Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Si Lima pekan
Pagi itu toko mulai ramai lagi. Ria sibuk mengecek stok kemasan baru, sementara Qalesya memeriksa hasil konten promo yang mulai naik performanya. Wafa datang lebih sering, sesekali membantu mengecek sistem keuangan.
Suasana toko terasa berbeda—lebih hidup, tapi tetap meninggalkan ruang kosong yang belum tergantikan.
Nama itu masih sesekali disebut dalam percakapan ringan, selalu diakhiri senyum samar.
“Nanti kalau Pak Bakar balik, aku mau marahin dia dulu baru ku interogasi,” kata Ria setengah kesal sambil menata rak.
Wafa yang lewat cuma nyengir. “Kalau dia balik, tolong bilang, kita semua kangen.”
Bel pintu berdenting pelan.
Seorang pria berjaket denim masuk, wajahnya teduh tapi terlihat letih. Ia menatap sekeliling toko dengan ekspresi aneh—antara mencari, mengenang, dan ragu.
Ria sempat menyapanya dengan senyum sopan.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?”
Pria itu mengangguk kecil, menatap papan nama di dinding yang bertuliskan Anak Lipat.
“Saya … cuma mau ngopi, nyobain yang ori," ujarnya menunjuk etalase.
Wafa menoleh, mengenali suaranya. Dan benar saja. Dia semringah saat tahu sosok yang berdiri membelakanginya.
"Bre!"
Pria itu menoleh. "Fa!" Wajahnya seketika cerah. Dia gegas menyongsong Wafa sambil tertawa.
Keduanya berpelukan lalu Wafa mengajaknya duduk.
"Nyampe juga," kata Wafa ketika Ria menyajikan pesanan pria tadi.
"Sekedar memastikan, ini toko yang pernah disebut Bakar juga,” balasnya sambil melihat sekeliling.
Ria spontan menegakkan badan saat kembali ke meja kasir. Mengamati keduanya. Otaknya berpikir, ternyata mereka saling kenal.
Pria itu membuka dompetnya, lalu tanpa sengaja, selembar foto kecil jatuh ke kolong meja. Foto Wafa, dia dan seorang wanita sedang tertawa di depan pohon besar.
Qalesya menghampiri suaminya. Dia mematung sesaat, lalu menatap pria di hadapannya pelan.
“Itu … foto kalian?”
"Sayang ... dia, Daniel kawanku saat kuliah. Dia baru pindah lagi ke sini," terang Wafa. Dia lalu mengenalkan Qale pada Daniel.
Pria itu tersenyum sendu.
“Kita bertiga temenan.” Di masih menatap foto itu, matanya bergetar. “Aku sengaja balik ke Jakarta ... pengen mampir ke toko istrinya Wafa juga Bakar bilang kalau toko ini tempatnya melepas lelah.”
Ria yang masih memperhatikan mereka, tertegun. “Pak Bakar? Kenal juga?”
Daniel tertawa kecil, menatap sekitar toko.
“Iya. Katanya, tempat ini bikin dia ngerasa masih punya rumah.”
Hening sebentar. Hanya suara mesin pengaduk adonan terdengar di belakang.
Ria menarik napas, lalu mendekat ke mereka. Dia penasaran. "Dia cuti lama keknya," cicit Ria.
Daniel menatap kosong ke arah jendela, rintik hujan mulai jatuh pelan.
“Aku tahu, aku ke sini karena pasti dia sendirian.”
Ria terdiam. Ada sesuatu di nada suaranya—campuran antara kehilangan dan rasa bersalah.
Daniel menatap Wafa lagi, mencoba tersenyum.
“Tapi kalau boleh, Fa ... aku pengen nunggu dia di sini. Siapa tahu, kalau Bakar tahu aku di sini, dia bakal balik.”
Wafa mengangguk. Dia lalu mengajak Daniel menemui Winda di rumah sekalian antar Qale pulang untuk istirahat.
Hujan baru saja reda ketika Daniel kembali datang ke toko Anak Lipat. Jaketnya masih basah di ujung lengan, aroma tanah basah terbawa masuk bersama langkahnya.
Ria sedang menata pesanan di etalase depan. Ia menoleh, menatap pria itu dengan sedikit terkejut tapi menyembunyikan senyumnya.
“Mas Daniel … balik lagi?” tanyanya sambil menyeka tangan dengan kain lap.
