bu Le. Ayah tidak boleh—"
"Dia masih hidup," Bu Le memotong cepat. "Tapi sangat lemah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Sekarang."
Gus Azka yang sudah bangkit dengan susah payah langsung mengeluarkan ponselnya. Menelpon ambulans.
"Tolong... Pesantren Al-Falah... ada orang sekarat... cepat!"
Zahra memeluk tubuh ayahnya yang kurus—menangis dalam pelukan.
"Bertahanlah, Ayah. Kumohon. Jangan tinggalkan aku sekarang. Tidak setelah semua ini."
Di kejauhan, Haji Usman berlari menghampiri mereka dengan wajah penuh kelegaan dan kekhawatiran.
"Alhamdulillah! Kalian keluar! Kalian—"
Dia berhenti melihat Rizwan yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Ya Allah... Rizwan..."
Haji Usman langsung berlutut, mengangkat kepala Rizwan dengan lembut.
"Bertahan, Rizwan. Bertahan. Kamu sudah bebas. Jangan menyerah sekarang."
Zahra terus menangis—menangis lega, menangis takut, menangis berharap.
Mereka berhasil keluar.
Tapi perjuangan belum selesai.
Kyai Rizwan masih harus bertarung—untuk bertahan hidup.