Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Kecelakaan itu?

Sepanjang malam, Qale tak bisa tidur. Kepalanya terus bekerja, menimbang-nimbang setiap pesan anonim yang pernah masuk. Ia mengambil buku kecil dan mulai mencatat satu per satu : waktu pengiriman, gaya bahasa, bahkan jeda antar pesan.

Setelah Subuh, ia memutuskan keluar rumah. Tujuannya sederhana—membiarkan tubuh lelah, agar kantuk datang dengan sendirinya. Awalnya Qale hanya berolahraga ringan di halaman, tapi entah kenapa, matanya tertarik menyusuri lingkungan sekitar.

Selama ini, setiap kali datang ke rumah Wafa, pikirannya terlalu semrawut untuk memperhatikan sekitar.

Masih remang dengan cahaya fajar, Qale mulai berlari kecil. Jalan aspal yang sempit memanjang di depan membuatnya antusias. Di sisi-sisinya, pepohonan berdiri rimbun—Flamboyan berbunga oranye kecil, berbiji mirip petai yang menggantung lucu, dan Trembesi kokoh seperti pahlawan peneduh jalan.

Di sela-sela rumah, tampak ladang singkong dan sayuran tumbuh subur. Rupanya mayoritas warga di sini berprofesi sebagai petani.

Beberapa penduduk desa berjalan pagi-pagi sekali, menenteng cangkul, arit, juga teko dan rantang bekal.

Sapaan mereka hangat. Ramah. Seolah menyambut Qale sebagai bagian dari kampung mereka.

Salah satu dari mereka, pria tua dengan karung besar di punggung, menoleh dan tersenyum. Qale lalu memutuskan mengikutinya.

“Pendatang, Neng?” tanya si kakek saat langkah mereka sejajar.

Qale mengangguk. “Iya. Saya tinggal di rumah tua bercat putih di sana, Kek.” Ia menunjuk ke arah rumah Wafa. “Kenal?”

Si kakek ikut menoleh. Meski sudah jauh, matanya masih awas. “Kayaknya rumah peristirahatan, ya? Diurus Ceu Yati, eta mah.”

“Ceu Yati?” ulang Qale, mengernyit.

“Yang suka ngurusin kalau majikannya datang. Yang pakai kursi roda, itu, ya?” tanya si Aki.

Qale diam sejenak, lalu mengangguk. “Saya kira, beliau orang sini…”

“Bukan. Setahu Abah, rumah itu kosong dulu. Baru mulai dipakai lagi setelah … kecelakaan maut itu. Dulu bekas rumah dinas menir Belanda." Si kakek menunjuk hunian di sepanjang jalan. "Tuh, rumah pribumi mah begitu, Neng,” kekehnya.

Qale menoleh ke belakang. Rumah Wafa memang bergaya Eropa klasik, kontras dengan bangunan lain di sekitarnya.

Dia lalu bertanya, “Kecelakaan?”

Si kakek mengangguk. Tapi penjelasannya terbatas karena ingatannya mulai memudar. Qale hanya mendapat sedikit potongan cerita. Tapi pikirannya langsung bekerja. Ia mulai menyusun kemungkinan. Apa mungkin… Wafa terlibat dalam kecelakaan itu?

“Abah kenal Rahayu?” tanyanya kemudian.

“Rahayu siapa?”

“Perempuan yang dulu tinggal di rumah itu. Bawa anak kecil?”

Kakek itu menggeleng pelan. “Mungkin pendatang juga. Atau kerabat si Aden di sana. Soalnya anak muda sini udah banyak pindah ke kota. Abah masih hafal semua kalau sepuh mah,” kekehnya diikuti suara batuk khas manula.

Qale mengantar kakek itu sampai ke ladang, lalu melanjutkan lari kecil menyusuri jalan hingga ke jalan besar.

Langit mulai merekah keperakan. Dari atas bukit sebelah utara, napasnya mulai terengah. Di depannya, jalan menurun tajam. Tikungan curam seperti setengah lingkaran, diapit satu sisi berupa dinding tanah, dan sisi lainnya—jurang.

Angin bertiup pelan. Udara terasa lebih dingin di sini. Seolah ada sesuatu yang belum usai.

Ia berdiri terpaku. Matanya menyisir medan yang membentang di bawahnya. Ada bekas marka jalan yang penyok, seperti pernah dilalui kendaraan dengan kecepatan tinggi. Papan peringatan "rawan kecelakaan" beberapa terpasang di sana.

Pohon di tepi tebing seperti ditebang paksa. Beberapa cermin cembung pun terlihat di kedua sisi kelokan.

“Kecelakaan…” bisiknya.

Qale melangkah lebih dekat ke tepian. Suara desiran angin bertambah nyaring, menciptakan gema halus seperti desah napas yang berat—atau itu hanya perasaannya?

