Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Banjir revisi

Langit sore sudah bergeser ketika mereka akhirnya tiba di rumah.

Qalesya tidak langsung masuk kamar. Ia duduk sebentar di sofa ruang tengah, melepaskan sepatu pelan, seperti orang yang baru selesai menempuh perjalanan jauh—padahal jaraknya tidak seberapa.

Wafa memperhatikannya dari belakang, tidak bertanya, tidak mendesak. Ia hanya melepaskan dasi dan meletakkan di meja, lalu mendekat.

“Kamu mau langsung rebahan?” tanyanya pelan.

Qale mengangguk kecil. “Iya.”

Wafa memapah ke kamar, Qale berbaring setengah duduk seperti biasa. Bantal bertumpuk di punggungnya, kaki sedikit ditekuk, satu tangan bertengger di perut. Wafa menarik selimut tipis, menyelimutinya sampai sebatas pinggang.

Ia duduk di sisi ranjang. Baru bertanya setelah istrinya nyaman.

“Seharian tadi… ada yang ganggu pikiranmu?”

Nada suaranya datar, hati-hati. Tidak seperti menginterogasi.

Qale menoleh pelan. Tatapannya ragu, seolah sedang menimbang—perlu cerita atau tidak.

“Enggak,” jawabnya cepat.

Wafa tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk, lalu mulai memijat bahu Qale dengan tekanan ringan, berirama. Dia sudah hafal titik-titik lelah istrinya.

Beberapa detik berlalu. Sunyi.

“Mas…” suara Qale akhirnya keluar. Lirih. “Kalau aku cerita, Mas bosen dengernya nggak?”

Wafa tersenyum kecil. Tangannya tidak berhenti bergerak.

“Bosen itu kalau denger orang marah-marah mulu. Kalau kamu cerita… enggak.”

Qale menelan ludah. Matanya menatap langit-langit.

“Revisinya nambah,” katanya akhirnya. “Banyak.”

Ia berhenti sebentar, seperti menunggu reaksi. Wafa tidak menyela.

“Bukan yang susah banget sih,” lanjut Qale, suaranya makin kecil. “Cuma… rasanya kayak aku salah melulu. Kayak belum cukup pinter. Belum ngerti. Belum siap ikut skripsian.”

Wafa memindahkan pijatan ke tengkuk. Jempolnya menekan pelan, pas di titik yang sering bikin Qale menghela napas lega.

“Revisi itu tanda dosenmu masih mau ngajarin,” katanya singkat.

Qale melirik. “Masa? ... cuma gitu?”

“Cuma gitu,” jawab Wafa tenang.

Qale mendengus pelan. “Aku kira Mas bakal bilang ‘kamu hebat’, ‘kamu pasti bisa’.”

Wafa terkekeh kecil. “Itu nanti. Sekarang kamu lagi capek. Jangan ditambah beban harus merasa hebat.”

Qale diam. Bahunya meluruh, seolah kalimat itu membebaskan sesuatu dari pundaknya.

Wafa berpindah posisi, kini duduk bersila di ujung ranjang. Ia mengangkat kaki Qale pelan, menaruhnya di pangkuan, lalu mulai memijat betisnya.

Qale terkejut, ingin menarik kakinya tapi ditahan Wafa. “Mas ngapain?”

“Negosiasi sama kaki kamu,” jawab Wafa santai. “Kayaknya dari tadi dia protes.”

Qale tertawa kecil. “Protes apa?”

“Katanya, ‘aku disuruh nopang yang lagi mikir skripsi tapi juga disuruh bawa manusia lain’.”

Qale terkekeh. Tawanya belum lepas, tapi sudah terdengar lebih ringan.

Wafa melirik perut Qale, lalu menunduk sedikit. Tangannya berpindah, mengusap pelan.

“Dek,” katanya setengah berbisik, setengah bercanda.

“Sabar dulu ya, di perut ibu. Jangan ikut stres. Repot, masa ayah harus maksa kamu bimbingan skripsi tiap hari," ucap Wafa menahan senyum.

