Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Yeaayy lulus

Bagi Wafa, itu seperti menunggu bantuan bencana Aceh yang tak kunjung datang. Ia berdiri, duduk, berdiri lagi. Tangan kirinya dingin. Tangannya yang lain mengepal.

Lalu suara tangis terdengar.

Bukan histeris. Bukan panik.

Tangis lega.

Wafa refleks melangkah lebih dekat, tapi dicegah petugas.

Di sana, Qalesya menangis sambil bicara. Suaranya bergetar tapi jelas.

“…prosesnya nggak mudah, Pak… Bu… Saya hamil, skripsi, mondar-mandir rumah sakit. Jadi kalau memang belum layak, jangan diluluskan karena kasihan…”

Salah satu penguji tersenyum, suaranya tenang. “Kami tidak meluluskan karena kasihan.”

Qale mendongak.

“Pemaparan Anda singkat, padat, jelas. Argumentasi Anda rapi. Anda percaya diri meski hamil delapan bulan. Itu bukan kasihan,” lanjutnya, tegas. “Itu respect. Karena Anda memilih fight.”

Tangis Qale pecah.

Wafa tidak peduli aturan lagi. Ia menerobos masuk, memeluk istrinya erat. Wajah Qale basah, bahunya gemetar.

“Terima kasih…” Qale terisak. Entah pada siapa.

Wafa hanya mengusap kepalanya. “Aku bangga sama kamu.”

Sidang selesai. Qalesya dinyatakan Lulus.

Keluar ruangan, langkah Qale masih ringan oleh bahagia—sampai beberapa meter kemudian wajahnya berubah pucat.

“Mas…” suaranya lirih. “Perutku…”

Winda dan Hasan baru saja memberi selamat, menyongsong mereka ketika Wafa melihat satu hal yang membuat dadanya berdebar hebat.

Qalesya berkeringat dingin.

“Bakar!” panggilnya keras. “Dewi, kursi roda!”

Semua bergerak cepat.

Di rumah sakit, kontraksi masih jarang. Lalu sore, makin rapat.

Dokter memeriksa. Wajahnya serius. “Ada pembukaan.”

Wafa menggenggam tangan Qale. “Aku di sini."

Wafa membantu Qale jalan pelan, mengusap punggung dsb.

Menjelang tengah malam, Qalesya kelelahan. Tubuhnya lemah, napasnya pendek-pendek. Dokter bahkan terlihat tegang.

“Ayo, Bu… sedikit lagi…”

Wafa hampir tidak bernapas. Tangannya basah oleh keringat Qale.

Tangis pertama itu akhirnya terdengar.

Kecil. Serak. Nyata.

Wafa jatuh terduduk lemas di sisi Qale. Tangisnya keluar tanpa izin. Qalesya pun menangis, campur lega dan sakit yang belum sepenuhnya pergi.

“Putra kalian,” kata dokter, tersenyum letih.

Wafa menerima tubuh kecil itu. Hangat. Mungil. Hidup. Ia mengadzani dengan suara gemetar, air mata jatuh satu-satu ke pipi bayinya. Lalu skin to skin. Bayi itu tenang di dadanya—berambut ikal, persis Qalesya.

Wafa berbisik, suaranya patah tapi jelas. “Ambrasiansya Magebaha,” katanya.

“Selamat datang di dunia kami.”

Di malam itu, Wafa paham satu hal:

Semua kewaspadaan, semua kurang tidur, semua kecemasan—tidak sia-sia.

***

Winda dan Hasan berdiri di balik kaca ruang perinatologi.

Wafa mengangkat bayi mereka pelan, memperlihatkan wajah kecil yang masih memerah, mata terpejam, napasnya teratur.

Winda langsung menutup mulutnya. Matanya basah. “MasyaAllah…” suaranya pecah. “Itu cucuku…”

Hasan berdiri lebih dekat. Punggungnya yang biasanya tegak kini sedikit membungkuk, seolah takut kebahagiaannya terlalu besar untuk tubuhnya yang menua.

“Laki-laki?” tanyanya singkat, tapi suaranya bergetar.

Wafa mengangguk. “Sehat. Jagoan.”

Wafa menempelkan telapak jarinya ke kaca, tepat di depan wajah bayi itu. Menulis kata ~Baha.

“Kami panggil dia Baha,” katanya pelan. “Artinya mulia, cemerlang. Soleh… semoga kayak Gus Baha. Aamiin.”

Hasan tersenyum lebar. “Bagus. Keren namanya.”

Winda menyenggol lengan Hasan pelan. “Tapi tunggu Wafa ceritain yang lengkap deh artinya.”

