Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Makam Ibu
Langit siang itu tidak mendung, tidak juga cerah—hanya berawan biasa.
Qalesya melangkah perlahan di antara nisan-nisan yang berjajar rapi. Bau tanah basah masih tersisa, meski hujan terakhir turun dua hari lalu. Ia berhenti di satu titik yang sudah ia hafal letaknya, bahkan tanpa melihat nama.
Rahayu.
Ia duduk pelan di tepi makam. Mengatur napas. Tangan kanannya refleks mengusap perut, seolah mencari keseimbangan.
Dewi tidak ikut mendekat. Ia memilih duduk beberapa meter di belakang, di bawah pohon kamboja kecil. Cukup dekat untuk berjaga, tidak ikut masuk ke ruang sunyi yang sedang Qale nikmati sendiri.
“Bu…” suara Qalesya lirih. Hampir seperti berbisik pada tanah.
Ia tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kebiasaan daripada bahagia.
“Aku kok gampang capek ... Apalagi hari ini.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak puitis. Tidak sok kuat. Tapi jujur.
Matanya menatap nisan tanpa berkedip. Angin menyapu ujung rambutnya pelan.
“Aku ketemu dosen pembimbing,” lanjutnya. “Revisinya banyak. Kayaknya beliau nggak percaya aku bisa selesai tepat waktu.”
Ia menghela napas panjang.
“Padahal aku udah berusaha, Bu. Aku nggak nangis. Aku nggak marah. Aku cuma… sesak.”
Tangannya mengusap perut. Gerakannya refleks, seperti yang sering ia lakukan belakangan ini.
“Ini juga makin berat,” katanya pelan. “Kadang aku takut… bukan sama sakitnya. Tapi sama tanggung jawabnya.”
Ia terdiam.
Bayangan-bayangan lama datang tanpa diminta.
Qalesya kecil, duduk di lantai dapur, memandangi ibunya yang memasak sambil bersenandung. Bau bawang goreng. Suara radio. Tangan ibunya yang hangat saat menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Dulu aku pikir hidup itu asal hidup aja,” gumamnya. “Sekolah, lulus, kerja, nikah, punya anak. Tertata rapi.”
Ia tertawa kecil, pahit. “Ternyata belok-belok ya, Bu.”
Ingatan lain menyusul. Hari-hari terpuruknya. Kena getah kesalahan orang lain. Kesalahan dirinya sendiri. Yang pernah dikhianati partner saat memulai membangun Anak Lipat dulu. Harapan yang pernah runtuh.
“Aku sempat mikir… apakah pantas punya anak,” ucapnya lirih. “Karena terlalu banyak hal buruk yang lewat di hidupku.”
Kalimat itu membuat dadanya sesak. Tapi ia tidak menangis. Ia hanya menunduk, menyentuh tanah di hadapannya.
“Tapi sekarang aku di sini,” katanya lagi. “membawa satu nyawa kecil yang nggak tau apa-apa soal masa lalu ibunya.”
Angin bertiup sedikit lebih kencang. Daun kamboja gugur satu, jatuh di sisi makam.
“Aku nggak janji jadi ibu hebat ... Seperti ibu,” ucapnya pelan, suaranya bergetar. “Aku nggak tau apa aku selalu kuat.”
Ia menelan ludah. “Tapi aku janji… aku bakal sayang sama anakku, sama seperti ibu yang sayang aku meski aku nggak sempurna.”
Itu saja.
Bukan sumpah. Bukan doa panjang. Hanya satu janji yang ia tahu bisa ia pegang.
Qalesya duduk lebih lama. Tidak berbicara lagi. Hanya menarik napas, menghembuskannya perlahan, seolah menitipkan beban pada mendiang ibunya.
Dari kejauhan, Dewi memperhatikan. Ia tidak mendekat. Tidak memanggil buat buru-buru pulang. Ia tahu, ada percakapan yang tidak butuh pendengar. Hanya curhatan pada sunyi.
Beberapa menit kemudian, Qalesya berdiri pelan. Menepuk tanah di telapak tangannya. Menyeka mata, bukan karena basah, tapi karena berdebu.
Ia menoleh ke arah Dewi.
“Makasi ya, Kak,” katanya pelan.
Dewi tersenyum lembut. “Kapan pun mau ke sini, Nyah, bilang aja.”
Mereka melangkah pergi, tak tergesa. Dewi mengimbangi langkah pelan Qale, sambil menuntunnya.
Di belakang mereka, makam Rahayu tetap sunyi. Tapi tidak dingin.
Qalesya berjalan dengan langkah yang sama beratnya seperti datang tadi—namun dadanya sedikit lebih lapang.
***
Siang itu Qalesya tidak langsung mau pulang.
Setelah dari makam, dia justru meminta Dewi berbelok ke taman kecil di pinggir kota.
Di sana ada jogging track, beberapa bangku kayu, dan satu set ayunan yang catnya sudah pudar.
“Aku nggak pengin langsung balik,” katanya pelan, saat turun dari mobil.
Dewi hanya mengangguk, lalu mengabari Wafa.
Satu jam kemudian Wafa datang menyusul. Dia tidak bertanya kenapa. Ia hanya tersenyum manis, duduk di sisi Qale alu menggenggam tangan istrinya.
“Main ayunan?” tawarnya setengah bercanda.
Qale menoleh. Alisnya terangkat. “Serius? Boleh?”
“Serius. Kamu cuma hamil, Sayang ... bukan jadi nenek,” balas Wafa santai.
Qale tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, tawanya terdengar renyah.
Mereka duduk di ayunan yang berhadapan. Qale bergerak pelan—tidak tinggi, tidak cepat. Wafa mendorongkan sedikit, lalu ikut duduk di ayunan satunya.
