Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Ujian masing-masing

Ruang kunjungan itu dingin, meski tanpa AC berlebih.

Mama Danisha duduk lebih dulu. Tangannya terlipat rapi di atas meja. Punggungnya tegak, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang menyimpan kemarahan.

Pintu kecil di seberang terbuka.

Elan masuk dengan langkah yang sudah tidak lagi percaya diri. Rambutnya lebih tipis. Wajahnya lebih tirus. Matanya menatap sekilas, lalu beralih.

“Mama Danisha,” katanya pelan.

Tidak ada balasan segera.

Beberapa detik berlalu sebelum Mama Danisha mengangguk kecil. Bukan sapaan. Lebih seperti tanda, aku di sini. Masih hidup.

Mereka duduk berhadapan.

Tidak ada caci. Tidak ada tuduhan.

Mama Danisha hanya menatap.

“Kamu kelihatan… berbeda,” katanya akhirnya.

Elan tersenyum tipis. “Tempat ini bikin orang belajar.”

Mama Danisha mengangguk. “Belajar apa?”

Elan terdiam. Mungkin ia berharap pertanyaan lain. Yang lebih ringan. Yang bisa diputar.

“Belajar sabar,” jawabnya akhirnya.

Mama Danisha menautkan jari. “Kamu tahu gak,” ucapnya pelan, “berapa lama seorang ibu belajar menerima bahwa anaknya hancur bukan karena musuh… tapi karena orang yang ia percaya?”

Elan menelan ludah. “Aku—”

Mama Danisha mengangkat tangan. Bukan melarang, hanya menunda.

“Aku tidak datang untuk marah,” katanya. “Kalau aku mau marah, aku bisa melakukannya bertahun-tahun lalu.”

Elan mengangkat kepala. Ada harap yang muncul sesaat.

“Aku cuma mau tahu satu hal,” lanjut Mama Danisha.

“Kamu pernah benar-benar memikirkan akibat dari pilihanmu… ke hidup orang lain?”

Elan terdiam lama. “Aku pikir… kami sama-sama dewasa,” katanya akhirnya. “Aku gak maksa.”

Mama Danisha tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Manipulasi jarang terdengar seperti paksaan,” katanya. “Seringnya terdengar seperti pilihan.”

Kalimat itu terucap pelan. Tapi berat.

Elan menunduk. “Aku menyesal.”

Mama Danisha mengangguk. “Penyesalan itu penting. Tapi bukan penawar.”

Ia berdiri.

“Aku datang bukan untuk memaafkan,” katanya sambil meraih tas. “Aku datang supaya kemarahanku tidak tumbuh jadi kebencian.”

Elan mengangkat kepala. “Danisha… bagaimana dia?”

Mama Danisha berhenti sejenak. Menoleh.

“Dia hidup,” jawabnya singkat. “Dan itu cukup.”

Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Di lorong keluar, langkahnya mantap. Dadanya masih sesak. Tapi kemarahan itu—akhirnya punya tempat. Dan ia tidak membawanya pulang.

Rumah menyambut Mama Danisha dengan sunyi yang mulai terbiasa.

Tidak ada suara televisi. Tidak ada piring di meja. Tidak ada sepatu lain di rak.

Ia meletakkan tas, menggantung kunci, lalu berdiri sebentar di ruang tengah—seolah lupa harus ke mana dulu.

Tangannya bergerak sendiri. Menutup jendela. Menarik gorden. Menyapu debu yang sebenarnya hampir tak ada.

Membersihkan rumah selalu membuatnya merasa masih berguna.

Di dapur, ia menyiapkan teh. Satu cangkir.

Tangannya berhenti.

Ia menatap rak. Ada dua cangkir di sana. Sejak lama, yang satu jarang disentuh.

Ia mengambil satu saja.

Duduk. Menyeruput perlahan.

Di saat yang sama, entah mengapa, wajah Qalesya terlintas. Perempuan hamil itu—yang hidupnya sekarang penuh suara, penuh tangan yang siap memapah, penuh orang-orang yang siaga.

Bukan iri.

Lebih seperti… sadar jarak.

Hidup orang lain bergerak ke depan. Hidupnya bergerak ke dalam.

Ia duduk lama, sampai cahaya sore bergeser.

Tangannya meraih kalender di meja.

Ia menarik napas dalam.

"Semoga aku masih sehat, Nisha." 

Cangkir teh itu dia biarkan, meskipun ada banyak ART di rumah ini, dia tetap merasa kosong.

Malam datang tanpa memilih siapa yang kebagian jatah sunyi lebih banyak.

Ia berbaring lebih cepat dari biasanya. Tapi matanya tidak langsung terpejam.

Di benaknya, wajah Danisha di lapas muncul lagi. Tenang. Menerima. Tidak pahit.

