Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Masa lalu Bakar
Bakar memandangi foto mantan istrinya yang berpulang saat covid lalu. Mereka baru saja menikah. Kesepakatan pernikahan tanpa adanya momongan sebab Risya takut ditinggal sendirian mengasuh anak mereka, mengingat pekerjaan Bakar yang tak kenal waktu.
Wanita yang Bakar nanti selama 10 tahun, akhirnya tumbang karena kelelahan saat merawat para korban covid di rumah sakit.
Nyaris satu bulan Risya diisolasi. Dan berakhir meregang nyawa tanpa Bakar di sisinya. Bakar putus asa, teramat sakit hingga air mata pun tak mampu keluar.
Bulan ini, momen kepergian Risya. Biasanya dia meminta cuti selama 2 pekan pada Wafa. Pergi ke pemakaman di desa, merawat rumah pohon mereka dan menghabiskan waktu hingga perayaan ultah Risya sebelum pulang ke Jakarta lagi.
"Dia sepertimu. Irit bicara, tapi loyalitas tanpa batas pada Qalesya."
"Risyaku sayang ... sangat bahagiakah di sana? Sampai kau enggan menemuiku di mimpi setelah hari itu?"
"Ataukah kau malas melihat wajahku sebab aku pun tak melihatmu pergi?"
Bakar menunduk, kedua lengannya menopang wajah, menitikkan air mata. 5 tahun sudah, tapi rasa sakitnya tak kunjung berkurang.
"Aku ... Rindu." Bahunya bergetar halus, suara Bakar terdengar serak dan berat. Lelaki itu tertunduk lesu di pusara sang istri. "Kamu marah padaku, kah?" lirihnya pilu.
Usai berziarah, ia melangkah ke rumah pohon di belakang rumah singgah mereka. Tangga kayunya mulai rapuh, tapi aroma daun basah masih sama.
Di dinding dalamnya, kalender 2020 masih tergantung, dengan lingkaran merah di tanggal ulang tahun Risya. Bakar menatapnya lama.
Di meja kecil, ada sisa cangkir teh yang sudah berdebu. Ia duduk, menyalakan lilin kecil seperti yang dulu selalu dilakukan Risya tiap ulang tahun.
Api itu menari lembut, memantul di matanya yang basah.
“Kau bilang ingin kita tua di sini, Ris,” gumamnya. “Tapi aku malah menua sendirian.”
Tangannya menggenggam tepi meja erat-erat. “Andai waktu bisa ditukar … aku rela kehilangan sepuluh tahun hidupku, asal bukan kamu yang pergi dulu.”
Lilin itu padam, meninggalkan aroma khas sumbu yang terbakar. Bakar duduk di sudut, memandangi semua mimpi yang mereka bingkai, kini ikut terkubur bersama Risya.
Sudah hampir seminggu Bakar tak muncul di toko.
Ria mulai terbiasa menatap pintu toko setiap kali bel pintunya berdenting, hanya untuk mendapati kurir, pelanggan, atau distributor lewat. Bukan dia.
Bukan sosok yang malam-malam datang diam-diam, lalu membantu tanpa banyak tanya.
Sore itu, saat Ria sedang mencatat pesanan di buku besar, telepon toko berdering. Dari ujung sana, suara seorang pria terdengar lembut tapi canggung.
“Mbak, ini dari gudang. Mau nanya soal Pak Bakar ... kan belum bisa kerja, nah, saya ngasih nota tagihannya ke siapa?"
Ria masih diam mendengarkan.
"Selama ini, kami cuma diberitahu nomer Pak Bakar dan toko Anak Lipat saja," ujarnya cemas sebab tagihan sudah sangat banyak.
"Oh gitu, ke sini aja, Pak. Sekalian kami catat juga di pembukuan," jawab Ria sambil mencatat total tagihan toko.
"Ada barang beliau ketinggalan di kami. Nanti saya bawa sekalian," pungkas si sales di ujung sana.
Ria terdiam sejenak. “Oh... iya, Pak. Terima kasih infonya.”
Telepon ditutup. Tapi hatinya justru terasa aneh. Ada semacam rasa kosong yang tak bisa dijelaskan.
Sore itu, sales tadi datang ke toko. Membawa sebuah pena yang keliatan mahal. Wajar bila dia mengira itu milik Bakar.
Setelah Ria mengirimkan nomer virtual account untuk pembayaran tagihan pada Wafa. Sales tadi bertanya sesuatu pada Ria.
Katanya, "Di bagian belakang kartu nama Pak Bakar ada tulisannya. Saya penasaran sama artinya, coba Mbak baca."
