Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Ngoceh
Pagi di Anak Lipat berjalan seperti biasa—sampai Bakar datang dengan wajah yang tidak biasa.
Ia berdiri di depan meja kasir, menaruh tabletnya pelan, lalu menarik kursi tanpa diminta. Ria yang sedang mencatat pesanan menoleh.
“Kenapa, Bang?” tanyanya. Ria mengubah panggilan daei Pak menjadi Abang untuk Bakar sejak mereka berkomitmen.
Bakar menghela napas panjang. Panjang sekali. Seperti baru lolos dari sesuatu.
“Alhamdulillah aku sehat hari ini,” katanya akhirnya.
Ria berhenti menulis. “Hah?”
Bakar menatap kosong ke depan. “Tadi malam… rumah Bos kek … bukan rumah. Itu arena.”
Rini yang lewat ikut berhenti. “Arena apa?”
“Arena ngidam,” jawab Bakar lirih. “Aku saksi kuncinya.”
Ria tertawa kecil. “Lebay.”
Bakar menoleh cepat. “Ria, kamu bayangin aja deh ... Kepiting dibedah. Bebek dipertanyakan perasaannya. Es serut dibikin kayak proyek akhir semester. Dan—” ia menunjuk perutnya sendiri, “—aku malah dihukum ngabisin semua.”
Rini menutup mulut, menahan tawa.
Ria akhirnya tertawa lepas.
"Aku gak tau apa-apa." Bakar mendengus, masih kesal.
“Kak Qale nangis?” tanya Ria masih terkekeh.
Bakar mengangguk pelan. “Nangis karena kasian sama bebek yang udah dikunyah, mau aku lepeh gegara mual, kan.”
Ria terdiam sesaat, lalu tertawa lagi. “Ya ampun…”
“Tapi,” lanjut Bakar, lebih pelan, “baru kali ini … emosinya kayak remote rusak. Pindah-pindah sendiri.”
Ria masih tertawa kecil. “Namanya juga hamil.”
Bakar menyesap air mineral yang disodorkan Rini. “Iya. Tapi mulai hari ini, kalau Nyonyah datang ke toko… kalian kudu siaga.”
Belum selesai kalimatnya—
Pintu toko terbuka.
“Pagiii~” suara ceria masuk lebih dulu.
Bakar tersedak.
Qalesya berdiri di ambang pintu dengan dress longgar warna pastel, rambut diikat asal, wajahnya cerah seperti tidak pernah ada tragedi seafood semalam.
“Halo, Riaaaa~” katanya nyanyi kecil. “Aku kangen bau mentega.”
Ria berkedip.
Bakar langsung berdiri tegak. “Nyaaah,” sapanya hati-hati.
Qalesya menoleh. “Iya, Pak Damkar?”
Bakar refleks melirik kanan-kiri. Aman. Qale tidak membawa apapun. Dia melempar isyarat pada Dewi yang mengantar majikan hamilnya itu. Seolah bertanya, apa ada yang aneh pada Qalesya pagi ini?
Dewi mengendikkan bahu. Tak paham dengan maksud Bakar. Dia langsung balik badan, kembali ke mobil.
Qalesya masuk, duduk di kursi sudut favoritnya. “Aku boleh duduk di sini lama kan, ya? Hari ini rasanya pengen ngobrol.”
Dan ia benar-benar ngobrol.
Dengan Ria.
Dengan Rini.
Dengan Nadia, yang dibuatnya pusing karena semua konten dikomentari Qale.
Dengan pelanggan yang baru datang.
Dengan tanaman di pojok etalase.
“Kamu daunnya kinclong ya,” katanya sambil menyentuh pot kecil. “Kayak habis dimandiin.”
Ria tertawa kecil, melirik Bakar yang masih berdiri kaku.
Qalesya mengambil satu potong kue, lalu satu croissant lagi. Dan satu lagi Onbitjkoek.
Dimakan. Habis.
“Enak,” katanya puas. “Aku lapar hari ini.”
Bakar mulai curiga. Tapi dalam arti lega.
Tak lama, dari luar toko terdengar suara gerobak. Seorang penjual berteriak "ikan-ikan" berhenti tak jauh di depan toko.
Qalesya berdiri. “Eh!” berjalan ke pintu.
Semua menoleh.
“Bang, Pak!” Qalesya melambaikan tangan. “Boleh sini sebentar?”
Penjual ikan itu mendekat, bingung.
Qalesya menunjuk sudut kosong di sisi kasir. “Kalau di sini dipasang aquarium kecil, bisa gak?”
Ria melongo. “Ikan?”
“Aku kepikiran,” lanjut Qalesya antusias. “Toko ini kurang hidup.”
Bakar refleks mengusap wajah. Mulai cemas Qale akan berulah. Dia pun berinisiatif mengatur posisi, memilih ikan dan membayarnya. Kasian bila tukang ikan ikut menanggung mood swing Qale.
