Pesantren, Jalan Petualangan

Tenang

BAB 2 Tenang

"Suka membantu yang lemah sangat dianjurkan. Memberi makanan, pakaian, uang jajan membantu sekali bagi orang lain yang membutuhkan. Tidak sombong dengan orang lain. Karena sombong sangat tidak disukai Allah."

 

 

Gelar “Sang Juara” sudah diperoleh Ahsan. Tapi, tidak menjadikannya sombong dengan teman-temannya, baik teman di rumah maupun teman sekolah. Malah menjadikan diri Ahsan tambah menghargai teman.

“Aduh! Sakit..,” rengek Satria, teman bermain Ahsan.

“Kenapa?” tanya Ahsan.

“Aku dituduh mengambil uang si Feri. Padahal yang mengambil bukan aku, tapi teman dekat Feri sendiri. Lalu, aku dicubit oleh Feri,” tutur Satria.

Ahsan menghibur Satria, agar dia tidak membenci Feri. “Kita sebagai anak Islam, tidak boleh dendam kepada orang lain. Misal orang tersebut berbuat jahat, maka kita harus bisa memaafkannya. Walaupun orang yang berbuat jahat tidak minta maaf kepada kita. Kita harus bisa meneladani Allah dan Rasulnya,” jelas Ahsan penuh semangat.

“Ya, San. Terimakasih atas semua penjelasanmu.”

Satria, teman main di komplek rumah Ahsan. Keluarga Satria tergolong keluarga miskin. Bapaknya bekerja seadanya, ibu mencari nafkah dengan mencuci dan menyetrika baju milik orang. Kedua adiknya masih kecil-kecil. Tatkala ibu Satria sedang bekerja, kedua adik Satria dititipkan di rumah Nenek. Rumah Nenek berdekatan dengan rumah Satria. Satria anak yang paham dengan kondisi keluarga. Dia sebagai anak sulung, apabila hari libur, Satria rela bekerja tanpa malu. Ahsan melihat Satria dengan sangat salut. Masih bersekolah mau seperti itu. “Satria, ini uang tabungan sedikit untuk beli jajan kamu dan adik-adik. Apabila kamu butuh pertolongan, jangan sungkan untuk bilang denganku. Insya Allah, aku akan bantu sebisaku,” ujar Ahsan.

“Ya, Allah. Kamu anak orang kaya tapi tidak pernah sombong denganku yang serba kekurangan. Aku juga salut sekali padamu, Ahsan.” Puji Satria.

Keduanya, saling berpelukan. Tak ada pemisah antara kaya dengan miskin, semuanya adalah ciptaan Allah.

“Terimakasih, Ahsan, kamu anak yang mulia,” tutur Satria.

Ahsan menganggukan kepala sembari menepuk bahu Satria. Kemudian, Ahsan berpamitan untuk pulang ke rumah.



Ica sedang menangis di depan TV. Iklan TV, membuat Ica tertarik dengan produknya. Ibu bingung, karena ayah belum sampai rumah.

“Ica, belinya harus online. Ayah belum pulang, Ibu menunggu Ayah, ya.” ibu menenangkan terus Ica.

“Pingin sekarang...!” rengek Ica.

Ahsan baru sampai di rumah.

“Assalamu’alaikum.” Salam Ahsan.

“Wa’alaikum salam,” jawan ibu dan Ica serentak.

Ahsan menghampiri adiknya.

“Kenapa menangis, adikku?” Ahsan berdiri di depan Ica.

“Pingin mainan yang di iklan TV, Kak,” jawab Ica dengan nada memelas.

“Nanti pakai tabungan Kakak aja, ya,” hibur Ahsan.

“Terimakasih, Kakak.” Ica kelihatan gembira lagi mendengar jawaban kakaknya.

“Lain kali, kalau ada iklan di TV jangan mudah tertarik. Tadi, Kakak baru dari tempat Satria. Dia dan keluarga sangat kekurangan ekonomi,” jelas Ahsan.

“Terus?” Ica penasaran.