Anaknya belajar menerima hukuman.

Ia—masih belajar menerima kesendirian.

Dan mungkin, itu pelajaran yang lebih panjang.

Ia memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak memaksa dirinya kuat. Dia menangis, lagi dan membiarkan malam berlalu, mengaburkan kesedihannya.

***

Sementara di tempat lain, di waktu yang sama.

Qale menggeser tubuhnya untuk keempat kalinya dalam lima menit.

Wafa pura-pura tidak melihat.

Untuk sementara.

“Mass,” panggil Qale akhirnya, suaranya ketus sekaligus terdengar kesal.

“Iya, Sayang.”

“Bantalnya keras.”

Wafa meraih bantal, menepuk-nepuk, lalu menyelipkannya ke punggung Qale. “Gini?”

Qale menggeleng. “Terlalu tinggi.”

Wafa menariknya sedikit. “Kalau gini?”

“Sekarang kependekan.”

Wafa menahan senyum. “Itu… bantal yang sama, Sayaaaaang.”

Qale mendesah. “Iya, tapi rasanya beda.”

Wafa mengangguk serius. “Oke. Kita percaya perasaan bumil.”

Qale melirik, nyengir tipis. “Jangan ngetawain.”

“Aku gak ketawa,” jawab Wafa sabar, mengulum senyum. “Aku menghormati Ndoro Ayukuuu.”

Qale berbalik menghadap Wafa, satu tangan memegang perutnya. “Tadi di toko… kata Ria Mama Danisha beli kue.”

Wafa berhenti bergerak. “Terus?”

“Biasa aja. Dia nanya. Ria jawab. Aku cuma… kepikiran.”

Wafa menunggu. Tidak memotong.

“Mas,” Qale menelan ludah. “Aku capek. Bukan capek badan doang. Capek mikir. Aku tuh pengen kuat, tapi kok bawaannya pengen nangis mulu.”

Wafa menggeser tubuhnya lebih dekat. Satu tangan mengusap punggung Qale pelan, berulang. Tidak terburu.

“Kalau nangis, nangis aja,” katanya lembut. “Aku temenin sampai bobok.”

Qale mengerutkan hidung. “Mas bohong.”

Wafa tersenyum. “Kenapa pula, selama ini kan gituuuu?”

“Kalau aku bangunin Mas jam tiga pagi cuma karena pengen mangga muda tapi takut asam, Mas pasti kesel.”

Wafa tertawa kecil. “Aku bakal kesel… sebentar. Terus bobok lagi.”

Qale mencubit lengan Wafa pelan. “Nyebelin.”

“Tapi bangun, kok.”

Qale diam sejenak. Lalu suaranya melunak. “Aku takut gak jadi ibu yang baik.”

Wafa menatapnya serius. “Kamu tahu ibu yang buruk itu yang kayak apa?”

Qale menggeleng.

“Yang gak pernah merasa takut,” jawab Wafa. “Yang ngerasa udah paling benar.”

Qale terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Aku dong."

"Loh?"

"Kan aku perempuan. Wanita selalu benar." Qale menangis, air matanya langsung deras. "Aku sensitif banget, ya.”

“Itu hormon,” kata Wafa cepat. “Kalau besok kamu kasian ke ikan yang dikukus, itu juga hormon.”

Qale tertawa sambil mengusap mata. “Kenapa dikukus kalau bisa digoreng. Paling gak, lukanya gak basah kena uap air... Digoreng kan jadi luka mengering," ucapnya di sela tawa.

“Dunia emang gak dirancang buat bumil,” sahut Wafa geleng-geleng.

Qale terkekeh. Lalu tiba-tiba mendekat, menempelkan kening ke dada Wafa. Suaranya kecil. “Makasih ya… masih sabar.”

Wafa mengelus rambutnya. “Aku juga lagi belajar.”

“Belajar apa?”

“Belajar cosplay jadi radar kalau istriku bisa berubah dari galak ke manis… dalam dua menit.”

Qale mengangkat kepala. “Aku manis?”

“Sekarang iya.”

Qale tersenyum lembut. “Kalau nanti aku nyebelin lagi?”

“Ya aku tunggu sampai kamu manis lagi.”

Qale memejamkan mata. Tangan Wafa berpindah ke perutnya.

“Adek, berisik ya di dalam,” bisik Wafa. “Ibu nelen speaker barusan... Ngoceh mulu."

Qale protes pelan. “Hei.”

Wafa terkekeh. “Tapi ayah siaga, kok. Kalau batrenya habis. Siap nge-charge,” godanya.

Qale menghela napas panjang, lalu tertawa lagi. Badannya akhirnya rileks.

"Bobok, Sayang. Apapun kamu, kunikmati masa ini," tutur Wafa lembut, meminta dia berbaring menyamping dan memeluknya dari belakang.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!