Beberapa menit kemudian, sebuah akuarium kecil benar-benar ada di sudut toko.
Qalesya berdiri di depannya. Menatap ikan-ikan kecil yang berenang.
“Halo,” katanya lembut. “Maaf ya pindah rumah. Tapi di sini aman. Banyak wangi kue.”
Ia menoleh ke Ria. “Ikan bisa hamil juga gak?”
Ria terkekeh. “Bisa.”
“Oh.” Qalesya mengangguk serius. “Kalau hamil, enek gak sama bau mentega?”
Bakar menutup mulut, menahan tawa. Sementara Ria, terkekeh-kekeh.
“Aku sih enggak,” lanjut Qalesya ke ikan itu. “Tapi beda jenis kan ya sama akuuuu.”
Ria tertawa lagi, hangat. Bukan tawa geli—lebih ke lega. Majikannya menikmati masa kehamilan ini.
Qalesya ngoceh terus. Cerita soal warna, soal bayi, soal mimpi semalam. Energinya penuh. Stabil. Tidak ada tanda-tanda badai mood.
Bakar mulai duduk tenang
“Ini… versi aman,” gumamnya.
Menjelang sore, pintu toko kembali terbuka.
Wafa masuk.
Belum sempat menyapa, Qalesya sudah berdiri, berjalan cepat—lalu menyender begitu saja ke dada suaminya. Meminta pelukan.
Kepalanya pas di bahu Wafa. Tangannya memeluk pinggang sang suami.
“Mas,” gumamnya. “Capek.”
Dan… tertidur.
Begitu saja.
Wafa tertawa kecil, dia menopang tubuh istrinya yang mulai lunglai lalu mengecup pipi dan bibir istrinya bergantian. Beberapa kali, Wafa gemas sendiri.
“Capek kenapa, Sayang?”
Qale diam. Makin menggelayut manja.
Bakar menghembuskan napas panjang. Lega.
“Capek ngoceh dia, Bos. Batrenya habis dah,” katanya.
“Alhamdulillah.”
Wafa menoleh ke arah Bakar, senyum jahilnya muncul. “Kepengen kan kamu, Damkar.”
Bakar mendengus. “Enggak, Bos.”
Ria yang mendengar itu tersinggung. "Oh, jadi kalau bini Abang hamil, kagak mau nurutin kemauannya?"
Bakar gelagapan. "Bu-bukan gitu, Ayy... Kan_" gagapnya menjelaskan pada Ria.
“Kalau aku tiba-tiba pengen makan yang aneh-aneh jam tiga pagi,” katanya hati-hati, “sambil nangis karena sendoknya kepanjangan—”
Ria berhenti menyusun kue. Melirik. Senyumnya tipis tapi tajam. “Abang jangan pura-pura jadi petugas pemadam kebakaran yang gak dengar sirene.”
Rini langsung nyeletuk, tanpa dosa,
“Sirenenya ibu hamil tuh bukan nii-noo, tapi mas-mas-mas.”
Nadia menahan tawa sambil pura-pura lap rak. “Dan itu gak bisa dimatiin, Pak.”
Bakar mendesah, menyerah. “Iya… iya. Siap siaga. Dua puluh empat jam. Aku tanpamu bagai ambulance tanpa ninuninu.”
"Heleh, jangan percaya, Ria," ujar Nadia. Dia lalu menunjuk Bakar. "Tadi aja dia ngeluh soal Mbak Qale semalam," kekehnya.
Bakar tersedak. “Eh—eh—jangan gitu dong.”
Ia buru-buru membela diri, wajahnya panik setengah serius. Tidak enak pada Wafa.
Para gadis tertawa. "Ngaku aja, Pak," sambar Rini membuat Bakar ingin kabur dari sana.
“Damkar bilang apa soal istriku?"
Nadia senyum jahil. "Ya ngeluh aja, Pak. Kita disuruh siaga kalau Mbak Qale ke sini, takut jadi korban."
"Damkar! Kamu pikir istriku otaknya kerusuhan? Magnet perselisihan?”
Rini mengangkat bahu. Ria menahan senyum melihat Bakar makin gugup. “Tenang, Bang.”
“Dasar wanita!” umpat Bakar.
Wafa tertawa. “Tapi … dia pantas jadi korban lapangan.”
Ria menatap pemandangan itu dari balik meja kasir—Qalesya yang tertidur damai, Wafa yang menggendongnya pelan, dan Bakar' yang terlihat matang, mengikuti mereka pulang.
Wafa tersenyum kecil saat mereka sudah di mobil.
Hari ini, tidak ada drama. Hanya cinta yang makin banyak, meski bentuknya kadang… absurd.
Mobil Wafa sudah melaju ketika pintu Anak Lipat kembali terbuka.
Seseorang masuk sendirian. Ria yang sedang menyusun kue di etalase menoleh. Senyumnya muncul sekadarnya—senyum profesional, tidak lebih.
“Siang,” sapa Dia singkat.
“Siang,” jawabnya.
.
.