PESANTREN ANGKER

Bab 08. Kepergian

Setelah Umar pergi, Zahra merapikan barang, bersiap pergi. Tak lama, Khadijah datang. 

 

"Zahra,” Khadijah berjalan dengan sedikit ringkih lalu duduk di tempat tidur putrinya. “Kamu benar-benar mau pergi hari ini?"

 

"Bapak sudah bilang begitu," sahut Zahra. "Dan aku memang berniat pergi, Bu."

 

"Kamu sungguh akan pergi ke Lamongan. Tidak pergi ke rumah kakek nenekmu saja?" 

 

"Zahra ingin segera mencari tahu tentang ayah.” Zahra menatap ibunya lekat. Melihat kekhawatiran di wajahnya. “Jadi akan langsung pergi ke pesantren Kyai Taufiq. Zahra ingin tahu apa yang terjadi pada Ayah."

 

Khadijah menggigit bibir. "Ibu takut… Zahra. Kalau kamu mencari ayahmu, kamu mungkin akan menemukan hal-hal yang membuatmu makin sakit."

 

Zahra menggeleng pelan. "Yang paling sakit sudah terjadi kemarin, Bu. Setelah ini Zahra rasa apa pun akan lebih mudah ditanggung."

 

Khadijah menutup wajahnya dengan tangan. Air mata mulai jatuh lagi. Tidak rela melepas putrinya pergi. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat banyak. 

 

"Kalau Zahra tetap di sini," lanjut Zahra, suaranya tenang tapi tegas, "Zahra hanya akan jadi aib yang tersembunyi. Jadi bahan bisikan. Setiap hari dikasih makan tapi dibenci dalam diam. Zahra tidak sanggup, Bu. Dan Zahra tidak mau ibu ikut direndahkan karena status Zahra sekarang."

 

Khadijah mengangguk paham. "Ibu tidak menahanmu, Nak. Ibu hanya khawatir. Tapi kalau ini jalan yang kamu pilih, Ibu akan doakan di setiap sujud."

 

Dia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah dompet kecil yang berisi amplop putih yang sudah agak kusut.

 

"Ini…" Khadijah menyerahkan dompet itu ke Zahra. "Uang tabungan Ibu selama ini. Tidak banyak. Tapi setidaknya cukup untuk ongkos ke Lamongan dan beberapa hari di sana."

 

"Bu…" Zahra menggeleng. "Ibu pakai saja. Ibu butuh."

 

"Ibu masih punya sedikit simpanan lain. Kamu yang tidak punya apa-apa sekarang." Khadijah memaksa menyelipkan dompet itu ke tangan Zahra. "Ambil. Kalau kamu menolak, Ibu tersinggung."

 

Zahra akhirnya mengangguk, menerima. Air matanya mulai menggenang lagi.

 

"Dan ini…" Khadijah merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah tasbih kayu cokelat yang sudah mengkilap karena sering digenggam. "Tasbih ayahmu. Dulu dia tinggalkan di pesantren sebelum pergi. Kyai Taufiq yang mengembalikan ke Ibu. Ibu simpan, menunggu saat yang tepat untuk diberikan padamu."

 

Zahra menerima tasbih itu dengan tangan bergetar. Saat jemarinya menyentuh butir-butirnya, ada sensasi aneh—dingin, lalu hangat. Seolah ada sesuatu yang berputar halus di dadanya.

 

"Ini punya Ayah?" bisik Zahra.

 

Khadijah mengangguk. "Dia selalu memakainya saat meruqyah. Dia bilang, bukan tasbihnya yang punya kekuatan, tapi dzikir yang mengalir bersamanya. Pegang ini. Pakai buat dzikir. Kalau kamu takut baca shalawat. Baca Ayat Kursi. Jangan lepas dari Allah, Zahra. Apapun yang akan kamu hadapi nanti."

 

Zahra menggenggam tasbih itu erat. "Insya Allah, Bu."

 

Mereka berdua berpelukan lama. Pelukan yang berat—seperti ingin mengganti semua pelukan yang kurang selama bertahun-tahun tinggal di rumah yang dingin ini.

