Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Maaf

Mbak Mun— si ART, nyaris kabur. Tapi pergelangan tangannya dicekal Qale. Sorot matanya ketakutan, tubuh senja itu sedikit gemetar.

"Mau kemana, Mbak!" Suaranya pelan tapi sinis.

"Non Qale nggak nakal, kok. Nggak ngerti apa-apa. Buat saya, Non Qale nggak salah..." suaranya tercekat, takut oleh tatapan tajam Qale. "Saya cuma—"

"Qale! Ngapain kamu di situ?!"

Suara Hasan Sasmita meletup. Ia muncul dari balik pintu dapur setelah menutup teleponnya. Tatapannya menyapu mereka berdua dengan curiga.

Mbak Mun makin terlonjak. Keringat dinginnya muncul. 

Hasan maju cepat, menyelip di antara mereka. "Lepasin. Dia mau bersihin kamar Lea. Kakakmu nanti sakit kalau banyak debu, dia mau nikah, Qale," sergah sang ayah, menepuk lengan putrinya beberapa kali.

Dengan terpaksa, Qale melepaskan cekalannya.

"Bereskan kamar Lea," perintah Hasan dingin, membuat Mbak Mun menunduk ketakutan. Dia pun gegas pergi.

Qale menarik napas berat. Ikut melangkah masuk begtu saja, dia malas ribut dengan ayahnya.

Hasan masih beridri di dapur, matanya mengekori langkah Qale. Lalu kepada ART lain, dia berujar pelan, "Suguhkan banyak makanan ke Qale. Biar dia istirahat di kamar ... dia nggak boleh deket-deket sama Mbak Mun lagi. Ngerti?!"

Langkah Hasan menjauh, seiring anggukan ART lainnya. 

Sementara di dalam kamar, kalimat Mbak Mun bergema di otak Qale.

["Non Qale nggak nakal…”]

Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum ia temukan.

Namun, kepalanya mendadak nyeri. Pusing itu datang lagi. Dia terduduk di kasur, lalu merebahkan diri dan mulai memejamkan mata.

Kantuknya perlahan datang meski otaknya masih riuh. Lamat terdengar, suara lembut itu kembali datang.

["Tidur ya. Ibu ketemu Tuhan duluan, biar bisa minta malaikat jagain kamu. Ada aku juga … jangan takut.”]

Qale tersenyum sendu, samar. Dia lalu meringkuk seperti tengah dipeluk. Tubuh mungilnya rapuh, seperti dulu.

“Tata. Jangan pergi," suaranya lirih.

Satu kata itu meluncur dari bibirnya. Panggilan untuk seseorang.

Entah siapa, tapi rasanya hangat.

***

Pagi harinya, Qale tak langsung ke toko. Dia menghubungi karyawan barunya, meminta untuk buka lebih dulu. Kunci cadangan ia tinggalkan di bawah pot karena lupa memberitahukan kemarin.

Saat sarapan diantar ke kamar, Qale makin curiga. Rumah ini seperti menjauhkannya dari semua orang. Bahkan sekedar sapa pun dibatasi. 

Ketika keluar kamar pun, Lea menyambutnya dengan cibiran.

“Kasian suaminya. Udah lumpuh, ditinggal-tinggal pula.”

Qale menatapnya datar. “Yang lumpuh cuma kaki, bukan hati. Dia justru yang ngajarin aku berani.”

Hasan ikut menimpali dari meja makan. “Kamu tuh sudah nikah tapi ke mana-mana tetap sendiri. Suami macam apa begitu?”

“Aku cuma mandiri, Yah. Bukan gelandangan.”

“Dipantau pawang, ditemani m-banking. Cukup teteg, kok.” Qale tertawa kecil lalu pamit.

Qale memutuskan ke tempat kedua menggunakan ojol. 30 menit kemudian, Qale tiba di bangunan putih dengan papan bertuliskan "Sumber Waras". Admin di sana telah menghubunginya dan meminta Qale datang pagi ini.

Saat masuk, Qale disambut seorang perempuan muda berseragam abu. "Selamat pagi. Sudah siap bertemu konselor?” tanya sang admin.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita berkacamata muncul dan mempersilakan Qale masuk.

Ruangan itu wangi lavender. Ada kursi panjang, lampu temaram, dan sebuah bandul kecil di atas meja.

Aroma itu ... seperti membawa kenangan. Qale tak asing dengan ruangan ini.

Konselor duduk bersisian dengan Qale di sofa panjang. Dia tersenyum saat berkata, “Apa yang Anda cari, Nona?”

“Ketakutan… yang perlahan datang,” jawab Qale pelan.

“Soal?”

“Semuanya. Terutama ingatan samar tentang ibu. Tentang suara, crayon … dan kata maaf. Kali ini aku takut.”

Karena?"

Entah mengapa, Qale menangis begitu saja, kali ini sampai sesenggukan. Tangis lemah yang pertama kali dia perlihatkan di depan orang asing. 

Tidak, dia tidak merasa asing. Seolah menemukan sosok yang dicari. Tangis itu juga seperti milik Qale kecil yang dikurung terlalu lama.

Tangisnya pecah. Tapi tak memekakkan. Hanya lemah, pecah perlahan seperti hujan pertama.

Konselor itu mendekat, memeluk Qale erat. Menepuk bahunya pelan.

“Kamu enggak sendiri, Qalesya.”

Tak ada suara lain selain tangis menyayat Qale, hingga beberapa menit ke depan. 

Sang konselor lalu menyerahkan sebuah tablet. Ada file yang siap dibuka. Di layarnya tertera :

Qalesya Namari Hasna.

“Kalau kamu sudah siap,” ujar sang konselor lembut, “maafkan dirimu … lalu tekan play.”

Tangan Qale gemetar. Dia mencoba beberapa kali mengetik password. Tapi gagal.

Lalu jari-jarinya berhenti. Qale menatap layar, menghapus semua huruf ... dan mengetik :

MAAF.

File terbuka.

Layar menampilkan video lawas.

Seorang anak kecil duduk di kursi itu. Meringkuk, menggenggam boneka kecil—bonekanya yang dulu hilang. Wajahnya penuh rasa takut. Matanya sembab.

[“Aku cuma disuruh. Disuruh. Ibu ... jangan marah.”]

[“Maafin aku.”]

Qale tak bisa berkata-kata. Jantungnya seolah berhenti. Jari-jarinya memucat mencengkeram lutut. Bibirnya bergetar. Dan boneka itu kini tampak mengerikan. Video itu terlalu sunyi, tapi menghantam terlalu keras.

Tangisnya pecah lagi. Tapi kali ini ... tanpa suara. Hanya air mata yang jatuh, lambat tapi dalam.

Di hadapannya, kebenaran ditelanjangi. Dia menutup mata, menengadahkan wajah. 

Hening.

Hanya suara detak jarum jam yang terdengar … dan pelan-pelan, dia menarik napas—seperti belajar hidup lagi.

“Aku … jahat?” gumamnya lirih. Matanya menatap konselor itu, sendu, seperti anak kecil yang ditinggalkan teman bermainnya.

Sang konselor menggenggam tangannya.

"Kamu bukan pelaku, Lesa. Kamu cuma ... kamu masih kecil.”

Qale menggigit bibirnya. Napasnya putus. Tapi dadanya terasa ringan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya...

Qalesya Namari Hasna menemukan luka itu, bukan untuk melupakan, tapi memaafkan dirinya.

"Jadi aku? Bukan-"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!