Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Isyarat Mun
Kepalanya penuh dengan ingatan, dan perasaan yang belum semuanya tertata.
Wafa lalu menyerahkan sebuah map. Tulisan di depan map cukup membuat Qale menegang. Diam-diam, tangan Qale sedikit gemetar saat membukanya.
Itu hasil visum almarhumah Rahayu.
Dia membaca cepat. Baris-baris tulisan medis itu terasa lebih dingin dari AC yang menyala. Kata-kata seperti “paru-paru penuh cairan” dan “lumpur ditemukan di saluran cerna” membuat jantungnya mengerut.
“Ibu…” bisik Qale nyaris tak terdengar. “Aku belum ingat sempurna malam itu.” Dia mendesah panjang.
Wafa tak menjawab. Dia hanya mengamati istrinya yang menunduk, jari-jari menggenggam erat lembaran hasil visum itu. Seperti memeluk kenyataan yang belum siap diterima.
“Kamu tau, Sya? Suara Wafa pelan, seperti gumaman, "apa untungnya bila aku pelaku DM itu?”
Qale terdiam. Merenung.
Dia menoleh, menatap Wafa yang masih duduk dengan santai, tetapi matanya jelas-jelas menyimpan sesuatu. Tenang, tapi dalam.
Sementara itu, Wafa diam-diam memandangi wajah istrinya. Matanya ... persis seperti milik Bu Rahayu. Indah, walau sipit sebelah karena cedera lama. Senyumnya, apalagi saat gingsul itu muncul, membuat dada Wafa menghangat.
Sudah sepuluh tahun. Gadis yang dulu suka berlarian di pelataran rumah itu, menangis di dekatnya … kini nyaris lulus kuliah, berjalan sendiri tanpa siapa-siapa.
Dan kini, duduk di depannya lagi—memeluk hasil visum ibunya.
“Sudah besar ya kamu…” gumamnya dalam hati. “Sudah dewasa. Rasanya baru kemarin.”
Qale merasa grogi ditatap intens. Apalagi tangan kanan Wafa masih menggenggam jemarinya dengan lembut. Dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, salah tingkah.
Tapi ... pandangan itu terlalu intens. Terlalu lama. Wafa berubah. Matanya tampak kosong.
Qale mengibaskan tangan di depan wajah Wafa, membuat pria itu terhenyak kecil.
Wafa segera menarik diri, memundurkan kursi rodanya pelan. “Ehhem,” gumamnya. “Sudah ketemu jawabannya?”
“Untungnya?” ulang Qale. “Entah. Mungkin... balas dendam,” katanya malu-malu, tapi suaranya mengeras di akhir kalimat.
Wafa tersenyum kecil, dia bertanya pelan, “Untuk ibu?”
“Atau … buat aku,” sambung Qale, wajahnya memerah. “Kan… Tata sayang aku…”
Dia langsung menunduk setelah mencuri pandang dan mengatakan itu, pipinya bersemu merah. Apalagi Wafa membalas dengan senyumannya.
‘Kulkas banget. Yolo. Tolong, Baim. Dingin meleleh,’ batin Qale.
Wafa lalu mencondongkan tubuhnya. “Kerugiannya?”
Qale cepat menjawab, “Nama baik dan... capek.”
Wafa mengangkat alis. “Nggak kepikiran kalau yang kirim semua itu cuma mancing kamu?”
Deg.
“Mancing ... ingatanku, Kak?”
Wafa tak menjawab. Hanya mengendikkan bahu. “Coba, pikir.”
Qale menggigit bibirnya, berpikir keras. Tapi konsentrasinya buyar saat Wafa mulai menopang dagu dengan tangan, menelengkan kepala sambil memandanginya — gaya lama yang sukses bikin Qale salah tingkah sejak dulu.
“Aaaah, Kak!” Qale menggeser duduknya, membelakangi Wafa.
Tawa renyah Wafa terdengar. Dia mengusap punggung istrinya sebelum keluar kamar.
“Bobok, Lesa ... Sya,” katanya, lalu mendorong kursi rodanya menjauh.
Tapi tiba-tiba dia berhenti di ambang pintu. “Mau dipanggil apa, jadi? Lesa? Sya?”
