Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Duo cemas

Tidak semua perubahan datang dengan perasaan ingin diakui.

Sebagian hanya berupa keputusan kecil yang diulang—lagi dan lagi—sampai ia berubah menjadi kebiasaan.

Pagi itu, Qalesya terbangun dengan napas pendek. Tangannya refleks memegang perutnya yang semakin besar. Bayi di dalamnya bergerak, bukan tendangan kuat, lebih seperti menggeser posisi—namun cukup membuatnya meringis.

“Mas…” panggilnya lirih.

Wafa yang setengah tidur langsung bangun. “Kenapa?”

“Pinggang aku kayak mau patah... sesak.”

Wafa duduk, meraih minyak kayu putih. Tanpa banyak bicara, ia mengusap punggung Qale pelan. Gerakannya hati-hati, seperti takut menyakiti.

“Sakit banget, ya?" bisiknya. “Kita napas bareng.”

Qale mengangguk. Setelah beberapa saat, ia bersandar, napasnya lebih teratur. Tapi matanya berkaca-kaca.

“Mas,” ucapnya tiba-tiba. “Kalau nanti aku panik pas lahiran gimana?”

Wafa terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Ya kita panik bareng.”

Qale tertawa kecil, meski air matanya jatuh. “Kok jawabanmu gitu sih.”

“Becanda, Sayang,” jawab Wafa sambil mencium keningnya. “Kita siapin semua keperluan jauh hari, barengan, termasuk mental.”

Qale memejamkan mata. Ia lelah. Tubuhnya berat. Akhirnya memilih tidur setengah duduk. Punggungnya bersandar pada tumpukan bantal, lehernya disangga handuk kecil yang digulung.

“Mas,” gumamnya lagi. Sudah yang entah keberapa.

Wafa tidak lagi terkejut. Ia hanya menggeser posisi, satu tangan siap di punggung Qale.

“Iya, Sayang.”

“Kalau aku tidur gini, nanti bayinya nggak protes kan?”

Wafa tersenyum kecil. “Kalau protes, paling nendang. Aku bujukin nanti.”

Qale mendecak. “Mas tuh santai banget.”

“Soalnya aku hepi, kan,” jawab Wafa ringan. “Harus ada satu orang yang waras di rumah ini.

Qale melirik kesal, lalu tiba-tiba tertawa kecil. “Aku ngeluh mulu, ya.”

“Enggak,” jawab Wafa jujur. “Aku malah… menikmati.”

Qale mengernyit. “Menikmati penderitaan bumil?”

“Menikmati kamu masih butuh aku,” kata Wafa pelan. “Masih manggil. Masih ngeluh ke aku.”

Qale terdiam. Matanya berkaca-kaca lagi—cepat sekali emosinya berbelok.

“Mas gak capek?”

Wafa menghela napas panjang, jujur. “Capek. Ngantuk. Besok pagi juga pasti ngos-ngosan di kantor.”

“Terus?”

“Tapi aku senang,” lanjutnya. “Begadang bareng kamu. Terima telepon random pas meeting karena kamu kepikiran hal aneh.”

Qale terkekeh. “Kayak minggu lalu aku nelpon cuma buat nanya… bayi bisa cegukan nggak.”

“Dan aku googling selama setengah jam,” sambung Wafa. “Demi menjawab agar kamu yakin sama jawabannya.”

Qale menutup wajahnya. “Mas tuh lebay.”

“Biar,” kata Wafa sambil menyelimutinya lebih rapat. “Ini fase yang gak akan balik.”

Qale menarik napas dalam. Badannya akhirnya lebih rileks.

“Kalau nanti aku rewel lagi?”

Wafa mencium pelipisnya. “Aku standby. Ngurusin kamu itu hobi baruku, Sayang.”

Qale memejamkan mata, masih setengah duduk. Di kepalanya, ketakutan diabaikan Wafa masih ada tapi dia tenang karena pria ini, menerima segala kekurangannya.

***

Di tempat lain, Lea duduk di sudut ruang kegiatan lapas. Piano baru—yang akhirnya diizinkan masuk—berdiri kokoh berdampingan dengan piano lama yang cat nya sudah terkelupas di sana sini.

Tapi bagi Lea, itu seperti pintu kebebasan dirinya berekspresi.

Tangannya menyentuh tuts perlahan. Nada pertama keluar tidak sempurna. Sedikit fals. Tapi ia tersenyum.

“Ulangi,” katanya pada dua napi perempuan di depannya. “Pelan aja. Musik itu bukan lagi lomba.”

Ada yang mencibir dari jauh. Ada yang menghela napas bosan. Tapi ada juga yang bertahan, duduk, mencoba lagi.