“Mas,” kata Qale sambil mengayun perlahan, “kenapa orang dewasa jarang main ayunan ya?”
Wafa berpikir sebentar. “Karena terlalu sibuk jaga image, sok dewasa.”
Qale mendengus. “Jawaban macam apa itu....”
"Kan malu takut dibilang anak kecil, padahal ya pengen juga ayunan."
“Padahal aku cuma pengin bilang… karena ayunan bikin mikir. Naik-turun. Kayak hidup.”
Wafa melirik. “Nah kan, malah bijak lagi.”
Qale tersenyum.
Beberapa menit mereka diam. Angin menyapu anak rambut Qale. Daun-daun bergesek pelan.
Qale memejamkan mata sebentar. “Aku melow, Mas.”
“Aku tahu.”
“Tapi bukan pengen nangis. Cuma ... Kayak sedih aja gitu.”
Wafa mengulurkan tangannya, meraih jemari Qale di sela ayunan yang bergerak. “Kita duduk aja bentar. Nggak perlu ke mana-mana.”
Setelah itu, Qale tiba-tiba berdiri.
“Laper.”
Wafa terkekeh. “Baru bilang capek, sedih.”
“Sedih juga butuh cilok.”
Di depan taman, ada gerobak kecil. Cilok, sosis goreng, dan minuman sachet warna-warni. Persis jajanan anak TK.
Wafa membelikan semuanya. Qale duduk di bangku, melihat suaminya meniup cilok panas. Dia cemberut karena nggak sabar menunggu cilok itu dingin.
“Mas tahu nggak,” katanya sambil mengunyah, “kalau anak kita nanti nanya, ‘Ayah sama Ibu pertama ketemu di mana?’”
“Di taman, makan cilok,” jawab Wafa cepat.
Qale tertawa. “Romantis amat.”
“Iyalah. Kisah cinta antara pembeli cilok dan yang niupin ciloknya.”
"Karena aku nggak bisa makan cilok panas ya." Keduanya tertawa lepas.
Setelah itu mereka berjalan pelan di jogging track. Langkah disesuaikan dengan napas Qale. Lengan Wafa melingkar di bahunya, Qale menyelipkan tangan di pinggang suaminya.
“Mas.”
“Iya.”
“Tebak-tebakan yuk.”
“Receh?”
“Banget.”
Wafa mengangguk. “Gas.”
“Apa bedanya skripsi sama mantan?”
Wafa berpikir. “Skripsi ditinggal dikit langsung dicari dosen.”
Qale terbahak. “Salah. Skripsi itu makin dikejar makin banyak revisi. Mantan kebalik.”
Wafa menghela napas dramatis. “Ok. Satu nol. Aku Kalah.”
“Giliran Mas.”
“Apa bedanya hamil sama deadline?”
Qale menatap. “Apa?”
“Deadline bisa diundur. Hamil nggak.”
Qale mencubit lengannya. “Curang, itu kan karena maunya Mas.”
Mereka tertawa sambil tetap berjalan pelan. Pelukan itu tidak dilepas. Dunia terasa milik berdua, yang lain ngangsur.
Saat matahari mulai condong, Wafa mengajak pulang.
Di rumah, Bakar sudah duduk di ruang tamu. Wajahnya kelihatan gelisah—tidak seperti biasanya.
“Eh,” sapa Wafa. “Kok tumben duduk di sini?”
Bakar berdiri. “Nungguin. Mau ngomong, Bos.”
Qale menyipitkan mata. “Wih. Serius.”
Mereka duduk bertiga. Bakar menggaruk tengkuk.
“Aku mau… minta pendapat,” katanya. “Aku mau melamar Ria.”
Wafa tersenyum lebar. “Akhirnya.”
Qale malah menyandarkan punggung, menatap Bakar dari ujung kepala sampai kaki. “Pak duda mau nikah lagi?”
Bakar mendesah. “Mulai.”
“Bukan apa-apa,” lanjut Qale santai, “aku cuma mau pastiin… udah siap begadang lagi. Bedanya nanti bukan begadangin bayi, tapi istri ... Masih kuat, gitu?"
Wafa tertawa kecil. “Sayang.”
Bakar mendengus, melotot kesal pada Qalesya.
“Tenang,” Qale mengangkat tangan. “Aku belum masuk ke topik yang lebih dewasa."
“Jangan,” potong Bakar cepat.
Qale menyeringai. “Santai. Aku cuma mau bilang… jangan sok jago. Pengalaman bukan jaminan.”
Wafa berdehem, pura-pura serius. “Tull, apalagi Ria itu unboxing buka segel. Up to date gak gayamu, Damkar!"
Bakar menggeleng frustasi. “Kalian kompak ngerjain aku.”
Qale tersenyum lembut kemudian. Nada suaranya berubah. “Bercanda. Aku seneng kok. Ria perempuan baik. Dan Pak Bakar pantas bahagia lagi.”
Bakar terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Makanya aku mau nanya yang bener.”
“Datang yang sopan,” kata Qale. “Niat jelas. Jangan kebanyakan drama.”
Wafa menepuk bahu Bakar. “Dan siap mental. Ria bukan orang yang gampang dibujuk.”
Bakar tersenyum, kali ini lebih tenang. “Doain ya.”
“Pasti,” jawab Qale. "Kapan? Biar aku traktir jamu..." gelaknya dikuti Wafa.
Malam turun pelan. Di rumah itu, tidak ada perayaan besar. Hanya percakapan kecil, tawa sederhana, dan keyakinan pelan bahwa hidup—meski tidak selalu mudah—masih layak dijalani bersaa.
.
.