Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Rupa kedamaian
Malam turun perlahan di atas tembok tinggi lapas.
Di dalam sel bernomor 27, Lea duduk di ranjang sempitnya. Angin dari jendela kecil meniup ujung rambut pendeknya, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.
Di pangkuannya, kertas putih terlipat rapi. Pena hitam di tangannya sempat ragu menari, tapi akhirnya bergerak pelan.
Tulisan pertama muncul:
“Untuk Deni, suamiku.”
Lea menarik napas panjang. Setiap huruf yang ia tulis terasa berat, tapi juga menenangkan.
“Aku sudah lihat lukisanmu. Dari ayah.
Aku tahu kita merindu—karena tembok ini, tapi karena ingatanku terpaku padamu."
"Aku baik-baik saja. Cukup mengingat kalau cintamu pernah menyelamatkanku sekali, waktu aku nyaris gak punya alasan buat bertahan.”
Lea berhenti menulis. Air matanya jatuh di atas kertas, meninggalkan noda kecil. Ia tersenyum samar, menatap langit hitam di luar jeruji.
“Aku pikir kebahagiaan itu tentang bebas.
Tapi ternyata, bebas itu tentang hati yang tenang. Terima kasih sudah ngajarin aku mencintai lagi.”
Ia melipat surat itu perlahan, menaruhnya di bawah bantal. Lalu menatap langit-langit sel. Senyum kecil menggantung di bibirnya—senyum orang yang akhirnya berdamai.
Ingatan hangat kemarin masih membayang di benak Lea.
Kala ayahnya masuk jelang waktu jenguk usai. Di tangannya, ia membawa sebuah kanvas besar yang dibungkus rapi dengan kain beludru biru tua.
["Dari Deni, buka di dalam saja," pinta Hasan kemarin sambil tersenyum lebar saat meletakkan kanvas itu di atas meja.]
Saat Lea keluar dari ruang kunjungan, tangannya menjinjing mantap, langkahnya pun cepat. Pikirannya girang menebak, kali ini Deni menukis apa.
Lea membuka pembungkusnya perlahan. Jantungnya berdetak cepat, matanya basah saat melihat isi lukisan itu.
Di depannya, terpampang wajahnya—dengan seragam oranye lembut, rambut pendek, tanpa kacamata hitam yang dulu selalu menutupi separuh wajahnya.
Dalam lukisan itu, ia digambarkan tengah menatap langit dengan mata terpejam, senyum samar di bibirnya. Di belakangnya, langit biru luas membentang, seolah memberi ruang pada ketenangan yang ia temukan setelah badai panjang.
[“Dia bilang ... waktu ngelukis ini, rasanya seperti bicara sama kamu, Nak,” kata Hasan, suaranya pecah di akhir kalimat. Sebelum pulang.]
Lea tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya menatap lukisan itu lama sekali. Jemarinya menyentuh permukaannya lembut, seolah sedang menyentuh pipi suaminya.
Air matanya jatuh lagi, satu-satu. Tapi senyum tipisnya tak hilang.
“Terima kasih, suamiku...” ucapnya lirih, nyaris seperti doa.
“Terima kasih sudah masih mengingat aku dengan cara seindah ini.”
Lea mendekap dirinya sendiri. Dalam hati ia tahu—meski raga Deni tak bisa hadir di sini, rasa cintanya yang besar masih terasa.
***
Pukul sepuluh malam, rumah keluarga Wafa masih berpendar cahaya.
Qalesya duduk di teras dengan sweater lembut, cangkir cokelat hangat di tangan. Hujan baru saja reda. Bau tanah basah menyatu dengan angin lembut yang menyapa di udara.
Wafa keluar, menenteng selimut kecil.
“Belum ngantuk, Sya?” tanyanya pelan.
Qalesya menggeleng. “Masih kepikiran Kak Lea.” Ia menatap langit, bintang belum juga muncul. “Dia keliatan tenang, Mas. Tapi aku tahu, itu ketenangan yang lahir dari banyak luka.”
Wafa duduk di sampingnya, memeluk bahunya. “Kadang orang baru bisa tenang setelah nerima, bukan setelah sembuh, Sayang.”
Qale menatap suaminya, matanya basah tapi tersenyum. “Aku bersyukur punya Mas. Yang ngajarin aku bahwa keluarga itu bukan cuma ikatan darah … tapi juga hati yang saling nyembuhin.”
Wafa menatap perut istrinya, lalu berbisik lembut, “Semoga anak kita lahir dari hati yang udah berdamai, ya.”
Qalesya mengangguk, memegang tangannya erat. Malam itu mereka diam cukup lama, hanya mendengar bunyi tetes air dari talang, seolah waktu ikut beristirahat.
Keesokan paginya, dapur rumah masih hangat dengan aroma roti dan suara lembut Winda yang menyiapkan teh.
Hasan belum pulang, duduk di meja makan, menatap kosong cangkir di tangannya.
“Masih kepikiran Deni?” tanya Winda lembut.
Hasan mengangguk. “Dia udah banyak berubah. Aku takut kalau nyeselku udah telat.”
Winda tersenyum kecil. “Selama masih ada doa, gak pernah telat.”
Hasan menarik napas panjang. “Aku mau ke lapas lagi siang ini. Mau ketemu Deni. Mau bilang kalau aku minta maaf juga.”
Winda menatap besannya lama, lalu mengangguk pelan.
“Lakukan, San. Kadang luka di anak-anak baru sembuh kalau orang tuanya juga minta maaf pada dirinya sendiri.”
Hasan setuju. Ada sesuatu yang mengendur di wajahnya—seperti beban lama yang akhirnya bisa ia taruh.
***
Sementara itu, di toko roti, hari berjalan seperti biasa. Rini sibuk di dapur, Nadia menata kue, dan Ria sedang menghitung stok bahan.
Suasana lebih ramai, tapi lebih ringan dari sebelumnya.
Bakar baru datang, ingin mengambil pesanan Qalesya untuk coffee break di kantor Wafa. Rini sudah menyiapkan itu semua. Tapi Bakar tidak langsung pergi lagi, dia duduk di meja sudut ruangan.
Ria hanya melirik sekilas, lalu kembali menulis catatan kecil di papan bahan. Tapi senyum samar menempel di bibirnya. Tak ada percakapan, tapi tatapan mereka cukup membuat ruangan terasa hangat.
Tak lama, ketika semua mengabaikannya. Bakar bangkit. Meletakkan setangkai bunga Krisan kuning kecil di atas meja dengan selembar catatan di bawahnya:
[“Beberapa hal gak perlu dijelaskan, cukup dihadapi bareng-bareng.”]
Kepergian Bakar yang tanpa pamit, membuat Ria melihat meja. Dia mendekat lalu memandangi tulisan itu cukup lama. Ia tahu betul tulisan siapa itu.
Ria meraih dua benda tadi dari atas meja, memasukkannya ke dalam apron dan berpura-pura tak ada apapun.
Nadia yang memperhatikan dari jauh berbisik pada Rini, "Kayaknya udah gak tegang lagi, ya?”
Rini tersenyum sambil menata croissant di etalase, dia berkata pelan, “Bukan gak tegang. Udah mulai tenang.”
Hari itu, sinar matahari menerobos kaca toko, jatuh lembut di meja kasir, tempat Ria berdiri sambil menunduk menyembunyikan senyum.
Dan di antara aroma croissant, catatan kecil, serta luka-luka yang akhirnya berani dihadapi,
hidup mereka perlahan menemukan bentuk damainya sendiri.
.
.