Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Kembalinya Bakar
“Jadi, mau gas lagi?” tanya Daniel sambil menyalakan mesin mobil.
Bakar menatap jauh, ke arah rumah pohon yang mulai tertutup kabut lembut sore. Ia tersenyum kecil, lalu menepuk bahu Daniel.
“Gas, tapi kali ini pulangnya beneran.”
Mobil melaju pelan menembus jalan berdebu, meninggalkan lahan yang dulu jadi tempat mereka tertawa.
"Thanks, Dan. Sudah datang," sambung Bakar seraya bersandar dan memejamkan mata.
Daniel tersenyum tipis. Risya dan Wafa adalah kawan seperjuangannya. Bertemu Bakar adalah bonus, si lelaki loyal milik sang sahabat yang mengambil Risya dari keduanya.
***
Keesokan paginya.
Kabut masih bergelayut di depan toko Anak Lipat. Embun menempel di kaca jendela, mengguratkan pola samar seperti coretan tak sengaja.
Ria datang lebih awal dari biasanya, membawa dua kantong tas kue baru dari pemasok langganan. Rini sudah di dalam, menyiapkan mesin kasir sambil bersenandung kecil.
“Tumben pagi banget, Ri,” sapa Rini.
“Entah, kebangun aja,” jawab Ria, tapi matanya terus melirik ke pintu toko, entah menunggu siapa.
Belum sempat Rini menimpali, suara ting dari bel pintu berbunyi lembut. Pintu kayu terbuka, dan udara dingin pagi langsung masuk bersama sosok yang sudah lama tak terlihat.
Bakar berdiri di sana, menenteng tas kain lusuh, rambut sedikit berantakan, wajahnya lelah tapi teduh.
“Selamat pagi,” katanya, dengan nada yang nyaris sama seperti dulu, hangat, tenang, dan jujur. “Masih boleh masuk?”
Ria terpaku. Tangannya berhenti di udara, tas jinjingan hampir jatuh dari genggamannya.
Rini spontan berseru, “Pak Bakar?! Ya Allah, beneran balik!”
Senyum Bakar muncul pelan, seperti fajar yang baru naik. “Aku kangen aroma kopi pagi di sini,” ujarnya ringan.
Ria menunduk cepat-cepat, pura-pura sibuk menata meja. Tapi suaranya bergetar saat berkata, “Cangkirnya masih di tempat biasa.”
“Bagus,” jawab Bakar lembut. “Berarti aku masih punya tempat.”
Rini menyeka ujung matanya yang tiba-tiba basah. “Tuh kan, bener kata Ria. Yang namanya Anak Lipat nggak pernah kehilangan orang baik, cuma nunggu mereka pulang."
Bakar hanya tersenyum, sementara Ria masuk ke belakang dapur, memulai membuat adonan.
Beberapa jam kemudian, suasana toko terasa lebih hidup. Pelanggan datang silih berganti, Ria dan Rini bekerja dengan semangat yang tak sama seperti hari-hari sebelumnya.
Bakar duduk di meja dekat jendela, mencatat segala sesuatu di sana yang terlihat mulai lusuh. Contohnya, papan menu yang catnya mulai mengelupas.
Daniel tiba-tiba masuk, menenteng gelas kopi dari toko seberang.
“Udah kuduga, kamu balik ke sini,” katanya pada Bakar.
Bakar menoleh sekilas, tersenyum. “Tempat ini punya cara memanggil yang lebih lembut dari rindu.”
Ria menoleh, separuh terkejut, separuh lega melihat mereka berdua di tempat yang sama. "Eh, nggak boleh bawa minuman dari luar!" katanya galak ke arah Daniel.
“Aku gak tahu,” kekeh Daniel, lalu menaruh kopi tadi di atas etalase untuk Ria singkirkan.
Bakar malah tersenyum. “Dunia butuh wanita galak, Dan. Biar nggak kusam,” ujarnya saat menarik Daniel duduk.
Ria menimpali ringan, “Yang galak itu biasanya ngangenin.”
Bakar menatapnya sambil mengangguk. “Betul. Yang galak bisa balikin ke tempat yang bikin kita mau hidup lagi.”
Daniel tertawa kecil, tapi matanya melirik Ria. “Awas, ada codot baru keluar dari gua.”
“Sesama codot jangan saling mencodotkan,” jawab Bakar, menatap Daniel sambil terkekeh lama. “Karena nggak semua codot itu codot," ujarnya konyol.