“Kakak berikan sedikit uang. Kasihan mereka, tiap hari semua anggota keluarganya harus mencari uang untuk membeli bahan makanan. Tidur malam mereka juga masih memikirkan makan untuk keesokkan harinya. Kita harus lebih bersukur kepada Allah, karena Ayah bisa mencari uang yang berlebih,” lanjut Ahsan.

“Iya, Kak. Kita tidak boleh boros, lebih baik kita sumbangkan kepada teman kita yang kekurangan,” jawab Ica.

Ahsan mengancungkan jempol tangan kanannya. Ibu tersenyum sendiri mendengar perbincangan Ahsan dan Ica.

“Semoga Allah selalu membukakan hati mereka, agar suka membantu teman yang ekonominya lebih di bawah mereka.” Doa ibu.

Ahsan masih asyik berbincang dengan Ica.

“Ica sekarang sudah paham dengan harta, bahwa kita tidak boleh menghambur-hamburkan harta. Kira-kira Ica masih mau beli benda yang di iklan TV?” Ahsan ingin tahu reaksi Ica. Seketika Ica terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Ahsan. Wajah Ica kelihatan bingung, “Beli apa nggak, ya?”

Ahsan membuang pandangan jauh ke depan rumah, biar Ica tidak malu.

“Iya, Kak. Ica nggak jadi beli mainan itu,” balas Ica.

“Alhamdulillah,” ucap Ibu dan Ahsan serentak.

Ibu sangat senang, Ahsan bisa memberi merayu Ica. Ahsan juga sangat bersukur, bisa merubah keinginan adiknya dengan tidak menjadikan Ica kecewa dan menangis.

“Kak Ahsan dan Ica, jajan kesukaan kalian sudah siap.” Ibu menghidangkan jajan kesukaan Ahsan dan Ica. Ahsan dan Ica langsung menyerbu hidangan di meja makan. Kesukaan mereka roti bakar buatan ibu.

“Alhamdulillah, nikmat sekali.” seru Ahsan.

“Jadi ingat temannya Kakak, Kak Satria,” eluh Ica.

“Habis Asar insya Allah Ibu siap membuat roti bakar. Tolong, Kak Ahsan siap menjadi kurir roti bakar,” pinta ibu.

“Oke, Ibuku,” girang Ahsan.

Sehabis salat Asar, ibu mulai membakar beberapa roti bakar. Ahsan menunggu ibu sembari membaca dan menghafal beberapa ayat Al-Quran. Lumayan, bisa menambah hafalannya di sekolah. Ica meniru apa yang kakaknya kerjakan. Setelah selesai menghafal, Ahsan mengetes hafalan adiknya, Ica.

“Coba hafalkan surah At-Tin.” Ahsan mulai mengecek hafalan Ica.

Ica mulai menghafal surah At-Tin dengan pelan tapi bisa selesai lengkap.

“Alhamdulillah, dah lengkap. Nggak usah ragu menghafalnya.”

“Iya, Kak. Makasih.”

Ibu sudah selesai menyiapkan roti bakar untuk Satria..

“Roti bakar sudah selesai,” ucap ibu.

Ahsan siap menghantarkannya ke rumah Satria. Ahsan membawa kardus berisi roti bakar. Rumah Satria lumayan jaraknya, kira-kira ada dua puluh rumah dari rumah Ahsan. Dengan hawa udara masih lumayan panas, Ahsan berjalan pelan. Di tengah perjalanan Ahsan bertemu dengan ibu Satria.

“Mas Ahsan, mau kemana?” tanya ibu Satria.

“Mau ke rumah Satria, Bu,” jawab Ahsan.

“Mari...” Ibu Satria menyilakan.

Dari jauh, nampak Satria sedang menjemur pakaian kedua adiknya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Eh, kamu....Silakan masuk,” ajak Satria.

Ahsan meletakkan kardus berisi roti bakar di atas meja tamu.

“Ini ada titipan roti bakar dari ibu.”

