Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Pingsan

Kepanikan terdengar di toko. Rini tetap melayani pembeli sedangkan Nadia gegas mencari ojek online yang mangkal di sekitaran toko.

Tak lama, Qale digotong 3 karyawan Anak Lipat ke mobil.

Suara monitor berdetak lembut di ruang rawat itu.

Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, membentuk garis-garis keemasan di lantai.

Ria masih duduk di pojok, matanya sembab, sementara perawat menata ulang cairan infus di sisi ranjang.

Qalesya terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya pelan tapi teratur. Bau antiseptik bercampur samar dengan aroma kue mentega yang masih menempel di ujung apron yang baru saja Ria tanggalkan.

Pintu terbuka pelan.

Wafa masuk tergesa, masih dengan jas kerja setengah terbuka, dasi longgar, dan wajah panik.

Dia menelpon tepat ketika Qalesya baru saja masuk ruang perawatan. Ria tak menjawab panggilan itu, tapi dia mengirimi Wafa pesan melalui ponsel Qale.

“Mana istriku?” suaranya parau, panik.

Ria bangkit, menyilakan Wafa duduk. “Pak … tadi udah sadar sebentar, tapi masih lemas banget. Dokter baru aja keluar,” ucapnya cepat, suaranya gemetar.

Wafa menatap Qale lama. Hatinya mencelos.

Ia tak ingat kapan terakhir kali menatap wajah polos tak berdaya itu sedekat ini. Dirinya terlalu sibuk mengurusi kantor.

Sekarang Wafa merasa bersalah bahwa wanita yang ia cintai sampai lupa waktu, sedang tergeletak di ranjang dengan selang infus menancap di tangan.

Ia menatap Ria dan perawat yang masih menunggu di dekat pintu.

“Boleh saya bicara dengan dokternya sebentar?” suaranya pelan tapi tegas.

Beberapa menit kemudian, seorang dokter perempuan datang menghampiri. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya lembut tapi sorot matanya penuh tanda tanya serius.

“Pak Wafa?” sapanya.

Wafa mendekat, menjabat tangan sang dokter sebelum menjawab, “Iya, Dok. Gimana kondisi istri saya?”

Dokter itu mengajak Wafa bicara di ruangannya. Dia berjalan lebih dulu. Setelah duduk. Dokter membuka berkas di atas meja.

“Secara umum, beliau kelelahan berat, dehidrasi, dan kurang tidur. Tapi … ada satu hal lain yang perlu saya sampaikan pada Anda.”

Wafa menegakkan tubuhnya, wajahnya tegang. “Apa maksudnya?”

Dokter itu menatapnya dalam. Lalu tersenyum ramah. “Istri Anda sedang hamil, Pak. Sekitar dua minggu.”

Waktu berhenti.

Wafa menatap dokter itu lama, seolah tak paham kalimat yang baru saja ia dengar.

“Hamil?” ulangnya pelan, lirih, seperti sedang mencoba memastikan apakah itu mimpi.

Dokter mengangguk.

“Ya. Dan kondisi kelelahan seperti yang dia alami bisa berisiko kalau tidak dijaga dengan benar. Tolong pastikan beliau makan teratur, istirahat cukup. Untuk sementara, hindari stres dan jangan terlalu lama berdiri.”

Ada keheningan panjang. Wafa hanya mengangguk kaku, mencoba menelan haru yang menyesak di tenggorokannya.

Dokter memaklumi reaksi Wafa. Dia mewanti agar Wafa menebus vitamin tambahan untuk Qalesya.

Setelah keluar dari ruangan dokter, Wafa kembali ke kamar perawatan dan menatap Qale dalam diam. Dia meminta Ria meninggalkan kamar itu.

Ruangan terasa hening, hanya suara detak mesin yang terdengar lembut. Ritmenya sama dengan degup dadanya sendiri yang tiba-tiba terasa hidup kembali.