“Mungkinkah… di sini?” dadanya berdegup. Pandangannya menuruni tikungan itu, membayangkan satu adegan yang tak ingin ia lihat : kendaraan tergelincir, tubuh terlempar, suara teriakan...

Ia menggeleng cepat.

“Jangan halusinasi, Qale…” gumamnya. Tapi bulu kuduknya sudah berdiri duluan.

Tak ada yang menjawab. Hanya sunyi dan kabut tipis yang mulai merayap dari lembah di bawah.

Ia memutuskan berlari pulang.

Hampir dua jam dia pergi. Saat tengah menyusuri jalan menuju rumah Wafa, Qale sibuk mengusap peluh, tidak menyadari jika dari kejauhan, Wafa sudah menunggunya. Pria itu, menyusul dengan mobilnya.

“Dari mana?” tanya Wafa.

Qale menunjuk ke arah belakang, masih berusaha mengatur napas.

“Gen Z nggak biasa jalan jauh, malah nantangin tanjakan sini,” gumam Wafa sambil menyodorkan air minum.

Namun Qale masih terpikir satu hal. “Kak… kecelakaan itu… terjadi di sana, ya?”

Wafa terdiam. Tatapannya kosong sesaat, lalu mengalihkan pandang. “Nanti aja,” gumamnya. Ia tak menjawab lebih lanjut. "Pulang, sarapan," pintanya agar lekas masuk ke mobil.

Sampai di rumah, telepon dari karyawan membuat Qale teralihkan sepenuhnya. Dan lupa membahas hal tadi. Mixer di tokonya rusak, adonan batch kedua terancam gagal. Dia harus segera pulang.

 Wafa lalu mengantarkan Qale ke toko. Perjalanan ke kota memakan waktu lebih dari satu jam. Setibanya di toko, Qale langsung larut dalam aktivitas—membayar tagihan, mengatur stok, memanggil teknisi untuk memperbaiki mixer.

Saat teknisi memperbaiki mixer, Qale memandangi adonan setengah jadi. Warna, aroma, tekstur—semuanya biasa saja. Tapi pikirannya terbang, pada perempuan renta yang disekap, dan pria muda yang masih buram wajahnya.

Mbak Mun.

Bagaimana keadaannya?

Dan soal pria muda yang sempat disebut Mbak Mun malam itu…

Sore harinya, saat dijemput Wafa, Qale memberanikan diri mengutarakan niat untuk kembali ke rumah lamanya.

“Bahaya,” potong Wafa cepat. “Kamu bisa terluka.”

“Terus?” Qale menatapnya. “Aku harus gimana?”

“Cari tahu kapan Ayah nggak di rumah. Dan kapan Lea sibuk,” jawab Wafa tenang.

Qale lalu menghubungi ART lain lewat pesan singkat. Dari sanalah ia tahu, Mbak Mun disekap… di gudang.

 ***

Malam itu, saat Hasan pergi dan Lea tertidur, Qale menyelinap masuk ke rumah tua itu.

Suasana sangat sunyi.

Ia mendekati pintu gudang. Berbisik, nyaris tanpa suara.

“Mbak Mun…?"

Isakan terdengar pelan. “Non…?”

“Iya. Mbak ... ingat nama pria muda itu?”

“Nggak, Non. Wajahnya … mulai samar.”

“Hmm ... aku juga,” bisik Qale lirih. Hatinya gelisah.

Kemudian, Mbak Mun berkata, “Non, tolong ambil sesuatu di kamar saya. Di bawah ranjang. Ada aksesoris boneka dan secarik kertas ancaman yang dibuang Pak Hasan … saya pungut tempo lalu,” beber Mbak Mun takut-takut, suaranya sangat pelan.

“Untuk apa?”

“Simpan. Jaga baik-baik. Itu bukti.” Mbak Mun lantas meminta Qale segera keluar, bahaya bila tertangkap Hasan.

Qale menurut. Dengan langkah ringan mengendap, dia masuk ke kamar ART itu. Di kolong ranjang, Qale menemukan bungkusan kecil berisi aksesoris boneka, serta kertas kusut yang digumpalkan.

Namun, tepat saat hendak keluar—langkah pelan terdengar dari arah dapur.

“Mbakk…?” Suara serak mengantuk itu jelas. “Haus…”

Deg.

Lea.

Qale bersembunyi cepat di balik pintu. Menahan napas. Jantungnya berdebar cepat, seolah hendak meledak.

Langkah Lea semakin dekat. Tapi, dia berhenti lalu menoleh … dan mendekati kamar.

“Mbakk Mun…?

Deg.

Deg.

Tangan Lea menyentuh daun pintu. Mendorongnya pelan. Creak—

 “Qale?” suara itu nyaris pelan. Tapi cukup untuk membuat darah Qale berhenti mengalir.

Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rapat agar napasnya tidak terendus Lea.

Tiba-tiba, suara ART lain memecah malam, membuat jantung Qale mencelos.

  “Loh, Non—”

 .

 .

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!