Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Tuhan pilih kasih?
Lea menunduk, jari-jarinya memainkan ujung lengan baju tahanan yang sudah mulai lusuh.
Matanya berkaca, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Baguslah,” gumamnya pelan. “Berarti dia bahagia, ya?”
Hasan menelan ludah. “Iya, Nak. Bahagia.”
Suaranya bergetar, berat menahan perasaan yang campur aduk, antara lega dan iba.
Lea mengangguk pelan, menatap kosong ke arah kaca pemisah di depannya.
“Kadang aku mikir, Yah ... Tuhan tuh pilih siapa yang pantas dikasih bahagia duluan, ya? Kayak giliran gitu.”
Hasan diam. Kata-kata itu membuat dadanya sesak. Ia ingin bilang bahwa kebahagiaan bukan giliran, tapi rahmat. Tapi kalimat itu terasa hambar di hadapan putrinya yang terpenjara.
“Lea...” suaranya lirih. “Kamu juga akan punya giliran. Asal mau kembali yakin sama RahmatNya lagi.”
Lea tersenyum tipis. Nadanya sumbang, "Dunia aja kayaknya udah tutup pintu buat aku.”
Hasan menunduk. Ia tahu, tak ada nasihat yang bisa menghapus keraguannya. Ia hanya bisa menggenggam tangan putrinya dari balik kaca. “Dunia mungkin tutup pintu, tapi langit enggak,” katanya pelan.
Lea menatap tangan ayahnya, lalu berbisik,
“Kapan aku hamil, Yah?” Nadanya lirih, nyaris seperti doa yang hilang arah. “Aku pengin juga punya alasan buat terus hidup, kayak Qale.”
Tangannya turun ke perutnya sendiri, mengusapnya pelan. Tatapannya kosong, seolah berbicara pada dirinya yang lain.
Hasan menelan ludah, lalu mencoba tersenyum meski lemah. ”Kalau sudah waktunya, Lea," ujarnya pelan.
Lea mengangguk kecil. Suaranya serak. "Lagi-lagi, nunggu maunya Tuhan,” pungkasnya dengan seringai tipis khas Lea.
Keheningan menggantung beberapa detik. Hasan tak sanggup berkata banyak, hanya memandang anak perempuan di depannya.
“Lea…” suaranya nyaris patah. “Kamu masih punya waktu. Tuhan belum selesai denganmu."
Tapi Lea hanya tersenyum pahit tapi matanya berkaca-kaca. “Aku nggak tahu harus ngomong apa.”
Waktu kunjungan habis. Hasan menepuk lembut punggung tangan putrinya lalu bangkit berjalan keluar.
Saat di ambang pintu ruang kunjungan, ia sempat menoleh lagi.
Lea masih di sana, menatap kosong ke arah langit-langit, seolah berbicara pada janin yang tak pernah tumbuh di rahimnya.
Hasan trenyuh, hatinya teriris sembari bergumam, “Jangan hilang harapan. Kadang yang kita tunggu bukan datang dalam bentuk yang sama.”
***
Malamnya, di toko Anak Lipat, Ria menutup buku pembukuan.
Ada Daniel di sana, masih duduk di kursi dekat jendela, menatap hujan yang turun perlahan.
“Masih betah?” tanya Ria lembut.
“Iya,” jawab Daniel. “Entah kenapa, tempat ini bikin aku susah pulang.”
Ria tersenyum samar. “Toko ini memang punya efek gitu kayaknya. Banyak orang betah walau capek.”
Daniel tertawa kecil. “Mungkin karena yang ngelola juga punya hati.”
Ria menunduk, pura-pura sibuk membereskan gelas. “Aku kan cuma jaga warung, Mas.”
“Tapi yang dijaga bukan cuma warung, kan?”
Nada Daniel lembut, tapi menyentuh. “Kamu juga jaga harapan atau bahkan kenangan.”
Ria menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Iya, mungkin. Karena beberapa kenangan... masih betah melekat.”
Daniel ikut tersenyum, lalu berdiri. Ia menatap rak yang dipenuhi roti dan kue. “Aku pengen bilang satu hal aja.”
“Apa?” tanya Ria.
“Bahwa nggak semua yang pergi itu pecundang. Kadang, mereka cuma terlalu rindu, tapi nggak tahu caranya bilang.”
Ria tertegun. Kalimat itu menancap pelan di dadanya.
Saat Daniel melangkah keluar, bel pintu berdenting lembut.
Ria menatap punggungnya yang menghilang di bawah hujan. Benar, kadang ego dan gengsi membatasi ekspresi rasa.
Dia gegas berkemas, lalu mematikan lampu dan menutup toko.
***
Keesokan hari.
Langit kampung itu dilapisi awan tebal, seolah tahu ada sesuatu yang hendak diselesaikan di bawahnya.
Daniel memarkir mobilnya di tepi jalan tanah, di depan lahan yang hanya terdapat pohon Flamboyan besar. Rumah pohon Risya.
Aroma tanah basah bercampur wangi daun jatuh yang mulai membusuk, bergesekan tertiup angin sore.