“Ya, Allah, merepotkan Ibumu. Terimakasih, Ahsan,” ucap Satria.

“Kamu nyuci baju kedua adikmu?” Ahsan ingin tahu baju yang dicuci Satria.

“Iya, Ibu bekerja mencuci dan menyetrika di rumah orang. Bapak sedang menjadi tukang parkir, pulangnya sampai malam. Kasihan mereka.” Satria menceritakan semua.

“Kamu anak yang berbakti. Insya Allah, ada balasan dari Allah. Roti bakarnya tidak banyak, paling buat kamu bertiga dengan adik.”

“Iya, makasih sekali. Tolong sampaikan ke Ibu, ya,” pesan Satria.

“Aku pamit, ya. Assalamu’alaikum,” ijin Ahsan.

“Wa’alaikum salam, hati-hati, ya.”



Seperti biasa, ayah sering sampai di rumah saat salat Isa. Saat Ibu, Ica dan Ahsan habis selesai salat Isa, mereka mendengar mobil parkir di depan rumah. Ica segera keluar menghampiri ayah. “Ayah,” sapa Ica.

Ica bersalaman dengan ayah. Ayah menyambutnya dengan gembira.

“Ayah dapat oleh-oleh dari kantor, tolong dibawa masuk.” Ica menerima bungkusan makanan dari ayah.

“Makasih, Yah.” Ica melangkah dengan cepat, membawakan bungkusan itu ke ibu. Hati Ica senang, ayah membawakan sesuatu yang membuat bahagia hati Ica.

“Bu, ini oleh-oleh Ayah.” Ibu langsung membuka bungkusan itu.

“Wah..., roti yang lezat,” gumam ibu.

Kakak mendekat ke ibu. Kemudian mengambil beberap iris roti.

“Betul sekali, lezatnya....” Puji Ahsan.

“Alhamdulillah, ya, Kak, Allah selalu memberi rezeki kepada keluarga kita,” ucap Ica.

“Iya,” balas Ahsan.



Di hari minggu semua anggota keluarga ikut berenang semua. Ibu sudah mempersiapkan bekal makanan dari rumah. Ica mulai berani dengan masuk kolam renang. Dengan didampingi ibu, Ica sedikit mulai paham dengan gerakan renang.

“Ibu, aku sudah berani tidak berpegangan lagi.” Jelas Ica sembari mencoba terus.

“Semangat terus, Ica,” seru ibu.

Ayah berenang di kolam berbeda. Area kolam renang di Bekasi dipisah antara kolam renang laki-laki dewasa dengan perempuan dewasa. Demikian juga untuk kolam anak-anak laki-laki berbeda dengan kolam anak-anak perempuan. Ahsan berenang di kolam dewasa. Dengan gaya renangnya yang sangat indah, banyak orang terkagum. Ahsan kuat dengan lintasan yang panjang. Lumayan lama waktu yang digunakan untuk berenang. Mereka sampai merasa lelah. “Ibu, kita ke bilas yuk,” pinta Ica.

“Ayo.” Ibu dan Ica keluar dari kolam renang.

Mereka bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah rapi, ibu mengajak Ica untuk makan di area makan. Bekal makanan, sudah dititipkan di bagian kasir depan. Tidak lama mereka menunggu ayah dan Ahsan. Ayah dan Ahsan sudah merasakan letih. “Ica, tolong ambilkan minum untuk Ayah,” pinta ayah.

Ica mengambil satu botol minuman untuk ayah dan kakak Ahsan.

“Terimakasih,” ucap ayah dan Ahsan serentak.

Dengan semangat, mereka makan bekal makanan dengan lahap. Setelah semua selesai makan, Ica ngobrol dengan Ahsan. “Jadi ingat Kak Satria,” celutuk Ica. “Sama, aku juga,” balas Ahsan. Ibu dan ayah tersenyum bangga. “Kalian harus lebih bersyukur, karena Allah memudahkan rezeki untuk keluarga kita.” Jelas ibu. “Iya, Bu,” jawab Ahsan dan Ica.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!