“Iya,” jawab Daniel pelan. “Aku cuma … pengin duduk sebentar. Di sini tenang.”
Ria mempersilakan, membuatkan segelas kopi dingin seperti biasanya ia tawarkan ke pelanggan yang datang sore-sore.
Daniel menatap dinding toko, melihat croissant di rak, papan nama di pojok ruangan, dan foto kecil yang menggantung di sana.
Ada sesuatu di sorot matanya, antara rindu dan kehilangan yang belum selesai.
“Bakar belum balik, ya?” tanyanya kemudian.
Ria menggeleng sambil menaruh kopi di meja. “Belum. Entah sampai kapan.”
Daniel mengangguk pelan. Ia menatap kopi di hadapannya, lalu bergumam hampir tak terdengar,
“Dia biasanya hadir di hari penting ini…”
“Hari penting?” Ria mencondongkan badan sedikit.
Daniel terdiam. Bibirnya sempat bergerak, lalu menutup lagi.
“Aku biasanya ke tempat itu bareng dia, tapi tadi ke sana … nggak ada dia.”
Ria menatap pria itu lekat-lekat, penasaran. “Tempat apa maksudnya?”
Daniel tersenyum kaku. “Ah, maaf, aku kebanyakan cerita. Aku cuma … kangen teman lama.”
Ria tak ingin mendesak, tapi diamnya Daniel justru membuat hatinya penuh tanda tanya.
Saat ia hendak beranjak, Daniel menatapnya lembut.
Daniel tersenyum kecil, lalu matanya kembali menerawang jauh. “Kami dulu bertiga. Aku, Wafa, dan ... dia.”
Kalimat itu terhenti di udara. Ia sadar dirinya hampir menyebut sesuatu yang tak seharusnya.
“Dia siapa?” tanya Ria tanpa sadar.
Daniel memejamkan mata sesaat, lalu menatap Ria sambil tersenyum samar. “Seseorang yang sangat baik. Tapi biarlah, bukan cerita untuk hari ini.”
Ria mengangguk pelan, meski hatinya terus menggali, siapa seseorang yang ia maksud.
Daniel meneguk kopinya, lalu berdiri. “Kalau nanti dia datang, sampaikan salamku, ya.”
“Pak Bakar?”
“Iya. Bilang aja, Daniel masih di sini. Masih di tempat yang sama.”
Ria tersenyum tipis. “Nanti saya sampaikan.”
Saat Daniel melangkah keluar, Ria memperhatikan punggungnya yang menjauh di balik tirai hujan tipis.
Ada kesan yang aneh, seolah setiap orang yang mengenal Bakar, membawa sedikit luka yang belum sempat sembuh.
Sementara itu, di rumah sakit ibu dan anak, suasana lebih hangat.
Qalesya duduk di ranjang periksa dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Wafa menggenggam tangannya erat. Hasan dan Winda berdiri di sisi lain, menatap layar monitor USG dengan mata berbinar.
“Selamat, Bu Qalesya. Janinnya sehat, usia memasuki lima minggu,” kata dokter sambil tersenyum.
Winda spontan menutup mulut menahan haru. Hasan menepuk bahu menantunya pelan.
“Cucu pertama, Fa…” bisiknya nyaris serak.
Qalesya menatap layar, matanya berkaca-kaca. Ada sesuatu di sana, kecil, samar, tapi nyata. Kehidupan baru yang kini bergantung padanya. “Terima kasih, ya."
“Kita yang berterima kasih,” balas Wafa lembut, mencium punggung tangan istrinya.
Setelah dari rumah sakit, Hasan meminta izin mampir ke lapas tempat Lea ditahan. Dia melangkah masuk membawa beberapa buah tangan.
Lea menatap ayahnya saat di ruang jenguk. Matanya sayu tapi ada semangat di sana.
“Gimana Qale?” tanyanya spontan, suaranya sedikit bergetar.
“Baik,” jawab Hasan pendek, mencoba tak memancing kecurigaan Lea.
Lea tersenyum tipis, tapi ada nada getir yang sulit disembunyikan. “Belum hamil?”
Hasan diam. Ia tak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke meja, seolah mencari kalimat yang tak akan menyakiti.
Lea menangkap diam itu. Senyum tipisnya perlahan pudar. “Oh…”
.
.