Ia menatap sekeliling, hatinya menegang, tempat ini masih sama seperti terakhir kali ia datang bertahun-tahun lalu.
“Bak,” panggilnya pelan dari balik pagar.
Tak lama, sosok itu muncul dari atas pohon. Bakar, dengan wajah lebih tirus, rambutnya mulai beruban di sisi pelipis. Tapi senyumnya tetap sama—tenang, menenangkan, seolah dunia tak pernah bisa benar-benar menggoyahkannya.
“Dan.”
Satu kata itu saja sudah cukup memecah jarak di antara mereka.
Mereka saling berpelukan tanpa bicara lama-lama. Hanya tepukan di bahu, dan desahan pelan yang mengandung seribu arti, kehilangan, rindu, dan waktu yang tak bisa diulang.
“Mau ikut?" kata Bakar akhirnya. “Lo belum ngucapin sama dia.”
Daniel mengikuti langkah Bakar. Sekilas, dia teringat Risya tersenyum, mengenakan topi bunga, matanya jernih, seolah menatap langsung ke arahnya yang baru datang.
“Dia nggak pernah berubah, ya?” gumam Daniel sambil menatap pohon itu.
Bakar menghela napas pelan. “Lo tahu sendiri, Dan. Risya selalu ingin abadi.”
Hening lagi. Tak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh.
Mereka berjalan kaki menembus jalan kecil di antara kebun. Rumput menjulang, udara lembap.
Keduanya turun dan berjalan ke arah pemakaman kecil di belakang kebun kosong. Di sana, di antara dua pohon ketapang, terbaring pusara Risya. Batu nisannya bersih, ada bunga di atasnya.
Daniel mendongak. “Kau jaga semua ini sendirian?”
Bakar tersenyum samar. “Tempat ini ... satu-satunya yang tersisa dari kami. Kalau nanti aku nggak ada, jaga tempat ini. Jangan biarkan kenangan kita hilang begitu aja."
Daniel menatap nisan itu lama, sampai matanya berembun.
Bakar memejamkan mata. “Dia datang di mimpimu akhir-akhir ini?” tanyanya tiba-tiba.
Daniel menggeleng pelan. “Nggak.” sambil menatap langit, dia bergumam, “Mungkin dia tahu aku nggak penting dikunjungi.”
Keduanya sama-sama terdiam. Hanya suara burung sore yang terdengar, bersahut-sahutan.
Bakar menaruh seikat anyelir putih. Daniel menambahkan lilin kecil aroma terapi, seperti kebiasaan mereka setiap tahun.
Kemarin, ulang tahun Risya. Tak ada doa panjang, tak ada sedih berlebihan.
Hanya diam yang berbicara paling keras.
“Dia masih suka cokelat, ya,” kata Daniel pelan, setengah bercanda, setengah haru.
Bakar menatap makam itu lama. “Aku nggak tahu. Tapi aku masih bawain, siapa tahu dia nyium aromanya.”
Senyum mereka samar, tapi hangat. Mereka duduk lama di sana, membiarkan senja turun perlahan, angin menggoyang dedaunan seperti tepukan lembut dari alam.
Sebelum beranjak pulang, Bakar berdiri lebih dulu. Ia menatap rumah pohon di kejauhan, lalu menarik napas panjang.
“Sudah ke toko?” tanyanya tanpa menoleh.
Daniel mengangguk. “Sudah.”
“Bagaimana?”
“Nyaman,” jawab Daniel singkat.
Bakar tersenyum tipis. “Si riang gembira, ketemu?”
Daniel tertawa kecil. “Yang mana maksudmu? Sejauh ini, cuma ada satu gadis di kasir yang ngobrol denganku.”
Bakar menoleh, berkata santai, “Dia sudah kutandai.”
Daniel menaikkan alis, geli. “Kalau dia nggak mau sama duda gimana?”
Bakar mendengus, menatap mata Daniel dengan pandangan tenang tapi tajam. “Jangan bawa status. Orang nggak jatuh cinta sama masa lalu, Dan. Tapi sama caramu berdamai dengannya.”
Hening lagi. Angin lewat, membawa bau bunga dari pusara Risya. Keduanya masih berdiri lama di sana, menatap rumah pohon yang kini tertutup senja.
Bakar menurunkan pandangan, suaranya berat namun tenang. “Sudah cukup aku sembunyi di balik kenangan. Waktunya pulang.”
Ia melangkah perlahan, menepuk bahu Daniel. “Ayo. Risya nggak suka kalau kita berlama-lama di sini.”
Daniel tersenyum, bangga. “Dia pasti senang kau masih menepati janjimu.”
Bakar menatap langit jingga terakhir sore itu. “Aku cuma nggak mau kehilangan tempat yang membuatku pernah dicintai.”
Keduanya berjalan pulang menembus senja, meninggalkan rumah pohon yang perlahan tenggelam dalam kabut lembut sore hari—tempat di mana cinta, kehilangan, dan ketulusan pernah bersatu, dan tetap hidup dalam diam.
"Jadi, mau gas lagi?" tanya Daniel.
.
.