Perlahan, ia berjalan ke sisi ranjang, menunduk, lalu duduk di kursi kecil di sampingnya. Jari-jarinya menyentuh punggung tangan Qale yang dingin.

“Aku sampai lupa, hari ini tanggal berapa…” bisiknya lirih. “Padahal setiap hari aku lingkari kalender itu," kekeh Wafa getir. 

Qale tiba-tiba membuka mata perlahan.

Wajahnya masih pucat, tapi senyum kecil muncul di bibirnya. “Mas…”

Wafa langsung mencondongkan tubuh, menggenggam tangan Qalesya. “Aku di sini, Sayang. Istirahat dulu, ya.”

Qale menggeleng pelan. "Aku kenapa?"

"Kecapekan, dan aku lalai..." kata Wafa dengan sorot mata sendu.

“Pesanan makin banyak, kuliah belum beres, kursus juga mau ujian praktek. Aku pengin semuanya selesai biar fokus belajar dan nggak malu-maluin Mas," cicit Qale takut-takut melihat tatapan suaminya.

Namun, kata-kata Qale barusan justru membuat dada Wafa terasa ditusuk. Suaranya parau saat menjawab sang istri, “Justru aku yang harusnya malu. Aku sibuk sampai lupa, kamu juga lagi berjuang tiap hari. Kamu nggak pernah minta apa pun, tapi aku ....”

Qale menatapnya dengan mata berkaca.

“Mas jangan nyalahin diri sendiri…”

“Nyatanya gitu, Sya,” potong Wafa lirih, matanya memerah. “Karena aku nggak ada waktu buat jagain kamu padahal aku tahu kamu lelah banget.” Wafa mengecup punggung tangan Qale pelan. Terlihat sekali bahwa dia menyesal.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi. Wafa menarik napas panjang, seolah baru mengingat sesuatu. Ia menatap lembut Qale, soort matanya bergetar, antara bingung dan bahagia.

“Sayang…” suaranya lirih. 

"Ehmm."

“Dokter bilang kamu hamil.”

Qale membeku. Pupil matanya melebar.

Tangannya refleks menutup mulut, seolah takut kata itu terlalu suci untuk diucapkan sembarangan.

“H-ha… hamil?” suara Qale nyaris tak keluar.

Wafa mengangguk, lalu tertawa pelan, disusul satu helaan napas panjang penuh lega. “Iya. Kamu dengar kan, Sayang? Kamu hamil…”

Air mata Qale jatuh tanpa bisa ia tahan.

Bukan karena takut, tapi karena terlalu banyak rasa campur jadi satu, syok, bahagia, tak percaya, dan lega.

Tangannya yang lemah menggenggam jari Wafa. “Mas… beneran?”

“Beneran,” jawab Wafa sambil tersenyum, menatapnya lembut. “Dan aku nggak mau ada siapa pun dulu yang tahu. Biar momen ini cuma buat kita berdua dulu. Nanti, kalau kamu udah kuat, baru kita kasih tahu semua orang.”

Qale memandang Wafa lama, menelusuri wajah suaminya itu yang kini makin hangat, penuh rasa. Kali ini, dengan senyum yang benar-benar merekah, Qale bertanya, “Mas bahagia?”

Wafa memegang pipinya lembut.

“Lebih dari bahagia.”

Wafa mengecup kening Qale.

“Kamu kuat banget, Sayang. Terima kasih udah bertahan sejauh ini.”

Qale tersenyum kecil.

“Terima kasih juga udah sayang aku, Mas.”

Wafa membelai rambut istrinya pelan. “Mulai sekarang, nggak ada lagi kata sibuk, nggak ada lagi lupa makan. Oke?”

Qale mengangguk pelan, menutup mata, air matanya jatuh lagi.

Wafa tersenyum lebar. Membatin, perempuan yang dulu ia kira sekadar pendamping, kini jadi pusat semesta kecilnya.

Ia menunduk, berbisik di telinga Qale dengan suara paling lembut yang pernah keluar dari bibirnya, “Selamat Sayang … calon mama.”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!