Di dinding selnya, beberapa foto hasil jepretan Lea kini ditempel dengan penjepit kecil. Tidak untuk dipuji. Hanya bangga. Tapi setiap orang yang lewat akan melirik. Entah bertanya, atau mencibir.

Lea menyadari bahwa berkarya tidak selalu disambut tepuk tangan.

Sementara itu, Danisha duduk di ruang kerja kecil lapas perempuan. Tangannya memegang sketsa desain sederhana untuk kegiatan amal. Petugas yang dulu memandangnya dengan curiga, kini berdiri di samping, bertanya pendapat.

“Kalau warna ini terlalu gelap, ya?”

Danisha tersenyum tipis. “Kalau mau buat orang betah, jangan bikin mata mereka lelah. Kadang warna bisa bikin mood naik atau sebaliknya.”

Petugas itu mengangguk, mencatat. Lalu memperhatikan cocoklogi warna ala Danisha.

Saat istirahat sore.

Di lapas perempuan.

Lea dan Danisha duduk berhadapan di bangku panjang halaman dalam. Sore membuat bayangan jeruji memanjang di lantai semen. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah basah.

Lea yang lebih dulu membuka suara.

“Kamu pernah kepikiran gak,” katanya pelan, nyaris berbisik, “kalau dosa kita ke Qale itu… bukan cuma soal dia?”

Danisha tidak langsung menjawab. Tangannya saling menggenggam.

“Sering,” katanya akhirnya. “Setiap malam.”

Lea menelan ludah. “Aku dulu mikirnya cuma pengen bikin dia menderita. Bikin dia gagal hamil. Supaya… dendamku selesai.”

Danisha tertawa kecil—tawa pahit yang menusuk hatinya juga. “Dan kita ngerampas sesuatu yang gak bisa dikembalikan.”

Lea mengangguk. Matanya memerah. “Hak dia buat jadi ibu. Hak anak yang gak pernah sempat ada.”

Sunyi jatuh di antara mereka.

Danisha menarik napas dalam. “Dan kita manipulasi berita. Kita bikin narasi. Kita biarin orang lain percaya kebohongan.”

Lea menunduk. “Elan bantu. Dan aku waktu itu… merasa aman. Kayak, ‘tenang, ada yang ngatur.’”

“Padahal justru itu yang bikin kita jatuh di kubangan dosa makin dalam,” sahut Danisha lirih. “Bukan diselamatkan. Tapi dijerumuskan.”

Lea mengusap wajahnya. “Aku gak pernah nyangka efeknya sejauh ini. Trauma. Ketakutan. Bahkan sampai sekarang aku kadang kepikiran kalau semua itu terjadi pada Qale...”

Danisha mengangguk. Suaranya gemetar.

“Aku sering mikir… kalau Tuhan adil, apa dosa kita masih bisa diampuni?”

Lea menatapnya. “Kamu takut?”

“Iya,” jawab Danisha jujur. “Takut banget.”

Lea tersenyum tipis, getir. “Aku juga. Kadang aku sholat, tapi habis itu malah nangis. Takut doaku mentok karena dosaku terlalu berat.”

Danisha terdiam lama. Lalu berkata, “Tapi kalau gak berharap diampuni… kita mau hidup buat apa?”

Lea menoleh. Ada air mata di matanya.

“Aku gak berani minta dimaafkan sama Qale.”

“Aku juga,” sahut Danisha. “Dan mungkin… kita gak pantas.”

Mereka saling menatap. Tidak mencari pembenaran. Tidak saling menenangkan dengan kalimat kosong.

Lea menarik napas. “Yang bisa kita lakuin cuma satu, kan.”

Danisha mengangguk. “Gak ngulang. Gak nyakitin orang lain lagi.”

“Dan nerima konsekuensinya,” tambah Lea pelan.

“Sepanjang hidup,” sambung Danisha.

Angin sore berhembus lebih kencang. Daun kering bergeser.

Lea menatap langit yang mulai redup.

“Kalau Tuhan benar-benar Maha Pengampun… mungkin ampunan itu bukan buat menghapus ingatan.”

Danisha mengikuti arah pandangnya.

“Tapi buat bikin kita cukup kuat menanggungnya.”

Mereka duduk diam. Dua perempuan dengan dosa yang sama-sama berat. Tidak berdamai. Tapi berhenti menyangkal.

Rasa takut itu tidak lagi dihindari.

Ia dihadapi. Pelan. Dengan kepala tertunduk.

"Gimana kabar Elan, ya?" lirih Danisha.

Keduanya lantas berpikir, apakah Elan menjalani hari seperti mereka, berubah pelan atau justru masih sama, menghayal dan hidup di masa lalu tanpa keinginan bangkit.

.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!