Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Petunjuk-Nya

Qale dipaksa masuk ke kamar oleh ART Wafa karena sudah jelang tengah malam.

“Kalau Non masih bingung, coba ajak Den Wafa bicara pelan-pelan … tapi jangan bilang ini dari saya ya,” bisiknya, matanya bergerak gelisah ke arah kamar majikannya.

Qale hanya mengangguk, meski rasa penasarannya masih tinggi.

Esok pagi, aroma tanah dan dedaunan basah menyelinap masuk melalui celah jendela kamar. Membuat Qale menggeliat dan membuka mata. 

Bibirnya mengulas senyum tipis, rasanya nyaman sekali tidur di kamar ini. Dia masih bergelung ketika wangi yang dikenalnya tercium dari balik pintu.

Qale gegas bangkit, membersihkan diri lalu keluar kamar. Ruangan terasa teduh meski jendela terbuka lebar. Sepi, membuatnya terasa damai.

Qale melangkah ke pintu belakang yang terbuka dan menemukan Wafa sudah duduk di teras, ditemani teh hangat dan sepiring nasi putih lengkap dengan telur ceplok, tempe mendoan dan sambal kecap.

Di sudut halaman, sopir Wafa tampak memanen kelengkeng dan sawo dari pohon. Suasana pagi itu begitu damai … seperti kehidupan yang dia impikan kelak.

“Pulas?” tanya Wafa tanpa menoleh.

“Lumayan,” jawab Qale singkat, duduk pelan di sebelahnya. Pinggan makanannya sama persis : tempe mendoan, sambal kecap, dan telur ceplok. Tapi satu hal membuatnya tertegun, pinggiran telurnya garing.

"Ibu ... seberapa banyak menceritakan aku, Kak?" tanyanya pelan, menatap piringnya sendiri.

Wafa menoleh. “Nggak ada.”

“Lalu ini?” Qale menunjuk isi pinggan. Suaranya gemetar. “Pinggir telur yang kering. Ini cuma ibuku dan Mbak Mun yang tahu aku suka begini…”

Wafa menghela napas. “Kamu yang bilang," ucapnya datar tapi terdengar berat.

“Juga soal Lesa?” sambung Qale tajam. Dimeletakkan semua benda yang disimpan selama ini di atas meja.

Mata boneka, catatan kertas tulisan tangan Wafa, CD lagu, dan kartu nama. 

"Lantas, semua ini dari Kak Wafa, kan?” Qale masih menatap lurus suaminya.

Hening menggantung. Hanya suara sendok menyentuh piring. 

Wafa diam. Tapi dagunya sedikit bergerak, seperti hendak bicara lalu urung. Tangannya memutar cangkir, sekali, dua kali.

“Jangan terlalu dipikirin, Sya. Nanti kamu sakit.” Wafa meneguk teh, lalu meletakkan di meja. “Selesaikan makanmu. Kalau mau ke toko, aku pesankan ojol-car.”

Dia memutar, tersenyum pada istrinya lalu mendorong kursi rodanya masuk perlahan melewati Qale yang masih termenung.

“Kak…” panggil Qale lirih.

Wafa berhenti di ambang pintu.

“Kalau dipaksa, kamu nggak akan tahan, Sya,” katanya tanpa menoleh. Lalu masuk ke dalam rumah. "Kamu belum siap."

Huft. Qale menghempas napas ke udara.

Setelah sarapan habis, Qale memutuskan kembali ke toko. Dia membeli bahan-bahan kue seperti biasa, meskipun hatinya belum benar-benar kembali ke rutinitas.

Sudah satu bulan dia diskors dari kampus. Harusnya ia sudah mulai bimbingan skripsi. Tapi semua terasa jauh, seperti hidup tanpa rencana.

Raganya ada di toko. Tapi jiwanya melanglang entah ke mana.

Sore harinya, tanpa berpikir panjang, dia kembali ke tempat konseling. Nekat tanpa bikin janji temu lebih dulu.

Setelah berhasil membujuk admin. Qale masuk ruangan. Kali ini, dia menatap konselornya tanpa ragu.

“Aku mau tahu semuanya. Semua tentang Lesa, tentang masa kecilku. Tolong jangan tahan-tahan lagi.”

Konselor hanya tersenyum.

“Lalu peran Tuhan apa jika semua harus dibuka manusia?” jawabnya lembut. “Bukankah ini petunjukNya?”

“Untuk apa?” Qale mulai gusar.

“Untuk bersyukur dan berterima kasih, misalnya,” jelas sang konselor. “Memaafkan juga menerima bahwa semua ini bukan kebetulan. Tuhan percaya, Lesa mampu.”

Qale menggeleng, pelan tapi getir. "Tapi aku nggak tahu apa yang sedang terjadi," bisiknya. "Kenapa semuanya harus kabur, kenapa semua orang tahu kecuali aku?"

“Percayalah. Kamu dijaga oleh banyak doa yang nggak kamu tahu ... karena Tuhan tahu kamu kuat.”

Qale tercekat. "Lalu kenapa manusia membuat aku lupa? Apa kalian merasa bagai kepanjangan tangan Tuhan, begitu?" cecarnya dengan suara serak, iris matanya berkaca-kaca.

"Jadi, siapa pelakunya?" 

Konselor tak menjawab. Dia hanya memutar rekaman kedua. Suara anak kecil kembali terdengar, menangis. Memanggil satu nama.

"Tata ... Tata, jangan tinggalin aku."

Nama itu membuat Qale terdiam. Sesuatu dalam dirinya bergetar. Seolah… dia mengenal nama itu. Sangat dekat. Tapi tak tahu kenapa terasa menyakitkan.

Masih berkutat dengan kebingungan. Tiba-tiba, notifikasi di ponselnya berbunyi. DM dari akun anonim.

["Sudah sampai tahap itu ya? Tapi kamu belum tahu, kan, siapa Tata sebenarnya?"]

Jantung Qale berdegup kencang. Matanya melebar.

[Tata... siapa kamu?]

***

Malam hari. Qale kembali ke rumah Wafa. Dia hanya ingin diam. Tapi diam di dekat seseorang yang membuatnya merasa cukup.

Dia duduk di sofa. Membuka buku catatan kecil. Di sela-sela halaman itu, terselip segala hal yang ditemukan akhir-akhir ini. Jari-jarinya menggenggamnya erat. Refleks.

Ingatan samar mengendap di kepalanya. Ada suara ibunya. Ada bau dahan basah dekat kolam. Ada tangisan. Tapi semuanya belum utuh.

Lalu ia memejamkan mata.

["Lesa ... Sya... asalnya dari sini."]

Kalimat itu muncul lagi entah dari mana. Membuatnya langsung duduk tegak.

Gelap. Hening. Rumah itu senyap. Pintu kamar Wafa masih tertutup. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada sebuah buffet di depannya.

"I-tu ... Bo-neka?" 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!