Ria menerima uluran kertas kecil lusuh itu. Saat dibalik, ada sebaris kalimat yang ditulis tangan.
"Bagaimana kalau bahagia itu cuma bisa dirasakan sebentar ... sebelum seseorang pergi?” lirih Ria saat membacanya.
Ria menatap lama tulisan itu. Menelan ludah yang terasa pahit. Hatinya menolak menafsir, tapi pikirannya berisi, ada apa sebenarnya dengan Bakar?
"Entah, Pak. Mungkin sebuah kutipan quote saja," kat Ria cengengesan sambil mengembalikan kartu nama tadi.
Malamnya, Ria duduk di ruang belakang toko. Lampu temaram, aroma kopi hitam mengepul dari mug.
Ia teringat kembali tulisan di kartu nama Bakar tadi. Juga dua kertas yang dia temukan kemarin. Ria membaca ulang tiap goresan kalimat rapi itu.
Ria seolah sedang membaca penggalan kata mutiara tentang harapan, doa juga keraguan.
“Hidup itu bukan soal berapa lama kita tertawa, Pak. Tapi seberapa lama kita bisa tetap setia pada yang pernah membuat kita tersenyum," gumamnya sambil menyeruput kopi.
Bibirnya bergerak pelan, “Mungkin, setia pun bisa jadi bentuk duka, ya...”
Ria membawa kopinya ke depan, menatap keluar jendela toko. Hujan turun perlahan, membasahi trotoar di depan sana.
Entah kenapa, ia berharap ada seseorang berdiri di bawahnya, menatap toko ini diam-diam.
Suasana toko sedang sepi. Nadia tidur di kamar belakang sementara Rini sibuk melipat box kue.
“Kau aneh sekali, Pak Bakar … tapi kenapa aku jadi kangen, sih.” Ria melukis senyum, mengingat sosok tegap sedikit nyeleneh itu.
Sementara itu di kediaman Qalesya.
Wafa duduk bersandar di kepala ranjang, laptop terbuka di pangkuannya. Qalesya rebahan di dekatnya dengan selimut menutupi perut yang mulai membuncit.
Notifikasi email masuk. Ia membuka, dan matanya langsung menegang, laporan dari asprinya yang lain.
Satu pelanggan influencer mengunggah review negatif soal Anak Lipat. Soal kelambatan pelayanan.
Qalesya melirik suaminya. Dia ikut membaca isi laporan tersebut dan meminta Wafa mengklik tautan yang tersemat di sana.
Saat di buka, Qalesya diam mengamati setiap komentar. Tapi yang membuat Wafa terpaku bukan isi keluhan itu. Dia mulai cemas, takut istrinya stres lagi.
Namun, Qale terlihat tenang. Bibir mungil istrinya itu pelan-pelan melengkung senyum. Qale menunjuk ke sebuah komentar anonim.
Di bagian bawah caption keluhan tadi, ada satu komentar unik.
[“Kadang, pemimpin terbaik bukan yang menuntut sempurna ... tapi yang bisa membuat orang lain tetap percaya kalau mereka masih berarti.”]
Qalesya memandangi layar lama. Ia tak tahu harus marah, tersentuh, atau bersyukur. Kalimat itu sederhana, tapi mengubah cara ia memandang semua yang terjadi.
Ia menatap Wafa yang terdiam, lalu bergumam pelan, “Terima kasih, ya. Aku sayang kalian.”
Qalesya menutup laptop suaminya. Meminta Wafa tidak memarahi mereka atas kesalahannya.
"Tanpa ketiga karyawan di toko kecilku itu. Apalah arti seorang Qalesya," ucapnya pelan.
Wafa menghela napas. "Tadinya mau kutegur sebab memutuskan sepihak tanpa persetujuanmu, Sayang," balasnya.
"Boleh, tapi nggak sekarang. Beri mereka ruang dan rasa terima kasih dulu, Mas," pinta Qale meringkuk menempeli suaminya. "Mereka berkorban demi aku. Agar nama Anak Lipat tak lagi tercoreng."
Wafa mengangguk, memandangi wajah perempuan yang kini membawa hidup baru dalam kesehariannya.
Wafa lalu mematikan lampu tidur di nakas, sementara Qale bergumam setengah sadar menyebut namanya. Terdengar seksi di telinga Wafa.
Dia pun bergelung, memeluk tubuh istrinya lalu mulai menutup mata.
Mereka semua sedang belajar hal yang sama. bahwa cinta tidak hanya tentang siapa yang tinggal, tapi juga tentang siapa yang tetap percaya ... meski sedang lelah.
.
.