Pesantren, Jalan Petualangan
Survey Sekolah
BAB 3 Survei Sekolah
“Ayah lama sekali.” Rasa penat dalam hati Ahsan terus muncul.
Wali murid mulai kelihatan, pertanda pembagian rapor sudah selesai.
“Ayah, lama sekali?” tanya Ahsan penasaran.
“Nggak, karena kamu naik ke kelas enam maka ada beberapa nasihat.” jelas ayah.
“Ini rapor kamu.” Ayah menyerahkan rapor kepada Ahsan.
“Alhamdulillah, ranking satu lagi,” ucap Ahsan gembira.
“Alhamdulillah, bahasa Arab mendapatkan nilai 100.”
“Berarti ada bakat masuk pesantren,” goda ayah.
Sampai di rumah, Ahsan mencari ibunya.
“Ibu di mana?” Ahsan masih terus mencari keberadaan ibu.
“Ibu di belakang, sedang bersih-bersih,” seru ibu.
Ahsan membuka pintu kaca, lalu melangkah ke belakang mendekati ibu.
“Wah, alhamdulillah, Nak. Nilaimu bagus sekali. Bahasa Arab 100,” kagum ibu.
“Sudah siap semua, Yah,” lapor Ahsan.
“Oke, kita berangkat sekarang dengan membaca doa.” Ayah memimpin doa bersama.
“Ayah, sudah dimulai salatnya,” jelas Ahsan.
“Yuk, kita ambil air wudhu,” perintah ayah.
“Kak, Ica mau seperti Kak Ahsan. Sekolah di pesantren,” gurau Ica sambil ketawa kecil.
Ayah, ibu, dan Ahsan tersenyum semua mendengar pernyataan Ica.
“Untuk tes hafalan, harus berapa juz, Tadz?” tanya ayah dengan semangat.
“Ya, Nak. Jarak dari rumah kita dekat ke pesantren Kafila.”
Suasana pesantren serasa tenang, walaupun posisinya di tengah kota.
“Menarik sekali, Tadz. Untuk pendaftaran caranya bagaimana?” Ayah bertanya lagi.
“Tanggal pendaftaran sudah tertulis di situ, Pak,” lanjut ustadz.
“Oke, sudah siap semua melanjutkan perjalanan?” ayah mengecek kesiapan semuanya.
“Sudah siap semua, Yah,” jawab Ahsan.
“Kalau ayah mengantuk, mobil berhenti dulu saja, ya.” usul Ahsan.
“Ya, Nak. Gak perlu khawatir.” jawab ayah dengan halus.
Baru beberapa kilometer perjalanan, ternyata Ica sudah tertidur bersandar ke ibu.
“Ayah tadi tertarik dengan Pesantren Kafila. Semoga kamu bisa mendaftar ke sana."
“Kak, bangun! Sudah sampai.” Ibu membangunkan Ahsan.
Ahsan menggeliatkan badan, meluruskan kedua kaki yang capek karena posisi duduk.
“Iya, Ibu. Ahsan sudah bangun,” jawab Wisnu.
Ica mulai membuka mata. “Dah bangun, Ica?” sapa ibu.
“Udah, Ibu.” jawab Ica dengan mata masih belum membuka maksimal.
“Kita sudah nyampai di pesantren lagi,” jelas ibu.
“Ini pesanternnya, Kak?” tanya Ica ingin tahu.
“Iya, Ica. Papan nama tadi tertulis nama pesantrennya.” Ahsan menunjuk papan nama pesantren.
“Bangunannya tinggi dan besar, seperti pesantren tadi, ya, Kak?” sambung Ica.
“Tinggi karena harus bisa menampung banyak santri, beribu-ribu.” Tegas Ahsan.
“Ica, ayo turun,” seru Ahsan dari luar mobil.
Ahsan dan Ica mengikuti ayah. Di dalam mobil ayah mengecek kesiapan keluarga.
“Sudah siap semua?” ayah mengecek lagi semua anggota keluarga.
Ahsan duduk di samping ayah. Dia masih menikmati jalanan yang ramai.
“Wauw...Jauhnya.” Tampang Ahsan kaget mendengar jawaban dari ayah.
“Ingat hadis Rasulullah SAW, “Carilah ilmu meskipun di negeri China”.
Jarak bukanlah halangan, karena mencari ilmu hukumnya adalah wajib.” Tegas ayah.
“Iya, Ayah. Ahsan sudah pernah dikasih pelajaran hadis itu di sekolah.”
“Iya, Yah. Banyak hal yang baru kulihat,” terang Ahsan.
“Alhamdulillah, dah masuk Bogor. Kita langsung menuju pesantren.” Wajah ayah kelihatan senang.
“Ibu, Ica. Kita dah sampai pesantren.”
Mereka langsung menuju masjid yang ada di lingkungan pesantren.
“Kakak, gak tidur?” tanya Ica.
“Gak, Ica. Kakak, nemanin ayah menyupir,” tutur Ahsan.
Ica meneruskan membaca buku cerita anak sampi tuntas.
“Ayah lama sekali!” Ica mulai gelisah. Sambil melihat ke ruang informasi.
“Kak Ahsan malah tidur, Bu. Ica asyik dengan bukunya,” kata Ahsan.
“Wah.., asyik sendiri-sendiri ternyata,” canda ayah.
“Kita langsung pulang?” tanya Ahsan.
“Iyalah. Kalau mau main, besok aja hari minggu.” Perintah ayah.
Ayah memutar arah mobil dengan hati-hati.
“Kalau pulang, biasanya lebih cepat,” gurau ayah sambil tersenyum.