Ria ikut tertawa. "Ngomong apa sih, Pak Bakar?"
Hening sejenak. Hanya suara pelanggan kecil mengobrol di pojok ruangan, dan wangi roti baru keluar dari oven.
Siang nya, Qalesya datang ke toko setelah kuliah. Dia bertemu Bakar di sana dan menegurnya.
Bakar minta maaf sebab cuti lebih lama dari biasanya. Dia menunggu Daniel datang. Dan mengatakan akan kembali masuk kerja esok pagi.
Qalesya lalu duduk bersama Bakar dan Daniel. Perutnya mulai tampak membulat.
Bakar sesekali menatap majikan perempuannya dengan rasa penasaran.
“Nyah, maaf, izin nanya boleh?" katanya sambil melirik Qale.
Qale tersenyum. “Apa?"
Bakar menunjuk perut Qalesya. "Itu ... Hamil?" tanyanya pelan. Takut Qale tersinggung.
Ting! Suara pintu terbuka.
"Iya. Makanya jangan kelamaan cuti, Damkar!" ucap Wafa yang baru saja tiba. Langsung duduk di sebelah istrinya.
"Alhamdulillah," kata Bakar, semringah.
"Lima pekan. Doain ya, semuanya," tutur Qale, menoleh ke arah kedua karyawannya.
Ria yang membawa baki kue, Rini masih mengelap meja, tekejut. Mereka berbarengan mengucap, "HAMIL?"
Qale mengangguk. “Dokter bilang bagus. Cuma disuruh banyak istirahat aja.”
Ria buru-buru menaruh baki, memutari etalase ingin memeluk Qale. Tapi, Bakar tiba-tiba bangun dan menarik lengan Ria sehingga malah menabrak dirinya.
"Eh!"
Bruk!
"Peluk aku aja," bisik Bakar saat mendekap Ria.
Wafa bangun, menarik lengan Bakar agar melepaskan Ria. Sementara Daniel malah tertawa lepas.
"Modus!" Ria menggeliat sehingga Bakar melepaskannya. Wajah Ria memerah, dia pun memukul dada Bakar. "Nggak sopan!" katanya marah.
Qalesya geleng-geleng kepala, sementara Bakar malah cengengesan. Dia mengejar Ria ke belakang.
Daniel mengangguk. Tapi di matanya ada sesuatu, rasa lega yang diselimuti kenangan. Ia teringat Risya, dan bagaimana wanita itu berjuang jelang akhir hayatnya.
Ria, mirip dengan Risya. Daniel kuatir ini hanya pelarian Bakar semata. Tatapannya lurus ke arah Wafa. Sepertinya, Wafa pun merasakan hal yang sama.
Malam itu, toko Anak Lipat mulai sepi. Lampu gantung berwarna kuning hangat memantulkan cahaya lembut di dinding bata.
Bakar duduk di depan, ditemani secangkir kopi yang aromanya menenangkan. Daniel baru saja pamit, meninggalkan selembar kertas di meja, alamat rumah sementara yang dihuni Daniel.
Sebelum pulang, Ria datang membawa selimut tipis, meletakkannya di punggung kursi. “Nanti masuk angin,” katanya pelan.
Bakar menatap ke arah jalanan, juga ke papan toko yang kini bersinar lembut diterpa cahaya bulan.
“Dulu aku kira rumah itu tempat aku sembunyi,” gumamnya. “Ternyata yang kusembunyikan, cuma diriku sendiri.
Ria urung pergi, duduk di kursi sebelah. “Sekarang nggak sembunyi lagi, kan?”
Bakar menggeleng pelan. “Nggak. Aku udah pulang.”
Keduanya terdiam lama. Di luar, hujan tipis turun lagi. Tapi kali ini, tak ada yang merasa sedih.
Karena setiap tetesnya terdengar seperti kata, selamat datang kembali.
"Jangan pulang dulu, tunggu hujannya reda," pinta Bakar yang memutuskan menginap di toko malam ini.
"Aku sudah biasa," jawab Ria, bersiap pergi ke motornya.
"Bahkan bila kamu suka hujan, bakalan flu jika tidak berteduh," balas Bakar sambil menyeruput kopinya. "Tapi ini bukan soal hujan," sambungnya menatap Ria di bawah bayang lampu teras toko.
"Huh?" Ria terdiam, dahinya mengernyit.
.
.