“Bebas,” jawab Qale, “gimana Tata aja.”
“Sayang aja kalau gitu.”
Bantal kecil melayang, mengenai punggungnya. Wafa tertawa keras dan cepat-cepat menghindar sebelum dilempar lagi.
Setelah kepergian Wafa, Qale menutup pintu dan merebahkan diri. Di hadapannya, visum itu masih terbuka. Ia membaca kembali bagian bawah lembar pertama.
[“Dugaan penyebab kematian : Asfiksia karena tenggelam. Luka ringan ditemukan, namun belum dapat dipastikan korelasinya tanpa penyelidikan tambahan.”]
Sampai larut malam, Qale belum bisa tidur. Pikirannya kembali melayang ke semua DM yang ia terima.
“Anonim semua. Siapa ya yang ngirim?” gumamnya pelan. “Mbak Mun? Enggak mungkin. Lea? Kayaknya nggak segitunya. Ayah?” Ia tertawa miris. “Bau sapi lebih menggugah selera Hasan Sasmita ketimbang upload-an di medsos.”
Dia mendesah, menatap langit-langit.
“Semuanya nggak mungkin...”
Matanya mulai terpejam. Tapi seperti film lama yang berputar, tiba-tiba suara Mbak Mun semalam menggaung lagi dalam ingatannya.
[“Ada pria muda malam itu, Non...”]
Mata Qale membulat sempurna.
“Pria muda?”
Dia berguling ke kanan. Jantungnya mulai berpacu. Dahinya mengernyit keras.
“Pernah dekat dengan aku?” gumamnya pelan.
Beberapa detik berlalu dalam hening. Lalu...
“Hah… dia?”
Qale menegakkan tubuhnya, napasnya memburu.
Matanya menatap lurus ke depan.
Satu nama muncul di benaknya.
Dan kali ini, dia bahkan lebih takut dari sebelumnya.
***
Sementara itu di rumah keluarga Sasmita.
Pintu ruang tengah dibanting keras oleh Lea. Suara tumitnya menghentak lantai, disusul Hasan yang langsung duduk lesu di sofa.
“Goblok si Mun!” desis Lea tajam. Apalagi saat melihat ARTnya itu kabur ke belakang.
Hasan tak menjawab. Dia hanya menunduk, wajahnya pucat. Tangannya mengepal, menggenggam waist bag-nya erat.
“Mbak Mun! Ke sini kamu!” teriak Lea.
Langkah pelan terdengar dari dapur. Mbak Mun muncul dengan muka sembab, kusut dan napas tersengal. Rambutnya masih berantakan. Masih ada bekas merah di lengan tempat tadi ia ditendang Hasan.
“Maaf, Non...” ucapnya lirih.
“Jangan ‘maaf’! Kamu pikir mulut kamu bisa seenaknya?” Lea mencubit bibir Mbak Mun sampai lecet.
“Dia anak Bu Rahayu, Non... Saya cuma—”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Mbak Mun.
“Mulut kamu diem atau aku jahit sendiri!” Lea membentak, suaranya meledak. “Jangan harap ada THR atau uang pensiun dari rumah ini!”
Hasan berdiri pelan, lalu berjalan ke arah Mbak Mun. Tatapannya tajam, penuh ancaman.
“Kamu tahu sesuatu, Mun?!”
Mbak Mun mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Air matanya mulai jatuh.
“Mulai malam ini, kamarmu di gudang. Nggak boleh pegang HP. Nggak boleh keluar,” Lea memberi aba-aba pada ART lainnya. “Kunci pintunya.”
Mbak Mun mengangguk ketakutan. Dia mundur perlahan, tubuhnya gemetar saat kembali ke dapur.
Hasan duduk kembali, napasnya berat. Dia menyenderkan kepala, lalu bergumam lirih, “Lea, matamu sakit, nggak?" tanyanya seketika melembut.
Biasanya setelah Lea emosi memuncak, dia suka mengeluh matanya ikut sakit.
Lea tak menjawab. Dia meraba sofa lalu duduk di dekat sang ayah. Menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, rasa takut lebih besar dari amarahnya. Dadanya bergemuruh hebat. 'Nyaris saja,' batin Lea.
.
.