 

***

 

Menjelang siang, Zahra sudah siap dengan ransel kecil di punggung, tas selempang berisi dompet, foto ayah, dan tasbih di tangan. Dia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, merapikan kerudung abu-abunya.

 

Wajah Zahra masih tampak letih, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya: arah.

 

Zahra menoleh ke ranjang. Foto ayahnya dia masukkan ke plastik bening dan disimpan di saku gamis, dekat dengan dada.

 

"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Zahra pelan. "Bismillah, ya Allah. Jagalah Ibu. Jagalah aku. Jagalah langkahku."

 

Saat dia turun ke bawah, Aisyah menunggu di depan pintu. Wajahnya tampak sedih.

 

"Kamu sudah siap?" tanya Aisyah.

 

"Sudah."

 

Aisyah meraih tangan Zahra, menggenggam erat. "Kalau sampai Lamongan, kabari aku ya. Jangan putus kontak."

 

Zahra tersenyum kecil. "Iya. Kamu juga jaga diri. Jaga kandungan. Jangan terlalu capek."

 

Aisyah mengangguk, air mata mulai mengalir. "Maaf… aku tidak bisa berbuat banyak. Aku cuma bisa doa—"

 

"Itu sudah paling besar," jawab Zahra. "Doamu mungkin satu-satunya yang tulus untukku dari rumah ini."

 

Dari ruang tamu, terdengar suara dehem halus.

 

Kyai Syamsul berdiri di sisi ruang tamu, tangan di belakang punggung. Wajahnya tenang, tidak marah tapi juga tidak hangat.

 

"Kamu sudah mau berangkat?" tanyanya.

 

"Iya, Pak," jawab Zahra, menunduk sopan.

 

"Baik." Kyai Syamsul mengangguk sekali. "Bapak doakan semoga kamu dapat jalan yang lebih baik. Ingat pesan Bapak tadi pagi. Jaga nama baik. Jaga diri. Dan… jangan terlalu sering sebut-sebut hubungan keluarga kita. Untuk kebaikan kita bersama."

 

Zahra menelan pahit. "Baik, Pak."

 

Nyai Siti muncul dari dapur, tersenyum tipis sambil mengelap tangan dengan lap. "Mbak Zahra, semoga lancar perjalanannya. Insya Allah diberi jalan terbaik oleh Allah. Ibu Siti doakan dari sini."

 

Kata-katanya sopan. Tapi Zahra tahu, tidak ada ketulusan di baliknya.

 

"Terima kasih, Bu," jawab Zahra singkat.

 

Khadijah berdiri di belakang, memegang ujung kerudungnya, berusaha tidak menangis lagi. Zahra menatap ibunya, lalu menunduk.

 

"Zahra pamit, Bu," ucap Zahra pada ibunya dan semua orang di rumah itu. “Assalamualaikum.”

 

"Waalaikumsalam," beberapa suara menjawab dengan nada datar. Umar mengangguk dari kejauhan, tangan kanannya terangkat pelan sebagai isyarat doa dan salam.

 

Zahra melangkah keluar dari rumah.

 

Begitu melewati gerbang pesantren Nurul Huda, angin siang menerpa wajahnya. Langit cerah, tapi ada awan tipis menggantung di ujung mata. Di kejauhan, suara santri mengaji dari mushola kecil terdengar melengking, indah sekaligus menyesakkan.

 

Zahra berhenti sejenak di depan gerbang. Menoleh sekali ke belakang.

 

Rumah besar dengan papan nama "Kediaman Kyai Syamsul Hadi - Pengasuh Pesantren Nurul Huda" berdiri megah. Tempat itu telah menjadi saksi air matanya selama dua puluh satu tahun.

 

"Terima kasih untuk semua luka yang mengajarkan aku tempat satu-satunya untuk pulang hanyalah Allah," batin Zahra.

 

Dia menghela napas, lalu melangkah pergi.

 

Di dalam tas selempangnya, tasbih Rizwan bergesekan pelan. Di langit yang tampak biasa saja, seekor burung hitam melintas, berputar sebentar di atas atap pesantren lalu terbang mengikuti arah langkah Zahra.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!