Qale menggeleng cengengesan. “Mas, itu sih modus. Maumu nengok saban malam,” balasnya mengelus rambut Wafa yang menciumi perutnya.

“Ini penting,” balas Wafa. “Kita lagi rapat keluarga.”

Qale tertawa lagi, kali ini lebih lepas.

Beberapa detik kemudian, Qale bersuara lagi. “Aku tuh bukan takut revisinya, Mas. Aku takut… kecewain.”

“Siapa?”

“Semua.”

Ia menoleh. “Mas. Anak kita. Diri aku sendiri.”

Wafa berhenti memijat. Ia mendekat, duduk di samping Qale, menyandarkan bahu istrinya ke dadanya.

“Kamu nggak perlu jadi versi terbaik saban waktu, Sayang,” katanya pelan. “Cukup jadi ibu yang masih mau bangun besok pagi ... Buat liat aku dan dia,” bisik Wafa, mengecup pucuk kepala istrinya.

Qale menghela napas panjang. Kepalanya bersandar manja.

“Mas.”

“Iya.”

“Kalau aku besok ngerjain revisi sambil ngomel…”

“Aku dengerin.”

“Kalau aku berhenti di tengah jalan?”

“Kita jalan-jalan dulu.”

“Kalau aku nangis?”

Wafa mencium pelipisnya singkat. “Berarti kamu manusia. Bukan mesin.”

Qale tertawa. Kali ini tawanya benar-benar lepas. Ruangan itu terasa hangat, penuh suara yang menenangkan.

“Mas tuh ngeselin,” katanya sambil menyeka mata. “Bikin aku nggak bisa drama lama-lama.”

“Syukurlah,” jawab Wafa ringan. “Drama itu boros energi. Kita kaum mager.”

Qale memejamkan mata sebentar. Napasnya lebih teratur.

“Mas.”

“Iya?”

“Makasi ya.”

“Kenapa?”

“Karena Mas ya suamiku.”

Wafa tersenyum. Tangannya kembali mengusap perut Qale, ritmenya pelan, menenangkan.

“Sama-sama, Sayang,” katanya. “Besok kamu boleh jadi mahasiswa galak lagi.”

Qale mengangguk kecil. Senyumnya tertinggal saat matanya terpejam.

***

Wafa belum ke kantor. Kemejanya masih digantung rapi, jam tangan belum melingkar di pergelangan. Ia memilih kaos tipis dan celana santai—pilihan yang jarang ia pakai di hari kerja.

“Aku masuk siang,” katanya sambil mengalungkan tas selempang kecil. “Aku mau ikut ke pasar sama kamu.”

Qale menoleh dari meja rias. “Serius?”

Wafa mengangguk. Matanya berbinar seperti anak kecil. “Iya."

Bukan karena ingin belanja. Tapi karena kepengen menemani. Keduanya lalu meluncur ke toko Anak lipat.

Mereka lalu berjalan berdua menyusuri trotoar. Pasar tradisional tak jauh dari toko dan sudah mulai ramai. Bau kue basah, gorengan, dan daun pisang bercampur jadi satu. Qale melangkah pelan, menikmati warna-warni lapak. Wafa di sisinya, menempel ketat.

“Mas,” kata Qale sambil menunjuk. “Klepon.”

Wafa langsung berhenti. “Dua bungkus. Kelapanya di pisah.”

Pedagang tersenyum. Qale tertawa kecil. “Mas hafal?"

“Hafal istri sendiri itu kewajiban.”

Wafa menenteng jajanan: cenil, lupis, serabi. Tangannya sigap, matanya awas. Setiap kali Qale berhenti terlalu lama, ia mendekat. Setiap kali orang lewat terlalu dekat, ia menggeser posisi.

Ia bangga. Tidak disembunyikan. Ia ingin orang-orang tahu: ini istrinya. Hamil. Dan ia menjaganya.

