Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Pasukan mentega
Dua minggu berlalu sejak kejadian itu.
Rumah di pusat kota kini terasa lebih hidup dari biasanya. Suara sendok beradu dengan cangkir kopi pagi, aroma roti panggang lembut memenuhi udara, dan di ruang tamu, Qalesya duduk di kursi empuk dengan bantal kecil menyangga pinggangnya.
Di depannya, Hasan tengah mengupas buah sambil sesekali melirik Qale yang sibuk melihat cara membuat kue untuk resep barunya. Kali ini, croissant dengan tambahan madu jahe yang katanya aman untuk bumil.
“Pelan-pelan aja, Lesa,” tegur Hasan lembut.
Qale terkekeh. “Tangan gatal, Yah. Kalau nggak nyoba bikin, rasanya kayak ada yang hilang.”
Winda muncul dari dapur dengan nampan berisi cangkir teh jahe.
“Yang hilang itu sabarmu, Sayang,” selorohnya.
Semua tertawa kecil. Suasana rumah itu, jadi benar-benar terasa damai.
Wafa masuk beberapa saat kemudian, membawa laptop dan beberapa berkas. Ia batal ke kantor lebih awal, hal yang mulai sering ia lakukan sejak tahu Qale hamil.
“Laporan udah aku serahin ke tim, biar mereka yang rapat,” katanya sambil duduk di sebelah istrinya. “Hari ini, prioritas utamaku cuma kamu.”
Qale menatapnya, sorot mata keheranan muncul. “Mas ... kek gitu tuh, gak apa-apa emang?”
“Sudah biasa ... Aku lagi pengen banyak bersyukur di sisimu,” jawab Wafa pelan.
Hasan yang duduk di seberang mereka hanya tersenyum mengangguk. Dia menyodorkan piring berisi buah segar untuk putrinya.
Dia menilai, ada sesuatu di setiap cara sang menantu kala menatap istrinya, kini pandangan itu terlihat penuh kelembutan dan tidak terkesan lebay.
***
Sementara itu di toko Croissant Anak Lipat, suasana juga mulai stabil kembali.
Nadia sibuk memotret varian rasa Croissant untuk konten mereka. Sementara Ria berdiri di belakang meja display, mengatur susunan croissant rujak buah yang kembali jadi primadona.
Di tengah kesibukan itu, pintu kaca terbuka perlahan.
Bakar muncul dengan kaus putih dan jaket hitam setengah terbuka, langkahnya santai, tapi matanya tampak lelah.
“Assalamu’alaikum, wahai pasukan mentega,” sapanya dengan nada setengah malas, setengah menggoda.
Ria tanpa sadar tersenyum. “Wa’alaikum salam, Tuan Riang Gembira.”
Bakar tertegun sesaat, lalu menatap lurus ke arah Ria. Dia Pura-pura tidak tahu. “Maksudmu?”
“Hmm,” Ria mengangkat alis. “Bukannya itu tulisan Pak Bakar, ya? Kemarin?”
Ria kemudian menyerahkan sebotil air mineral dingin. “Minum dulu,” ucapnya pelan. Sedikit takut dan ragu karena Bakar hanya diam.
Bakar menatap Ria sejenak sebelum menerima gelas itu. “Kamu tahu aja yang aku butuh.”
“Insting pegawai lama,” sahut Ria pura-pura santai. Tapi matanya masih menyimpan rasa segan dan takut pada Bakar.
Bakar meneguk air tadi sambil melangkah ke sofa di sudut ruangan. Dia lalu meletakkan botol itu di meja. “Kalau gitu, aku titip satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kalau nanti Nyonyah kueh sudah sehat ... tolong bilangin aku mau bantu suplai bahan langsung dari gudang. Biar dia nggak capek mikirin stok.”
Ria mengangguk.
Tapi saat Bakar beranjak pergi, ia sengaja menjatuhkan secarik kertas kecil di bawah meja. Tulisan tangannya lagi, sedikit berbeda dengan yang kemarin.
[“Rasa manis bukan dari gula. Tapi dari orang yang bikin kamu nunggu tanpa sadar.”]
Kali ini, Ria yang langsung membereskan meja bekas Bakar.
Dia lalu menyapu lantai dan menemukan kertas putih terlipat di bawah meja. Ria pun mengambil dan membukanya.
Dahinya mengernyit sambil membaca, seolah sedang mencerna maksud dan tujuan isi tulisan di kertas yang dia pegang.
Sore harinya, Qale duduk di taman belakang rumah, menikmati semilir angin dengan segelas susu hangat.
Wafa datang membawa selimut kecil, lalu duduk di sebelahnya.
“Aku baru dapat kabar dari Ria,” kata Qale. “Toko udah jalan lancar lagi. Katanya si Bakar nawarin mau bantuin juga.”
Wafa menoleh pelan, matanya hangat. “Baguslah. Berarti semuanya bener-bener mulai pulih, Sayang,” balasnya sambil memeluk Qale.
Qalesya mengangguk pelan. Diam-diam, jemari mereka saling menggenggam tangan dua hati yang pernah nyaris melepaskan, kini perlahan menata harapan bersama lagi.
Dan di atas langit jingga itu, waktu seolah berbisik lembut, bahwa cinta tak selalu datang dalam wujud baru. Kadang ia cuma perlu diingatkan kembali ke rasa.
***
Keesokan hari di toko.
Nadia baru datang. Dia langsung membuka laptopnya.
Tiba-tiba.
Bunyi notifikasi bertubi-tubi dari kotak masuk pesan, memecah keheningan.
Nadia hafal nada khasnya, jadi dia hanya menunggu suara notif berakhir.
Namun, alangkah terkejutnya dia kala membuka kotak pesan itu. Wajahnya mendadak pucat.
“Ri ... Ria… ini kenapa orderan masuk kok beruntun banget?”
Ria mendekat. Matanya langsung melebar menatap layar.
Sistem pre-order yang biasanya otomatis aktif tiap Jumat ternyata belum dipause sejak Qale dirawat. Semua pesanan masuk tanpa filter. Dapur cuma punya bahan setengah stok.
“Wadduuhh…” Ria menepuk dahinya. “Kalau Pak Wafa tahu, beliau pasti suruh tutup toko dulu," tebak Ria cemas.
“Terus kita gimana?” tanya Nadia panik.
Ria menghela napas dalam. Ia menatap layar, lalu mencoba mengambil keputusan cepat.
“Jangan bilang ke Pak Wafa atau Kak Qale dulu. Biar kita yang urus. Kita bisa atur ulang, atau minimal jawab pelanggan dulu,” kata Ria mantap.
Nadia mengangguk, meski sedikit deg-degan. Mereka segera berlari ke dapur. Mengecek semua bahan yang masih ada dan habis.
Kejadian ini membuat Nadia panik. Dengan jari gemetar, dia mematikan fitur pre-order sementara waktu.
Nadia berusaha ramah menjawab semua pesan dari pemesan. Tapi, lama-lama dia capek juga sehingga "judesnya" terlihat bahkan terasa dalam kalimat yang dia ketik.
Di luar, matahari mulai turun, dan aroma adonan mentega hangus samar tercium dari dapur yang kurang kontrol padahal ada Rini.
Dan di antara semua notifikasi pesanan yang berdenting tanpa henti,
Ria sempat menatap selembar kertas kecil yang dia temukan tadi.
"Apa ya maksudnya? Buat siapa dan kenapa dia nulis ginian? gumam Ria sambil melihat sekeliling. Adakah seseorang yang bisa dia curigai.
.
.