Pesantren, Jalan Petualangan
Tenang
BAB 2 Tenang
“Aduh! Sakit..,” rengek Satria, teman bermain Ahsan.
“Ya, San. Terimakasih atas semua penjelasanmu.”
“Terimakasih, Ahsan, kamu anak yang mulia,” tutur Satria.
“Ica, belinya harus online. Ayah belum pulang, Ibu menunggu Ayah, ya.” ibu menenangkan terus Ica.
“Pingin sekarang...!” rengek Ica.
“Assalamu’alaikum.” Salam Ahsan.
“Wa’alaikum salam,” jawan ibu dan Ica serentak.
“Kenapa menangis, adikku?” Ahsan berdiri di depan Ica.
“Pingin mainan yang di iklan TV, Kak,” jawab Ica dengan nada memelas.
“Nanti pakai tabungan Kakak aja, ya,” hibur Ahsan.
“Terimakasih, Kakak.” Ica kelihatan gembira lagi mendengar jawaban kakaknya.
Ahsan masih asyik berbincang dengan Ica.
Ahsan membuang pandangan jauh ke depan rumah, biar Ica tidak malu.
“Iya, Kak. Ica nggak jadi beli mainan itu,” balas Ica.
“Alhamdulillah,” ucap Ibu dan Ahsan serentak.
“Alhamdulillah, nikmat sekali.” seru Ahsan.
“Jadi ingat temannya Kakak, Kak Satria,” eluh Ica.
“Coba hafalkan surah At-Tin.” Ahsan mulai mengecek hafalan Ica.
Ica mulai menghafal surah At-Tin dengan pelan tapi bisa selesai lengkap.
“Alhamdulillah, dah lengkap. Nggak usah ragu menghafalnya.”
Ibu sudah selesai menyiapkan roti bakar untuk Satria..
“Roti bakar sudah selesai,” ucap ibu.
“Mas Ahsan, mau kemana?” tanya ibu Satria.
“Mau ke rumah Satria, Bu,” jawab Ahsan.
“Mari...” Ibu Satria menyilakan.
Dari jauh, nampak Satria sedang menjemur pakaian kedua adiknya.
“Wa’alaikum salam. Eh, kamu....Silakan masuk,” ajak Satria.
Ahsan meletakkan kardus berisi roti bakar di atas meja tamu.
“Ini ada titipan roti bakar dari ibu.”
“Ya, Allah, merepotkan Ibumu. Terimakasih, Ahsan,” ucap Satria.
“Kamu nyuci baju kedua adikmu?” Ahsan ingin tahu baju yang dicuci Satria.
“Iya, makasih sekali. Tolong sampaikan ke Ibu, ya,” pesan Satria.
“Aku pamit, ya. Assalamu’alaikum,” ijin Ahsan.
“Wa’alaikum salam, hati-hati, ya.”
Ica bersalaman dengan ayah. Ayah menyambutnya dengan gembira.
“Ayah dapat oleh-oleh dari kantor, tolong dibawa masuk.” Ica menerima bungkusan makanan dari ayah.
“Bu, ini oleh-oleh Ayah.” Ibu langsung membuka bungkusan itu.
“Wah..., roti yang lezat,” gumam ibu.
Kakak mendekat ke ibu. Kemudian mengambil beberap iris roti.
“Betul sekali, lezatnya....” Puji Ahsan.
“Alhamdulillah, ya, Kak, Allah selalu memberi rezeki kepada keluarga kita,” ucap Ica.
“Ibu, aku sudah berani tidak berpegangan lagi.” Jelas Ica sembari mencoba terus.
“Semangat terus, Ica,” seru ibu.
“Ayo.” Ibu dan Ica keluar dari kolam renang.
Ica mengambil satu botol minuman untuk ayah dan kakak Ahsan.