Wafa pun menjelaskan. Tentang Ambrasiansya. Tentang Magebaha. Tentang asal-usul yang terlalu apa adanya.

Hasan mendengarkan sampai habis. Lalu ia menggeleng, tertawa pendek sambil menghela napas.

“Kalian yang aneh,” katanya sambil menunjuk Wafa dan Qale yang tak ada di sana, “bukan cucuku.”

Namun senyumnya tak pergi.

Qalesya sendiri masih di dalam. Perawat merapikannya, mengganti balutan, membersihkan tubuhnya yang lelah luar biasa. Wafa menunggu di samping ranjang, matanya tak lepas sedetik pun.

Begitu Qale dipindahkan ke ruang perawatan, Wafa langsung mengambil alih.

Ia menyuapi dengan hati-hati, memijat kepala Qale pelan, lalu turun ke kaki. Menyiapkan minyak hangat. Memesan terapis pasca melahirkan bahkan sebelum Qale mengeluh lelah.

“Mas, aku nggak apa-apa,” kata Qale lemah.

“Aku yang nanti kenapa-napa,” jawab Wafa singkat. “Kalau kamu kecapekan.”

Urusan bayi ia serahkan pada Winda dan baby sitter. Ia memilih berjaga di sisi Qale.

Malam hari, Wafa yang bangun setiap suara kecil terdengar. Tapi anehnya, Baha seperti mengerti. Bayi itu tidur hampir sepanjang malam. Tidak rewel. Tidak menangis lama.

Seolah berkata, ayah boleh istirahat dulu.

Hari-hari berlalu. Qale perlahan segar kembali.

Saat aqiqah tujuh harian, wajah Qalesya cerah. Rambutnya sudah rapi, langkahnya lebih stabil. Tapi satu hal membuat Winda geleng-geleng kepala.

Wafa nyaris tak menyentuh bayinya. Ia sibuk memastikan Qale duduk nyaman. Minum cukup. Tidak terlalu lama berdiri. Tidak kelelahan menerima tamu. Tangannya refleks mengusap punggung Qale setiap kali ia terlihat menarik napas terlalu dalam.

Hasilnya, sore itu Baha rewel. Menangis lama. Hampir semalaman.

Qale yang akhirnya menyadari menatap Wafa lama. “Mas…” katanya pelan.

Wafa terdiam. Baru kali itu ia benar-benar tak menatap bayinya sejak pagi. Wajah kecil itu merah. Suaranya parau.

Wafa menggendong Baha hati-hati. Tubuh kecil itu masih hangat, napasnya pelan tapi tersendat sisa tangis.

“Eh… sudah, sudah,” katanya lirih. “Ayah di sini.”

Ia menepuk punggung Baha pelan. Canggung, tapi sabar. “Lapar ya?” Wafa menebak-nebak. “Atau cuma pengen digendong?”

Baha meringis kecil, lalu diam. Tangannya mencengkeram baju Wafa.

“Begini toh rasanya,” gumam Wafa. “Kecil banget, tapi bikin ayah takut kenapa-kenapa.” Ia menunduk, melihat wajah merah itu lebih dekat.

“Ayah tadi kelamaan jagain ibu,” katanya jujur. “Bukan nggak sayang Baha. Ayah cuma… takut ibu capek.”

Baha bersuara pelan, bukan menangis. Seperti mengeluh.

“Iya, iya,” Wafa tersenyum kecil. “Baha juga penting. Dua-duanya penting.”

Ia mengusap kepala Baha pelan. “Tenang ya,” katanya lembut. “Ayah belajar pelan-pelan.”

Baha mulai tenang. Napasnya lebih teratur.

Wafa menghela napas lega. “Nah… gitu. Pinter.”

Ia melirik ke arah Qale yang memperhatikan dari ranjang.

“Kayaknya Baha ngerti,” kata Wafa pelan.

Qale tersenyum lemah. “Kreasinya Mas, kan dia itu.”

Wafa menatap kembali ke Baha, suaranya hampir berbisik. “Baha,” katanya pelan. “Putraku.”

Baha tertidur di dadanya. Wafa tersenyum kecil.

Qale menatap mereka, binar matanya hangat. “Mage…” katanya lirih. “Kamu tuh… kayak magic."

Wafa menoleh.

“Tua sebelum waktunya,” lanjut Qale sambil tersenyum lelah tapi bahagia. “Tapi hatimu… lembut, seperti ayah.”

Wafa menunduk, mencium kening putranya.

Di rumah itu, satu manusia butuh perhatian Qale dan Wafa, yang masih belajar jadi orang tua.

.

.

Tamat.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!