Di lorong sempit dekat lapak sayur, seorang perempuan paruh baya tersenyum lebar melihat perut Qale yang mulai membulat.

“Wah, hamil berapa bulan?” katanya ramah. Tangannya refleks terangkat. “Boleh pegang biar nular?”

Wafa bergerak cepat. Satu langkah maju, satu tangan terangkat—tegas, mencegah wanita itu menyentuh Qale.

“Maaf,” katanya dingin tapi sopan. “Jangan pegang.”

Perempuan itu terkesiap kecil. “Lho, cuma sebentar. Saya juga perempuan.”

Wafa tidak menurunkan lengannya di depan perut Qalesya. “Tetap jangan. Dia istri saya.”

“Ah, cuma biar nular hamil aja—”

“Hamil itu dibuat,” potong Wafa, suaranya rendah sedikit tegas, “bercocok tanam dengan suami. Bukan ngelus perut istri saya.”

Sunyi sepersekian detik. Perempuan itu tertawa canggung, lalu mundur.

Qale menutup mulutnya, menahan tawa. Begitu mereka berjalan lagi, ia mencolek lengan Wafa.

“Mas galak.”

“Protektif, Sayang,” koreksi Wafa.

Qale cengengesan. “Iya, iya. Galak tapi gemesin.”

Wafa melirik, akhirnya ikut tersenyum.

Saat kembali ke toko Anak Lipat. Ria tampak sedikit gugup. Senyumnya lesu tapi matanya menyiratkan kebingungan.

Setelah basa-basi singkat, Wafa duduk lebih dulu di meja pojok ruangan—memberi ruang tanpa diminta.

Ria menarik napas. “Kak, aku boleh curhat?”

Qale mengangguk. “Duduk yuk.”

Mereka duduk di bangku kayu dekat kasir. Suasana jalanan jadi latar yang ramai, tapi percakapan mereka terasa berat. 

“Pak Bakar itu baik,” kata Ria pelan. “Terlalu baik, malah.”

Qale menunggu. Tidak memotong.

“Aku cuma… takut,” lanjut Ria. “Takut nggak bisa jadi istri yang dia butuhkan. Takut masa lalu dia ikut masuk ke rumah tangga kami.”

Qale menatap Ria lembut. “Aku tanya satu hal ya.”

Ria mengangguk.

“Apa yang paling kamu inginkan dari sebuah pernikahan?”

Ria terdiam lama. Lalu menjawab lirih, “Tenang.”

Qale mengangguk kecil. “Sekarang pertanyaan kedua. Menurutmu, Bakar punya itu?”

Ria menghela napas. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya muncul. “Mungkin.”

“Kalau gitu,” kata Qale pelan, “ketakutanmu wajar. Tapi jangan biarkan dia mengambil alih keyakinanmu ... sesuatu yang sebenarnya sudah kamu tahu jawabannya.”

Ria mengusap mata, mengangguk samar. “Makasih, Kak Qale.”

“Pelan-pelan aja. Diobrolin,” balas Qale. “Nggak ada yang harus sempurna.”

Wafa mendekati mereka dengan dua botol air mineral di tangannya. Ia tidak bertanya. Hanya menaruh satu di depan Ria.

Ria berdiri. “Aku jadi harus percaya diri.”

Setelah Ria pergi, Wafa menoleh ke Qale. “Dia kenapa?”

Qale mengangguk. “Iya. Aneh ya, Mas… ngomongin hidup orang lain malah bikin aku lebih tenang.”

Wafa tersenyum. “Karena kamu tulus, tidak menghakimi.”

Mereka lalu keluar lagi melanjutkan belanja. Langkah pelan. Tangan saling bertaut. Qale sesekali tertawa kecil—entah karena jajanan, entah karena Wafa yang masih mengomel soal ‘keinginan iseng’.

Di tengah pasar yang riuh, Qalesya bahagia melihat Wafa begitu—menjaga, cerewet, protektif—entah kenapa jadi boosternya hari ini.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!